POULTRYINDONESIA, Jakarta – Meningkatnya jumlah penduduk dan taraf hidup masyarakat Indonesia yang semakin baik membuat permintaan terhadap pangan juga meningkat, tak terkecuali terhadap daging ayam lokal. Permintaan yang terus meningkat, membuat para pembibit ayam lokal harus mampu menyediakan day old chick (DOC) dengan kualitas dan kuantitas yang tepat. Walaupun permintaan terhadap komoditas pangan tersebut terus meningkat setiap tahun, budi daya ayam lokal merupakan usaha peternakan rakyat yang masih berskala UMKM bukan industri.

Tumbuh alami untuk terus menghidupi orang banyak lebih baik ketimbang tumbuh cepat namun mematikan banyak orang.

Dalam perjalanannya, pembibit dan peternak ayam lokal terhimpun dalam sebuah organisasi yang bernama Gabungan Pembibit Ayam Lokal Indonesia (GAPALI). Sebagai organisasi yang mewadahi kepentingan peternak, GAPALI memahami tentang apa yang diperlukan dan dibutuhkan oleh peternak ayam lokal. Selain itu, GAPALI juga tahu betul tentang besaran skala usaha para peternak ayam lokal yang tersebar di beberapa daerah. “Peternak ayam lokal itu jauh berbeda dengan peternak ayam ras yang kepemilikan ternaknya bisa mencapai puluhan ribu atau bahkan ada yang sampai ratusan ribu ekor. Peternak ayam lokal bisa panen seribu ekor per minggu saja sudah bagus, karena memang modal mereka masih terbatas,” ujar Bambang Krista selaku Ketua Umum GAPALI saat ditemui di Citra Lestari Farm miliknya di Cileungsi, Bogor, Kamis (6/9).
Baca Juga : Bambang Krista, Bangkit dari Keterpurukan
Dengan kondisi yang ada seperti sekarang, usaha peternakan ayam lokal memang sebaiknya tetap dilindungi oleh peraturan perundangan. Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 44 Tahun 2016 Tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal, bahwa usaha pembibitan dan budi daya ayam buras serta persilangannya dibatasi hanya untuk usaha mikro, kecil, menengah serta koperasi dengan batasan modal maksimal sebesar Rp 10 miliar di luar tanah, bangunan, dan peralatan.
Bagi GAPALI, dengan adanya peraturan tersebut, hal itu bisa menjadi payung hukum yang kuat agar peternak ayam lokal tetap berjaya di negeri sendiri. Batasan nilai investasi maksimal 10 miliar merupakan angka yang ideal agar para pemilik modal besar tidak ikut campur dalam berbudidaya. “Bisa dibayangkan jika tidak ada aturan tersebut, investor dengan modal yang sangat besar bisa ikut bermain. Kalau semua sudah dikuasai, peternak ayam lokal akan habis digantikan oleh korporasi – korporasi,” terangnya.
Baca Juga : Meninjau Kembali Regulasi Ayam Lokal
GAPALI tak menampik jika permintaan terhadap ayam lokal terus meningkat setiap tahunnya, namun pertumbuhan usaha peternakan ayam lokal di Indonesia diharapkan tetap tumbuh alami bukan karena dipaksa. Dalam pandangan Bambang, jika korporasi ikut serta berbudidaya, maka akan terjadi pertumbuhan produksi yang lebih cepat dan dikhawatirkan tidak sebanding dengan jumlah permintaan terhadap daging ayam lokal.
“Kami tahu pangsa pasar dan serapan untuk ayam lokal saat ini. Oleh karena itu, jika peternakan ayam lokal ini diindustrialisasi, maka peternak rakyat yang akan kalah bersaing. Kami bersyukur bahwa pemerintah tetap berusaha melindungi, kami berharap Perpres No. 44/2016 jangan sampai dicabut karena itu satu-satunya harapan para peternak ayam lokal untuk tetap bisa beternak,” ujar Bambang.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 100 dengan judul “GAPALI, Belum Saatnya Menuju Industrialisasi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153