{"id":17256,"date":"2021-09-12T13:55:25","date_gmt":"2021-09-12T06:55:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=17256"},"modified":"2021-09-13T08:05:53","modified_gmt":"2021-09-13T01:05:53","slug":"menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/","title":{"rendered":"Menekan Kejadian Infeksi Bronkhitis dengan Tindakan Preventif"},"content":{"rendered":"<h6><em>Infectious Bronchitis<\/em> (IB) merupakan penyakit pernapasan akut yang sangat menular dan menjadi momok tersendiri bagi para peternak. Penyakit ini disebabkan oleh <em>Infectious Bronchitis Virus<\/em> (IBV). Penyakit yang biasa terjadi pada ayam ini ditandai dengan adanya gejala seperti terengah-engah, batuk, bersin, mengorok, dan keluarnya sekresi hidung. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada buku Manual Penyakit Unggas yang diterbitkan pada tahun 2014, kejadian IB pada layer biasa ditandai dengan gejala gangguan pernapasan, penurunan produksi telur, dan penurunan kualitas telur.<\/h6>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p><span style=\"color: #000000;\">Pada prinsipnya, untuk menekan penyebaran virus IB, dilakukan sanitasi, seleksi, dan medikasi. Penerapan biosekuriti bisa menjadi sebuah investasi, dengan tujuan menekan risiko terjadinya penyakit, produksi kandang akan meningkat dan kualitasnya membaik<\/span><\/p><\/blockquote>\n<h6>Virus penyakit IB atau yang biasa disebut dengan <em>Infectious Bronchitis Virus<\/em> (IBV) ini memiliki potensi untuk menyebar dengan cepat pada <em>flok<\/em> yang belum diberikan vaksin dan pencegahan lainnya. Organ utama yang paling terpengaruh oleh IBV adalah saluran pernapasan bagian atas. Menurut Jackwood (2012), pada fase bertelur, saluran reproduksi unggas &nbsp;petelur juga ikut terdampak, sehingga menyebabkan penurunan kualitas telur dan volume produksi.<\/h6>\n<h6>Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyakit ini, antara lain usia, patogenesis virus, dan kekebalan tubuh unggas itu sendiri. Pada umumnya, manifestasi IBV secara klinis meliputi gangguan saluran pernafasan, gangguan saluran reproduksi dan nefritis (Ignjatovi\u0107 dan Sapats, 2000). Terdapat 2 tipe IBV, yaitu <em>serotipe Massachusetts<\/em> yang menyerang saluran <em>respiratori<\/em> dan <em>serotipe nefropatogenik<\/em> yang selain menginfeksi saluran pernafasan juga menginfeksi ginjal serta menyebabkan kerusakan ginjal permanen (Cook et. al, 2012; Butcher et. al,2012; Ignjatovi\u0107 dan Sapats,2000).<\/h6>\n<h6>Kedua serotipe tersebut menginfeksi unggas dewasa dan mempengaruhi produksi telur serta kualitasnya. Virus ini menyebar secara horizontal melalui udara, melalui ingesti feses, serta melalui pakan atau air minum yang terkontaminasi. Selain itu, virus ini juga dapat menyebar melalui peralatan kandang. Dengan tingkat infeksi yang cukup tinggi, virus ini dapat termanifestasi dalam 36 jam dan menularkan ke kelompok lainnya dalam jangka waktu 1 hingga 2 Hari (Ignjatovi\u0107 dan Sapats, 2000).<\/h6>\n<h6>Kejadian IB di Indonesia sendiri pernah dilaporkan oleh Noguchi, et al pada tahun 1972 dan Ronohardjo pada tahun 1980, tetapi tidak dilaporkan <em>serotipe<\/em> virus penyebab IB itu sendiri. Menurut Dharmayanti et. al (2005) pada penelitiannya yang dipublikasikan di dalam Jurnal Biologi Indonesia, terdapat tiga <em>isolat<\/em> lapang Indonesia yang terdeteksi dengan <em>primer general<\/em> IBV CK2\/CK4 antara lain <em>isolat<\/em> I-14, I- 37 dan I-269.<\/h6>\n<h6>Sejalan dengan hasil penelitian Dharmayanti et. al (2005), drh. Muhammad Febryan Abiyyu Rifansa selaku Technical Support PT Tekad Mandiri Citra juga menyebutkan <em>serotipe<\/em> yang sering kali ditemukan di lapangan adalah <em>isolat<\/em> lokal. Dokter hewan yang akrab dipanggil Abiyyu ini mendeskripsikan virus IB sebagai \u2019silent but deadly\u2019, dalam artian kematian yang disebabkan oleh virus ini terbilang rendah, namun kerugian ekonomi yang diakibatkan sangat terasa bagi para peternak karena menurunnya angka produksi hingga lebih dari 50%.<\/h6>\n<h6><strong>Baca juga : <span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/dinamika-virus-ibd-dalam-tubuh-ayam\/\">Dinamika Virus IBD dalam Tubuh Ayam<\/a><\/span><\/strong><\/h6>\n<h6>Ciri yang ditunjukkan oleh individu atau <em>flok<\/em> yang terinfeksi dibedakan dari jenisnya, dimana <em>serotipe<\/em> yang menyerang saluran pernapasan saja disebut sebagai IB klasik, sedangkan <em>serotipe<\/em> yang menyerang saluran pernapasan dan organ lainnya disebut sebagai IB varian.<\/h6>\n<h6>\u201dPada individu atau <em>flok<\/em> yang terinfeksi IB klasik, ciri umum yang ditunjukkan biasanya adalah ayam terengah-engah. Sering kali, ternak terinfeksi IB saat terjadi penurunan produksi dan kualitas telur yang dihasilkan kurang baik, seperti kerabangnya pucat dan tipis. Sedangkan untuk IB varian, gejala yang terlihat dapat berupa bentuk tubuh yang menjadi seperti pinguin atau <em>hydrosalpinx<\/em>,\u201d tutur Abiyyu.<\/h6>\n<h6><em>Hydrosalpinx<\/em> terjadi akibat adanya penimbunan cairan pada bagian <em>oviduct<\/em>. Srinivasan et. al, (2014) melaporkan individu yang mengalami <em>hydrosalpinx<\/em> sulit untuk diidentifikasi di awal. Namun, akibat akumulasi cairan yang cukup progresif, individu menunjukkan <em>pendulus abdomen<\/em> dengan postur seperti pinguin.<\/h6>\n<h6>\u201cSecara mortalitas, virus IB tidak terlalu mematikan. Namun, morbiditasnya tinggi. Jika ada <em>flok<\/em> yang terinfeksi virus ini, maka penyebarannya cukup cepat. Faktornya bisa dari transportasi, manusia, seperti anak kandang, orang yang berkunjung, serta kurangnya penerapan biosekuriti,\u201d jelasnya saat dihubungi oleh Tim Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Jumat (6\/8).<\/h6>\n<h6>Dalam diagnosa penyakit IB, hal yang biasanya dilakukan pertama kali adalah nekropsi sampel ayam yang diduga kuat terinfeksi virus IB. Menurut penuturan Abiyyu, pada saat nekropsi, organ yang diambil berupa sampel <em>bronchus<\/em>, <em>trakea<\/em>, atau keseluruhan saluran pernapasan yang mengalami peradangan, dimana organ ini banyak terdapat reseptor virus IB. Sampel lainnya yang bisa diambil adalah sampel darah.<\/h6>\n<h6>\u201dSetelah sampel diambil, pemeriksaan serologi dapat dilakukan dengan uji <em>Enzyme Linked-Immunosorbent Assay<\/em> (ELISA), Agar <em>Gel Precipitation Test<\/em> (AGPT), serta uji serum netralisasi. Di lapangan, uji yang biasa dilakukan setelah nekropsi adalah uji ELISA,\u201d ungkap Abiyyu.<\/h6>\n<h6>Menurut Perrota et. al (1988) dan Darminto (1995), dalam penelitiannya ditemukan hasil bahwa uji ELISA yang terbukti cukup sensitif serta dapat mendeteksi antibodi lebih cepat dibandingkan dengan uji <em>Hemaglutination Inhibition<\/em> (HI).<\/h6>\n<h6>Menurut Abiyyu, kejadian IB di lapangan masih tinggi dan bisa dipastikan akan terus terjadi jika peternak tidak melakukan langkah preventif terhadap hal ini. Angka kejadian penyakit IB sendiri dilaporkan lebih tinggi pada <em>open house<\/em> dibandingkan dengan <em>closed house<\/em>. Kejadian IB ini masih sering terjadi karena kandang belum menerapkan biosekuriti.<\/h6>\n<h6><strong>Baca juga :&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/upaya-kontrol-ibd-dalam-peternakan\/\"><span style=\"color: #0000ff;\">Upaya Kontrol IBD dalam Peternakan<\/span><\/a><\/strong><\/h6>\n<h6>Selain itu, diagnosa awal juga bisa dikatakan kurang. Kebanyakan dari para peternak baru mengetahui ternaknya terinfeksi IB saat gejala yang ditimbulkan cukup parah.<\/h6>\n<h6>\u201cBiasanya kandang <em>closed house<\/em> sudah memiliki sistem biosekuriti yang sedemikian rupa, namun tidak menutup kemungkinan <em>flok<\/em> di kandang ini juga dapat terinfeksi oleh virus IB. Justru terjadi infeksi virus IB pada kandang sistem tertutup, penyebarannya cenderung lebih cepat lagi karena virus terperangkap di situ,\u201d ujar Abiyyu.<\/h6>\n<h6>Lebih lanjut lagi, dokter hewan lulusan Universitas Airlangga ini menerangkan pada prinsipnya, untuk menekan penyebaran virus IB, dapat dilakukan sanitasi, seleksi, dan medikasi.<\/h6>\n<h6>\u201dPada kandang yang sudah tersistem dan <em>well-prepared<\/em>, anak kandang yang masuk kandang harus disemprot bahkan ada yang sampai mandi dan ganti baju sebelum masuk kandang. Akan tetapi, di lapangan masih jarang ada kandang yang seperti ini, sehingga bisa dibilang jika penerapan biosekuriti di Indonesia masih kurang. Hal ini kembali lagi ke para peternak dan modal yang mereka miliki,\u201d ungkap Abiyyu.<\/h6>\n<h6>Jika ada individu yang terinfeksi, hal yang dapat peternak lakukan adalah menyeleksi dan memisahkan individu tersebut dari kawanannya. Berdasarkan pengalamannya di lapangan, individu atau flok yang terinfeksi virus IB akan dikarantina dan diberikan terapi.<\/h6>\n<h6>\u201dIbaratnya seperti kita (yang sedang dalam masa pandemi global) <em>lockdown<\/em>. Bahkan petugas obat dan pakan juga tidak bisa masuk. Saat karantina, individu atau kawanan unggas ini akan diberi terapi yang disesuaikan dengan gejala yang ditimbulkan dan ada atau tidaknya infeksi sekunder. Selebihnya hanya dilakukan pemberian vitamin E untuk meningkatkan antibodi dan mempercepat pertumbuhan sel. Untuk kasus penguin, akan diapkir karena statusnya infausta,\u201d ungkapnya.<\/h6>\n<h6>Tindakan preventif yang perlu diperhatikan adalah vaksinasi. Vaksinasi IB biasa diberikan bersamaan dengan vaksin ND. Berdasarkan informasi dari Abiyyu, jika populasi di kandang tersebut padat, maka dapat dilakukan 12 kali vaksinasi ulang (<em>revaccination<\/em>). Jika populasinya sedikit dan tidak ada riwayat penyakit IB, maka vaksinasi ulang bisa dilakukan sebanyak 13 kali.<\/h6>\n<h6>\u201dWaktu untuk pemberian vaksin bebas, asal tidak di puncak produksi. Vaksin ini sendiri diharapkan dapat menekan penyebaran penyakit, sehingga angka penurunan produksi tidak terlalu besar. Tindakan preventif ini juga harus dibarengi dengan penerapan biosekuriti.\u201d tutur Abiyyu.<\/h6>\n<h6>Menurut Abiyyu, penerapan biosekuriti dapat menekan risiko terjadinya penyakit, sehingga produksi kandang tersebut meningkat dan kualitasnya baik. Produksi yang baik juga akan meningkatkan pemasukan kandang itu sendiri. Selain penerapan biosekuriti yang baik, perawatan yang layak juga perlu diperhatikan.<\/h6>\n<h6>\u201cBiosekuriti bisa jadi investasi untuk kedepannya. Jika peternak ingin membangun kandang yang layak, biosekuriti tidak bisa diabaikan,\u201d pungkas Abiyyu. <strong>*Wartawan Poultry Indonesia<\/strong><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Infectious Bronchitis (IB) merupakan penyakit pernapasan akut yang sangat menular dan menjadi momok tersendiri bagi para peternak. Penyakit ini disebabkan oleh Infectious Bronchitis Virus (IBV). Penyakit yang biasa terjadi pada ayam ini ditandai dengan adanya gejala seperti terengah-engah, batuk, bersin, mengorok, dan keluarnya sekresi hidung. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada buku Manual [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":17257,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[10],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menekan Kejadian Infeksi Bronkhitis dengan Tindakan Preventif | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Infectious Bronchitis (IB) merupakan penyakit pernapasan akut yang sangat menular dan menjadi momok tersendiri bagi para peternak. Penyakit ini disebabkan oleh Infectious Bronchitis Virus (IBV). Penyakit yang biasa terjadi pada ayam ini ditandai dengan adanya gejala seperti terengah-engah, batuk, bersin, mengorok, dan keluarnya sekresi hidung. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada buku Manual [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-09-12T06:55:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-09-13T01:05:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Infectious-Bronchitis.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"445\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"382\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Infectious-Bronchitis.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Infectious-Bronchitis.png\",\"width\":445,\"height\":382,\"caption\":\"Kasus Infeksi Bronkhitis pada ayam (sumber : dokterhewanku.com)\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/\",\"name\":\"Menekan Kejadian Infeksi Bronkhitis dengan Tindakan Preventif | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2021-09-12T06:55:25+00:00\",\"dateModified\":\"2021-09-13T01:05:53+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/3e45996316f48c14f19983edebd9c8d4\"},\"headline\":\"Menekan Kejadian Infeksi Bronkhitis dengan Tindakan Preventif\",\"datePublished\":\"2021-09-12T06:55:25+00:00\",\"dateModified\":\"2021-09-13T01:05:53+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#webpage\"},\"wordCount\":1198,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/menekan-kejadian-infeksi-bronkhitis-dengan-tindakan-preventif\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Infectious-Bronchitis.png\",\"articleSection\":[\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/3e45996316f48c14f19983edebd9c8d4\",\"name\":\"Diana Putri\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/135d83e1d7a26c0da84966512304f41e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/135d83e1d7a26c0da84966512304f41e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Diana Putri\"},\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/dianarpt\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Infectious-Bronchitis.png","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-4uk","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17256"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17256"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17256\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17260,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17256\/revisions\/17260"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17257"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17256"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17256"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17256"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}