Banyak isu negatif seputar produk peternakan yang menjadi penyebab penyakit tidak menular masih perlu adanya riset lebih lanjut
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Produk pascapanen perunggasan memiliki variasi produk yang sangat beragam. Produk hasil pascapanen untuk komoditas daging ayam sudah memiliki banyak turunannya. Sehingga, konsumen bisa memilh sesuai kebutuhan dan selera masyarakat. Jika ingin mengolah dan memasak sendiri sesuai selera, maka konsumen bisa membeli karkas atau parting yang tersedia di pasar tradisional maupun di pasar modern. Namun, jika ingin sesuatu yang cepat dan praktis, konsumen bisa membeli makanan ready to cook seperti nugget, sosis, fillet, karage, sayap yang sudah berbumbu, dan produk lainnya.
Namun, ada beberapa stigma negatif yang beredar di masyarakat terkait dengan produk pascapanen perunggasan. Stigma ayam tiren serta ayam yang sudah kedaluwarsa dan sudah mengalami penurunan kualitas masih banyak beredar di masyarakat. Ayam tiren merupakan akronim dari “mati kemarin” yang beredar di masyarakat terhadap ayam karkas maupun parting, bahkan ayam yang sudah diolah menjadi makanan seperti ayam goreng di warung-warung makan, tidak luput dari stigma tiren. Stigma tersebut tentunya berbahaya bagi masyarakat awam. Masyarakat perlu lebih jeli dalam melihat kualitas produk ayam yang dibeli.
Baca Juga : Isu Telur Ayam Palsu Ternyata Hoax
Selain tiren, isu tentang ayam yang meningkatkan resiko penyakit tidak menular (PTM) juga masih santer terdengar di masyarakat. Masyarakat masih menganggap konsumsi ayam dan telur meningkatkan risiko PTM seperti serangan jantung, kolesterol, stroke, dan lainnya. Padahal berita tersebut belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Berdasarkan riset yang dilakukan Ketua Umum Pergizi Pangan, Prof. Hardinsyah, mengonsumsi telur satu butir sehari sangat baik bagi kesehatan. “Konsumsi telur satu butir sehari pada anak usia 6-24 bulan menurunkan risiko stunting (kerdil). Selain itu juga mengonsumsi telur satu butir sehari tidak berhubungan dengan risiko jantung koroner dan stroke,” papar Hardinsyah.
Lalu ada pula kabar negatif tentang budi daya ayam yang menggunakan hormon untuk mempercepat masa pemeliharaan, dan meningkatkan bobot badan. Masyarakat berasumsi bahwa cepatnya pemeliharaan ayam dimana hanya 3 minggu sudah mampu mendapatkan bobot sebesar 1 kilogram, merupakan hasil dari suntikan hormon tertentu. Beberapa waktu yang lalu dalam tulisan Poultry Indonesia Edisi Khusus Indo Livestock 2018, Ketua RW 09 Kelurahan Kalibata Jakarta Selatan, Zulutfi mengaku pernah mendapati keluhan dari masyarakat terkait produk unggas.
Baca Juga : Protein Hewani Penting Bagi Tumbuh Kembang Anak
Masyarakat mengira produk yang dikonsumsi tidak seperti bahan pangan hasil unggas seperti pada umumnya. Hal itu disinyalir Zulutfi sebagai dampak kualitas produk unggas yang tidak sesuai dengan standar mutu. Kalangan masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah, lebih memilih untuk mengonsumsi produk unggas yang murah meski kualitasnya tidak terjamin. “Seharusnya jangan lagi bicara harga murah meriah. Hal yang harus diingat adalah kualitas produknya bagus,” ujar Zulutfi.
Dengan adanya isu tersebut, sebagian besar masyarakat memilih untuk mengonsumsi ayam segar. Artinya, mereka masih senang membeli ayam di pasar becek yang mereka tahu sendiri proses pemotongan dan pengolahannya. Ini juga merupakan salah satu imbas yang terjadi karena ketakutan masyarakat akan isu ayam suntik hormon. “Terkadang ada juga pedagang yang nakal. Mereka ingin menyajikan daging ayam dalam bentuk segar seharian, dan kadang mereka menyuntikkan bahan kimia supaya ayam mereka tetap terlihat segar, tetap merah, tidak pucat meski dijual seharian,” ungkap Zulutfi.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2018 di halaman 26 dengan judul “Gambaran Industri Pascapanen Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153