Oleh : Arnold P Sinurat, Peneliti di Balai Penelitian Ternak. (Foto :PI)
POULTRY INDONESIA – Beberapa waktu lalu kita dikagetkan dengan banyaknya korban miras (mungkin lebih tepat disebut mihol atau minuman beralkohol) oplosan di negeri ini. Padahal, sesungguhnya alkohol punya banyak manfaat bila digunakan dengan benar. Hal ini merupakan salah satu contoh bahwa suatu bahan yang mempunyai manfaat bila digunakan dengan tidak benar dapat memberi dampak yang berbahaya. Kondisi itu juga berlaku dalam dunia peternakan, yang secara khusus akan saya singgung tentang pencampuran antibiotika dalam pakan.
Pencampuran antibiotika dalam pakan sudah lama dilakukan (sejak tahun 1940-an) yang dikenal sebagai Antibiotic Growth Promoters (AGP). Antibiotik yang dicampurkan dalam pakan bukan untuk mengobati ternak dari penyakit tertentu, tetapi sebagai imbuhan dengan dosis subtherapeutic atau sekitar setengah dosis pengobatan dengan tujuan mengurangi populasi bakteri pathogen dalam saluran pencernaan. Langkah tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan ternak, menurunkan tingkat mortalitas, meningkatkan penyerapan gizi pakan dan meningkatkan produksi (pertumbuhan dan produksi telur) serta efisiensi penggunaan pakan.
Baca Juga : Pelihara Ayam Ikuti Perkembangan Zaman
Pada awalnya, AGP merupakan sesuatu yang diakui sangat menguntungkan bagi peternak. Hampir semua golongan antibiotik (Beta-Lactams, Macrolides, Fluroquinolones, Tetracycline dan Aminoglycoside) pernah digunakan sebagai AGP. Namun, pada tahun 1970-an, terdapat hasil penelitian yang mengindikasikan adanya dampak negatif penggunaan AGP yang diberikan secara terus-menerus, yaitu timbulnya mikroorganisme patogen yang resisten (tidak bisa dibasmi) terhadap antibiotik. Jika manusia terinfeksi oleh bakteri resisten terhadap antibiotik (AMR), maka akan lebih sulit disembuhkan dengan atibiotik sehingga meningkatkan jumlah kematian, lebih lama sembuh, dan biaya pengobatan akan lebih mahal.
Untuk mencegah dampak negatif penggunaan AGP, pada tahun 1997, World Health Organization (WHO) menyarankan agar antibiotik yang digunakan untuk pengobatan manusia tidak digunakan sebagai imbuhan pakan (AGP). Setelah itu, ada juga perkembangan di beberapa negara yang hanya memperbolehkan penggunaan antibiotik yang tidak diserap di dalam usus sebagai AGP. Antibiotik diharapkan hanya berfungsi melemahkan atau membunuh mikroorganisme patogen selama di dalam saluran cerna dan tidak diserap, sehingga tidak terjadi residu di dalam produk atau jaringan. Selanjutnya beberapa negara, terutama negara-negara Eropa, melakukan pembatasan hingga pelarangan total secara bertahap terkait penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan.
Baca Juga : Menghadapi Era Tanpa AGP, Telusuri Sumber Kontaminasi
Dalam perjalanannya, penggunaan AGP sampai saat ini dapat dibagi dalam 3 pola. Pertama, pola Amerika yang mengizinkan penggunaan AGP secara selektif dan berhati-hati serta melakukan surveilance secara teratur. Menurut Heyman (2014), Di Amerika (USA), lebih dari separuh antibiotik digunakan untuk ternak, dan sekitar 80 persen dari antibiotik tersebut digunakan sebagai AGP untuk memacu pertumbuhan, meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan mengurangi infeksi penyakit pada ternak. Kedua, pola Eropa yang melarang penggunaan AGP secara total. Kini Indonesia termasuk dalam pola ini, meski belum sepenuhnya mengikuti. Ketiga adalah pola lain yang mengizinkan penggunaan AGP secara selektif, tetapi belum ada rencana pelarangan dan belum ada pengawasan yang ketat, seperti yang diterapkan di China. Domi
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2018 di halaman 80 dengan judul “AGP Berlalu, Hadirlah Medicated Feed. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153