Daging ayam broiler merupakan komoditas bahan pokok penting yang sangat sensitif terhadap pergerakan harga
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tidak berbeda jauh dengan komoditas daging ayam, harga telur ayam ras juga mengalami kenaikan pada pekan kedua menjelang puasa. Yanto, penjual telur di Pasar Wangon, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ini mengungkapkan harga telur ayam ras saat ini sudah mencapai Rp 23.500 padahal seminggu yang lalu harganya masih Rp 23.000 per kilogramnya. “Seminggu ini kenaikannya mencapai Rp 500 per kilogramnya, dan biasanya akan terus naik sampai awal puasa. Akan tetapi, saat pertengahan puasa biasanya kembali turun, akan naik lagi saat mendekati lebaran,” ujarnya.
Yanto mengaku suplai telurnya banyak dipasok dari Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, yang jaraknya hanya sekitar 60 kilometer dari tempat penjualannya. Berdasarkan pengalamannya, untuk masalah pasokan telur tidak pernah ada masalah, bahkan pada saat momen puasa dan lebaran juga tidak mengalami kendala berarti. “Saat puasa hingga lebaran nanti, kenaikan permintaan bisa mencapai 70 persen. Pembeli yang datang ke sini rata-rata dari orang wilayah sini saja seperti Wangon, Jatilawang, dan Lumbir,” ujarnya kepada Poultry Indonesia, Minggu (21/4).
Poultry Indonesia mencoba memantau pergerakan harga komoditas telur ayam ras di Jakarta melalui laman infopangan.jakarta. go.id pada tanggal 1 Mei 2019, berdasarkan data yang ditampilkan, kenaikan harga daging ayam ras di seluruh Jakarta terus terjadi sejak minggu ketiga April hingga akhir April 2019 atau sepekan menjelang puasa (Lihat Grafik 2). Jika mengacu pada Permendag No.96/2018 tentang Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen, maka harga ayam ras di Jakarta sudah melebihi harga acuan yang sudah ditetapkan pemerintah yaitu diangka Rp 23.000 per kilogram.
Fakta ini sesuai dengan temuan Poultry Indonesia di Pasar Sumur Batu, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Suwanto yang merupakan penjual telur ayam ras di pasar tersebut, mengatakan bahwa sepekan menjelang puasa harga telur mulai merangkak naik. Tren kenaikan harga ini selaras dengan kenaikan jumlah permintaan. Bahkan masih menurutnya, konsumen yang biasa membeli hanya 2 kilogram bisa naik menjadi 3 kilogram. Walaupun tren semacam ini sudah menjadi tren setiap menjelang bulan puasa, akan tetapi bagi pedagang seperti dirinya, kenaikan harga yang terlalu tinggi juga dikhawatirkan bisa membuat konsumen mengeluh. Apalagi sebagian besar pelanggannya berasal dari penjual makanan seperti warung nasi.
“Harga hari ini saja sudah mencapai Rp24.000 per kilogram, biasanya akan terus naik hingga memasuki awal bulan puasa. Akan tetapi permintaan telur saat pertengahan puasa hingga lebaran nanti justru turun karena banyak orang mudik ke kampung halaman. Seperti yang sudah-sudah, kenaikan harga menjelang puasa seperti ini bisa mencapai Rp4.000 per kilogramnya.” Jelasnya.
Pedagang yang biasa menjual telurnya hingga 150 kilogram setiap harinya ini mengaku terkait suplai telur sejauh ini tidak ada kendala, justru berdasarkan pengalamannya, stok malah cenderung banyak saat bulan puasa dan lebaran. “Paling kendalanya masalah harga yang naik terus, khawatir saja kalau konsumen pada mengeluh. Sejauh ini memang belum ada komplain, tapi namanya kekhawatiran pedagang pasti ada saja, apalagi telur itu barang yang tidak bisa bertahan lama, kalau nanti tidak laku mau dikemanakan coba?” ujarnya kepada Poultry Indonesia, Selasa (30/4). Farid, Boy.
Artikel ini adalah artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2019 dengan judul Catatan Jelang Awal ramadhan, Harga telur cukup tinggi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153