Pelabuhan menjadi titik vital perdagangan untuk seluruh komoditas (Foto : priokport.co.id)
Oleh : Elis Hellina
Ekspor global pada 2018 diperkirakan naik 2% menjadi 11,3 juta ton, terutama didorong oleh permintaan yang kuat dari Jepang, Kuba, Hongkong, Angola, Irak dan Ghana. Ekspor Brasil diperkirakan meningkat hanya 1% menjadi 3,9 juta ton, karena adanya masalah akses pasar di Arab Saudi dan Cina. Sementara Thailand akan mengalami pertumbuhan ekspor 7% menjadi 810.000 ton karena permintaan pasar Asia yang kuat serta meningkatnya akses pasar Cina. Pengiriman dari Ukraina akan meningkat 18% menjadi 310.000 terutama ke pasar Timur Tengah, Uni Eropa, dan Afrika Utara.
Ekspor broiler AS diperkirakan meningkat 3% menjadi 3,2 juta ton. Amerika Serikat akan bersaing langsung dengan Brasil di sejumlah pasar, setelah Brasil kehilangan akses ke Arab Saudi akibat diterapkannya larangan pemingsanan. Pada tahun 2017, ekspor broiler Brasil ke Arab Saudi mencapai 15% dari total perdagangan. Kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara mengambil porsi 43% dari ekspor daging broiler Brasil pada tahun 2017, meningkat dari 32% pada 2007. Pasar Arab Saudi juga berubah dari ayam utuh menjadi ayam potongan.
Baca Juga : Tren Budi Daya Cage Free di Berbagai Belahan Dunia
Secara tradisional, Arab Saudi mengimpor separuh dari konsumsi daging broilernya, dan 80% di antaranya berasal dari Brasil. Arab Saudi mensyaratkan sertifikasi bebas hormon, pakan ternak yang bebas protein hewani, sertifikasi halal, dan spesifikasi lain yang selama ini mampu dipenuhi oleh Brasil. Seluruh impor berupa produk beku, terutama untuk komunitas ekspatriat serta sektor hotel dan restoran. Masyarakat Arab Saudi sendiri lebih menyukai daging broiler lokal yang disembelih langsung. Daging broiler dari Brasil disukai karena ukurannya yang lebih kecil (konsumen menyukai ukuran 1,2 hingga 1,4 kilogram).
Pengiriman broiler Brasil ke Arab Saudi sudah turuh 21% pada 2017 karena sejumlah faktor termasuk keluarnya ratusan ribu ekspatriat dari Arab, meningkatnya harga broiler Brasil pada semester kedua 2017, serta meningkatnya produksi broiler Arab Saudi sendiri. Ekspor ke negara-negara Uni Emirat Arab relatif tidak berubah kendati ada sejumlah kendala seperti persyaratan sertifikasi halal yang baru, meningkatnya produksi domestik, serta “skandal broiler” Brasil yang terjadi tahun lalu.
Baca Juga : Dampak Perang Dagang AS Terhadap Produk Pertanian
Pada bulan Maret 2018, Arab Saudi mengumumkan kepada para penyuplai utamanya tentang perubahan regulasi yang melarang pemingsanan ayam sebelum disembelih. Sebagaimana halnya eksportir lain, produsen ayam Brazil menerapkan pemingsanan dalam proses pemotongan. Diperkirakan Brazil akan memodifikasi beberapa fasilitas pemotongannya demi memenuhi permintaan Arab Saudi. Namun eksportir lain sepertinya akan terkendala dengan aturan baru tersebut, dan akibatnya, impor ayam Arab Saudi akan turun hingga 42% menjadi 450.000 ton.
Sementara itu, pengiriman ke Qatar akan terkendala akibat blokade perdagangan regional. Pada bulan Juni 2017, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Mesir memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dan menutup sebagian besar jalur transportasi dari dan ke negeri itu. Akibatnya, impor daging broiler Qatar akan turun hingga 46% menjadi sekitar 75.000 ton, yang berarti terendah dalam sejarah.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 62 dengan judul “Produksi dan Perdagangan Daging Dunia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153