{"id":20898,"date":"2023-01-05T11:23:43","date_gmt":"2023-01-05T04:23:43","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=20898"},"modified":"2023-01-20T10:34:03","modified_gmt":"2023-01-20T03:34:03","slug":"egg-drop-syndrome-di-lapangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/","title":{"rendered":"Egg Drop Syndrome di Lapangan"},"content":{"rendered":"<h6>Maraknya penyakit menular yang menyerang peternakan menjadi kendala bagi para peternak, tak terkecuali pada peternakan ayam petelur. Pasalnya adanya penyakit ini mengakibatkan penurunan status kesehatan dan berdampak pada produksi telur. Salah satu penyakit viral yang berkaitan dengan produksi telur adalah <em>Egg Drop Syndrome<\/em> (EDS)<em>.<\/em>&nbsp;<\/h6>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p><span style=\"color: #000000;\"><em>Egg Drop Syndrome (EDS)<\/em><em>, penyebab penurunan produksi telur pada ayam nyatanya masih terus ada dan selalu menghantui para peternak. Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh penyakit ini terbilang tidak sedikit, sehingga solusi yang ampuh ialah dengan cara&nbsp;peningkatan biosekuriti dan program vaksinasi.<\/em><\/span><\/p><\/blockquote>\n<h6><em>Egg Drop Syndrome<\/em> (EDS) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang ayam petelur dengan dampak penurunan produksi telur. Umumnya, EDS menyerang ayam di umur 25-35 minggu dengan gejala rusaknya kerabang telur dan kualitas telur yang buruk. Telur ayam yang terserang EDS memiliki ciri kehilangan warna kulitnya, tekstur kerabang yang lebih lunak dan tipis dari biasanya, hingga&nbsp;ukuran telur yang menyusut hingga sangat kecil.<\/h6>\n<h6>Penyakit ini pertama kali ditemukan di Belanda oleh Van Eck tahun 1976 dengan gejala penurunan produksi telur yang disertai dengan kondisi telur yang lunak dan kerabang tipis. EDS Menyebar ke Asia melalui Jepang (Yamaguchi <em>et al<\/em>., 1981), Singapura (Singh and Chew-Lim, 1981), dan Taiwan (Lu, <em>et al<\/em>., 1985). Virus <em>Egg Drop Syndrome <\/em>(EDSV) masuk ke dalam klasifikasi Adenovirus A famili<em> Adenoviridae<\/em>. Virus ini juga dikenal sebagai <em>duck adenovirus <\/em>(DAdV-1) dan dilaporkan pertama kali pada tahun 1976, sehingga virus ini dikenal sebagai EDS-76 (Marek <em>et al., 2<\/em>014).<\/h6>\n<h6>Hafez Muhammad, dalam jurnalnya yang berjudul \u201cAvian Adenoviruses Infections with Special Attention to Inclusion Body Hepatitis\/Hydropericardium Syndrome and Egg Drop Syndrome<em>\u201d,<\/em> menjelaskan bahwa EDS disebabkan oleh <em>Duck Adenovirus<\/em> dari genus <em>Atadenovirus<\/em>. Virus ini mengalami hemaglutinasi dan memiliki reservoir di bebek dan angsa. Data urutan nukleotida lengkap mengungkapkan bahwa virus ini merupakan virus perantara antara mamalia dan unggas <em>Adenovirus<\/em>.<\/h6>\n<h6><strong>EDS di lapangan<\/strong><\/h6>\n<h6>Hal ini senada dengan penjelasan, drh. Ilsan Arvan Nurgas selaku Direktur PT. Satwa Medika Utama. Ia menjelaskan bahwa EDS dapat menyebar secara vertikal dan horizontal.&nbsp;Secara vertikal, penyakit dapat ditularkan dari induk ke telur yang ditetaskan. Di dalam telur, virus ini sudah menginfeksi tubuh ayam, akan tetapi masih dalam keadaan pingsan sementara (dorman). Hingga tiba saatnya ayam memasuki masa produksi, virus akan aktif dan memengaruhi produktivitas ayam hingga ia menetaskan telur barunya.<\/h6>\n<h6>Kemudian untuk penularan secara horizontal, dapat disebabkan oleh kontak langsung ayam yang terinfeksi dengan ayam yang lain. Kondisi lingkungan kandang, peralatan kandang, dan lalu lintas hasil ternak maupun lalu lintas orang keluar masuk kandang juga merupakan akses penyebaran virus ini secara horizontal dari satu tempat ke tempat yang lain.&nbsp;Selain itu, menurutnya tak jarang peternak yang \u2018kecolongan\u2019 dalam mengantisipasi serangan penyakit yang satu ini.<\/h6>\n<h6>\u201cKasus EDS di lapangan tidak memperlihatkan gejala klinis secara spesifik, sehingga sering terjadi \u2018kecolongan\u2019. Ternyata, ayam tersebut sudah terjangkit virus EDS dan menyebarkan virusnya lewat kotoran. Ketika ayam telah terserang penyakit ini, maka penurunan produksi akan terjadi,\u201c ungkap Ilsan saat diwawancarai oleh tim Poultry Indonesia via sambungan telepon, Kamis (3\/11).<\/h6>\n<h6>Menurutnya, penurunan produksi ayam sangat berdampak kepada para peternak. Pasalnya, penyakit ini dapat mengakibatkan penurunan produksi antara 20 &#8211; 50 %, yang secara ekonomis sangatlah merugikan. Penyakit EDS biasanya menyerang ayam yang berumur 25 &#8211; 30 minggu, dimana seharusnya pada periode tersebut ayam mencapai puncak produksinya.<\/h6>\n<h6>Selain itu, telur ayam dengan EDS akan mengalami penurunan kualitas fisik, mulai dari kerabang telur berwarna pucat hingga telur tanpa kerabang. Hal ini membuat telur tersebut tidak bisa distribusikan untuk penjualan. Penurunan produksi dan kualitas telur akibat EDS ini dapat berlangsung selama 6-8 minggu, sehingga dapat menimbulkan kerugian yang besar bagi peternak.<\/h6>\n<h6>Lebih lanjut, Ilsan menceritakan kondisi terkini di lapangan berkaitan dengan penyakit EDS<strong>. <\/strong>Menurut Ilsan, kejadian <em>Egg Drop Syndrome<\/em> (EDS) di lapangan tidak begitu tinggi, akan tetapi masih dapat dijumpai di lapangan. <strong>\u201c<\/strong>Secara temuan di lapangan, kejadian EDS tidak terlalu tinggi, tapi masih bisa dijumpai. Umumnya teman-teman peternak kita sudah sangat paham cara untuk mengatasi penyakit ini. Tentunya dengan praktik manajemen di kandang yang bagus. Mereka juga sudah rutin melakukan vaksinasi,\u201d jelasnya.<\/h6>\n<h6>Apabila dibandingkan, diagnosis EDS mempunyai kemiripan dengan <em>Avian Influenza (AI), Infectious Bronchitis (IB)<\/em>, dan <em>Newcastle Disease (ND)<\/em>. Hal ini dikarenakan ketiga penyakit tersebut menunjukkan penurunan produksi telur disertai dengan kerusakan penampilan telur. Demi meneguhkan diagnosis EDS, biasanya telah dikembangan berbagai metode di lapangan untuk identifikasi penyakit ini, seperti pemeriksaan serologis seperti Uji <em>Hemaglutination<\/em> (HA) \/ <em>Hemaglutination Inhibition<\/em> (HI), <em>Enzyme-linked Immunosorbent Assay<\/em> (ELISA), dan <em>Polymerase Chain Reaction<\/em> (PCR). Namun demikian, faktanya kebanyakan peternak masih enggan melakukan metode tersebut, karena prosedur yang dianggap cukup rumit dan memakan waktu yang lama.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Maraknya penyakit menular yang menyerang peternakan menjadi kendala bagi para peternak, tak terkecuali pada peternakan ayam petelur. Pasalnya adanya penyakit ini mengakibatkan penurunan status kesehatan dan berdampak pada produksi telur. Salah satu penyakit viral yang berkaitan dengan produksi telur adalah Egg Drop Syndrome (EDS).&nbsp; Egg Drop Syndrome (EDS), penyebab penurunan produksi telur pada ayam nyatanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":20899,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,10],"tags":[35],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Egg Drop Syndrome di Lapangan | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Maraknya penyakit menular yang menyerang peternakan menjadi kendala bagi para peternak, tak terkecuali pada peternakan ayam petelur. Pasalnya adanya penyakit ini mengakibatkan penurunan status kesehatan dan berdampak pada produksi telur. Salah satu penyakit viral yang berkaitan dengan produksi telur adalah Egg Drop Syndrome (EDS).&nbsp; Egg Drop Syndrome (EDS), penyebab penurunan produksi telur pada ayam nyatanya [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-01-05T04:23:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-01-20T03:34:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Gambar-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"945\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"603\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Gambar-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Gambar-1.jpg\",\"width\":945,\"height\":603,\"caption\":\"Bentuk-bentuk telur abnormal akibat infeksi virus EDS. Telur kehilangan warna kulit telur, kerabang telur memiliki tekstur lebih lunak dan tipis dari biasanya,\\u00a0hingga\\u00a0 ukuran telur bisa menyusut hingga sangat kecil (Sumber : msdvetmanual.com)\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/\",\"name\":\"Egg Drop Syndrome di Lapangan | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-01-05T04:23:43+00:00\",\"dateModified\":\"2023-01-20T03:34:03+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Egg Drop Syndrome di Lapangan\",\"datePublished\":\"2023-01-05T04:23:43+00:00\",\"dateModified\":\"2023-01-20T03:34:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#webpage\"},\"wordCount\":737,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/egg-drop-syndrome-di-lapangan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Gambar-1.jpg\",\"keywords\":[\"berita3\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Gambar-1.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5r4","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20898"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20898"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20900,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20898\/revisions\/20900"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}