Kenaikan harga jagung sangat berdampak besar bagi siklus produksi peternak layer
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Harga jagung yang sempat melambung hingga mencapai Rp 6.000 di bulan lalu menempatkan peternak layer dan broiler ke suatu situasi yang dilematis. Menurut Ki Musbar Mesdi selaku ketua Peternak Layer Nasional (PLN) dalam acara Lokakarya bertajuk “Mencari Solusi di Tengah Melambungnya Harga Pakan Ternak Ayam” (29/11) di Alia Hotel Matraman, Jakarta Timur, menuturkan bahwa posisi peternak petelur sedang berada dalam posisi yang dilematis. “Sangat problematis bagi kami di sisi produsen (ketika harga bahan pakan naik). Kalau kita ingin naik (menaikkan harga telur) kita dimarahi konsumen. Sedangkan jika tidak naik, usaha kami terancam gulung tikar,” ujar Musbar.
Dalam acara tersebut juga mendatangkan Narasumber dari berbagai sudut pandang. Selain peternak, lokakarya tersebut juga turut menghadirkan narasumber seperti Direktur Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Kementerian Pertanian Ali Jamil, Kasatgas Koordinasi dan Solusi Satgas Pangan Krisnandi, Juga Bambang Istianto selaku akademisi.
Baca Juga : Demi Stabililtas Pasokan Jagung, Pemerintah Buka Keran Impor
Menurut Ali Jamil, produksi jagung sebanyak 30 juta ton itu ada di seluruh Indonesia. Namun terjadi anomali yang menyebabkan harga tersebut tidak sesuai dengan teori supply and demand. “Harusnya kalau produksi jagung itu segini, harga turun. Tapi kenapa justru harga naik? Anomali ini terjadi karena adanya spekulasi atau peramalan, dan kebiasaan situasi ekonomi di daerah,” ujar Ali.
Sedangkan untuk menjawab spekulasi mengenai adanya penimbunan stok jagung, Krisnandi membantah spekulasi tersebut. Pihaknya mengklaim ketika melakukan pengecekan ke lapangan, tidak ada oknum baik petani, peternak, maupun pelaku usaha yang terbukti menimbun jagung. “Saat ini memang sulit untuk melakukan penimbunan. Katakanlah sudah semakin baik, karena kontrol dari pemerintah sudah ada batas harga atas dan harga bawah,” ujar Krisnandi.