{"id":16873,"date":"2021-07-19T09:38:57","date_gmt":"2021-07-19T02:38:57","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=16873"},"modified":"2021-07-21T10:17:23","modified_gmt":"2021-07-21T03:17:23","slug":"pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/","title":{"rendered":"Pengaruh Pemberian Sinbiotik pada Pertumbuhan Usus dan Performa Itik Tegal"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Oleh: Istna Mangisah, S.Pt, M.P<sup>1)<\/sup>, Prof. Dr. Ir. Nyoman Suthama, M.Sc<sup>2)<\/sup>, dan Raka Panji Pratama, S.Pt<sup>3)<\/sup><\/strong><\/h6>\n<h6>Saat ini banyak berkembang bisnis ternak itik pejantan sebagai penghasil daging karena pemeliharaanya cenderung cepat, rata-rata 1,5-3 bulan. Guna mempercepat pertumbuhan, peternak memberikan antibiotik growth promoter (AGP), namun sejak 1 Januari 2018, penggunaan antibiotik tersebut dilarang. Pelarangan AGP pada pakan ini menimbulkan dampak yang signifikan pada produksi ternak, seperti rendahnya pertumbuhan, tingginya mortalitas, timbulnya penyakit, serta rendahnya efisiensi pakan.<\/h6>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p><span style=\"color: #000000;\"><em>Sinbiotik yang berisi probiotik dan prebiotik mampu meningkatkan kesehatan usus, pencernaan, dan performa Itik Tegal.<\/em><\/span><\/p><\/blockquote>\n<h6>Sinbiotik merupakan kombinasi probiotik dan prebiotik. Probiotik merupakan kultur tunggal atau campuran dari mikroorganisme non-patogen yang hidup. Bila diberikan dalam jumlah yang cukup dapat memberikan manfaat bagi kesehatan inang. Jenis bakteri yang digunakan dalam probiotik yaitu bakteri asam laktat (BAL), diantaranya <em>L. bulgaricus<\/em>, <em>L. acidophilus<\/em>, <em>L. casei<\/em>, <em>L. salivarius<\/em>, <em>L. plantarum<\/em>), <em>Streptococcus thermophilus<\/em>, <em>Enterococcus faecium<\/em>, <em>E. faecalis<\/em>, <em>Bifidobacterium <\/em>sp.<\/h6>\n<h6>Probiotik juga membutuhkan substrat makanan, yaitu prebiotik yang merupakan zat aditif yang tidak dapat dicerna oleh usus bagian atas namun dapat difermentasi oleh BAL secara selektif dan meningkatkan aktivitas bakteri tersebut di usus. Terdapat beberapa contoh prebiotik, diantaranya glukomanan, frukto-oligosakarida (FOS), (trans)-galakto-oligosakarida (TOS), dan galakto-oligosakarida (GOS). Glukomanan dapat dipasok dari umbi porang.<\/h6>\n<h6><strong>Baca Juga:&nbsp;<span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wheat-pollard-sebagai-prebiotik\/\">Wheat Pollard Sebagai Prebiotik<\/a><\/span><\/strong><\/h6>\n<h6>Umbi porang (<em>Amorphophallus oncophillus<\/em>) memiliki kandungan glukomanan sekitar 45-65% (Aryanti dan Abidin 2015) dan dikenal sebagai Konjak Glukomanan (KGM). Polisakarida tersebut terdiri dari manosa dan glukosa. <em>Amorphophallus konjac <\/em>(KGM) mampu merangsang pertumbuhan probiotik, seperti BAL, sehingga pertumbuhannya menjadi meningkat. Peningkatan tersebut menyebabkan produksi asam lemak rantai pendek (SCFA) ikut meningkat, sehingga menekan jumlah bakteri patogen dan memulihkan sebagian energi yang hilang akibat persaingan dengan bakteri patogen. Keseimbangan mikrobiota pada usus akan berdampak positif pada kesehatan saluran pencernaan, pencernaan nutrisi, morfologi usus, dan respon imun.<\/h6>\n<h6>Sinbiotik yang dipakai pada riset ini berupa kombinasi bakteri <em>Lactobacillus casei <\/em>dan ekstrak umbi porang dan dubai menjadi dua level, yaitu 1% (A1) dan 2% (A2), sementara waktu pemberian selama 2 minggu (B2), 3 minggu (B3), dan 4 minggu (B4). Itik Tegal jantan yang berjumlah 180 ekor dipelihara dari umur 2 hari dengan rata-rata bobot badan 42,33\u00b12,54 sampai dengan 8 minggu. Pakan komersial diberikan sampai itik berumur 3 minggu, kemudian pada saat umur 3-4 minggu dilakukan adaptasi ransum perlakuan dan pemberian sinbiotik. Selanjutnya pakan diberikan secara ad libitum sampai 8 minggu. Ransum perlakuan mengandung energi metabolis sebesar 3037 kkal\/kg dan protein kasar 18,2%. Hasil pemberian sinbiotik terhadap parameter yang diukur terdapat pada Tabel 1 dan 2.<\/h6>\n<h6><strong>Tabel 1. Panjang usus halus (duodenum, jejunum, ileum) itik tegal<\/strong><\/h6>\n<table width=\"624\">\n<tbody>\n<tr>\n<td rowspan=\"2\" width=\"125\">\n<h6><strong>Level Sinbiotik<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td colspan=\"3\" width=\"374\">\n<h6><strong>Lama pemberian<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td rowspan=\"2\" width=\"125\">\n<h6><strong>Rata-rata<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6><strong>B2<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6><strong>B3<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6><strong>B4<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td colspan=\"5\" width=\"624\">\n<h6><strong>Duodenum (cm)<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6>A1 (1%)<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>27,33<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>26,67<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>26,75<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>26,91<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6>A2 (2%)<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>28,67<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>32,00<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>31,09<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>30,59<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6><strong>Rata-rata<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>28,00<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>29,33<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>28,92<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td colspan=\"5\" width=\"624\">\n<h6><strong>Jejunum&nbsp; (cm<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6>A1 (1%)<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>60,00<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>61,33<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>62,83<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>61,38<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6>A2 (2%)<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>59,33<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>56,00<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>69,00<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>61,44<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6><strong>Rata-rata<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>59,67<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>58,67<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>65,91<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td colspan=\"5\" width=\"624\">\n<h6><strong>Ileum (cm)<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6>A1 (1%)<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>62,67<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>62,67<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>64,25<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>63,19<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6>A2 (2%)<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>58,00<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>59,00<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>70,50<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>62,5<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6><strong>Rata-rata<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>60,33<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>60,83<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>67,37<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h6>Hasil menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara level dan lama pemberian sinbiotik terhadap pertumbuhan usus. Pemberian sinbiotik dengan level tinggi dalam waktu yang lama memberikan pertumbuhan usus halus itik jantan 8 minggu yang tinggi pula. Hal tersebut ditunjukan pada perlakuan A2B3 dan A2B4 yang memperoleh hasil terbaik pada ukuran duodenum dan jejunum. Hasil ini membuktikan bahwa <em>Lactobacillus casei <\/em>dan penambahan glukomanan sebagai makanan spesifiknya mampu mempengaruhi kondisi usus yang ditandai dengan penurunan pH sekum. Penurunan pH sekum lebih rendah pada kelompok itik yang diberikan sinbiotik selama 4 minggu, yaitu 6,7 pada level 1% dan 6,9 pada 2%.<\/h6>\n<h6>Nilai pH yang rendah ini disebabkan oleh produksi asam laktat dan SCFA dari populasi bakteri asam laktat yang meningkat. Kondisi usus dengan pH yang rendah turut mendukung aktivitas BAL untuk tumbuh dan berkembang baik, sehingga dapat menghambat perkembangan bakteri patogen dalam usus. Rata-rata populasi BAL pada level pemberian 2% sebesar 2,02&#215;10<sup>10<\/sup> lebih tinggi dibandingkan dengan 1%, yaitu sebesar 1,73&#215;10<sup>10<\/sup>, namun lama pemberian waktu tidak berpengaruh pada populasi BAL. Selain memperbaiki ekologi usus, suplementasi sinbiotik memperbaiki morfologi usus. Sejumlah hasil riset menunjukan hasil bahwa terjadi peningkatan tinggi vili usus. Hal tersebut akan meningkatkan pencernaan maupun penyerapan protein.<\/h6>\n<h6><strong>Tabel 2. Bobot badan akhir itik akibat diberi sinbiotik<\/strong><\/h6>\n<table width=\"624\">\n<tbody>\n<tr>\n<td rowspan=\"2\" width=\"125\">\n<h6><strong>Level Sinbiotik (A)<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td colspan=\"3\" width=\"374\">\n<h6><strong>Lama Pemberian (Minggu)<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td rowspan=\"2\" width=\"125\">\n<h6><strong>Rata-rata<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6><strong>B2<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6><strong>B3<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6><strong>B4<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6>A1 (1%)<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1300,56<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1321,67<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1328,75<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1316,99<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6>A2 (2%)<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1195,83<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1358,33<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1393,89<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1316,02<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"125\">\n<h6>Rata-rata<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1248,19<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1340<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>1361,32<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"125\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h6>Pemberian sinbiotik A1B4 memiliki efek bobot badan yang mendekati A2B3 dan A2B4. Peningkatan bobot badan pada itik dapat terjadi karena adanya perbaikan daya cerna dan daya serap nutrisi di saluran pencernaan, karena <em>Lactobacillus casei <\/em>dapat bekerja optimal dengan substrat glukomanan yang tersedia.&nbsp;Berdasarkan hasil riset ini maka pemberian dari sinbiotik <em>Lactobacillus casei <\/em>dan glukomanan dari ekstrak umbi porang dengan konsentrasi 2% selama 4 minggu direkomendasikan untuk meningkatkan kesehatan usus, pertumbuhan usus, dan performa itik dari segi bobot badan.*<strong>Dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian<\/strong><sup>1),2)<\/sup>, <strong>Alumni Fakultas Peternakan dan Pertanian<\/strong><sup>3)<\/sup><strong>, Universitas Diponegoro<\/strong><\/h6>\n<h6><em>Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2021 dengan judul \u201c<\/em><strong>Pengaruh Pemberian Sinbiotik pada Pertumbuhan Usus dan Performa Itik Tegal<\/strong><em>\u201d.&nbsp;Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153<\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Istna Mangisah, S.Pt, M.P1), Prof. Dr. Ir. Nyoman Suthama, M.Sc2), dan Raka Panji Pratama, S.Pt3) Saat ini banyak berkembang bisnis ternak itik pejantan sebagai penghasil daging karena pemeliharaanya cenderung cepat, rata-rata 1,5-3 bulan. Guna mempercepat pertumbuhan, peternak memberikan antibiotik growth promoter (AGP), namun sejak 1 Januari 2018, penggunaan antibiotik tersebut dilarang. Pelarangan AGP pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":16874,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[11],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pengaruh Pemberian Sinbiotik pada Pertumbuhan Usus dan Performa Itik Tegal | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Istna Mangisah, S.Pt, M.P1), Prof. Dr. Ir. Nyoman Suthama, M.Sc2), dan Raka Panji Pratama, S.Pt3) Saat ini banyak berkembang bisnis ternak itik pejantan sebagai penghasil daging karena pemeliharaanya cenderung cepat, rata-rata 1,5-3 bulan. Guna mempercepat pertumbuhan, peternak memberikan antibiotik growth promoter (AGP), namun sejak 1 Januari 2018, penggunaan antibiotik tersebut dilarang. Pelarangan AGP pada [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-07-19T02:38:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-07-21T03:17:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/bubil-porang.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"608\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/bubil-porang.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/bubil-porang.jpg\",\"width\":1080,\"height\":608,\"caption\":\"Umbi porang (sumber gambar: rimbakita.com)\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/\",\"name\":\"Pengaruh Pemberian Sinbiotik pada Pertumbuhan Usus dan Performa Itik Tegal | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2021-07-19T02:38:57+00:00\",\"dateModified\":\"2021-07-21T03:17:23+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Pengaruh Pemberian Sinbiotik pada Pertumbuhan Usus dan Performa Itik Tegal\",\"datePublished\":\"2021-07-19T02:38:57+00:00\",\"dateModified\":\"2021-07-21T03:17:23+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#webpage\"},\"wordCount\":787,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-pemberian-sinbiotik-pada-pertumbuhan-usus-dan-performa-itik-tegal\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/bubil-porang.jpg\",\"articleSection\":[\"Riset\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/bubil-porang.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-4o9","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16873"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16873"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16873\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16875,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16873\/revisions\/16875"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16874"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16873"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16873"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16873"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}