POULTRY INDONESIA, Bali – Selasa, 9 Juli 2018, PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) resmikan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) ke-6 di Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan, Bali.
Bali sebagai daerah tujuan wisata dituntut dapat menyediakan daging ayam yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). “Keberadaan RPHU ini diharapkan dapat membantu menunjang tuntutan kebutuhan daging ayam yang berkualitas dan higienis di Bali, sebagai daerah tujuan wisata bagi wisatawan dari dalam dan luar negeri,” ungkap Thomas Effendy, Presiden Direktur CPI.
Dibangun pada luas area 3 hektar, RPHU ini merupakan RPHU ke-6 yang dibangun CPI, setelah sebelumnya dibangun di Medan, Serang, Bandung, Salatiga serta Mojokerto.
“Sampai dengan akhir tahun 2019, CPI akan memiliki total 11 RPHU dengan kapasitas potong 455.000 ekor per hari, dan pada akhir kwartal 4 tahun 2020, CPI memiliki target 17 RPHU sesuai yang telah direncanakan dengan kapasitas potong sebesar 765.000 ekor per hari,” papar Thomas.
RPHU CPI di Selemadeg Barat, Tabanan – Bali
RPHU milik CPI ke-6 di Bali ini dioperasikan dengan kapasitas produksi sebesar 2.000 ekor per jam, dengan menjalankan 1 shift selama 7 jam. Seiring dengan peningkatan kebutuhan, produksi dapat ditingkatkan hingga 28.000 ekor per hari selama 14 jam. RPHU ini memiliki fasilitas pendingin (cold storage) dengan kapasitas 45 ton untuk ayam segar (fresh chilled), 50 ton untuk ayam beku, dan 50 ton untuk food process product.
Dalam sambutannya, AA., Gede Dalem Trisna Ngurah, S., Sos, Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Tabanan mengungkapkan bahwa sektor perunggasan memiliki peranan yg cukup besar dan merupakan sektor andalan dalam pertumbuhan perekonomian di Kab. Tabanan dalam pemenuhan kebutuhan daging ayam segar atau daging ayam olahan.
“Pemerintah Kab. Tabanan memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya atas peran serta CPI melalui pembangunan RPHU modern, yang mampu meningkatkan kapasitas pemotongan unggas dan pengembangan pemasaran hasil unggas yg berkualitas tinggi dan ASUH. Sehingga hal ini akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya peternak serta dapat mendorong perekonomian daerah,” lanjut Trisna.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. drh. I. Ketut Diarmita, MP., yang turut meresmikan RPHU CPI di Tabanan berharap pembangunan RPHU CPI dapat dilanjutkan sampai Sulawesi dan NTT. “RPHU bisa menjadi salah satu solusi untuk permasalahan fluktuasi harga, ketika ketersediaan berlebih, dapat disimpan dengan cold storage yang dimiliki. Saya berharap ke depannya CPI dapat menjadi pioner melakukan ekspor, membawa produk-produknya ke luar negeri dan berdaya saing dengan negara lain seperti Brazil dan Amerika yang ingin memasukkan produknya ke Indonesia,” ungkap Ketut.
Penandatanganan prasasti oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, drh. I. Wayan Mardiana, M.M.
Selain itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, Drh. I Wayan Mardiana, MM. memaparkan konsumsi sumber protein hewani asal unggas semakin meningkat tiap tahunnya. “Pada tahun 2018 konsumsi daging ayam di Bali 10,82 kg/kapita/tahun, yang diprediksikan meningkat sampai akhir tahun 2019 yakni 12,42 kg/kapita/tahun, dan target nasional pada tahun 2020 mencapai 13 kg/kapita/tahun,” jelas Wayan.
Wayan melanjutkan bahwa melihat target tersebut diperlukan peningkatan konsumsi daging ayam yang harus dibarengi pertumbuhan peternakan dan instrumen pendukungnya, salah satunya tersedianya RPHU yang representatif.
Tidak hanya menyediakan RPHU, berkat dorongan dari pihak pemerintah, CPI juga terus kembangkan sampai dengan tahap pendistribusian. “Kami berkomitmen untuk tidak berhenti sampai di RPHU saja, akan tetapi kami terus kembangkan sampai dengan tahap pendistribusian ke konsumen melalui gerai-gerai Prima Freshmart, yang sampai akhir tahun 2019 ini akan dibuka kurang lebih 600 gerai sehingga konsumen dapat langsung menikmati ayam beku ASUH yang telah diproses oleh RPHU kami, dengan harga cukup terjangkau,” jelas Thomas.