Resistensi antibiotika merupakan ancaman nyata dari penggunaan antibiotika yang tidak bertanggungjawab
POULTRYINDONESIA, Surabaya – Pelarangan Antibiotic Growth Promoter (AGP), sudah berlangsung sejak awal tahun ini, pelarangan itu tentunya bukan sesuatu hal yang tidak bersadar. Dasar yang paling utama adalah mencegah adanya resistensi antibiotik. drh. Syamsul Ma’arif, Msi Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkemavet), dalam sebuah acara di Universitas Airlangga, Surabaya (18/11), yang bertema “Gunakan Antibiotik dengan Bijak” mengungkapkan bahwa 80 persen dari total penggunaan antibiotik dalam dunia peternakan lebih banyak digunakan untuk pencegahan. “Padahal, kalau dilihat secara akademis, tidak ada rumusnya antibiotik untuk pencegahan, yang ada adalah untuk pengobatan,” tegasnya.
Ancaman nyata dari penggunaan antibiotik untuk pencegahan adalah adanya residu yang cukup besar di dalam tubuh hasil ternak. Akibatnya, jika hasil ternak itu termakan oleh manusia, akan menambah residu dalam diri manusia. Ancaman resistensi antibiotik pada manusia akan lebih besar lagi.
Baca Juga : Probiotik Alami Solusi Pengganti AGP
Menurut Luuk Schoonman, Chief Technical Advisor FAO, permasalahan resistensi terhadap antibiotik ini tidak bisa ditangani oleh satu ektor saja, butuh lintas sektor, dengan tujuan bersama yaitu One Health, kesehatan yang satu, baik ternak, manusia bahkan lingkungan. Oleh karena itu, dalam acara ini sengaja untuk mengakul semua pihak, baik dari bidang kesehatan hewan, yang diwakili dari Dirkesmavet, dari kesehatan manusia diwakili oleh Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), organisasi kemasyarakatan yang diwakili oleh Bersama Atasi Resistensi Antibiotik (BARA), serta dari kalangan kampus, dalam hal ini Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Unair.
Luuk menjelaskan resistensi merupakan masalah yang cukup penting. Jika tidak ada kesadaran untuk pengendalian, maka ke depan bisa menjadi masalah besar. Sekarang ini ada sekitar 700.000 jiwa/tahun yang meninggal akibat resistensi antibiotik. Yafi