Stan CPI di pameran Indo Livestock 2018.
Ingar-bingar Indo Livestock 2018 Expo & Forum sangat terasa ketika memasuki Jakarta Convention Center (JCC). Pandangan mata langsung tertuju pada stan megah yang berdiri paling depan. Dekorasi apik tersusun di setiap sudut dan menjadi magnet bagi siapa saja yang melintas di sekitarnya. Permadani merah yang terhampar juga menambah kesan elegan. Pada bagian atas stan, terpampang sebuah nama yang telah masyhur di dunia perunggasan: PT Charoen Pokphand Indonesia.
Pameran Indo Livestock tahun ini menjadi bukti eksistensi CPI dalam meramaikan industri perunggasan Tanah Air. CPI hadir dan menegaskan diri sebagai pihak penting dalam mendukung perkembangan bangsa Indonesia dari sektor agrobisnis. Inovasi yang ditawarkan oleh CPI pada pameran kali ini pun beragam. Produk-produk unggulan dari sektor hulu sampai ke hilir dipresentasikan dalam bentuk yang menarik bagi para pengunjung.
Konsep stan CPI adalah keterbukaan dan kebersamaan. Desain dibuat sedemikian rupa demi kenyamanan para pengunjung. Kursi-kursi tertata rapi dengan cukup ruang untuk berinteraksi. Panggung representatif untuk ragam keperluan promosi dan hiburan pun menambah kesan ramai. Produk pasca panen bermutu, maket kandang berteknologi tinggi, hingga photo booth dengan ragam aksesori membuat stan begitu menarik untuk disambangi. Kenyamanan stan membuat pengunjung betah berlama-lama untuk bertukar informasi dan membuka peluang bisnis bersama CPI. Kemeriahan pun tak pernah hilang dari stan ini.
Koordinator Stan CPI Chandra Gunawan mengatakan, pihaknya mengupayakan penampilan terbaik demi kepuasan para pengunjung. CPI ingin menunjukkan bahwa perunggasan merupakan sektor penting dalam mendukung perekonomian bangsa. “Kita mengetahui bahwa perunggasan telah mandiri. Ke depan, kita harus semakin berdaya saing. Perunggasan harus jadi primadona,” ujarnya.
Konsep yang ditawarkan oleh CPI kali ini juga memiliki makna kuat tentang kerja sama. Menurut Chandra, perunggasan harus dibangun oleh berbagai pihak. Pelaku industri perlu bersinergi satu sama lain, juga dengan pemerintah dan para peternak. “Karena kami memahami jika kita berjalan sendiri-sendiri, ketahanan pangan tak akan bisa terwujud,” jelas Chandra.
Hal itu senada dengan pernyataan Direktur PT CPI Jemmy Wijaya. Pada sela-sela wawancara, dengan senyum simpul, ia menunjuk slogan yang terpampang di atas stan bertuliskan “Bersama Membangun Kedaulatan Pangan Indonesia yang Berdaya Saing”. Menurut Jemmy, konsep keterbukaan dan kebersamaan stan CPI sesuai dengan cita-cita tersebut.
Komitmen PT CPI untuk bersama-sama membangun kedaulatan pangan Indonesia.
Konsistensi dalam inovasi
Langkah-langkah yang ditempuh CPI dalam memajukan industri perunggasan dan mewujudkan kedaulatan pangan negeri terus berlanjut. Berbagai program kian dipotimalkan. Pada pameran ini, CPI menunjukkan bahwa upaya yang mereka lakukan bukanlah sebatas angan. Mereka membawa bukti nyata bagi insan perunggasan. Inovasi yang diusung CPI terwujud dalam berbagai bentuk, baik bersifat fisik maupun ragam pembinaan demi kemajuan di masa depan.
Presiden Komisaris PT CPI Hadi Gunawan mengatakan, pada pameran kali ini, terdapat inovasi baru yang diperkenalkan. “Ada satu yang dirancang oleh tim engineering kami yang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, yaitu Mobile Corn Dryer. Alat ini bertujuan memudahkan petani dalam menjual produk. Kami berharap akan ada kelompok petani yang ikut mengembangkan,” ungkap Hadi.
Alat ini tercipta demi mewujudkan program swasembada pangan, khususnya komoditas jagung. Beberapa kelebihan lain dari alat ini adalah mempermudah akses petani ke pasar jagung, mengurangi biaya handling dan proses pengeringan jagung, serta mengurangi potensi penurunan kualitas jagung yang dapat timbul selama proses pascapanen. Konsep alat ini bermula pada awal tahun 2018, seiring dengan upaya CPI meningkatkan penyerapan jagung sebagai bahan utama pembuatan pakan ternak. CPI kemudian memperkenalkan konsep alat ini kepada Kementerian Pertanian pada bulan April 2018.
Engineer PT CPI Emier Shandy menjelaskan, alat ini membuktikan konsistensi CPI dalam mewujudkan kemandirian pangan secara bersama-sama. “Misi kami adalah menjemput bola. Artinya, kami datang kepada petani untuk membantu mereka dalam proses pengeringan jagung,” ujarnya. Mobile Corn Dryer ini mampu mengeringkan satu ton jagung per jam dengan penurunan kadar air sebesar 15 persen.
Menurut Emier, alat ini akan beroperasi dalam waktu dekat di beberapa daerah penghasil jagung seperti Banten, Jawa Barat, hingga ke Sumba dan Sumbawa. Alat yang berbahan bakar solar ini merupakan penyempurnaan dari alat sebelumnya yang masih menggunakan tiga unit truk untuk dapat beroperasi. Mobile Corn Dryer ini akan terus disempurnakan atas kerja sama CPI dan Kementerian Pertanian, serta diharapkan mampu menjadi solusi atas masalah pasca panen petani jagung yang selama ini dihadapi.
Selain Mobile Corn Dryer, teknologi perunggasan lainnya yang dikenalkan oleh CPI di Indo Livestock 2018 adalah kandang ayam sistem tertutup (closed house). Pameran ini menjadi momen yang tepat bagi CPI untuk terus menerangkan keunggulan kandang ini kepada masyarakat perunggasan, baik pemula maupun pemain lama. Presiden Direktur PT CPI Thomas Effendy mengatakan, penting bagi para peternak untuk mengetahui teknologi yang sedang berkembang saat ini.
“Peternakan kita harus menuju arah daya saing yang lebih baik setiap harinya. Dunia ini sudah masuk kepada teknologi peternakan. Saat ini, kita mengenal teknologi budi daya itu dengan nama closed house. Namun penerapannya di Indonesia baru 20 persen,” ungkap Thomas.
Menurut Thomas, untuk mempercepat sosialisasi teknologi closed house, pihaknya telah melakukan beragam upaya intensif. Salah satu program yang terus ditingkatkan kualitasnya adalah kerja sama hibah closed house ke beberapa perguruan tinggi di Indonesia. “Ini bertujuan agar closed house bisa dipakai sebagai teaching farm. Akademisi perlu mempelajari closed house. Ketika mahasiswa lulus, ia telah mengerti tentang hal itu. Diharapkan pula inovasi akan menyebar luas ke para peternak,” jelasnya.
Transfer pengetahuan
Beberapa peserta Charoen Pokphand Best Student Appreciation (CPBSA) Batch II yang telah terpilih.
Tak hanya berupa peralatan berteknologi tinggi, namun CPI juga terus berinovasi dengan berbagai program pengembangan karakter para penerus industri perunggasan. Pameran Indo Livestock 2018 menjadi kesempatan bagi CPI untuk lebih mengenalkan program Charoen Pokphand Best Student Appreciation (CPBSA). Program ini merupakan upaya menciptakan kader perunggasan bermutu dengan ragam pelatihan dan kunjungan industri peternakan internasional.
Program CPBSA memasuki tahun kedua pada 2018. Pada edisi perdana di tahun 2017, peserta CPBSA mendapat pelatihan praktik dan teori, serta mendapat kesempatan berkunjung ke pameran peternakan VIV Asia di Bangkok, Thailand. Para peserta yang terdiri dari mahasiswa peternakan yang disertai dosen pendamping dari beberapa kampus ternama di Indonesia itu juga berkesempatan mengunjungi food processing Charoen Pokphand Food di Thailand. Diharapkan, transfer informasi yang dilakukan setiap tahun dapat memajukan kualitas industri perunggasan Tanah Air di waktu yang akan datang.
Upaya membangun kedaulatan pangan negeri juga dilakukan melalui seminar. Pada Indo Livestock 2018, CPI menyelenggarakan beragam seminar yang bisa dimanfaatkan oleh para pegiat industri perunggasan untuk memperluas wawasan. Tema yang diangkat pada seminar tersebut pun beragam, mulai dari keamanan imbuhan pakan, penyakit pada unggas, ulasan peralatan kandang, dinamika pasar jagung, hingga peran perunggasan dalam membangun negeri.
Salah satu seminar bertema “Kontribusi Perunggasan dalam Membangun Kedaulatan Pangan Nasional”, yang disampaikan oleh Vice President-Feed Technology PT CPI Dr. Desianto B. Utomo, menarik perhatian sebagian pengunjung. Pada seminar itu, Desianto mengatakan bahwa industri perunggasan menyumbang kemajuan yang signifikan bagi lajunya roda ekonomi Indonesia. Pada sektor feed consumption misalnya, terus mengalami pertambahan dari tahun ke tahun. Begitu pula dengan produksi pakan ternak Indonesia. Hal itu membuktikan bahwa jumlah produksi ayam meningkat, konsumsi produk unggas bertambah, dan industri yang berkaitan dengan perunggasan terus mengalami pertumbuhan positif.
Dengan segala perkembangan yang ada, Desianto juga menjelaskan langkah apa saja yang bisa ditempuh agar para peternak mampu mengikuti derasnya arus industrialisasi. Cara tersebut, kata Desianto, antara lain bisa ditempuh dengan modernisasi budi daya. Untuk mewujudkannya, CPI pun siap bekerja sama dengan program yang dimiliki, salah satunya adalah pola kemitraan. Pola ini bisa dimanfaatkan oleh para peternak yang ingin melakukan budi daya unggas secara efektif, efisien dan produktivitas yang optimal di tengah beragamnya tantangan zaman.
Stan inovatif
Melalui ragam inovasi yang ditawarkan, CPI berusaha mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun kedaulatan pangan Indonesia. Oleh karena itu upaya variatif dilakukan untuk terlebih dulu menggaet perhatian pengunjung. Berkat keramaian stan dengan ragam fasilitasnya, tak heran CPI menjadi exhibitor primadona yang terus digandrungi. Puncaknya adalah ketika stan CPI mendapat kunjungan dari tamu kehormatan yakni Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo.
Presiden Joko Widodo saat meninjau display produk di stan CPI.
Presiden menyempatkan diri untuk berkunjung ke Indo Livestock 2018 di sela-sela kesibukannya pada Jumat (6/7). Dalam kunjungannya itu, Presiden bertemu dengan para petinggi CPI untuk melihat inovasi Mobile Corn Dryer, serta mengapresiasi produk pascapanen CPI. Bahkan, Presiden pun sempat mengunggah foto dirinya yang tengah memegang salah satu produk Prima Food, dari unit bisnis olahan makanan unggas CPI di akun instagram pribadinya @jokowi, sebagai bentuk dukungan terhadap industri perunggasan dalam negeri.
Stan CPI terpantau ramai hingga menjelang akhir kegiatan pameran. Pengunjung dengan latar belakang yang beragam memanfaatkan betul segala fasilitas yang ditawarkan oleh CPI. Kalangan ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) misalnya, antusias dengan diadakannya demonstrasi masak bersama koki selebriti Chef Marinka dan Chef Steby. Selain itu, para pengunjung juga bisa mendapat ragam produk olahan unggas dengan harga terjangkau, kopi yang nikmat dengan cuma-cuma, doorprize menarik dari acara-acara yang ditampilkan oleh unit bisnis CPI selama pameran dan juga banyak keseruan lainnya yang membuat pameran jauh dari kata membosankan.
Berkat kerja keras dan upaya seluruh jajaran CPI dalam mempersiapkan semua hal terkait kegiatan Indo Livestock 2018, perusahaan perunggasan terbesar di Indonesia ini pun mendapat penghargaan The 1st Best Stand Performance dari Napindo Media Ashatama selaku penyelenggara pameran. Penghargaan ini diberikan khusus bagi exhibitor yang memiliki stan meriah dengan keragaman inovasi dan layanan yang ditawarkan kepada customer dan pengunjung stan.
Industri perunggasan terus berkembang. CPI kian menatap persaingan yang lebih masif di level internasional. Produk-produk bermutu tinggi pun terus dihasilkan dari proses perpaduan teknologi dan pengalaman yang telah teruji. Dengan bersinergi bersama CPI, sukses bersama adalah sebuah keniscayaan.