Penggunaan mycotoxin binder sangat perlu disesuaikan dengan struktur ikatan kimia toksinnya. Struktur ikatan kimia dan bentuk setiap toksin sangat beragam, seperti golongan Aspergillus toxin: aflatoxin B1, B2, G1, dan G2, Penicillium toxin: Ochratoxin A, Fusarium toxin: Fumonisin B1 dan B2, Zearolonone, Trichothecene deoxynivalenol (vomitoxin), dan T-2/HT-2 toxin.
Mycotoxin ini adalah dasar bagi Biochem untuk melakukan penelitian bekerja sama dengan lembaga yang diakui secara international, universitas, dan laboratorium di Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda. Penelitian difokuskan pada penyelidikan dan mendokumentasikan sifat pengikatan mycotoxin spesifik.
Klasifikasi mycotoksin binder berdasarkan jenis struktur kimia yaitu banyak lapisan silikat (Phyllosilicates), seperti bentonite, kaolinite, sepiolite, atau vermiculite, kerangka lapisan (Tectosillicates), seperti clinoptilolite (zeolite), dan amorf silikat seperti kieselguhr (diatomaceous earth). Sekilas banyak yang berasumsi bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara bentuk struktur kimia mycotoxin binder. Namun trial secara laboratorium (in vitro) jelas menunjukkan hal yang signifikan dan perbedaan dalam mengikat mycotoxin.
Perbedaan kemampuan mengikat toksin
Salah satu trial dengan menggunakan mycotoxin Zearolonone dan Ochratoxin A. Dapat kita lihat hasil trial dari Grafik 1 yang menunjukkan variasi yang signifikan pada setiap mycotoxin binder (silikat) dan kombinasi yeast cell wall dalam mengikat atau mengabsorpsi toksin. Sedangkan untuk jenis mycotoxin Aflatoxin B1, hampir seluruh mycotoxin binder berhasil mengikat atau mengabsorpsi secara total (Grafik 2). Seluruh mycotoxin binder umumnya sangat baik dalam mengikat Aflatoxin B1, namun kemampuan untuk mengikat jenis toksin lainnya seperti Fusarium, Zearolonone, atau Ochratoxin A sangat bervariasi. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan beberapa faktor, yaitu luas permukaan partikel, ukuran pori-pori partikel, dan jarak lapisan antara silica ternyata memberikan pengaruh dalam pengikatan toksin.
Grafik 1
Grafik 2
Kemampuan mengikat pada kondisi pH yang berbeda
Pengaruh dari kondisi pH sangat signifikan terhadap kemampuan mycotoxin binder dalam mengikat toksin. Grafik 3 menunjukkan hasil uji kemampuan mengikat toksin dalam kondisi asam (pH rendah) pada beberapa sampel mycotoxin binder memberikan hasil yang sama, namun ditemukan berbeda efeknya ketika dalam kondisi netral dan basa (pH tinggi).
Grafik 3
Biochem menganalisis bahan baku secara menyeluruh dan sifat pengikatannya dengan mycotoxin yang berbeda pada nilai pH yang berbeda. Analisa juga meliputi beberapa faktor seperti luas permukaan, ukuran partikel, dan pori-pori partikel untuk menemukan dan menentukan Biotox® sebagai mycotoxin binder yang paling tepat dan mampu mengikat semua jenis toksin. Kapasitas untuk mengikat toksin yang tinggi dari Biotox® dibuktikan dari hasil analisa in vitro di laboratorium tersertifikasi secara internasional. Biotox® secara signifikan mampu mengikat toksin secara menyeluruh seperti Zearolonone, T-2, Ochratoxin A, dan Fumonisin B1 dibandingkan dengan mycotoxin binder kompetitor lainnya. Pada hasil analisa, efisiensi Biotox® dalam mengikat Fusarium toxin T-2 sebesar 83%, sedangkan kompetitor lainnya jauh dibawah dari pencapaian angka tersebut.
Hasil penelitian menunjukan bahwa efektivitas mycotoxin binder dalam mengikat toksin polar dan non-polar ditentukan dari dosis mycotoxin binder yang digunakan dan cemaran toksin yang ada pada bahan baku seperti jagung. Biotox® dapat membantu mengikat toksin secara optimal dan mengurangi efek penurunan performa pada ternak Anda.