Burung Puyuh merupakan salah satu unggas yang ekonomis dalam budi daya namun memiliki produktivitas yang tinggi
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kepopuleran puyuh di Indonesia digambarkan oleh konsumsi telurnya yang terus mengalami peningkatan. Hal tersebut terbukti dari publikasi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan peningkatan konsumsi telur puyuh dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, masyarakat Indonesia rata-rata mengonsumsi telur puyuh yaitu 3,39 butir per kapita per tahun. Sedangkan di tahun 2016 meningkat menjadi 7,8 butir per kapita per tahun. Sehingga dari si mungil ini, Anda bisa membuka usaha yang terus berkelanjutan. Pasalnya, pasar dari produk peternakan puyuh semakin berkembang dan semakin menunjukan progres yang positif. Berrikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin memulai usaha ternak puyuh.
  1. Memilih bibit puyuh yang baik.
Ada beberapa cara memperoleh day old quail (DOQ) atau puyuh umur sehari, salah satunya yaitu membeli dari pembibit. Membeli DOQ dari pembibit merupakan langkah paling mudah karena peternak tidak perlu mengatur perkawinan bibit puyuh dan menetaskannya sendiri. Sebaiknya DOQ yang dibeli memiliki kualitas yang baik, hal ini dikarenakan bibit atau genetik merupakan 30% dari faktor produktivitas ternak.DOQ yang memiliki kualitas baik di antaranya dalam proses pembibitannya cukup terarah, misalnya dengan proses pemilihan telur tetas (berat standar 10,5 gram), kerabang tidak cacat serta berasal dari induk jantan dan betina yang berkualitas baik. Sayangnya, beberapa hal tersebut masih kurang diperhatikan oleh pembibit skala kecil. Di samping itu, ada baiknya pula membeli DOQ yang sudah divaksinasi.
  1. Mengupayakan puyuh tidak stres dari DOQ sampai produksi.
Bisa ditempuh dengan menyiapkan kandang senyaman mungkin (kepadatan kandang, suhu tidak panas, air tersedia selalu, pembiasaan dengan suara musik bila diperlukan). Segala aktivitas keseharian puyuh dilewatkan di kandang, sehingga upaya untuk memberikan kondisi yang baik dan nyaman bagi puyuh akan berimbas pada hasil produksi yang tinggi.
Baca Juga : Menilik Potensi Budi Daya Puyuh Petelur Padjadjaran
  1. Menjaga kualitas pakan yang baik dan proporsional sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangannya.
Dikarenakan pakan merupakan faktor produksi yang tinggi (60% hingga 70% dari biaya produksi), maka manajemen pakan perlu diperhatikan dengan baik. Umumnya perbedaan kualitas pakan ditandai dengan kadar protein kasar yang terkandung dalam pakan. Puyuh yang berada pada periode DOQ umumnya membutuhkan pakan dengan kualitas yang tinggi, mencapai 25%. Untuk puyuh grower, kadar protein pakan yang dibutuhkan adalah 20-22% dan puyuh layer membutuhkan pakan dengan kadar protein 18-20%.
  1. Melakukan manajemen kesehatan dan pengendalian penyakit.
Pencegahan penyakit jauh lebih murah daripada mengobati. Sebab, jika terlanjur sakit maka akan mengalami kerugian akibat turunnya produksi telur, kematian dan biaya obat. Kalaupun sembuh belum tentu mampu memulihkan produksi telurnya. Tindakan yang dapat dilakukan yaitu sanitasi kandang, melakukan desinfektansi, sanitasi peralatan, pemberian suplemen berupa vitamin dan hindarkan kontak dengan unggas atau hewan lain yang berasal dari luar.
Baca Juga : Sate Telur Puyuh Ala Angkringan Yogyakarta
  1. Memanfaatkan teknologi secara optimal.
Teknologi yang digunakan baik berupa sarana prasarana produksi maupun penunjang produksi seperti teknologi pakan. Teknologi pakan yang digunakan seperti suplemen pakan dalam bentuk sumber protein, vitamin, mineral dan probiotik. Suplemen pakan ini yang telah banyak digunakan oleh beberapa peternak di sekitar Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi, menurut informasi lapangan dari beberapa peternak di Boyolali yaitu dapat meningkatkan produksi telur hingga 90%. Selain itu, kualitas telur menjadi lebih baik, dapat mengurangi stres lingkungan dan mengurangi bau kotoran yang berasal dari gas amonia yang dikeluarkan ternak.
Dikarenakan puyuh merupakan salah satu komoditi unggas penghasil telur dan daging, maka diharapkan dapat mendukung ketersediaan protein hewani yang murah serta mudah didapat. Sehingga seorang peternak puyuh selain dituntut untuk mengerti tata cara beternak yang baik juga diharuskan untuk mengerti tentang manajemen limbah serta strategi dalam pemasaran. Dengan manajemen limbah yang baik diharapkan peternak dapat menunjang kelestarian lingkungan serta meningkatkan nilai jual dari kotoran puyuh yang diolah menjadi pupuk. Oleh karena itu, keberlanjutan usaha puyuh dapat terus dijalankan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2018 di halaman 76  dengan judul “Burung Puyuh, Ternak Mungil Berpotensi Besar”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153