POULTRY INDONESIA, Purwokerto – Kota Purwokerto dan segala kegagahan Gunung Slamet menjadi sumber daya alam yang sangat cocok untuk membangun peternakan ayam niaga petelur (layer). Letaknya yang strategis di tengah Pulau Jawa serta iklimnya yang cukup sejuk, membuat siapa saja tertarik untuk menancapkan bisnis perunggasan di kota ini. Salah satunya adalah Hardiyat Heru Nugroho atau yang akrab disapa Gembong. Gembong merupakan peternak layer yang cukup terpandang di Purwokerto. Perjalanan hidupnya cukup menarik, sempat menyandang status sebagai mahasiswa namun tidak sampai menjadi seorang insinyur peternakan. Namun kini, namanya sangat terkenal di kampus yang pernah ia tinggalkan.
Kisah awal bermula saat Gembong menjalani masa kuliah puluhan tahun silam. Saat itu, terjadi perselisihan antara dirinya dengan dosen yang mengampu mata kuliah ternak unggas yang membuatnya tidak melanjutkan masa studinya. Rasa “dendam” itulah yang diam-diam membulatkan tekadnya untuk menjadi seorang pengusaha dalam bidang perunggasan. “Saya pernah kuliah di Unsoed tapi tidak sampai jadi insinyur karena ada masalah dengan dosen unggas,” ujarnya kepada Poultry Indonesia, Jum’at (27/4) di Purwokerto.
Serasa sedang bernostalgia, Gembong menceritakan bahwa selama kuliah di Fakultas Peternakan Unsoed sejak tahun 1982-1987, Gembong melakukan banyak usaha untuk menambah penghasilan selama menjadi mahasiswa. Berawal dari keterpaksaan dan keterbatasan ekonomi keluarga menjadikan jiwa kewirausahaannya timbul dan berkembang hingga saat ini. “Saat itu saya jualan bensin dan minyak tanah. Saya menjalani bisnis sejak mahasiswa sebenarnya karena dipaksa keadaan untuk meringankan beban orang tua,” kenangnya.
Begitulah sekelumit rentetan perjalanan hidup dari salah satu tokoh perunggasan di wilayah yang beribukota di Purwokerto ini. Selain aktif sebagai Wakil Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan (PINSAR) bidang Layer, Gembong telah lama berkecimpung di dunia perunggasan sejak tahun 1991 sampai dengan sekarang. Sampai saat ini usaha yang dimilikinya cukup terkenal di telinga warga Purwokerto, seperti UD Saung Sari yang bergerak dalam budi daya untuk komoditas ayam niaga petelur yang terletak di Desa Gandatapa Kecamatan Sumbang.
Bisnis budi daya layer
Saat ini kandang yang ia miliki berpopulasi 60 ribu ekor dengan total produksi 2-3 ton per hari. Selain budi daya layer, Gembong juga memiliki kandang untuk budi daya broiler. Beberapa usaha lain yang digelutinya seperti penggemukan sapi potong yang kini jumlahnya mencapai 112 ekor, dan menjadi penyedia jasa pembangunan kandang yang diberi nama Multi Karya Grup dan Tunas Patria. Ia bercerita, bahwa dalam menjalani semua bisnis yang ia jalankan tidak selalu berjalan mulus. “Namanya bisnis pasti ada jatuh bangunnya, dulu pernah untuk populasi broiler mencapai 153 ribu ekor, namun akibat isu flu burung sekitar tahun 2003-2004, populasi yang kini ada tidak sebanyak dulu”, ujar Gembong lagi.
Gembong mengaku bahwa menjalani bisnis perunggasan saat ini tidak semudah dulu. Selain kondisi jagung dan harga pakan yang naik, menurutnya harga DOC layer yang cukup tinggi juga menjadi kendala yang cukup berat. “Saat ini harga DOC mencapai 7 ribu rupiah per ekor, terkadang berat DOC tidak mencapai standar dan dalam kondisi cacat pun dijual”, ungkapnya. Gembong juga berpendapat, selain biaya operasional yang tinggi, lokasi untuk membuka kandang yang makin sempit, ada lagi faktor lain seperti tenaga kerja kandang yang kian sulit dicari karena bersaing dengan perusahaan lain. “Masyarakat sekitar Purwokerto berlomba-lomba masuk di industri wig dan bulu mata karena cenderung lebih mudah dikerjakan dan dapat dibawa pulang ke rumah, itu yang membuat kami tidak mudah mencari pekerja kandang di sini,” tukasnya.
Sampai saat ini Gembong masih tetap optimis dalam menajalankan bisnis budidayanya, hal ini berdasarkan prediksinya, bahwa bisnis ayam petelur akan baik selama pemerintah tetap konsisten membatasi GPS (Grand Parent Stock) masuk ke Indonesia dan tidak asal-asalan dalam menentukan kebijakan. “Kalau dulu itu GPS masuk ke breeding farm yang besar dan masuk secara bersamaan, tentu hal ini berdampak pada DOC yang dihasilkan tidak terserap dan resikonya daging dan telur jatuh, kalau sekarang memang sudah lebih baik penatannya”, ungkap Gembong.
Semangat menyemangati SDM Peternakan
Baginya, hidup adalah sebuah kebermanfaatan untuk orang lain. Menurut gembong untuk memulai berwirausaha atau berbisnis, maka seseorang harus memiliki keberanian untuk memulai. Gembong menyebut dalam istilah berbahasa Jawa, “Yen Wani Ojo Wedi-Wedi, Yen Wedi Diwanek-Waneke” yang artinya kalau berani jangan takut-takut, kalau takut diberani-beranikan.
Gembong yang sepanjang hidupnya tidak pernah bekerja ditempat orang lain ini sangat bangga dengan masa lalunya. “Masa lalu adalah pelajaran bagi saya dan hari ini harus diperbaiki,” ucapnya. Rasa bangga itu bukan tanpa sebab, Gembong yang tidak sempat menyandang gelar Insinyur memiliki semangat bahwa dirinya juga bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang disekitarnya.
Gembong mengatakan bahwa semua yang ia lakoni saat ini berawal dari keterpaksaan. Selain tidak mempunyai gelar akademis mahasiswa, ia juga berlatarbelakang dengan keluarga dengan keterbatasan ekonomi. “Ada empat hal yang harus dimiliki anak-anak muda atau calon sarjana, mereka harus memiliki IQ, kreatifitas, komitmen terhadap tanggungjawab, dan kematangan emosional,” wejangnya kepada koresponden Poultry Indonesia yang mewawancarainya.
Minimnya generasi muda yang terjun ke ranah bisnis peternakan atau berwirausaha menjadi sorotannya untuk selalu merangkul anak muda yang ingin berwirausaha. “Jika ingin menjadi pengusaha jangan ada kata menyerah, sebaiknya untuk menjadi pengusaha jangan mendaftar jadi pegawai, karena jika mendaftar menjadi pegawai sama saja kita berada di zona yang nyaman dan pengusaha tidak dibentuk di zona yang nyaman,” imbuhnya.
Sisi menarik dari Gembong adalah loyalitas kepada almamater yang telah mendidiknya selama 5 tahun. Meski gelar insinyur tidak diraihnya, ia tetap berkontribusi dan membantu melancarkan siklus kehidupan kampus di kampus tercintanya. Seperti yang terlihat saat ini, terbangunnya sarana belajar berwirausaha mahasiswa peternakan Unsoed yang diberinama Student Bussines Incubator, merupakan salah satu sumbangsihnya dan juga beberapa alumni yang lain. “Hidup itu untuk berkarya mbak Dini”, ujar pria berumur 56 tahun itu. Dini (Koresponden Poultry Indonesia)