Telur yang dijajakan di supermarket (PI-Elis)
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Pertengahan April lalu, media massa Amerika Serikat (AS) ramai memberitakan penarikan lebih dari 206 juta butir telur dari peredaran karena khawatir tercemar salmonela. Recall ini terbesar kedua dalam sejarah industri telur AS. Pada tahun 2010, lebih dari 550 juta telur ditarik dari dua peternakan di Iowa. Penarikan telur tersebut dilakukan secara sukarela oleh Rose Acre Farms yang berpusat di Saymour, Indiana, yang jumlahnya mencapai 206.749.248 butir telur di sembilan negara bagian.
Penarikan tersebut dilakukan karena berpotensi terkontaminasi Salmonella braenderup, yaitu satu organisme yang bisa menyebabkan infeksi fatal pada anak-anak dan para lanjut usia, serta orang-orang yang memiliki imunitas rendah. Sejauh ini sampai tertanggal 22 April 2018, telur terkontaminasi dilaporkan menyebabkan 23 orang jatuh sakit akibat salmonela, demikian menurut pengumuman dari organisasi Food and Drug Administration (FDA).
Baca Juga : Hindari Listeriosis Pilih Daging Unggas Higienis
Telur-telur yang dikhawatirkan terkontaminasi tersebut berasal dari peternakan di Hyde County, North Carolina, dan telah dipasarkan dengan berbagai merek seperti Coburn Farms, Country Daybreak, Food Lion, Crystal Farms, Great Value, dan Sunshine Farms. Ada juga yang dijual ke restoran-restoran, termasuk Waffle House.
Adapun retail dan restoran yang menerima telur-telur Rose Acre Farms berada di negara bagian Colorado, Florida, New Jersey, New York, North Carolina, Pennsylvania, South Carolina, Virginia, dan West Virginia. Penarikan ini meliputi karton telur yang berkode P-1065 dan tanggal Julian dari 011-102 (artinya telur-telur yang ditarik berasal dari pengepakan tanggal 11 Januari hingga 12 April 2018). “Jika ada yang memiliki telur dengan kode kemasan tersebut, mohon jangan dimakan,” kata FDA.
Baca Juga : Siapa Pemasok Daging Ayam Halal Dunia
Lantas apa yang akan dilakukan terhadap telur-telur tersebut? Menurut FDA, untuk penarikan pangan seperti kasus telur ini, intinya bukan untuk mengumpulkan kembali telur-telur yang sudah beredar, namun lebih pada perlindungan masyarakat.
Menurut Benjamin Chapman, seorang associate professor dan spesialis keamanan pangan North Carolina State University, kontaminasi salmonela dalam telur kerap kali terjadi di dalam ayam itu sendiri. Ini terjadi karena bakteri salmonela bisa berkoloni di dalam indung telur ayam dan kemudian masuk pada saat pembentukan telur itu sendiri. Ini berarti, di dalam telur yang terlihat normal, bisa jadi terdapat salmonella di dalamnya. “Kontaminasi juga bisa terjadi setelah telur keluar. Ini terjadi karena ayam bisa membawa salmonela di dalam ususnya dan keluar bersama kotorannya, kemudian menempel di kulit telur,” demikian menurut Chapman. Elis Helinna, New York
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2018 di halaman 60 dengan judul “Recall 200 Juta Telur AS. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153