{"id":21589,"date":"2023-05-20T15:28:38","date_gmt":"2023-05-20T08:28:38","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=21589"},"modified":"2023-06-06T15:33:55","modified_gmt":"2023-06-06T08:33:55","slug":"pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/","title":{"rendered":"Pemilihan Bahan Disinfektan Perlindungan dari Bahayanya"},"content":{"rendered":"<h6>Tak kalah penting, pemilihan bahan disinfektan juga menjadi hal yang harus dipahami. Umumnya, disinfektan dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan sifat dan struktur kimianya. Dalam pemilihannya, Alfred menuturkan terdapat hal yang harus dipertimbangkan oleh peternak seperti riwayat penyebaran penyakit, jumlah cemaran kotoran organik, dan bahan material kandang. Adapun bahan disinfektan yang umum digunakan pada peternakan unggas adalah halogen, alkohol, agen pengoksidasi, fenol, dan aldehid.<\/h6>\n<h6>\u201cDisinfeksi kandang harus menyesuaikan dengan bahan material kandangnya. Kalau kandangnya terbuat dari kayu atau bambu, maka kita menggunakan disinfektan yang mampu menembus ke pori. Akan tetapi, jika kandang terbuat dari besi atau metal, gunakanlah bahan disinfektan yang tidak bersifat korosif. Begitu pun ketika disinfeksi kendaraan yang masuk ke area kandang,\u201d tuturnya.<\/h6>\n<h6>\n<strong>Tabel 1. Karakteristik bahan disinfektan<\/strong><\/h6>\n<table style=\"height: 1175px;\" width=\"663\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6><strong>Kategori disinfektan<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6><strong>Alkohol<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6><strong>Aldehid<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6><strong>Biguanida<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6><strong>Halogen:<\/strong><\/h6>\n<h6><strong>hipoklorit<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6><strong>Halogen:<\/strong><\/h6>\n<h6><strong>Senyawa yodium<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6><strong>Agen pengoksidasi<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6><strong>Fenol<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6>Kelebihan<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bertindak cepat<\/h6>\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tidak meninggalkan residu<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Spektrum<\/h6>\n<h6>yang luas<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Spektrum<\/h6>\n<h6>yang luas<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Spektrum<\/h6>\n<h6>yang luas<\/h6>\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Waktu kontak yang singkat<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Relatif aman<\/h6>\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Stabil dalam penyimpanan<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Spektrum<\/h6>\n<h6>yang luas<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tidak korosif<\/h6>\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Stabil dalam penyimpanan<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6>Kekurangan<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penguapan yang cepat<\/h6>\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mudah terbakar<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karsinogenik<\/h6>\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; hanya digunakan jika berventilasi baik<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hanya berfungsi pada pH 5-7<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lemah pada sinar matahari<\/h6>\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Korosif<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Korosif<\/h6>\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dapat menodai permukaan kandang<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Merusak yang berbahan metal<\/h6>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6>\u00b7&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menyebabkan iritasi pada kulit dan mata<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6><strong>Efektivitas<\/strong><\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6>Bakteri vegetatif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6>Mikobakteria<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Variabel<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6>Terbatas<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6>Variabel<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6>Enveloped virus<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Terbatas<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6>Non-eveloped virus<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6>Variabel<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Terbatas<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6>Terbatas<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6>Variabel<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6>Spora<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6>Tidak efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Tidak efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Variabel<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6>Terbatas<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6>Variabel<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6>Tidak efektif<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"87\">\n<h6>Fungi<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"107\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"101\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Terbatas<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"83\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"106\">\n<h6>Efektif<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"87\">\n<h6>Variabel<\/h6>\n<\/td>\n<td width=\"109\">\n<h6>Variabel<\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h6><em><strong>Sumber: FAO<\/strong><\/em><\/h6>\n<h6>Selain itu, Alfred mengatakan bahwa penggunaan disinfektan harus memperhatikan jumlah larutan beserta waktu kontaknya. Jumlah larutan disinfektan yang dianjurkan oleh FAO adalah minimal 300 ml\/m<sup>2<\/sup> untuk luas kandang. Kemudian untuk waktu kontak yang dimaksud adalah waktu yang dibutuhkan untuk membunuh kuman setelah proses disinfeksi selesai dilaksanakan. Meski setiap jenis disinfektan memiliki anjurannya masing-masing, namun FAO memiliki rekomendasi yang diambil dari rata-rata keseluruhan bahan disinfektan.&nbsp;<\/h6>\n<h6>\u201cLarutan disinfektan untuk luas kandang harus sebanyak 300 ml\/m<sup>2<\/sup>. Kalau peternak ingin menyemprotkan ke ruangan kandang meliputi lantai, dinding, dan langit-langit, maka dikalikan 2,5 sehingga menjadi 750 ml\/m<sup>3<\/sup>, ini minimal. Apabila peternak menggunakan konsep tersebut, maka waktu kontak yang dianjurkan oleh kami adalah 10 menit. Hal ini harus diperhatikan oleh peternak karena akan memengaruhi efektivitas dan daya kerja disinfektan,\u201d ucapnya.<\/h6>\n<h6>Ia juga mengingatkan untuk lebih bijaksana terkait penggunaan disinfektan yang memiliki spektrum luas. Pasalnya, disinfektan berspektrum luas merupakan salah satu pemicu terjadinya resistensi antimikroba atau yang biasa disebut <em>antimicrobial resistance<\/em> (AMR). \u201cBanyak disinfektan yang sudah tidak mempan. Oleh sebab itu, ada anjuran bahwa jangan menggunakan disinfektan di satu jenis tertentu saja. Seharusnya peternak melakukan evaluasi mengenai <em>outbreak<\/em> penyakit yang telah menyerang peternakannya agar di siklus selanjutnya dapat menggunakan disinfektan yang tepat sasaran,\u201d tegas Alfred.<\/h6>\n<h6><strong>Perlindungan dari bahaya disinfektan<\/strong><\/h6>\n<h6>Meskipun mampu membasmi mikroorganime penyebab penyakit, namun disinfektan terbilang berbahaya apabila disemprotkan langsung kepada manusia dan ayam.&nbsp; Alfred menyebutkan, tidak sedikit peternak yang melakukan disinfeksi kepada tenaga kandang dan ayam. Hal ini tidak dianjurkan namun juga tidak sepenuhnya keliru, asal dosis yang digunakan sesuai dengan anjuran yang sudah ditetapkan oleh produsen disinfektan tersebut.<\/h6>\n<h6>\u201cDosis yang dipakai untuk disinfeksi benda berbeda dengan yang dipakai untuk disinfeksi manusia. Seharusnya disinfektan yang disemprotkan kepada manusia adalah disinfektan yang sudah menjadi antiseptik. FAO juga tidak menganjurkan penyemprotan disinfektan kepada ayam karena tidak ada yang menjamin kesehatan ayam dan kuman bisa mati jika hal ini dilakukan. Tetapi, banyak peternak yang melakukan disinfeksi pada ayam karena secara psikologis mereka merasa lebih aman dan nyaman,\u201d kata Alfred.<\/h6>\n<h6>Dalam jangka pendek, toksisitas disinfektan terhadap manusia dapat memberikan efek mual, pusing, dan gatal-gatal pada kulit dan mata. Efek yang lebih parah terjadi dalam pengaruh jangka panjang yaitu dapat memberikan gangguan permanen pada anggota tubuh yang sangat sensitif. Alfred menyebut, bagian mata menjadi bagian tubuh yang paling cepat menyerap racun disinfektan dengan kecepatan hingga 12 kali. Disusul oleh bagian pangkal paha dengan 11 kali kecepatan dan hidung dengan 6 kali kecepatan.<\/h6>\n<h6>Oleh sebab itu, FAO menganjurkan kepada tenaga kandang yang hendak melakukan disinfeksi untuk selalu mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Untuk melindungi area wajah, tenaga kandang bisa menggunakan respirator dengan dilengkapi dengan filter yang sesuai. Apabila respirator hanya separuh wajah, maka dibutuhkan pelindung mata tambahan seperti <em>face shield<\/em>.<\/h6>\n<h6>Untuk perlindungan tubuh, tenaga kandang bisa menggunakan baju hazmat. Kemudian dilengkapi dengan pemakaian sarung tangan dan sepatu bot untuk menghindari iritasi kulit bagian tangan dan kaki. Selain itu untuk sarung tangan dan baju hazmat hanya boleh dikenakan sekali pemakaian saja. Sebelum membuangnya pun harus dicuci terlebih dahulu menggunakan detergen.<\/h6>\n<h6><em><strong>Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com&nbsp;<\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tak kalah penting, pemilihan bahan disinfektan juga menjadi hal yang harus dipahami. Umumnya, disinfektan dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan sifat dan struktur kimianya. Dalam pemilihannya, Alfred menuturkan terdapat hal yang harus dipertimbangkan oleh peternak seperti riwayat penyebaran penyakit, jumlah cemaran kotoran organik, dan bahan material kandang. Adapun bahan disinfektan yang umum digunakan pada peternakan unggas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":21590,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,9,8],"tags":[34],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pemilihan Bahan Disinfektan Perlindungan dari Bahayanya | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tak kalah penting, pemilihan bahan disinfektan juga menjadi hal yang harus dipahami. Umumnya, disinfektan dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan sifat dan struktur kimianya. Dalam pemilihannya, Alfred menuturkan terdapat hal yang harus dipertimbangkan oleh peternak seperti riwayat penyebaran penyakit, jumlah cemaran kotoran organik, dan bahan material kandang. Adapun bahan disinfektan yang umum digunakan pada peternakan unggas [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-05-20T08:28:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-06-06T08:33:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Gambar-2-sumber-FAO-dan-diolah-oleh-Poultry-Indonesia.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Gambar-2-sumber-FAO-dan-diolah-oleh-Poultry-Indonesia.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Gambar-2-sumber-FAO-dan-diolah-oleh-Poultry-Indonesia.jpg\",\"width\":1080,\"height\":1080},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/\",\"name\":\"Pemilihan Bahan Disinfektan Perlindungan dari Bahayanya | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-05-20T08:28:38+00:00\",\"dateModified\":\"2023-06-06T08:33:55+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/2697b3b8e518f035b41d7530b5f0f3f0\"},\"headline\":\"Pemilihan Bahan Disinfektan Perlindungan dari Bahayanya\",\"datePublished\":\"2023-05-20T08:28:38+00:00\",\"dateModified\":\"2023-06-06T08:33:55+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#webpage\"},\"wordCount\":868,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pemilihan-bahan-disinfektan-perlindungan-dari-bahayanya\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Gambar-2-sumber-FAO-dan-diolah-oleh-Poultry-Indonesia.jpg\",\"keywords\":[\"berita2\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Tata Laksana\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/2697b3b8e518f035b41d7530b5f0f3f0\",\"name\":\"yoga kusuma\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocIgoamjAzoR_xDvLmWgcajqXjlWmDsuWvgX2I6XDTjQXR7vEg=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocIgoamjAzoR_xDvLmWgcajqXjlWmDsuWvgX2I6XDTjQXR7vEg=s96-c\",\"caption\":\"yoga kusuma\"},\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/yoga-kusuma\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Gambar-2-sumber-FAO-dan-diolah-oleh-Poultry-Indonesia.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5Cd","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21589"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21589"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21589\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21592,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21589\/revisions\/21592"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21590"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21589"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21589"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21589"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}