{"id":20275,"date":"2022-10-20T16:40:21","date_gmt":"2022-10-20T09:40:21","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=20275"},"modified":"2022-10-20T16:41:15","modified_gmt":"2022-10-20T09:41:15","slug":"histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/","title":{"rendered":"Histopatologi dan Penanganan Runting Stunting Syndrome"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Oleh: Sulaxono Hadi*<\/strong><\/h6>\n<h6>Dalam studi <em>Runting Stunting Syndrome<\/em> (RSS) pada broiler di Pakistan, Qamar <em>et al.<\/em>, (2013) menemukan adanya lesi pada usus (29%) berupa degenerasi villi, kripta, sel epitel, dan lapisan lamina propria usus. Selain itu, juga ditemukan lesi pada pankreas (16,65%) yang mencakup fibrosis, vacuoalisasi, dan degenerasi sel-sel acinar. Pada bursa Fabricius, ditemukan degenerasi folikel dan sel epitelnya (43%). Pada proventriculus, ditemukan adanya dilatasi sel-sel kelenjar (5,6%).<\/h6>\n<h6>Hepatosit atau sel hati ayam yang mengalami RSS menunjukan gambaran mitokondria dan membrannya yang mengalami kehancuran atau degenerasi. Kondisi ini menurunkan sintesa Adenosina trifosfat (ATP) pada sel hati yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan ayam dan memunculkan kekerdilan (Li <em>et al.<\/em>, 2020).<\/h6>\n<h6>Kejadian RSS yang disebabkan oleh infeksi <em>chicken anemia agent <\/em>(CAV) menyebabkan deplesi parah hemopoetik dan limfositik. Secara imunohistopatologi, CAV dengan mudah dapat ditemukan di sumsum tulang merah serta organ limpa ayam terinfeksi.<\/h6>\n<h6>Virus CAV\/Japan\/HS1\/17 pernah menimbulkan masalah pada industri perunggasan di Jepang dan menimbulkan wabah di China tahun 2014-2016. Isolat virus ini dapat menyebakan 100 persen anemia dan 70 persen kematian DOC. Setidaknya sebanyak 80 persen virus ini menginfeksi pada ayam umur 7 hari yang ditandai anemia dan kematian 10 persen.<\/h6>\n<h6><strong>Baca Juga: <span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/runting-stunting-syndrome-sindrom-kekerdilan-pada-ayam\/\">Runting Stunting Syndrome, Sindrom Kekerdilan pada Ayam<\/a><\/span><\/strong><\/h6>\n<h6>Virus <em>Chicken Anemia Agent <\/em>(CAV) merupakan virus DNA dari genus <em>Gyrovirus <\/em>dan famili <em>Anellovirus<\/em>. Secara patologi, virus ini menyebabkan terganggunya sistem hematopoietik pada sumsun tulang ayam, sehingga produksi limfosit pada timus dan limpa terganggu (Smyth <em>et al.<\/em>, 2006).<\/h6>\n<h6>Pada pemeriksaan dengan menggunakan <em>next-generation squencing<\/em> secara acak terhadap jaringan ayam penderita <em>Runting Stunting Syndrome<\/em> (RSS) yang telah terfiksasi dengan parafin di laboratorium, ditemukan adanya <em>Nephritis virus<\/em>, <em>avian rotavirus<\/em>, dan <em>picornavirus <\/em>pada jejenum ayam yang berumur 7 hari dan virus-virus ini tidak terdeteksi pada ayam umur 1 hari. Dominasi dari virus yang ditemukan adalah <em>picornavirus <\/em>(Oliveira et al., 2021).<\/h6>\n<h6><strong>Pengendalian RSS<\/strong><\/h6>\n<h6><em>Runting Stunting Syndrome<\/em> (RSS) merupakan sindrom pada ayam yang menimbulkan kerugian ekonomi akibat lambatnya pertumbuhan ayam dan tidak ekonomisnya pemakain pakan, sehingga menyebabkan kematian. Dari berbagai faktor penyebab infeksi, reovirus ditemukan sebagai salah satu virus pada kejadian RSS di berbagai peternakan di berbagai negara.<\/h6>\n<h6>Usaha pengendalian bertumpu pada 3 kegiatan utama, yaitu penerapan manajemen biosekuriti, sistem tata laksana dan perkandangan yang baik, serta vaksinasi. Melakukan kotrol terhadap personel ddan trasportasi yang masuk area peternakan, manajemen pemusnahan bangkai ayam, serta pengendalian tikus, burung, dan insekta.<\/h6>\n<h6>Dalam menjaga imunitas, menekan terjadinya stress pada ayam akan meningkatkan kemampuan menangkal terjadinya <em>Runting Stunting Syndrome<\/em> (RSS). Vaksinasi RSS sebaiknya dilakukan pada <em>breeder<\/em> karena dapat memberikan keuntungan (Shane, 2008, van der Heide, 2000) dengan meningkatkan kekebalan pada induk dan memberikan kekebalan pada anak ayam.<\/h6>\n<h6>Vaksinasi untuk menekan terjadinya <em>Runting Stunting Syndrome<\/em> (RSS) dengan <em>Avian Reovirus <\/em>S1133 pada broiler yang baru saja menetas atau umur sehari tidak direkomendasikan karena menyebebkan terjadinya atrofi pankreas dan villi duodenum yang justru menyebabkan menurunnya bobot badan broiler (Petrone-Garcia <em>et al.<\/em>, 2021). *<strong><em>Medik Veteriner Ahli Madya Balai Veteriner Banjarbaru<\/em><\/strong><\/h6>\n<h6><strong><em>Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153<\/em><\/strong><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sulaxono Hadi* Dalam studi Runting Stunting Syndrome (RSS) pada broiler di Pakistan, Qamar et al., (2013) menemukan adanya lesi pada usus (29%) berupa degenerasi villi, kripta, sel epitel, dan lapisan lamina propria usus. Selain itu, juga ditemukan lesi pada pankreas (16,65%) yang mencakup fibrosis, vacuoalisasi, dan degenerasi sel-sel acinar. Pada bursa Fabricius, ditemukan degenerasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":20276,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,10,8],"tags":[33],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Histopatologi dan Penanganan Runting Stunting Syndrome | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sulaxono Hadi* Dalam studi Runting Stunting Syndrome (RSS) pada broiler di Pakistan, Qamar et al., (2013) menemukan adanya lesi pada usus (29%) berupa degenerasi villi, kripta, sel epitel, dan lapisan lamina propria usus. Selain itu, juga ditemukan lesi pada pankreas (16,65%) yang mencakup fibrosis, vacuoalisasi, dan degenerasi sel-sel acinar. Pada bursa Fabricius, ditemukan degenerasi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-10-20T09:40:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-10-20T09:41:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Gambar-4.-Perubahan-histopatologi-pada-usus-ayam-broiler-penderita-RSS-Qamar-et-al.-2013.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1038\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Gambar-4.-Perubahan-histopatologi-pada-usus-ayam-broiler-penderita-RSS-Qamar-et-al.-2013.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Gambar-4.-Perubahan-histopatologi-pada-usus-ayam-broiler-penderita-RSS-Qamar-et-al.-2013.jpg\",\"width\":1080,\"height\":1038,\"caption\":\"Perubahan histopatologi pada usus ayam broiler penderita RSS (Qamar et al., 2013)\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/\",\"name\":\"Histopatologi dan Penanganan Runting Stunting Syndrome | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-10-20T09:40:21+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-20T09:41:15+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Histopatologi dan Penanganan Runting Stunting Syndrome\",\"datePublished\":\"2022-10-20T09:40:21+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-20T09:41:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#webpage\"},\"wordCount\":492,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/histopatologi-dan-penanganan-runting-stunting-syndrome\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Gambar-4.-Perubahan-histopatologi-pada-usus-ayam-broiler-penderita-RSS-Qamar-et-al.-2013.jpg\",\"keywords\":[\"berita1\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Kesehatan\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/Gambar-4.-Perubahan-histopatologi-pada-usus-ayam-broiler-penderita-RSS-Qamar-et-al.-2013.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5h1","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20275"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20275"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20275\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20277,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20275\/revisions\/20277"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20276"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20275"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20275"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20275"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}