Jelang Mudik, Harga Telur Turun dan Broiler Terkoreksi

Poultryindonesia.com, Analisa Pasar. Lebaran semakin dekat, masyarakat mulai berbondong memadati pertokoan yang menjual pakaian dan jenis sandang lainnya. Baik yang cuma sekedar mengamati pakaian sambil menunggu Tunjangan Hari Raya (THR) turun, maupun yang mulai berbelanja dengan membobol uang tabungan setahun. Praktis sejak awal pekan ini, pusat perdagangan kebutuhan sandang penuh sesak. Bagaimana kondisi pasar broiler dan telur ayam ras ?
 

Selama pekan ini kondisi perdagangan telur ayam ras ex-farm terkesan ‘mendingin’, baik di pasar daerah maupun di DKI Jakarta. Terpantau di sentra produksi Blitar Senin (18/11) Rp 6800/kg, Selasa (19/11) Rp 6600/kg, Rabu (20/11) Rp 6400/kg, Kamis (21/11) Rp 6500/kg, dan Jumat (22/11) Rp 6700/kg, sedang di Pelembang Senin (18/11) dan Selasa (19/11) Rp 6500/kg, Rabu (20/11) Rp 6400/kg, Kamis (21/11) dan Jumat (22/11) Rp 6300/kg.

Sementara di DKI Senin (18/11) Rp 7100/kg, Selasa (19/11) dan Rabu (20/11) Rp 7000/kg, Kamis (21/11) Rp 6900/kg, dan Jumat (22/11) Rp 6900/kg.

 Kecenderungan menurunnya harga telur ayam ras disebabkan oleh permintaan yang makin sepi. Kondisi tanggung bulan dan kecenderungan masyarakat membelanjakan uangnya ke toko pakaian, menyebabkan anggaran belanja untuk kebutuhan gizi agak berkurang.

Namun demikian awal pekan depan, permintaan telur ayam ras akan mulai naik kembali. Acara malam Ganjilan atau Prepegan bagi masyarakat Muslim Jawa selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini, diperkirakan mampu mengangkat permintaan telur, disamping THR bagi karyawan yang sudah diterima.

SEDANGKAN perdagangan broiler hidup ex-farm selama pekan ini ada sedikit perbaikan harga. Di pasar DKI Senin (18/11) Rp 7500/kg, Selasa (19/11) Rp 7300/kg, Rabu (20/11) s.d Jumat (22/11) Rp 7500/kg.

Kondisi harga yang bertahan pada pekan lalu, sempat bobol di awal pekan ini. Hal ini disebabkan oleh masuknya ayam dari JATENG dan JATENG yang sedang kelebihan pasok, maka tak heran kedua wilayah tersebut harga broiler mulai terangkat.

 Terpantau di JATENG Senin (18/11) Rp 6500/kg, Selasa (19/11) Rp 6600/kg, Rabu (20/11) Rp 6700/kg, Kamis (21/11) Rp 6800/kg dan Jumat (22/11) Rp 7000/kg, sedang di JATIM Senin (18/11) Rp 6400/kg, Selasa (19/11) dan Rabu (20/11) Rp 6700/kg, Kamis (21/11) dan Jumat (22/11) Rp 7200/kg.

Sementara di akhir pekan ini, tetap bertahannya harga pada kisaran  Rp 7000-an, sesungguhnya lebih disebabkan kehendak peternak. Alasan yang disampaikan, DOC yang terlalu mahal Rp 3600-3700/ekor, harga pakan yang sudah naik Rp 50/kg dan angka kematian ayam yang tinggi. Sehingga pasar sepi atau tidak, ayam laku atau tidak tetap dijual dengan harga tersebut.

Sementara itu, perdagangan DOC broiler yang dua pekan lalu mengalami penurunan tajam, pekan ini mulai mengalami kenaikan lagi, khusunya di wilayah JATIM dan JATENG.

Di Surabaya harga DOC broiler sejak Selasa (19/11) Rp 1750/ekor, dan dibeberapa daerah seperti Tulungagung sejak Jumat (22/11) Rp 1900/ekor. Alasan kenaikan ini disebabkan permintaan pasar Pulau Jawa seperti Sulawesi dan Kalimantan sangat tinggi. Meski menurut pantauan, harga broiler dewasa di sana sudah mulai melorot di Rp 7000-an/kg.

sam/pinsar

Silakan mengutip dan atau meng-copy tulisan ini dengan menyebut sumbernya : www.poultryindonesia.com

 

Hadapi hari raya, 5.000 ton daging sapi diimpor

  Poutryindonesia.com,Jakarta. Indonesia mengimpor sebanyak 30.000 ekor sapi bakalan dan 5.000 ton daging sapi berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan daging menghadapi hari besar keagamaan 2002/2003 di wilayah Jakarta, Bogor, Tengerang dan Bekasi serta kawasan sekitarnya. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />  

Dirjen Bina Produksi Peternakan Deptan, Sofjan Sudarjat, mengatakan pemerintah menjamin ketersediaan daging untuk menghadapi hari besar keagamaan 2002/2003 di wilayah Jabotabek serta kawasan sekitarnya sebanyak 15.900 ton akan tercukupi. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

 Kebutuhan ternak potong hidup pada hari besar 2002, menurut dia, diperkirakan 47.000 ekor selama 60 hari atau setara 8.700 ton daging serta 7.200 ton daging beku.

 “Selama periode tersebut, kebutuhan daging ayam diperkirakan mencapai 58.000 ton kg. Sedangkan telur sekitar 76.500 ton,” katanya di pada acara Kesiapan Ditjen Peternakan Menghadapi Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan 2002 dan Tahun Baru 2003 di Jakarta (5/11).

 Menurut Sofjan, untuk mencukupi kebutuhan daging dan telur selama hari raya keagamaan tersebut akan dipenuhi dari pasokan antarpulau sebanyak 33.000 ekor atau 40% dari permintaan 47.000 ekor, berasal dari lampung, Jateng, Yogjakarta, Jatim, Bali, NTB, NTT dan Sulsel.

 “Selain itu, juga dipenuhi dari impor sapi bakalan sebanyak 30.000 ekor yang saat ini telah tersedia di perusahaan penggemukan (feedloter). Sedangkan untuk daging kualitas khusus juga akan didatangkan sebanyak 5.000 ton,” tandasnya.

 Untuk memenuhi kebutuhan daging ayam dan telur, menurut dia, akan dipenuhi dari dalam negeri diantaranya Lampung, Jabar, Jateng dan daerah lain. “Guna mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut telah diupayakan memberi peluang untuk membuka kran impor DOC final stock (bibit ayam) dan telur tetas broiler,” katanya.

Menanggapi pengamanan terhadap daging maupun produk asal hewan lainnya selama hari besar keagamaan, Sofjan menyatakan pihaknya akan meningkatkan pengawasan pemotongan ternak serta pengawasan penyakit zoonosis yang dapat ditularkan melalui produk pangan asal hewan.

 Ekspor ternak

 Sofjan juga mengutarakan Indonesia pada 2003 merencakana ekspor ternak sapi hidup dan daging sapi ke Mesir serta sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Myanmar, Thailand, Malaysia dan Laos.

 enurut dia, negara-negara tersebut sudah mengajukan permintaan impor daging sapi ke Indonesia. “Bulan depan kita lakukan negosiasi dengan Mesir dan diharapkan pada 2003 sudah dapat direalisasikan.”

 Untuk 2003 rencana ekspor ternak sapi ke Mesir 10.000 ekor. Sedangkan pada 2002 Indonesia telah mengirim 2.000 ekor ke Malaysia, 800 ekor ke Timor Timur serta 3.500 ton daging ke Arab Saudi, Malaysia dan Jepang. andang/bios

 

Silakan mengutip dan atau meng-copy tulisan ini dengan menyebut sumbernya: www.poultryindonesia.com

Bom Meledak di Legian Bali, Harga Telur/Daging Anjlok

Poutryindonesia.com, InfoPinsar. SABTU malam (12/10) bumi Bali diguncang oleh ledakan bom teroris di Jalan Legian, Kuta. Tidak saja Indonesia, bahkan masyarakat dunia internasional ikut berduka, sebab ledakan dahsyat itu telah menewaskan 185 orang dan ratusan lainnya hilang yang sebagian besar adalah warga asing. Icon pariwisata Indonesia telah hancur, eksodus para pelancong dari mancanegara tak terbendung. Bali telah ditinggalkan para turis, seberapa dahsyat dampaknya terhadap bisnis ayam di pulau para Dewa itu ? Narasumber Pinsar di Bali melaporkan bahwa situasi di Bali pasca ledakan itu telah banyak berubah : hotel sepi pengunjung, restoran banyak yang tutup, dan supermarket ditinggal pembeli, akibatnya para karyawannya mulai dirumahkan. Kondisi ini menyebabkan pangsa pasar sebesar 160 ribu ekor perhari di Denpasar, Tabanan, Bangli dan sekitarnya tinggal 50 persen, karena permintaan semakin sepi. Maka, harga broiler sejak Senin (14/10) anjlok Rp 6500/kg dari sebelumnya Rp 7100/kg, bahkan Jumat (18/10) tinggal Rp 6200/kg.

Efek lainnya adalah sentra produksi broiler di JATIM yang rutin memasok pasar Bali sebanyak belasan truk per hari terhenti total. Bahkan sebaliknya, saat ini banyak ayam dari Bali yang dikirim ke Banyuwangi dan sekitarnya.

Tak pelak hargapun ikut jatuh karena pasok makin berlebih, di saat permintaan makin sepi. Gagal panen karena kemarau panjang dan musim ikan agaknya menjadi faktor dominan sepinya permintaan broiler di JATIM yang sudah berlangsung sejak pekan lalu. Terpantau Senin (14/10) masih Rp 6500/kg, tapi Jumat (18/10) Rp 5600/kg.

Sedangkan di JATENG Senin (14/10) masih Rp 6700/kg, Jumat (18/10) sudah Rp 5800/kg dan di pasar DKI Senin (14/10) masih Rp 7600/kg, Jumat (18/10) sudah Rp 6900/kg. Disparitas harga antara pasar DKI dan JATENG yang tinggi memungkinkan terjadinya aliran ayam dari JATENG ke DKI, tetapi karena trend penurunan harga dipengaruhi faktor yang sama, yaitu pasok makin berlebih dan permintaan yang makin sepi saat mendekati akhir bulan, menyebabkan kemungkinan itu makin kecil terjadi.

SEMENTARA itu ledakan bom di Bali juga sempat ikut mempengaruhi perdagangan telur ayam ras di P. Jawa, meski tidak terlalu besar. Berdasar pantauan Pinsar, harga telur di Blitar yang menjadi salah satu pemasok kebutuhan telur di Bali sempat limbung dari harga stabil Rp 6000/kg sejak dua pekan terakhir, tetapi permintaan telur di Sulawesi yang sebagian juga dipasok dari JATIM meningkat, sehingga diduga turut andil dalam menjaga harga tetap stabil.

Kondisi ini juga menyebabkan harga telur ayam ras ex-farm di DKI dan Palembang juga cenderung tetap. Terpantau di pasar Dki Senin (14/10) s.d Jumat (18/10) tetap Rp 6600/kg, dan Palembang tak bergeser dari Rp 5900/kg sejak tiga pekan terakhir. Meski di akhir pekan ini ada tekanan harga telur ayam ras, sesungguhnya lebih disebabkan akibat hembusan isu lesu permintaan para agen dengan alasan tanggung bulan.

Atas peristiwa ledakan bom di Legian, Kuta, Bali, Pinsar Unggas mengutuk keras tindakan biadab tersebut, karena telah melukai nilai-nilai kemanusiaan dan berdampak luas terhadap sisi kehidupan manusia yang lain.

sam/pinsar

Silakan mengutip dan atau meng-copy tulisan ini dengan menyebut sumbernya: www.poultryindonesia.com