{"id":18400,"date":"2022-02-21T14:20:55","date_gmt":"2022-02-21T07:20:55","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=18400"},"modified":"2022-03-08T14:44:05","modified_gmt":"2022-03-08T07:44:05","slug":"cegah-tetelo-masuk-kandang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/","title":{"rendered":"Cegah Tetelo Masuk Kandang"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Oleh : Diana Putri, S.Kh.*<\/strong><\/h6>\n<h6>Peternakan ayam merupakan salah satu penyokong kebutuhan protein hewani nasional yang tak bisa dianggap enteng dalam industri perunggasan. Selain mudah didapatkan, hasil produksinya, baik telur maupun daging, menjadi pilihan protein hewani masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. Namun, penyakit menjadi ancaman utama bagi industri ini, karena serangan penyakit dapat menurunkan produksi. Salah satu ancaman adalah penyakit <em>Newcastle Disease<\/em> (ND) atau yang akrab disebut Tetelo. Tetelo merupakan salah satu penyakit yang menjadi ancaman dan beban ekonomi karena mempengaruhi produksi unggas secara signifikan.<\/h6>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p><span style=\"color: #000000;\"><em>Hingga saat ini, cara terbaik untuk menanggulangi kerugian akibat virus ND adalah dengan melakukan pencegahan. Pencegahan dapat dilakukan dengan memaksimalkan penerapan biosekuriti dan menjalankan program vaksinasi yang tepat untuk memberikan perlindungan yang maksimal terhadap virus ND<\/em><\/span><\/p><\/blockquote>\n<h6><em>Newcastle Disease<\/em> (ND) atau Tetelo disebabkan oleh <em>Avian Paramyxovirus <\/em>Serotipe 1 atau APMV-1 yang merupakan virus <em>Single-Stranded RNA <\/em>(SS-RNA). Menurut Lamb <em>et. al <\/em>(2000), serotipe virus ini beserta delapan serotipe lainnya, yaitu APMV-2 hingga APMV-9, masuk ke dalam genus <em>Avulavirus<\/em> dan famili <em>Paramyxoviridae<\/em>, sehingga disebut juga sebagai <em>Avian Avulavirus <\/em>1 (AAvV-1). Meski hanya terdapat satu serotipe, virus ini memiliki variasi antigen antar <em>strain<\/em> (Alexander <em>et. al<\/em>, 1997).<\/h6>\n<h6>Menurut Rott (1979) pada penelitiannya yang berjudul \u201cMolecular basis of infectivity and pathogenicity of myxoviruses\u201d pada Archives of Virology, virulensi dari <em>Newcastle Disease Virus<\/em> (NDV) bergantung pada banyak faktor. Faktor utamanya adalah pembelahan protein F, dimana aktivasi dari glikoprotein sangat diperlukan untuk infeksi virus. Selain itu, protein V juga menunjukkan perannya dalam virulensi virus ini melalui respon antagonis IFN-1 (Huang <em>et. al<\/em>, 2003).<\/h6>\n<h6>Interferon (IFN) merupakan garda terdepan dalam pertahanan melawan infeksi virus. Cara kerja IFN adalah menginduksi antivirus yang kemudian menghambat replikasi virus dan mengontrol penyebaran virus. Namun, menurut Goodbourn <em>et. al <\/em>(2000), Gotoh <em>et. al <\/em>(2001), dan Ploegh (1998), respon dari IFN dapat mendorong virus untuk mengadopsi strategi dalam mengelakkan respon antiviral yang diinduksi oleh IFN. Menurut Andrejeva <em>et. al <\/em>(2002) dan Didcok <em>et. al<\/em> (1999), protein V dari banyak Paramyxovirus, termasuk yang ada pada <em>Newcastle Disease Virus<\/em> (NDV), bertanggungjawab dalam menghalangi dari aksi antiviral IFN.<\/h6>\n<h6><em>Strain<\/em> dari <em>Newcastle Disease Virus<\/em> (NDV) terbagi menjadi 3 patotipe, tergantung dari tingkat virulensi. <em>Strain<\/em> NDV lentogenik merupakan <em>strain<\/em> dengan virulensi terendah yang tidak menyebabkan penyakit dan dikategorikan sebagai avirulen. Virus dengan tingkat virulensi menengah disebut sebagai mesogenik. Sedangkan virus dengan virulensi tertinggi yang menyebabkan angka mortalitas tinggi disebut sebagai velogenik (Alexander, 1997).<\/h6>\n<h6>drh. Vinta Maulia selaku Technical Sales Executive PT Ceva Animal Health Indonesia mengatakan bahwa transmisi virus ND dapat menyebar melalui udara atau melalui <em>rute fekal oral<\/em>. \u201cVirus ND juga bisa menyebar melalui vektor, karyawan kandang, kendaraan dan peralatan yang terkontaminasi. Area yang dilewati oleh migrasi unggas liar juga bisa menjadi <em>challenge <\/em>dari adanya virus ND,\u201d ujarnya saat diwawancarai oleh tim <em>Poultry Indonesia<\/em> di area kandang, Rabu (17\/11).<\/h6>\n<h6>Vinta mengatakan bahwa virus ND yang merupakan virus SS-RNA lebih sering mutasi dibandingkan virus DNA. Namun ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Senada dengan penelitian Alexander (1997), Vinta juga mengatakan bahwa virus ND hanya memiliki 1 serotipe, tetapi memiliki beberapa variasi molekuler. Dari beberapa sampel yang ditemukan oleh tim Ceva, dan kandang yang diduga terinfeksi ND, Vinta menginformasikan bahwa timnya menemukan genotip 7H dan 7I yang termasuk ke dalam golongan velogenik.<\/h6>\n<h6>\u201cBerdasarkan data Global Protection Services-Disease Surveillance (GPS-DS) yang telah dilakukan oleh tim Ceva dari tahun 2018 hingga 2021, ND merupakan penyakit utama yang sering ditemukan pada ayam petelur. Jika dilihat dari sisi vaksinasi, ada 3 masalah utama, yaitu interferensi kekebalan asal induk terhadap kerja vaksinasi konvensional, kualitas aplikasi vaksin, dan adanya reaksi pasca vaksinasi,\u201d jelasnya.<\/h6>\n<h6>Lebih lanjut, Vinta menjelaskan bahwa tingkat morbiditas dan mortalitas penyakit ND sangatlah tinggi karena penularan virus dapat terjadi melalui udara dan peralatan yang terkontaminasi. Penyakit ini bisa menyerang peternakan baik dengan sistem <em>closed house <\/em>ataupun sistem <em>open house <\/em>jika tidak memiliki imunitas yang baik dan didukung oleh manajemen praktik serta biosekuriti yang baik.<\/h6>\n<h6>\u201c<em>Newcastle Disease Virus<\/em> (NDV) dapat terbawa oleh kendaraan, pakaian, peralatan, vektor, maupun karyawan yang terkontaminasi. Masa inkubasi NDV pada ayam mulai terjadi antara umur 2 dari hingga 15 hari. Namun, rata-rata kejadian ini ditemukan sekitar 5 hingga 6 hari setelah ayam tersebut terinfeksi. Kadang juga akan menunjukan gejala klinis berupa kematian yang tinggi akibat terserang velogenik ND,\u201d tutur Vinta. <strong>*Jurnalis Poultry Indonesia<\/strong><\/h6>\n<h6>Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2022 ini dilanjutkan pada judul \u201c<strong>Kenali Gejala ND<\/strong>\u201d. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Diana Putri, S.Kh.* Peternakan ayam merupakan salah satu penyokong kebutuhan protein hewani nasional yang tak bisa dianggap enteng dalam industri perunggasan. Selain mudah didapatkan, hasil produksinya, baik telur maupun daging, menjadi pilihan protein hewani masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. Namun, penyakit menjadi ancaman utama bagi industri ini, karena serangan penyakit dapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":18401,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[10],"tags":[156,223,324],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cegah Tetelo Masuk Kandang | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : Diana Putri, S.Kh.* Peternakan ayam merupakan salah satu penyokong kebutuhan protein hewani nasional yang tak bisa dianggap enteng dalam industri perunggasan. Selain mudah didapatkan, hasil produksinya, baik telur maupun daging, menjadi pilihan protein hewani masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. Namun, penyakit menjadi ancaman utama bagi industri ini, karena serangan penyakit dapat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-02-21T07:20:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-03-08T07:44:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Telur-ND.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"413\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"308\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Telur-ND.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Telur-ND.jpg\",\"width\":413,\"height\":308,\"caption\":\"Telur ayam yang terserang penyakit ND\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/\",\"name\":\"Cegah Tetelo Masuk Kandang | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-02-21T07:20:55+00:00\",\"dateModified\":\"2022-03-08T07:44:05+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Cegah Tetelo Masuk Kandang\",\"datePublished\":\"2022-02-21T07:20:55+00:00\",\"dateModified\":\"2022-03-08T07:44:05+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#webpage\"},\"wordCount\":709,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/cegah-tetelo-masuk-kandang\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Telur-ND.jpg\",\"keywords\":[\"#Penyakit\",\"kesehatan\",\"ND\"],\"articleSection\":[\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Telur-ND.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-4MM","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18400"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18400"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18400\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18406,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18400\/revisions\/18406"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}