{"id":20611,"date":"2022-11-22T14:38:45","date_gmt":"2022-11-22T07:38:45","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=20611"},"modified":"2022-12-01T14:45:08","modified_gmt":"2022-12-01T07:45:08","slug":"yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/","title":{"rendered":"Yang Perlu Diperhatikan dalam Fase Transisi Pemeliharaan Ayam Ras Petelur"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Oleh:&nbsp;<\/strong><strong>Ogie<\/strong><strong>&nbsp;Surya Putra, S Pt*<\/strong><\/h6>\n<h6>Pada transisi antara fase <em>grower<\/em> ke fase produksi, faktor stres harus benar-benar diantisipasi oleh peternak. Pertama stres bisa disebabkan oleh adanya perpindahan pakan pada setiap fase. Peralihan pakan pada setiap fase ini harus diperhatikan. Hal ini dikarenakan ayam akan mendapatkan pakan yang berbeda dalam hal bentuk serta kandungan nutrisinya. Untuk itu, selama proses peralihan pakan, ayam memerlukan waktu adaptasi, sehingga tidak terjadi penurunan <em>feed intake<\/em> (FI) yang dapat mengganggu pertumbuhan.<\/h6>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p><span style=\"color: #000000;\">Untuk itu juga perlu diperhatikan metode pergantian pakan agar ayam tidak mengalami stres. Pergantian pakan dapat dilakukan selama 4 hari. Semisal saat hendak mengganti pakan <em>grower<\/em> ke produksi, maka perbandingan pakan <em>grower<\/em> dengan produksi pada hari pertama peralihan yaitu 75% : 25%, hari kedua 50% : 50%, hari ketiga 25% : 75% dan selanjutnya pakan untuk fase produksi sudah bisa diberikan 100% pada hari keempat dan seterusnya.<\/span><\/p><\/blockquote>\n<h6>Kedua, stres pada masa transisi ini juga dapat disebabkan oleh pemindahan pullet ke kandang produksi. Umumnya pemeliharaan pullet di Indonesia menggunakan kandang postal, sedangkan untuk fase produksi menggunakan kandang baterai. Perubahan kondisi kandang ini tentu akan membuat ayam harus beradaptasi ulang terhadap perubahan ukuran kandang yang menjadi lebih sempit, perubahan posisi dan tipe tempat ransum serta tempat minum, kemudian perubahan kondisi lingkungan. Dengan segala perubahan tersebut, tentu tidak menutup kemungkinan ayam akan stres.<\/h6>\n<h6>Selain faktor perkandangan, teknis dalam proses pemindahan pullet juga harus dilakukan dengan tepat. Sebaiknya, peternak tidak mendatangkan pullet dari daerah yang jaraknya terlalu jauh dari kandang. Jarak akan berpengaruh pada lama tidaknya waktu pengiriman. Makin lama proses pengiriman pullet, maka akan makin tinggi kemungkinan terjadinya stres dan kematian pada ayam saat transportasi. Selain faktor transportasi, jarak yang jauh juga memperbesar kemungkinan adanya perbedaan iklim yang mencolok antara daerah asal dan daerah tujuan pullet, sehingga memerlukan waktu adaptasi yang lebih lama.<\/h6>\n<h6>Umur dan waktu pemindahan juga tak boleh terlewatkan. Biasanya pindah kandang dilakukan 2 minggu sebelum fase produksi, agar ayam memiliki rentang waktu beradaptasi dengan kondisi baru. Pindah kandang yang terlalu mepet dengan masa produksi akan mengakibatkan ayam tidak memiliki rentang waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Terlebih virus lapangan atau <em>challenge<\/em> yang dihadapi di setiap lokasi farm akan berbeda. Di sisi lain, pindah kandang sebaiknya dilakukan pada malam, pagi atau sore hari, disaat kondisi lingkungan tidak panas. Hal ini untuk menekan terjadinya stres pada ayam.<\/h6>\n<h6>Di samping itu, proses penangkapan dan pemindahan harus dilakukan secara hati-hati. Kemudian, harus dipastikan sirkulasi udara pada tumpukan keranjang ayam bagus. Jumlah atau kapasitas ayam yang dimasukkan dalam keranjang, harus diatur sesuai dengan daya tampung dan diusahakan tidak terlalu padat. Saat melakukan pindah kandang, sebaiknya ayam tidak diberi ransum atau dipuasakan, sehingga saluran pencernaannya kosong namun tetap diberikan air minum. Jika tidak, proses pencernaan dan penyerapan nutrisi akan terus berlangsung dan menghasilkan panas yang akan memperparah tingkat stres.<\/h6>\n<h6>Yang juga menjadi bahan perhatian adalah pemberian vitamin dan elektrolit sebelum dan sesudah pindah kandang. Hal ini untuk membantu meningkatkan stamina tubuh ayam dan menurunkan efek stres yang ditimbulkan. Setelah proses pindah kandang selesai pemantauan kondisi ayam secara rutin juga harus dilakukan. Di akhir, penulis kembali mengingatkan pentingnya manajemen yang tepat dalam fase transisi ini. Pasalnya kegagalan pada saat transisi, akan berdampak pada fase produksi yang tidak optimal, angka mortalitas tinggi, daya tahan tubuh ayam yang lemah, sehingga ayam cenderung lebih mudah sakit. <em><strong>*Owner SIP Farm di Lintau Buo, Sumatra Barat<\/strong><\/em><\/h6>\n<h6><em><strong>Artikel ini merupakan rubrik Tata Laksana pada Majalah Poultry Indonesia edisi November 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com&nbsp;<\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh:&nbsp;Ogie&nbsp;Surya Putra, S Pt* Pada transisi antara fase grower ke fase produksi, faktor stres harus benar-benar diantisipasi oleh peternak. Pertama stres bisa disebabkan oleh adanya perpindahan pakan pada setiap fase. Peralihan pakan pada setiap fase ini harus diperhatikan. Hal ini dikarenakan ayam akan mendapatkan pakan yang berbeda dalam hal bentuk serta kandungan nutrisinya. Untuk itu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":20612,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[9,8],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Yang Perlu Diperhatikan dalam Fase Transisi Pemeliharaan Ayam Ras Petelur | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh:&nbsp;Ogie&nbsp;Surya Putra, S Pt* Pada transisi antara fase grower ke fase produksi, faktor stres harus benar-benar diantisipasi oleh peternak. Pertama stres bisa disebabkan oleh adanya perpindahan pakan pada setiap fase. Peralihan pakan pada setiap fase ini harus diperhatikan. Hal ini dikarenakan ayam akan mendapatkan pakan yang berbeda dalam hal bentuk serta kandungan nutrisinya. Untuk itu, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-11-22T07:38:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-12-01T07:45:08+00:00\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/Gambar-2-Mayoritas-pemeliharaan-pullet-di-Indonesia-menggunakan-kandang-postal-sehingga-membutuhkan-waktu-adaptasi-saat-dipindahkan-di-kandang-produksi-yang-menggunakan.jpg\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/Gambar-2-Mayoritas-pemeliharaan-pullet-di-Indonesia-menggunakan-kandang-postal-sehingga-membutuhkan-waktu-adaptasi-saat-dipindahkan-di-kandang-produksi-yang-menggunakan.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/Gambar-2-Mayoritas-pemeliharaan-pullet-di-Indonesia-menggunakan-kandang-postal-sehingga-membutuhkan-waktu-adaptasi-saat-dipindahkan-di-kandang-produksi-yang-menggunakan.jpg\",\"width\":1936,\"height\":1296},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/\",\"name\":\"Yang Perlu Diperhatikan dalam Fase Transisi Pemeliharaan Ayam Ras Petelur | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-11-22T07:38:45+00:00\",\"dateModified\":\"2022-12-01T07:45:08+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Yang Perlu Diperhatikan dalam Fase Transisi Pemeliharaan Ayam Ras Petelur\",\"datePublished\":\"2022-11-22T07:38:45+00:00\",\"dateModified\":\"2022-12-01T07:45:08+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#webpage\"},\"wordCount\":577,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/yang-perlu-diperhatikan-dalam-fase-transisi-pemeliharaan-ayam-ras-petelur\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/Gambar-2-Mayoritas-pemeliharaan-pullet-di-Indonesia-menggunakan-kandang-postal-sehingga-membutuhkan-waktu-adaptasi-saat-dipindahkan-di-kandang-produksi-yang-menggunakan.jpg\",\"articleSection\":[\"Tata Laksana\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/Gambar-2-Mayoritas-pemeliharaan-pullet-di-Indonesia-menggunakan-kandang-postal-sehingga-membutuhkan-waktu-adaptasi-saat-dipindahkan-di-kandang-produksi-yang-menggunakan.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5mr","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20611"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20611"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20611\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20614,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20611\/revisions\/20614"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20612"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20611"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20611"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20611"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}