Tantangan dunia pendidikan ke depan tidak hanya bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia kerja, tetapi menyiapkan lulusannya sebagai pencipta lapangan kerja nantinya. Menyadari hal itu, PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. (CPI) sebagai perusahaan peternakan yang telah tumbuh selama 45 tahun di Indonesia, memiliki kepedulian untuk mengembangkan kerjasama dengan dunia pendidikan untuk membangun jiwa entrepreneurship.
Kerja sama CPI – IPB telah terjalin lebih dari dua puluh tahun.
Hal ini diwujudkan oleh CPI dengan menghibahkan gedung Entrepeneur Teaching Center (ETC) dan kandang closed house kepada Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB). Penandatanganan nota kesepahaman kerja sama CPI – IPB dilakukan pada tanggal 11 April 2019 yang bertempat di kantor pusat CPI – Ancol, Jakarta.
Hadi Gunawan, Presiden Komisaris PT CPI, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa persahabatan CPI dengan IPB telah lama terjalin, yakni lebih dari 20 tahun. “Kami berharap sumbangsih tersebut dapat menambah nilai proses belajar mengajar di IPB dalam mempersiapkan lulusan IPB yang siap memasuki dunia usaha,” imbuhnya.
CPI tumbuh bersama dunia pendidikan
Pengembangan kerja sama ini disambut baik oleh Dr. Arif Satria, Sp.M.Si, Rektor Institut Pertanian Bogor. “Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, saya berharap semoga kerja sama ini langgeng terjalin antara CPI dengan IPB. Dengan adanya teaching center ini diharapkan riset yang dilakukan IPB semakin berkembang dan dapat berpengaruh kepada perkembangan industri perunggasan, serta dapat bersama-sama tumbuh untuk bangsa ini lebih maju lagi,” pungkas Arif.
Komitmen CPI untuk pengembangan dunia pendidikan melalui Charoen Pokphand Foundation Indonesia, telah dilakukan melalui Bedah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), program Anak Asuh, program CPBSA (Charoen Pokphand Best Student Appreciation), program Bakti pada Guru, serta pemberian closed house dan ETC sebagai teaching center.
“Sampai saat ini, CPI telah melakukan renovasi terhadap 110 PAUD, memiliki 3.500 anak asuh, sebanyak 300 mahasiswa setiap tahunnya mendapatkan beasiswa, 55 mahasiswa pilihan program CPBSA, 2.100 guru yang telah mendapatkan pelatihan pendidikan penguatan karakter, 7 closed house untuk 7 perguruan tinggi, dan 1 ETC yang telah dibangun di UNDIP sebelumnya,” jelas Dr. (HC) Tjiu Thomas Effendy, SE., MBA. Presiden Direktur PT CPI, terkait pelaksanaan berbagai program CPI dalam bidang pendidikan.
CPI menyambut perwakilan IPB di Kantor pusat CPI Ancol – Jakarta
Pada saat yang bersamaan Retna Widyawati, Ketua Agrianita IPB menyampaikan laporan hibah dana sebesar Rp 240 juta untuk program peningkatan mutu dan pelayanan TK Ardiananda milik IPB yang berlokasi di kampus IPB. “Saat ini kami memiliki sekitar 180 anak asuh di TK Agriananda, 80% dari anak asuh terseleksi merupakan anak pegawai IPB yang kurang beruntung dan 20% berasal dari lingkungan kampus IPB,” jelas Retna.
Bangun jiwa entrepreneurship
Saat ini, CPI menciptakan suatu bentuk kerja sama yang lebih terintegrasi, yang dapat membangun jiwa entrepreneurship mahasiswa. Dimana CPI menghibahkan kepada IPB sebuah laboratorium mini sebagai contoh rantai distribusi pangan, yaitu kandang closed house ayam broiler kapasitas 40.000 sebagai hulu produksi, dan ETC sebagai hilir dalam produksi unggas.
ETC merupakan teaching center berupa toko retail Prima Freshmart (PFM) yang dapat digunakan oleh mahasiswa IPB untuk membangun jiwa entrepreneurship. Di teaching center ini, mahasiswa dapat belajar dengan dibimbing langsung oleh tenaga ahli dari PT Primafood International sebagai pengelola PFM tentang dunia retail dan teknis rantai distribusi pangan yang lebih efisien. Diharapkan ketika mahasiswa lulus nantinya memiliki cara pandang yang luas untuk menciptakan lapangan kerja baru.
“ETC sebagai teaching center memiliki 5 bagian garis besar program pembelajaran yang akan didapatkan mahasiswa, yakni inventatory management, product knowledge & handling, penertiban administrasi, kebersihan dan kerapihan (sanitasi & higienis), serta service excellence,” papar Reza Ashari selaku DGM Business Development PT CPI.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa ETC dibangun dengan dua bagian, yakni outlet/store dan foodcourt (kantin). Luas lahan untuk ETC sendiri sebesar 64 m2, untuk kantin memiliki luas 112 m2 yang dibangun tepat di depan Sekolah Vokasi IPB. Dimana area kantin juga dapat digunakan oleh mitra ETC atau IPB untuk berdagang.
Hibah Teaching Center ini seiring dengan tujuan Sekolah Vokasi IPB yang lebih mengedepankan praktek di lapangan, sehingga mahasiswa IPB memiliki nilai lebih dengan mengenal terlebih dahulu dunia kerja yang akan digelutinya dan sebagai bukti kerja praktek tersebut, mahasiswa akan mendapatkan sertifikat kompetensi yang akan berguna sebagai pendamping ijazah ketika dibutuhkan sebagai prasyarat dalam persaingan dunia kerja.
Tingkatkan daya saing perunggasan
Daya saing industri peternakan Indonesia dirasa masih rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand, apalagi dibandingkan dengan negara Brasil. Menjadi tugas bersama seluruh stakeholder peternakan untuk bersama-sama meningkatkan daya saing di industri peternakan kita. “Dalam hal ini, perlu adanya variabel yang harus diperbaiki, diantaranya mempersingkat mata rantai distribusi yang membuat tidak efisien dan penerapan teknologi pada proses produksi untuk terciptanya efisiensi. Industri perunggasan harus mengarah kepada penerapan teknologi modern yakni closed house,” ujar Thomas.
Semenjak tahun 2000an, broiler modern yang dikembangkan saat ini terus mengalami perbaikan genetik. Dimana data menunjukan, perbaikan bobot badan 45 gram/tahun, perbaikan feed convertion rasio (FCR) 0,02/tahun, perbaikan karkas 0,34%/tahun sehingga dengan adanya perbaikan tersebut proses manajemen budi daya yang dikembangkan pun harus berbeda, salah satunya yakni dengan melakukan penerapan sistem closed house.
Ir. Yosef Arisanto selaku Business Unit Head Kemitraan PT CPI memaparkan bahwa keuntungan penggunaan closed house antara lain kepadatan ayam bisa mencapai 14-18 ekor/m2 (tergantung target bobot panen) dibandingkan dengan kandang open house yang hanya 8-9 ekor/m2, selain itu faktor-faktor lain seperti cuaca, stres dari lingkungan, suhu, biosekuriti, keseragam ayam, pencahayaan, semua bisa lebih mudah dikendalikan, sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap performa ayam, dan pada akhirnya membuat harga pokok produksi yang lebih rendah.
Hibah kandang closed house kapasitas 40.000 ekor di wilayah Sukabumi. Dalam pengelolaannya akan dilakukan oleh PT. Multi Sarana Pakanindo (MSP) yang merupakan anak perusahaan PT CPI. Di kandang tersebut mahasiswa dapat belajar tentang pemeliharaan ayam broiler secara modern dibawah bimbingan PT MSP selama periode pemeliharaan.
Kedepannya CPI berharap melalui hibah ETC dan closed house ini akan memunculkan para wirausahawan baru dari kalangan milenial sehingga memberi warna baru untuk iklim industri perunggasan Indonesia.