{"id":16819,"date":"2021-07-04T11:15:04","date_gmt":"2021-07-04T04:15:04","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=16819"},"modified":"2021-07-08T11:28:38","modified_gmt":"2021-07-08T04:28:38","slug":"debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/","title":{"rendered":"Debu Kandang dan Korelasinya Terhadap Agen Penyakit dan Manajemen Pemeliharaan"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Oleh: Tony Unandar*<\/strong><\/h6>\n<h6>Terjadinya akumulasi debu dan mikroorganisme kontaminan pada permukaan saluran pernapasan tadi tentu saja dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada saluran pernapasan itu sendiri.&nbsp; Lapisan permukaan saluran pernapasan yang tidak utuh lagi akan memungkinkan partikel-partikel debu masuk ke dalam jaringan tubuh ayam yang lebih dalam.&nbsp; Dalam jaringan tubuh ayam, debu selanjutnya akan dicoba dieliminasi oleh sel-sel fagosit (bagian dari sel-sel darah putih), misalnya oleh makrofag dan heterofil.&nbsp; Karena sebagian partikel debu tidak bisa dihancurkan secara enzimatis dengan baik via aktifitas fagositosis, maka akan terjadi pemborosan dalam penggunaan heterofil dan atau menurunnya aktivitas makrofag dalam melakukan proses fagositosis yang berulang-ulang (<em>phagocyte capability<\/em>).&nbsp; Jika kondisi ini terjadi, maka:<\/h6>\n<h6>Daya tahan tubuh ayam secara umum berarti akan menurun, karena sistem pertahanan tubuh melalui sel-sel darah putih (<em>innate immunity<\/em>) tidak dalam kondisi prima.&nbsp; Keadaan ini tentu saja akan mengakibatkan meningkatnya suseptibilitas (kepekaan) ayam yang dipelihara terhadap adanya infeksi oleh mikroorganisme lain.<\/h6>\n<h6>Dalam melakukan aktivitas fagositosis, sel-sel fagosit jelas membutuhkan sejumlah \u201cenergi\u201d tertentu.&nbsp; Aktifitas fagositosis yang berlebihan (dan terlihat sia-sia) akan mengakibatkan terjadinya pemborosan dalam penggunaan energi yang ada.&nbsp; Dengan demikian, pertambahan bobot badan rata-rata per-hari (ADG = <em>average daily gain<\/em>) ayam menjadi berkurang dan konversi pakan (FCR = <em>feed conversion rate<\/em>) akan membengkak.&nbsp; Energi yang terkandung dalam pakan tidak dikonversi menjadi daging, akan tetapi terbuang percuma.&nbsp; Bukankah pada kandang yang kotor dan berdebu penampilan ayam yang dipelihara tidak pernah optimal (sesuai dengan standar galur)?<\/h6>\n<h6><strong>Debu kandang dan infeksi Mikoplasma<\/strong><\/h6>\n<h6>Dr. Shapiro, dalam <em>Poultry Mycoplasma Workshop<\/em> di Davis \u2013 Kalifornia Amerika (1994), memberikan data tentang tingginya prevalensi kasus infeksi Mikoplasma pada ayam, baik oleh Mg (<em>Mycoplasma gallisepticum<\/em>) maupun oleh Ms (<em>Mycoplasma synoviae<\/em>), pada kondisi kandang yang berdebu dibandingkan dengan yang tidak. Reaksi pasca vaksinasi pada kandang yang berdebu juga lebih hebat. Kedua kejadian ini diduga berhubungan erat dengan kondisi tubuh ayam secara umum, di mana dalam lingkungan yang tidak nyaman atau berdebu, ayam akan mengalami stres dengan derajat yang relatif lebih tinggi.&nbsp; Adanya stres jelas akan mengakibatkan kondisi imunosupresi. Di lain pihak, adanya infeksi Mikoplasma jelas akan menginduksi terjadinya gangguan-gangguan pernafasan lebih lanjut.<\/h6>\n<h6><strong>Debu kandang dan pengaruh mediator reaksi radang<\/strong><\/h6>\n<h6>Dalam konferensi teknis <em>\u201cPoultry Beyond 2000\u201d<\/em> (Maret 1997) di Selandia Baru, Dr. Kirk C. Klasing dari Universitas Kalifornia (Davis \u2013 Amerika), memaparkan hubungan antara beberapa mediator reaksi radang (disebut juga <em>sitokin<\/em>) seperti <em>Interleukin-1 (IL-1)<\/em>, <em>Interleukin-6 (IL-6)<\/em> dan <em>Tumor Necrosis Factor (TNF)<\/em> dengan aktivitas fisiologis broiler.<\/h6>\n<h6><strong>Tabel 2.<\/strong> Efek beberapa sitokin terhadap fisiologis tubuh ayam<\/h6>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"192\">\n<h6>Jenis Sitokin:<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"397\">\n<h6>Efek yang Ditimbulkan:<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"192\">\n<h6>IL-1 ; TNF<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"397\">\n<h6>Menurunkan konsumsi pakan (feed intake)<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"192\">\n<h6>IL-1 ; TNF<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"397\">\n<h6>Meningkatkan penggunaan energi waktu istirahat (resting energy)<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"192\">\n<h6>IL-1 ; IL-6<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"397\">\n<h6>Meningkatkan suhu tubuh<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"192\">\n<h6>IL-1<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"397\">\n<h6>Meningkatkan degradasi protein otot<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"192\">\n<h6>IL-1 ; IL-6<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"397\">\n<h6>Meningkatkan sekresi kortikosteroid<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"192\">\n<h6>IL-1<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"397\">\n<h6>Menurunkan sekresi hormon tiroksin<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h6><u>Sumber : <\/u>Klasing, 1997<\/h6>\n<h6>Dari informasi Dr. Klasing tersebut di atas, jelas terlihat adanya hubungan yang tidak menguntungkan antara tingginya kadar mediator reaksi radang (sitokin) dalam cairan tubuh ayam dengan penampilan akhir ayam broiler yang dipelihara. Di lain pihak, data pengamatan Roura sebelumnya mengindikasikan bahwa debu kandang dapat menginduksi reaksi radang. Dengan demikian, debu kandang secara tidak langsung dapat memberikan efek-efek negatif pada penampilan broiler, mirip seperti adanya tantangan mikroorganisme yang berlebihan pada ayam yang ada.<\/h6>\n<h6><strong>Debu kandang dan sistem ventilasi<\/strong><\/h6>\n<h6>Pada sistem kandang tertutup (<em>closed house system<\/em>), debu kandang dapat berakumulasi pada permukaan penutup kipas (<em>fan shutters)<\/em> dan baling-baling kipas (<em>fan blades<\/em>).&nbsp; Penumpukan debu kandang pada baling-baling kipas dapat mengakibatkan kinerja atau kapasitas kipas menurun, akibatnya adalah pergantian udara (<em>air exchange<\/em>) dalam kandang juga pasti berkurang.&nbsp; Di lain pihak, adanya akumulasi debu kandang pada penutup kipas dapat mengakibatkan fan shutter tersebut cenderung selalu menutup. Ujung-ujungnya adalah tekanan negatif dalam kandang akan meningkat, sehingga debu kandang akan semakin pekat (Fabian EE, 2016). &nbsp;<\/h6>\n<h6><strong>Baca Juga:&nbsp;<span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/ragam-sistem-ventilasi\/\">Ragam Sistem Ventilasi<\/a><\/span><\/strong><\/h6>\n<h6>Kesalahan operasional sistem kandang tertutup, misalnya rasio antara kipas nyala dengan luas bukaan area inlet yang tidak seimbang, maka akan menimbulkan tingginya kadar debu dalam kandang tersebut. Akibatnya debu yang yang dikeluarkan dari kandang sistem tertutup tersebut akan sangat tinggi dan dapat mengkontaminasi lingkungan sekitar (Patterson PH, 2014).<\/h6>\n<h6><strong>Debu kandang dan endotoksin<\/strong><\/h6>\n<h6>Endotoksin umumnya berasal dari komponen membran luar dari bakteri Gram negatif seperti <em>Escherichia coli, Pseudomonas spp<\/em> dan <em>Salmonella spp<\/em> serta merupakan komponen mayoritas debu kandang organik (Seedorf J et al., 1998; Rylander R, 2002; Schriel R et al., 2007).&nbsp; Endotoksin dapat menyebabkan gangguan pernafasan via menginduksi sekresi mediator radang dengan berbagai derajat keparahan pada mukosa sistem pernapasan baik ayam ataupun karyawan kandang (Thelin A et al., 1984; Donham KJ et al., 2000; Douwes J et al., 2003).&nbsp; Gas amonia (NH<sub>3<\/sub>) diketahui dapat memberikan efek potensiasi terhadap sekresi mediator radang akibat endotoksin dalam debu kandang (Sala\u00fcn AH et al., 2011).&nbsp; Oleh sebab itu janganlah heran, jika kondisi kandang penuh dengan debu, maka baik reaksi pasca vaksinasi maupun gangguan pernapasan akan menjadi langganan pada ayam yang ada.<\/h6>\n<h6>Jadi sudah sangat gamblang bahwa debu kandang lebih banyak membawa mudharat ketimbang manfaat. Jika Anda, para peternak setuju dengan analisa di atas, relakah Anda jika debu kandang merampok keuntungan usaha peternakan Anda? *Private Poultry Farm Consultant-Jakarta<\/h6>\n<h6><em>Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2021 dengan judul \u201c<span style=\"color: #0000ff;\"><strong><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/kidung-debu-kandang\/\">Kidung Debu Kandang<\/a><\/strong><\/span>\u201d. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153<\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Tony Unandar* Terjadinya akumulasi debu dan mikroorganisme kontaminan pada permukaan saluran pernapasan tadi tentu saja dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada saluran pernapasan itu sendiri.&nbsp; Lapisan permukaan saluran pernapasan yang tidak utuh lagi akan memungkinkan partikel-partikel debu masuk ke dalam jaringan tubuh ayam yang lebih dalam.&nbsp; Dalam jaringan tubuh ayam, debu selanjutnya akan dicoba dieliminasi oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":16823,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[10],"tags":[1447,1910,1043,1506],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Debu Kandang dan Korelasinya Terhadap Agen Penyakit dan Manajemen Pemeliharaan | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Tony Unandar* Terjadinya akumulasi debu dan mikroorganisme kontaminan pada permukaan saluran pernapasan tadi tentu saja dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada saluran pernapasan itu sendiri.&nbsp; Lapisan permukaan saluran pernapasan yang tidak utuh lagi akan memungkinkan partikel-partikel debu masuk ke dalam jaringan tubuh ayam yang lebih dalam.&nbsp; Dalam jaringan tubuh ayam, debu selanjutnya akan dicoba dieliminasi oleh [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-07-04T04:15:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-07-08T04:28:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Capture.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1076\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"505\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Capture.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Capture.jpg\",\"width\":1076,\"height\":505,\"caption\":\"(Sumber gambar: Tony Unandar 2014)\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/\",\"name\":\"Debu Kandang dan Korelasinya Terhadap Agen Penyakit dan Manajemen Pemeliharaan | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2021-07-04T04:15:04+00:00\",\"dateModified\":\"2021-07-08T04:28:38+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Debu Kandang dan Korelasinya Terhadap Agen Penyakit dan Manajemen Pemeliharaan\",\"datePublished\":\"2021-07-04T04:15:04+00:00\",\"dateModified\":\"2021-07-08T04:28:38+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#webpage\"},\"wordCount\":861,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/debu-kandang-dan-korelasinya-terhadap-agen-penyakit-dan-manajemen-pemeliharaan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Capture.jpg\",\"keywords\":[\"jakarta\",\"kipas\",\"Poultry Indonesia\",\"ventilasi\"],\"articleSection\":[\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Capture.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-4nh","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16819"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16819"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16819\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16994,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16819\/revisions\/16994"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16823"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16819"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16819"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16819"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}