{"id":19332,"date":"2022-07-19T09:28:56","date_gmt":"2022-07-19T02:28:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=19332"},"modified":"2022-07-18T16:10:40","modified_gmt":"2022-07-18T09:10:40","slug":"kasus-mikoplasmosis-di-lapangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/","title":{"rendered":"Kasus Mikoplasmosis di Lapangan"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Oleh: Tony Unandar*<\/strong><\/h6>\n<h6>Kasus-kasus Mikoplasmosis di lapangan umumnya terjadi secara subklinis. Dengan demikian, manifestasi gejala klinis maupun bedah bangkai sering kali hanya terdeteksi ketika kasus sudah menjadi kompleks.<\/h6>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p><span style=\"color: #000000;\">Infeksi Mikoplasma secara subklinis di lapangan dapat memberikan beberapa indikasi, seperti munculnya reaksi pasca vaksinasi yang lebih hebat dan\/atau berlangsung dalam waktu yang relatif lama (lebih dari 5 hari), terutama pasca penggunaan vaksin virus aktif misalnya ND atau IB.<\/span><\/p><\/blockquote>\n<h6>Indikasi lainnya adalah gangguan performa ayam secara umum, termasuk membengkaknya konversi pakan (FCR) dan meningkatnya prevalensi kasus Snot (Coryza), <em>Avian Meta Pneumo Virus <\/em>(AMPV), dan\/atau <em>Complex Chronic Respiratory Disease <\/em>(CCRD).<\/h6>\n<h6>Dalam keadaan riil di lapangan, baik pada broiler, layer, ataupun <em>breeder<\/em>, manifestasi klinis dari infeksi murni Mikoplasma (Mg atau Ms) umumnya sangat sulit dideteksi. Oleh karena itu, banyak peternak yang tidak percaya pada problem Mikoplasmosis yang dihadapinya, apalagi infeksi Mikoplasma murni tidak sampai menyebabkan kematian ayam yang tinggi.<\/h6>\n<h6>Adanya gangguan pernafasan yang tidak spesifik dan\/atau gangguan produksi telur umumnya selalu diikuti oleh infeksi patogen sekunder lainnya.&nbsp; Oleh karena itu, justru gambaran gejala klinis oleh patogen sekunder tersebut yang umumnya mencuat ke permukaan secara signifikan.<\/h6>\n<h6>Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tampaknya infeksi Ms pada broiler, layer, dan <em>breeder<\/em> menunjukkan peningkatan prevalensi kasus yang sangat nyata. Pada bedah bangkai, adanya gambaran sinovitis pada persendian yang melibatkan lebih dari 2 buah tulang, terutama pada pangkal telapak kaki, hepatomegali dan\/atau splenomegali sudah dapat dideteksi di lapangan dengan jelas.<\/h6>\n<h6>Dibandingkan dengan <em>Mycoplasma gallisepticum<\/em> (Mg), pada flok ayam yang diduga terkontaminasi dengan <em>Mycoplasma synoviae<\/em> (Ms), penggunaan preparat antibiotika yang ada di lapangan tampaknya memberikan hasil yang kurang optimal.<\/h6>\n<h6><strong>Mikoplasma pada <em>breeder<\/em><\/strong><\/h6>\n<h6>Infeksi Mikoplasma pada ayam bibit (<em>breeder<\/em>) dapat mengakibatkan penurunan produksi telur (% HD = <em>Hen Day<\/em>), meningkatnya telur afkir (atau penurunan % HE = <em>Hatching Egg<\/em>), gangguan daya tetas (% <em>Hatchability<\/em>), serta kualitas DOC yang dihasilkan. Oleh karena itu, kontrol tantangan Mikoplasma pada level <em>breeder <\/em>sangatlah penting.<\/h6>\n<h6>Pada fase <em>starter<\/em> dan <em>grower<\/em>, uji serologis dengan <em>Serum Plate Agglutination Test <\/em>(SPAT) dapat dilakukan pertama kali pada ayam yang berumur antara 1 hingga 2 minggu dan selanjutnya dilakukan setiap interval 2 minggu.<\/h6>\n<h6>Pada percobaan laboratoris, di mana beberapa kelompok DOC ditantang dengan Mikoplasma (Mg dan Ms) pada umur 1 hari, maka dengan SPAT, antibodi oleh infeksi Mg umumnya sudah dapat dideteksi ketika ayam berumur 9 hari, sedangkan untuk Ms terdeteksi ketika ayam berumur 11 hari.<\/h6>\n<h6>Pengalaman penulis di lapangan mengindikasikan bahwa kebanyakan pada <em>breeder<\/em><em>, <\/em>baik broiler <em>breeder <\/em>maupun layer<em> breeder<\/em>, SPAT mulai memberikan hasil yang positif di umur ayam 28 hingga 35 hari. Itulah sebabnya mengapa rekomendasi pemberian vaksin Mikoplasma aktif dianjurkan diberikan ketika ayam berumur 28 hingga 35 hari karena vaksin Mikoplasma aktif harus diberikan sebelum infeksi Mikoplasma lapangan terjadi.<\/h6>\n<h6>Pada fase produksi, infeksi Mikoplasma pada <em>breeder <\/em>umumnya terfokus pada 3 titik fase kritis, yaitu sekitar 5% HD (Hen Day Production), 70% HD, dan\/atau 4 hingga 6 minggu setelah puncak produksi telur tercapai. <strong><em>*Anggota Dewan Pakar ASOHI<\/em><\/strong><strong><em>&nbsp;<\/em><\/strong><\/h6>\n<h6><em><strong>Tulisan ini merupakan potongan dari artikel rubrik Kesehatan majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153<\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Tony Unandar* Kasus-kasus Mikoplasmosis di lapangan umumnya terjadi secara subklinis. Dengan demikian, manifestasi gejala klinis maupun bedah bangkai sering kali hanya terdeteksi ketika kasus sudah menjadi kompleks. Infeksi Mikoplasma secara subklinis di lapangan dapat memberikan beberapa indikasi, seperti munculnya reaksi pasca vaksinasi yang lebih hebat dan\/atau berlangsung dalam waktu yang relatif lama (lebih dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":19338,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,10],"tags":[35],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kasus Mikoplasmosis di Lapangan | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Tony Unandar* Kasus-kasus Mikoplasmosis di lapangan umumnya terjadi secara subklinis. Dengan demikian, manifestasi gejala klinis maupun bedah bangkai sering kali hanya terdeteksi ketika kasus sudah menjadi kompleks. Infeksi Mikoplasma secara subklinis di lapangan dapat memberikan beberapa indikasi, seperti munculnya reaksi pasca vaksinasi yang lebih hebat dan\/atau berlangsung dalam waktu yang relatif lama (lebih dari [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-07-19T02:28:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-07-18T09:10:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/i1.wp.com\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Gambar-7-Walaupun-mekanisme-terjadinya-EAA-belum-diketahui-secara-rinci-namun-Eggshell-Apex-Abnormalities-EAA-merupakan-gejala-khas-patognomonik-untuk-infeksi-Mycoplasma-synoviae-Ms-pa-1.png?fit=1045%2C537&#038;ssl=1\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1045\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"537\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Gambar-7-Walaupun-mekanisme-terjadinya-EAA-belum-diketahui-secara-rinci-namun-Eggshell-Apex-Abnormalities-EAA-merupakan-gejala-khas-patognomonik-untuk-infeksi-Mycoplasma-synoviae-Ms-pa-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Gambar-7-Walaupun-mekanisme-terjadinya-EAA-belum-diketahui-secara-rinci-namun-Eggshell-Apex-Abnormalities-EAA-merupakan-gejala-khas-patognomonik-untuk-infeksi-Mycoplasma-synoviae-Ms-pa-1.png\",\"width\":1045,\"height\":537,\"caption\":\"Walaupun mekanisme terjadinya EAA belum diketahui secara rinci, namun Eggshell Apex Abnormalities (EAA) merupakan gejala khas (patognomonik) untuk infeksi Mycoplasma synoviae (Ms) pada ayam tipe petelur (ayam bibit\/breeder maupun ayam petelur komersial).\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/\",\"name\":\"Kasus Mikoplasmosis di Lapangan | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-07-19T02:28:56+00:00\",\"dateModified\":\"2022-07-18T09:10:40+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Kasus Mikoplasmosis di Lapangan\",\"datePublished\":\"2022-07-19T02:28:56+00:00\",\"dateModified\":\"2022-07-18T09:10:40+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#webpage\"},\"wordCount\":496,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/kasus-mikoplasmosis-di-lapangan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Gambar-7-Walaupun-mekanisme-terjadinya-EAA-belum-diketahui-secara-rinci-namun-Eggshell-Apex-Abnormalities-EAA-merupakan-gejala-khas-patognomonik-untuk-infeksi-Mycoplasma-synoviae-Ms-pa-1.png\",\"keywords\":[\"berita3\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Gambar-7-Walaupun-mekanisme-terjadinya-EAA-belum-diketahui-secara-rinci-namun-Eggshell-Apex-Abnormalities-EAA-merupakan-gejala-khas-patognomonik-untuk-infeksi-Mycoplasma-synoviae-Ms-pa-1.png","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-51O","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19332"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19332"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19332\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19334,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19332\/revisions\/19334"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}