Training sekaligus edukasi terkait koksidiosis yang diselenggarakan oleh Elanco bekerja sama dengan IPB, Bogor (18/9).
PT Elanco Animal Health Indonesia sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri kesehatan hewan, turut berperan aktif dalam mengedukasi berbagai pihak termasuk para dokter hewan untuk lebih mengenal dan memahami penyakit koksidiosis atau yang juga dikenal sebagai penyakit berak darah. Melalui acara yang dikemas dalam bentuk Hands on Training atau praktek langsung, Elanco berusaha memberikan pelayanan lebih kepada para dokter hewan untuk langsung melakukan diagnosa koksidiosis melalui pemeriksaan laboratorium.
Brand Manager PT Elanco Animal Health Indonesia, drh. Prapatantio Teteg Pringgodigdoyo, mengatakan bahwa kegiatan Poultry Acceleration Program “Laboratory Diagnosis of Coccidiosis” yang bertempat di Laboratorium Protozoologi, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Insitut Pertanian Bogor (IPB), pada 18 September 2018, merupakan sebuah kerja sama antara Elanco dengan FKH IPB, yang mana akan menghasilkan poin Satuan Kredit Pendidikan Berkelanjutan (SKPB) bagi dokter hewan yang mengikuti program ini.
“Selain sertifikat ber-SKPB, program ini akan memberikan pemahaman terkait koksidiosis melalui teori di dalam kelas maupun praktikum diagnosa koksidiosis di laboratorium. Sehingga, saat pulang nanti ada bekal ilmu baru yang akan berguna bagi peserta sesuai dengan tugas kerjanya di masing-masing perusahaan,” ujar Teteg.
Diagnosa koksidiosis
Kasus koksidiosis masih sering ditemui pada peternakan ayam di Indonesia. Oleh karena itu, melalui Poultry Acceleration Program, Elanco berharap kepada para dokter hewan yang menjadi peserta program untuk dapat mendiagnosa koksidiosis secara tepat. Program yang diikuti oleh 28 peserta dari berbagai perusahaan perunggasan ini dipandu langsung oleh Prof. Dr. drh. Umi Cahyaningsih, MSi dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Prof. Umi dalam paparannya mengatakan bahwa koksidiosis merupakan penyakit pada ayam yang disebabkan oleh protozoa Eimeria sp. Dalam perkembangannya, Eimeria sp terbagi menjadi 9 jenis spesies. Menurutnya, ada beberapa jenis spesies yang sangat patogen seperti E. tenella dan E. Necatrix, keduanya berlokasi di bagian sekum ayam. Sedangkan spesies patogen yang lain seperti E. acervulina, E. Brunetti, dan E. Maxima berada di usus ayam.
Para peserta yang mengikuti Hands on Training di Laboratorium Protozoologi, IPB.
Koksidiosis yang disebabkan oleh protozoa E. tenella dan E. Necatrix memang ganas, untuk infeksi E. tenella biasanya terjadi secara akut, terjadi berak darah, dan dapat menimbulkan kematian. Namun, karena gejalanya terlihat dengan adanya berak berdarah, maka peternak biasanya akan segera mencari obat untuk mengatasinya. Akan tetapi pada kasus yang disebabkan oleh protoza yang berada pada saluran pencernaan seperti usus halus, hal ini yang terktadang sulit dilihat oleh peternak karena gejalanya tidak tampak nyata.
“Kalau akibat serangan E. tenella yang menyebabkan berak berdarah, itu karena terlihat jelas jadi bisa segera ditangani. Namun kalau yang menyerang E. acervulina yang fesesnya terlihat normal-normal saja, kerusakan usus juga kadang-kadang tidak terlalu kelihatan, ini yang sangat merugikan karena ayam tetap makan namun penyerapan tidak sempurna yang berakibat pada menurunnya produktivitas,” paparnya.
Seorang dokter hewan yang sehari-hari banyak bertugas di lapangan juga harus cermat saat mendiagnosa agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan kesimpulan. Menurut Prof. Umi, ada dua keterampilan yang harus dimiliki oleh dokter hewan, seperti mampu melihat ookista dengan mikroskop sehingga tahu betul bentuk-bentuk ookista dan yang kedua adalah mampu membedakan ookista dengan kotoran yang terdapat pada sampel tinja yang telah diambil dari kandang.
“Teknik diagnosa koksidiosis ada dua macam, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Namun dari semua metode itu, yang harus terlebih dahulu dikuasai adalah pendiagnosa mampu mengetahui dengan betul seperti apa ookista itu,” jelasnya kepada para peserta program.
Peserta saat melakukan praktek langsung diagnosa koksidiosis di laboratorium.
Senada dengan Prof. Umi, Technical Manager PT Elanco Animal Health Indonesia, drh. Agus Prastowo, menjelaskan bahwa untuk melihat gejala klinis pada ayam yang diduga terserang koksidiosis, harus dilakukan dengan cermat. “Jangan sampai hanya karena melihat feses terlihat cair langsung menyimpulkan itu koksidiosis. Untuk memastikannya, ayam itu harus dibedah dan dilihat ususnya. Selain itu, harus dilakukan uji laboratorium agar lebih meyakinkan,” kata Agus.
Agus menambahkan, untuk melakukan kontrol koksi secara sukses, ada beberapa tahapan seperti manajemen yang harus diperbaiki, monitoring program, dan positioning program. “Penggunaan antikoksi merupakan jalan terbaik untuk melindungi peternakan ayam, namun harus melihat petunjuk teknis yang sudah diatur dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No.09111/KPTS/PK.350/F/9/2018,” ujarnya.
Dalam hal penerapannya, pemerintah tetap memfasilitasi penggunaan antikoksi untuk mencegah kerugian yang lebih besar bagi para stakeholder perunggasan. Apalagi kejadian koksidiosis selalu diikuti dengan munculnya penyakit necrotic enteritis. Oleh karena itu, cara paling efektif untuk mengontrol koksi pada peternakan broiler adalah menggunakan medicated feed.
PT Elanco Animal Health Indonesia sudah memulai program medicated feed yang komprehensif dengan penggunaan teknologi Health Tracking System atau yang lebih mudah dikenal dengan nama HTS. Teknologi HTS merupakan manajemen sistem pengolahan data yang digunakan untuk melakukan pemetaan status kesehatan ayam secara komprehensif dengan membandingkan parameter kondisi ayam dalam waktu atau umur tertentu, dengan pendekatan statistik untuk mendapatkan data kuantitatif.
“Sistem ini telah digunakan oleh 300 perusahaan perunggasan di 48 negara. Penyakit-penyakit yang muncul pada peternakan ayam bisa dengan cepat didiagnosa dan diberikan solusi, dengan HTS ini, kesehatan ayam bisa diukur secara kuantitatif, sehingga ketika medicated feed sudah diaplikasikan, maka data hasil evaluasinya sangat berguna untuk menilai kondisi status kesehatan hewannya, dan menentukan langkah yang harus diambil selanjutnya” ujar Brand Manager PT Elanco Animal Health Indonesia, drh. Prapatantio Teteg Pringgodigdoyo.
Untuk memudahkan pelaku industri peternakan dalam merancang program medicated feed, Elanco memberikan pelayanan HTS sebagai tools yang dapat membantu diagnosa, evaluasi, menyediakan data epidemiologi serta menentukan program medikasi yang sesuai. Selain itu, Elanco juga memberikan beberapa pilihan solusi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan costumer, antara lain Surmax® / Maxus® (Avilamycin), Elancoban® (Monensin), Monteban® (Narasin), Maxiban® (Narasin & Nicarbazin) dan Clinacox® (Diclazuril).
“Elanco berkomitmen untuk dapat terus memberikan kontribusi bagi industri peternakan Indonesia yang peduli tentang bagaimana menjaga kesehatan hewan yang lebih baik dan sustainable melalui aplikasi teknologi,” terang Teteg.