{"id":21261,"date":"2023-03-06T16:51:31","date_gmt":"2023-03-06T09:51:31","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=21261"},"modified":"2023-03-20T15:27:02","modified_gmt":"2023-03-20T08:27:02","slug":"parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/","title":{"rendered":"Parasit pada Peternakan Unggas Indonesia"},"content":{"rendered":"<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dampak dari penyakit akibat parasit pada ayam memang tak senyata penyakit yang diakibatkan oleh virus dan bakteri, akan tetapi bahaya laten yang mengintai jauh lebih merugikan secara ekonomi karena keberadaan parasit menggerus kesehatan ayam secara perlahan. Gangguan kesehatan akibat parasit dapat disebabkan oleh endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit merupakan parasit yang hidup di dalam tubuh inang, sedangkan ektoparasit merupakan parasit yang tumbuh di luar tubuh inang. Dengan sistem pemeliharaan yang mana nutrisinya selalu diusahakan terjaga, tak heran jika ayam menjadi salah satu sasaran empuk bagi parasit.<\/span><\/h6>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p><strong><span style=\"color: #000000;\"><i>Parasit, makhluk yang secara bergantung pada inang ini seringkali menyebabkan berbagai kerugian dengan menyerap nutrisi inangnya. Alih-alih memberi manfaat, parasit justru dapat menurunkan produktivitas inang yang ditumpanginya.<\/i><\/span><\/strong><\/p><\/blockquote>\n<h6><b>Ragam parasit pada unggas di Indonesia<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS, selaku Kadiv. Parasitologi &amp; Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, mengatakan bahwa ektoparasit pada unggas dibagi menjadi dua, yakni permanen dan temporal. Ektoparasit permanen merupakan parasit yang terus menerus menempel pada tubuh ayam, seperti kutu, pinjal, caplak, dan tungau tertentu. Sedangkan ektoparasit temporal hanya hinggap pada tubuh ayam, seperti nyamuk yang datang hanya untuk menghisap darah dan lalat.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEktoparasit yang paling sering ditemukan pada ayam adalah agas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus bursa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> penyebab gurem, nyamuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anopheles sp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Culicoides<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> serta kumbang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Alphitobius diaperinus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lebih dikenal sebagai kutu frengki. Selain itu, ada lalat rumah (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Musca domestica<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">)<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, lalat hijau (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lucilia sericata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan lalat daging atau bangkai (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sarcophaga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang juga menjadi vektor dari berbagai jenis penyakit,\u201d jelasnya pada tim Poultry Indonesia saat ditemui di Laboratorium Parasitologi &amp; Entomologi Kesehatan IPB, Jumat (10\/2).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Berspesialisasi di bidang ektoparasit, Upik mengatakan bahwa ektoparasit dibagi menjadi dua berdasarkan sifatnya, yakni sebagai pengganggu dengan cara menurunkan produksi dan sebagai vektor penyakit. Dalam hal ini, ektoparasit yang merupakan vektor suatu penyakit adalah yang paling berbahaya. Sebagai contoh, nyamuk Anopheles sp. merupakan vektor biologis dari Plasmodium penyebab malaria pada unggas, sedangkan nyamuk Culicoides merupakan vektor Leucocytozoon. Selain itu, kumbang atau kutu frengki juga merupakan vektor biologis dari bakteri Salmonella, sehingga ayam yang tidak sengaja termakan kumbang ini akan terserang Salmonellosis.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNyamuk dan agas muncul karena adanya genangan air dimana itu merupakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breeding area <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mereka. Populasi lalat meningkat karena adanya tumpukan feses yang basah pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kumbang atau kutu frengki biasanya dapat ditemui di area penyimpanan pakan dimana pakan yang berceceran biasanya akan ditumbuhi jamur dan larva dari kumbang ini memakan jamur tersebut. Larva yang tumbuh menjadi dewasa kemudian menginvasi kandang hingga beranak pinak pada sela-sela kayu kandang yang kemudian merusak struktur bangunan,\u201d jelasnya mengenai kemunculan parasit-parasit ini.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. Mufasirin, drh., M.Si., selaku Staf Pengajar di Departemen Parasitologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga,<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> mengungkapkan ada beberapa endoparasit yang menyerang unggas, seperti cacingan (helminthiasis), koksidiosis, dan leucocytozoonosis. Helminthiasis atau cacingan masih sering ditemukan, khususnya pada ayam petelur. Masa hidupnya yang panjang mendukung perkembangan dan siklus hidup cacing, sehingga semakin mudah menyebar ke lingkungan. Salah satu jenis cacing yang paling sering ditemukan adalah infestasi cacing pita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Raillietina spp<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. yang dapat menyebabkan peradangan dan degenerasi vili usus, sehingga timbul gejala klinis berupa gangguan pertumbuhan dan penurunan produksi telur.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKasus cacingan pada ayam tentu sangat mengganggu karena jumlahnya yang biasanya banyak dan memenuhi&nbsp; usus, sehingga mengganggu fisiologis usus dan menghisap sari makanan. Oleh karena itu, perkembangan ayam yang mengalami kasus cacingan akan terhambat dan tentunya mengganggu produktivitasnya,&#8221; tegasnya ketika ditemui tim Poultry Indonesia, Jumat (17\/2).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, dari sekian banyak endoparasit yang ada, koksidiosis masih menjadi momok bagi peternak. Lingkungan berperan besar dalam mendukung perkembangan bibit penyakit ini. Dengan kelembapan yang tinggi dan suhu yang sesuai, ookista pada Eimeria penyebab koksidiosis mudah berspora di lingkungan, sehingga kasus koksidiosis mudah merebak.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Endoparasit lainnya yang seringkali ditemukan adalah protozoa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Leucocytozoon caulleryi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> penyebab leucocytozoonosis atau malaria-like pada unggas dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Plasmodium sp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> penyebab plasmodiosis atau malaria pada unggas. Kasus leucocytozoonosis seringkali merebak pada peternakan dengan lingkungan yang banyak semak-semak, terutama di musim hujan. Banyaknya air pada musim hujan menjadi tempat berkembang vektor <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Leucocytozoon spp<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., yakni lalat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Simulium spp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Culicoides sp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">&nbsp;&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKasus plasmodiasis hampir sama, tetapi tidak sehebat leucocytozoonosis. Ada dua stadium pada kasus malaria, yakni skizogonie dan gametogoni yang terjadi di tubuh ayam, sedangkan pada kasus malaria-like hanya ada gametogoni. Perkembangan malaria terjadi di dalam dan luar eritrosit, akan tetapi yang menimbulkan dampak lebih hebat adalah yang ada di dalam eritrosit. Leucocytozoon terdapat pada eritrosit, tepatnya di endotel pembuluh darah, sehingga dapat terjadi pendarahan hebat pada ayam. Oleh karena itu, kasus malaria lebih ringan bila dibandingkan dengan malaria-like,\u201d jelasnya.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Kasus parasit di lapangan<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan data yang telah dirangkum oleh Medion, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">drh. Christina Lilis L., selaku Technical Education &amp; Consultation Manager Medion<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, mengatakan bahwa penyakit akibat endoparasit maupun ektoparasit masih ditemukan setiap tahunnya di lapangan. Tren penyakit parasit unggas dari tahun ke tahun pada layer masih didominasi oleh endoparasit, seperti cacingan, koksidiosis, dan ektoparasit. Sedangkan pada broiler, kasus parasit yang sering ditemukan adalah koksidiosis dan malaria. Kasus ektoparasit yang disebabkan oleh adanya infestasi kutu di tubuh ayam lebih sering ditemukan pada layer.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dilihat dari jumlah kasus yang terjadi, penyakit koksidiosis pada broiler menempati peringkat 4 besar dari keseluruhan penyakit dan mengalami peningkatan tiap tahunnya. Selain itu, kasus malaria pada ayam broiler turut mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan, kasus ektoparasit di ayam pedaging tidak termasuk ke penyakit yang sering terjadi (Grafik 1 dan Grafik 2).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPada broiler, kasus parasit yang sering terjadi adalah koksidiosis akibat protozoa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eimeria sp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan bagian usus halus dan sekum dan lebih sering menyerang ayam pada umur 2-3 minggu. Faktor yang mendukung terjadinya penyakit ini adalah kelembapan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang tinggi karena akan sangat mendukung perkembangbiakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eimeria sp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,\u201d jelasnya.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Grafik 1. Rangking Penyakit Broiler (2019-2022)<\/b><\/h6>\n<h6><b><img data-attachment-id=\"21262\" data-permalink=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/grafik-1-rangking-penyakit-broiler-2019-2022\/\" data-orig-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022.png\" data-orig-size=\"1566,940\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Grafik 1. Rangking Penyakit Broiler (2019-2022)\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-300x180.png\" data-large-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-1024x615.png\" loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-21262 size-large\" src=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-1024x615.png\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"418\" srcset=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-1024x615.png 1024w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-300x180.png 300w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-768x461.png 768w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-1536x922.png 1536w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-696x418.png 696w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-1068x641.png 1068w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022-700x420.png 700w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-1.-Rangking-Penyakit-Broiler-2019-2022.png 1566w\" sizes=\"(max-width: 696px) 100vw, 696px\" \/><\/b><\/h6>\n<h6><b>Grafik 2. Jumlah Kasus Penyakit Parasit pada Broiler (2019 &#8211; 2022)<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\"><img data-attachment-id=\"21263\" data-permalink=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/grafik-2-jumlah-kasus-penyakit-parasit-pada-broiler-2019-2022\/\" data-orig-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022.png\" data-orig-size=\"1417,547\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Grafik 2. Jumlah Kasus Penyakit Parasit pada Broiler (2019 &#8211; 2022)\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022-300x116.png\" data-large-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022-1024x395.png\" loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-21263 size-large\" src=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022-1024x395.png\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"268\" srcset=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022-1024x395.png 1024w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022-300x116.png 300w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022-768x296.png 768w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022-696x269.png 696w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022-1068x412.png 1068w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022-1088x420.png 1088w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-2.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Broiler-2019-2022.png 1417w\" sizes=\"(max-width: 696px) 100vw, 696px\" \/><\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pada layer, terjadi peningkatan jumlah kasus cacingan dari tahun sebelumnya dan menempati peringkat 3 besar dari keseluruhan penyakit. Begitu juga dengan kasus koksidiosis yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dan menempati peringkat ke-7. Berdasarkan data Medion, kasus ektoparasit pada layer mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya (Grafik 3 dan Grafik 4).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKasus parasit pada layer yang sering terjadi adalah cacingan, seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ascaridia sp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Railietina sp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan baru-baru ini <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Acanthocephala sp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Cacing tersebut termasuk cacing yang biasa ditemukan di usus halus. Ayam tertular cacing akibat memakan inang perantara, seperti serangga yang mengandung larva cacing. Faktor yang mendukung terjadinya kasus cacingan adalah sanitasi lingkungan yang kurang baik dan keberadaan vektor cacing di kandang,\u201d terangnya.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Grafik 3. Rangking Penyakit Layer (2019-2022)<\/b><\/h6>\n<h6><b><img data-attachment-id=\"21264\" data-permalink=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/grafik-3-rangking-penyakit-layer-2019-2022\/\" data-orig-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022.png\" data-orig-size=\"1606,858\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Grafik 3. Rangking Penyakit Layer (2019-2022)\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-300x160.png\" data-large-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-1024x547.png\" loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-21264 size-large\" src=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-1024x547.png\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"372\" srcset=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-1024x547.png 1024w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-300x160.png 300w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-768x410.png 768w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-1536x821.png 1536w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-696x372.png 696w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-1068x571.png 1068w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022-786x420.png 786w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-3.-Rangking-Penyakit-Layer-2019-2022.png 1606w\" sizes=\"(max-width: 696px) 100vw, 696px\" \/><\/b><\/h6>\n<h6><b>Grafik 4. Jumlah Kasus Penyakit Parasit pada Layer (2019 &#8211; 2022)<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\"><img data-attachment-id=\"21265\" data-permalink=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/grafik-4-jumlah-kasus-penyakit-parasit-pada-layer-2019-2022\/\" data-orig-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022.png\" data-orig-size=\"1606,642\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Grafik 4. Jumlah Kasus Penyakit Parasit pada Layer (2019 &#8211; 2022)\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-300x120.png\" data-large-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-1024x409.png\" loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-21265 size-large\" src=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-1024x409.png\" alt=\"\" width=\"696\" height=\"278\" srcset=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-1024x409.png 1024w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-300x120.png 300w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-768x307.png 768w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-1536x614.png 1536w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-696x278.png 696w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-1068x427.png 1068w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022-1051x420.png 1051w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Grafik-4.-Jumlah-Kasus-Penyakit-Parasit-pada-Layer-2019-2022.png 1606w\" sizes=\"(max-width: 696px) 100vw, 696px\" \/><\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Baik koksidiosis maupun cacingan dapat menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi hingga menurunnya daya tahan tubuh unggas. Namun, diantara keduanya, yang mendapat perhatian lebih adalah koksidiosis. Hal ini bisa jadi dikarenakan kasus cacingan pada unggas tidak ada ancaman kematian dan gejala klinis yang ditunjukkan oleh ayam kurang jelas, sehingga cenderung diabaikan. Berbeda dengan koksidiosis dimana gejala klinis terlihat nyata dan ada ancaman kematian yang mengikuti.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDampak yang terjadi apabila ayam terserang koksidiosis adalah terhambatnya pertumbuhan, penurunan efisiensi penggunaan ransum, hingga kematian yang beragam. Tingkat kematian akibat koksiddiosis dapat mencapai 10% hingga 30% untuk spesies <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eimeria <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang menyerang usus halus. Serangan koksidiosis juga memiliki efek imunosupresif yang menjadikan ayam lebih rentan terhadap infeksi penyakit lainnya,\u201d terangnya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Lilis, ayam yang mengalami cacingan akan mengalami penurunan berat badan atau keterlambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur 5-20% dan penurunan kondisi tubuh. Penurunan produksi telur yang terjadi dapat disertai dengan menurunnya berat telur. Meski penanganan koksidiosis lebih ekstra, apabila kedua penyakit ini berlangsung sangat parah dan tidak segera ditangani, maka dapat menyebabkan kematian.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKasus-kasus parasit yang terjadi pada broiler dan layer disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kepadatan kandang yang terlalu tinggi, kondisi sekam yang basah dan lembap, serta tumpukan feses. Kepadatan kandang berimbas pada kondisi sekam yang lebih cepat basah dan menggumpal, sedangkan tumpukan feses memicu datangnya lalat uang dapat berperan sebagai vektor penyakit seperti cacingan,\u201d ujarnya.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Dampak parasit bikin dahi mengernyit<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">drh. Fadhillah Yulia Pratama, selaku Product &amp; Registration Assistant Manager PT Vadco Prosper Mega<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, mengatakan bahwa dalam kasus parasit pada unggas, utamanya kasus helminthiasis (cacingan), tidak ada ancaman kematian dan gejala klinis yang ditunjukkan oleh ayam tidak terlihat begitu jelas, sehingga cenderung diabaikan. Meski dampaknya tak separah penyakit akibat bakteri maupun virus, nyatanya kasus parasit pada unggas tetap menimbulkan kerugian jika tidak segera ditangani.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTren kasus parasit yang paling sering ditemui pada unggas adalah cacingan dan koksidiosis. Gejala dari koksidiosis adalah perlambatan pertumbuhan berat badan dan berak darah yang kemudian berdampak terhadap menurunnya produktivitas hingga kematian. Pada kasus cacingan, dapat dilihat bulu ayam kusam, FCR membengkak, dan penyerapan nutrisi menurun. Kasus cacingan, seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ascaridia galli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, jika sudah parah dan tak segera diobati dapat menyebabkan enteritis yang tentu akan memudahkan penyakit lainnya untuk masuk karena adanya perlukaan pada usus,\u201d jelasnya pada tim Poultry Indonesia ketika diwawancarai secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, Rabu (8\/2).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Fadhillah kemudian mengatakan bahwa ektoparasit, seperti tungau penyebab gurem dan kutu frengki, juga sering ditemui di lapangan. Ektoparasit sebenarnya sangat mengganggu, akan tetapi masih banyak yang belum sadar akan bahayanya. Infestasi ektoparasit yang parah sangat mengganggu karena menyebabkan rasa gatal pada ayam dan menimbulkan stres.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cImun yang menurun akibat stres karena rasa gatal akan memudahkan penyakit lainnya untuk menyerang. Namun, karena ukuran ektoparasit yang biasa menyerang sangat kecil, dampaknya tidak sigfinikan, dan mudah dibasmi, maka hal ini tak terlalu dipusingkan, kecuali kutu frengki. Kutu frengki perlu diwaspadai karena selain berperan sebagai vektor penyakit yang memiliki dampak besar pada kesehatan ayam, parasit ini juga merusak kandang, sehingga kerugian yang ditimbulkan lebih besar,\u201d terangnya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Nurul Kawakib, S.Pt., selaku Technical Service PT New Hope Indonesia<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang fokus menangani peternakan broiler, mengatakan bahwa di peternakan broiler yang ia supervisi cenderung jarang dan hampir tidak ditemukan penyakit akibat parasit selama beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kasus yang sering ditemukan pada broiler, seperti koksidiosis, berhubungan erat dengan kondisi sekam yang ada dan efeknya pun tidak langsung, melainkan harus dipicu dengan kondisi lain, seperti kondisi imunosupresi akibat faktor lain. Koksidiosis biasa muncul karena cuaca yang tak menentu yang mana suhu dan kelembapan dalam kandang berfluktuasi.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSelama ini, aman-aman saja dan tidak ada penyakit yang benar-benar berpengaruh. Koksidiosis juga sudah hampir tidak ada dan tidak pernah saya temukan. Ketika suhu dan kelembapan dalam kandang berfluktuasi ayam yang kedinginan akan berkumpul di satu tempat dan sekam yang ditempati biasanya akan basah. Jika operator kandang kurang peka dengan kondisi ini dan penanganannya telat, maka ujung-ujungnya penyakit mudah masuk ketika sekam basah,\u201d terangnya pada tim Poultry Indonesia ketika diwawancarai melalui sambungan telepon, Senin (27\/2).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sama seperti koksidiosis, kasus cacing pun sudah tak pernah lagi ia temukan pada peternakan yang ia supervisi. Berbeda dengan layer yang mana masa hidupnya panjang, kasus cacingan pada broiler jarang bahkan tidak pernah ditemukan karena siklus hidup cacing yang lebih lama dari masa hidup broiler hingga dipanen, sehingga tak pernah ada laporan mengenai kasus cacingan.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Disisi lain, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sinarko Santoso, selaku peternak layer dan owner dari Peternakan Sumber Mandiri di Kabupaten Karanganyar<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, mengatakan bahwa kasus endoparasit yang seringkali ditemukan pada peternakan miliknya adalah kasus cacing pita atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Raillietina sp.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Hal ini dapat disebabkan oleh jumlah populasi lalat yang meningkat akibat berbagai hal, seperti masalah kebersihan kandang, musim buah tertentu, lingkungan sekitar kandang, pasca panen broiler, dan kotoran ayam yang basah. Sedangkan kasus ektoparasit yang pernah ia alami adalah gurem.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDampaknya dari kasus cacingan ini lumayan, penurunan produksi bisa mencapai 5%. Kasus koksidiosis juga ada, akan tetapi sangat jarang terjadi. Sedangkan kasus ektoparasit yang pernah saya alami adalah gurem sebanyak 2 kali. Biasanya menyerang ayam yang sedang dalam fase bertelur, baik muda maupun tua. Dampaknya adalah penurunan produksi dan anak kandang yang mengeluh gatal-gatal saat mengumpulkan telur,\u201d jelasnya dalam keterangan tertulis kepada tim Poultry Indonesia, Rabu (1\/2).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Gurem memang seringkali ditemukan pada peternakan layer dan sangat mengganggu ayam serta peternak dan anak kandang. Gurem disebabkan oleh agas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus bursa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Hampir sama seperti kutu, agas penyebab gurem ini juga menghisap darah ayam sebagai inangnya, sehingga sangat berbahaya apabila menyerang ayam. Pada kasus terparah, gurem dapat menyebabkan kematian.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTantangan dalam menangani kasus parasit adalah istirahat kandang yang tidak bisa saya lakukan karena sistem pemeliharaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">multi-age<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Menurut saya, penanganan kasus parasit tidak terlalu sulit, akan tetapi dampaknya terhadap produktivitas memakan waktu dan biaya yang lebih besar untuk mengembalikan peforma seperti sedia kala,\u201d pungkasnya.<\/span><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dampak dari penyakit akibat parasit pada ayam memang tak senyata penyakit yang diakibatkan oleh virus dan bakteri, akan tetapi bahaya laten yang mengintai jauh lebih merugikan secara ekonomi karena keberadaan parasit menggerus kesehatan ayam secara perlahan. Gangguan kesehatan akibat parasit dapat disebabkan oleh endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit merupakan parasit yang hidup di dalam tubuh inang, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":21267,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,5],"tags":[34],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Parasit pada Peternakan Unggas Indonesia | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dampak dari penyakit akibat parasit pada ayam memang tak senyata penyakit yang diakibatkan oleh virus dan bakteri, akan tetapi bahaya laten yang mengintai jauh lebih merugikan secara ekonomi karena keberadaan parasit menggerus kesehatan ayam secara perlahan. Gangguan kesehatan akibat parasit dapat disebabkan oleh endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit merupakan parasit yang hidup di dalam tubuh inang, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-03-06T09:51:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-03-20T08:27:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Gambar-1-kasus-cacingan-lebih-banyak-menyerang-layer-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Gambar-1-kasus-cacingan-lebih-banyak-menyerang-layer-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Gambar-1-kasus-cacingan-lebih-banyak-menyerang-layer-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1707},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/\",\"name\":\"Parasit pada Peternakan Unggas Indonesia | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-03-06T09:51:31+00:00\",\"dateModified\":\"2023-03-20T08:27:02+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/3e45996316f48c14f19983edebd9c8d4\"},\"headline\":\"Parasit pada Peternakan Unggas Indonesia\",\"datePublished\":\"2023-03-06T09:51:31+00:00\",\"dateModified\":\"2023-03-20T08:27:02+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#webpage\"},\"wordCount\":1985,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/parasit-pada-peternakan-unggas-indonesia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Gambar-1-kasus-cacingan-lebih-banyak-menyerang-layer-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"berita2\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Laporan Utama\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/3e45996316f48c14f19983edebd9c8d4\",\"name\":\"Diana Putri\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/135d83e1d7a26c0da84966512304f41e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/135d83e1d7a26c0da84966512304f41e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Diana Putri\"},\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/dianarpt\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Gambar-1-kasus-cacingan-lebih-banyak-menyerang-layer-scaled.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5wV","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21261"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21261"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21261\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21330,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21261\/revisions\/21330"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21267"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}