{"id":19304,"date":"2022-07-07T11:54:15","date_gmt":"2022-07-07T04:54:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=19304"},"modified":"2022-07-12T12:02:19","modified_gmt":"2022-07-12T05:02:19","slug":"penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/","title":{"rendered":"Penanganan Kontaminasi Mycotoxin dengan Bahan yang Multi Aksi dan Tepat Guna"},"content":{"rendered":"<h6>Kontaminasi mycotoxin pada pakan, sudah lama menjadi tantangan serius dalam industri peternakan. Pasalnya sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan, sangat rentan terhadap kontaminasi hasil metabolik sekunder dari jamur ini. Terlebih dengan iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen di lapangan, membuat myxotoxin tidak bisa dielakkan, sehingga dapat mengakibatkan potensi kerugian yang besar.<br \/>\nMengingat potensi kerugian yang disebabkan oleh myxotoxin, maka PT BEC Feed Solutions Indonesia bekerjasama dengan ICC Brazil, menggelar webinar dengan tema \u201cMultiaction Toxin Binder As a Complete Solution For Mycotoxins\u201d. Dalam acara yang terselenggara secara daring melalui Aplikasi Zoom Rabu, (15\/6) ini, bersamaan dengan launching produk MegaFix\u00ae sebagai pengikat mycotoxin yang multiaksi dan tepat guna.<br \/>\nDalam sambutannya, Anjas Morodiono, National Sales Manager PT BEC Feed Solutions Indonesia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh peserta yang turut hadir dalam acara webinar serta launching produk MegaFix\u00ae. Dirinya juga menjelaskan bahwa PT BEC Feed Solutions Indonesia mempunyai 3 segmen bisnis yaitu manufaktur premix, feed additive distributor dan trading komoditi.<br \/>\n\u201cSalah satu segmen bisnis kami yaitu distributor feed additive dalam hal ini kami bekerjasama dengan ICC Brazil untuk melakukan launching produk MegaFix\u00ae sebagai myxotoxin binder yang multiaksi. Tentu kita sudah sering mendengar apa itu myxotoxin binder. Namun kali ini, kami mempersembahkan myxotoxin binder multiaction yang memang berbeda dan mempunyai keunggulan dari produk myxotoxin binder lainnya,\u201d tegas Anjas.<br \/>\nHal senada diutarakan oleh Jason Hatchett, selaku Presiden Direktur PT BEC Feed Solutions Indonesia. Dirinya turut mengucapkan terimakasih dan apresiasinya atas terselenggaranya acara tersebut. \u201cDalam acara ini, kami akan mengadakan webinar sekaligus launching produk dari ICC Brazil. Dimana dalam hal ini PT BEC Feed Solutions Indonesia sebagai distributor eksklusif di Indonesia. Pada masa yang sulit seperti ini, saya berharap webinar teknis mycotoxin yang kami gelar dapat memberikan manfaat bagi semua peserta dan kedepan kita bisa bekerjasama kembali,\u201d ucapnya.<br \/>\nSelanjutnya, Ryan Wong, selaku Sales Manager South Asia, ICC Brazil juga mengucapkan apresiasinya atas webinar yang telah diselenggarakan. \u201cSeperti yang diketahui bersama bahwa mycotoxin akan selalu menjadi tantangan dalam industri peternakan. Untuk itu, MegaFix\u00ae hadir sebagai mycotoxin binder multiaction untuk solusi permasalahan tersebut,\u201d jelas Ryan.<br \/>\nMasih dalam acara yang sama, Mega Pratiwi Saragi, Msi, selaku Nutrisionis PT BEC Feed Solution Indonesia memberikan pemaparan materi terkait pendetoksi mycotoxin yang tepat guna. Menurutnya, Kontaminasi mycotoxin merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dielakkan dan dapat berpotensi menimbulkan kerugian yang besar jika tidak ditangani dengan tepat. Berdasarkan data yang dirilis oleh Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukan dimana sebanyak 25% komoditi biji-bijian di dunia telah tercemar oleh mycotoxin. Dimana Lebih dari 540 juta ton\/tahun biji-bijaan telah terkontaminasi mycotoxin dan diestimasi menimbulkan dampak kerugian sebesar 550 billion US$\/tahun.<br \/>\n\u201cHal ini tentu menjadi permasalahan serius untuk industri peternakan. Pasalnya, pakan ternak mengandung sampai dengan 90% bijian sereal dan soy bean meal. Kontaminasi dari mycotoxin ini dapat menimbulkan penurunan performa produksi ternak, kesehatan ternak dan akan berkorelasi langsung dengan kerugian ekonomi,\u201d terang Mega. Dirinya menambahkan bahwa dengan iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen di lapangan menjadi faktor kuat terjadinya kontaminasi mycotoxin. Untuk itu, diperlukan manajemen yang tepat untuk penangan mycotoxin di Indonesia.<br \/>\nLebih lanjut, Mega menjelaskan bahwa terdapat beberapa pendekatan manajemen untuk penanganan mycotoxin seperti pencegahan pembetukan mycotoxin di lapangan dan saat panen, perbaikan penyimpanan, pemisahan dengan bahan pakan yang terkontaminasi (dilution), serta penambahan pendetoksi mycotoxin. Menurutnya penambahan pendetoksi mycotoxin merupakan pendekatan yang sering dilakukan dilapangan. Kemudian dalam produk pendetoksi mycotoxin harus mempunyai 2 komponen, yaitu agen pengadsorbsi dan agen deaktivasi (biotransformer).<br \/>\n\u201cAgen pengadsorbsi pada produk pendetoksi mycotoxin harus mampu menyerap mycotoxin dengan jangkauan luas, tidak mengikat nutrien, dosis rendah, stabil bekerja diberbagai kondisi pH, kecepatan penyerapan yang tinggi serta tidak ada kontaminasi sekunder dioxins dan logam berat. Kemudian untuk agen deaktivasi dapat menggunakan enzim, dimana akan merubah struktur molekul mycotoxin menjadi molekul non-toxin,\u201d jelasnya.<br \/>\nSementara itu, dalam acara yang sama Kuo-Wei Ssu, PhD selaku General Manager Asia, ICC Brazil membawakan materi terkait MegaFix\u00ae. Dalam pemaparannya, Dr Ssu mengatakan bahwa penambahan pendetoksi mycotoxin disarankan dapat dilakukan untuk semua jenis pakan. Hal ini dikarenakan semua pakan ternak mengandung biji-bijian dan kacang-kacangan, sehingga tidak mungkin terhindar kontaminasi mycotoxin. Selain itu, mycotoxin mempunyai sifat termostabil yang memungkinkan untuk mampu bertahan hidup dalam proses pelleting. \u201cDisisi lain, sering dijumpai dilapangan kesalahan dalam pendeteksian mycotoxin karena kesalahan pengambilan sampel serta sulitnya pendeteksian karena banyaknya kandungan. Hal ini membuat pendetoksi mycotoxin harus diperhatikan dalam semua jenis pakan ternak,\u201d jelasnya.<br \/>\nSelanjutnya menurut Dr Ssu juga mengingatkan terkait dampak berbahaya yang disebabkan oleh mycotoxin. Menurutnya pada konsentrasi rendah pun, mycotoxin dapat merusak sistem kekebalan tubuh ternak . Pada konsentrasi rendah pun, mycotoxin dapat merusak sistem kekebalan tubuh ternak dan menurunkan performa produksinya. Efek mycotoxin berkisar dari mitosis sel hingga produksi protein, seperti antibodi dan limfosit sehingga dapat menyebabkan imunosupresi pada ternak yang terpapar toxin ini. Disisi lain mycotoxin bersifat sinergistik antara satu jenis dan jenis lainnya atau dengan endotoxin (toxin yang dikeluarkan oleh mikroorganisme lain).<br \/>\nIa pun memberikan saran penanganan mycotoxin dengan penggunanaan produk MegaFix\u00ae. MegaFix\u00ae adalah pengikat mycotoxin generasi ke empat dari ICC Brazil yang dikembangkan secara khusus untuk merespon tantangan akut yang disebabkan oleh mycotoxin, seperti zearalenone dan Deoxynivalenol (DON). MegaFix\u00ae diformulasikan dengan enzim yang dihasilkan oleh probiotik yang dapat mendenaturasi mycotoxin. \u201cMegaFix\u00ae mempunyai kandungan aluminosilikat yang diaktifkan secara kimia, B-Glucan dengan konsentrasi dan resistensi tinggi , dan alga mikronisasi. Efek sinergis dari komposisi ini membuat MegaFix\u00ae menjadi solusi yang memiliki teknologi terkini dan alami untuk penanganan mycotoxin,\u201d jelasnya.<br \/>\nBerdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh ICC Brazil, dengan melihat performa anak babi sapih yang menerima pakan mengandung Deoxynivalenol (DON), menunjukan bahwa DON menurunkan performa pertumbuhan hewan secara keseluruhan selama percobaan. Pemberian MegaFix\u00ae dalam pakan yang terkontaminasi dapat mengurangi efek negatif DON sehingga secara numerik meningkatkan performa pertumbuhan ternak.<br \/>\nDirinya juga menyinggung terkait manfaat dari penambahan MegaFix\u00ae dalam pakan seperti dapat memberikan perlindungan tinggi dan spesifik terhadap mycotoxin, terutama Aflatoxin, Zearalenone, Fumonisin, Ochratoxin and T-2. Kemudian MegaFix\u00ae juga dapat memperbaiki kerusakan pada hati yang disebabkan oleh mycotoxin serta mengurangi residu mycotoxin dalam produk asal ternak. \u201cMegaFix\u00ae dapat diberikan pada babi, sapi maupun unggas dengan challenge kontaminasi mycotoxin yang tinggi. Kemudian untuk dosis pencegahan diberikan 0.75 kg\/MT, sedangkan untuk challenge tinggi hingga 1,5 kg\/MT,\u201d pungkasnya. Adv<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kontaminasi mycotoxin pada pakan, sudah lama menjadi tantangan serius dalam industri peternakan. Pasalnya sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan, sangat rentan terhadap kontaminasi hasil metabolik sekunder dari jamur ini. Terlebih dengan iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen di lapangan, membuat myxotoxin tidak bisa dielakkan, sehingga dapat mengakibatkan potensi kerugian yang besar. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":19305,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[19],"tags":[28,882,1122],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Penanganan Kontaminasi Mycotoxin dengan Bahan yang Multi Aksi dan Tepat Guna | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kontaminasi mycotoxin pada pakan, sudah lama menjadi tantangan serius dalam industri peternakan. Pasalnya sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan, sangat rentan terhadap kontaminasi hasil metabolik sekunder dari jamur ini. Terlebih dengan iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen di lapangan, membuat myxotoxin tidak bisa dielakkan, sehingga dapat mengakibatkan potensi kerugian yang besar. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-07-07T04:54:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-07-12T05:02:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Screenshot-820.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"695\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"451\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Screenshot-820.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Screenshot-820.png\",\"width\":695,\"height\":451},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/\",\"name\":\"Penanganan Kontaminasi Mycotoxin dengan Bahan yang Multi Aksi dan Tepat Guna | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-07-07T04:54:15+00:00\",\"dateModified\":\"2022-07-12T05:02:19+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Penanganan Kontaminasi Mycotoxin dengan Bahan yang Multi Aksi dan Tepat Guna\",\"datePublished\":\"2022-07-07T04:54:15+00:00\",\"dateModified\":\"2022-07-12T05:02:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#webpage\"},\"wordCount\":1012,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/penanganan-kontaminasi-mycotoxin-dengan-bahan-yang-multi-aksi-dan-tepat-guna\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Screenshot-820.png\",\"keywords\":[\"adv2\",\"BEC\",\"BEC FEED\"],\"articleSection\":[\"Advertorial\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Screenshot-820.png","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-51m","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19304"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19304"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19304\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19307,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19304\/revisions\/19307"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19305"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}