{"id":21769,"date":"2023-06-22T14:11:38","date_gmt":"2023-06-22T07:11:38","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=21769"},"modified":"2023-07-03T14:14:19","modified_gmt":"2023-07-03T07:14:19","slug":"peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/","title":{"rendered":"Peternak Fokus Berbudi Daya, Apakah Haram?"},"content":{"rendered":"<h6><b>Oleh : Joko Susilo*<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Peternak unggas khususnya broiler dan layer, saat ini banyak dianggap sebagai \u201cpahlawan\u201d penyedia protein asal ternak yang paling murah. Dahulu kala ayam dibudi dayakan di desa-desa, di pekarangan rumah, atau daerah yang lokasinya jauh dari permukiman penduduk. Sentra-sentra peternakan saat ini tumbuh besar dengan diikuti modernisasi perkandangan. Hal ini tentu berdampak pada kegiatan masyarakat pedesaan dimana pembangunan farm <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masih menjadi salah satu sistem perkandangan yang \u201cpaling\u201d dianggap efisien untuk menampilkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">performance<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> produksi terbaik.<\/span><\/h6>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p><span style=\"color: #000000;\"><strong><i>Pemerintah dengan berbagai kebijakan berusaha membuat dan mengeluarkan program agar harga LB tidak di bawah HPP. Namun di sisi lain, peternak yang mengalami masalah keuangan akan semakin sulit membayar beban utang dari usaha budi daya yang dialami beberapa tahun lalu.<\/i><\/strong><\/span><\/p><\/blockquote>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak muluk-muluk, memang impian peternak broiler dan layer pastinya bagaimana harga LB di tingkat peternak bisa di atas harga pokok produksi (HPP). Apakah ladang usaha budi daya broiler ini kedepannya \u201chanya\u201d diperuntukkan bagi mereka yang punya modal besar yang dibangun dengan dana besar? Ataukah pola kemitraan menjadi satu-satunya solusi atas kesemrawutan usaha ini, sehingga pendapatan peternak seolah dijamin bila mencapai performa yang bagus? Pertanyaan tersebut sering terlontar di berbagai forum rapat\/pertemuan kecil peternak.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Atau memang kata kuncinya kesuksesan budi daya adalah efisiensi. Dengan pencapaian performa produksi yang bagus diharapkan terjadi peningkatan pendapatan petani\/peternak, sehingga meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi pertanian demi menjaga ketahanan pangan nasional, dan mendorong peningkatan penggunaan teknologi dalam proses produksi.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><b>Permentan 21 tahun 2023<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam mendorong penggunaan teknologi dalam proses produksi di sektor pertanian khususnya peternakan, pemerintah melalui kementerian pertanian mengeluarkan Permentan nomor 21 Tahun 2023 tentang Taksi Alat dan Mesin Pertanian (Taksi Alsintan).&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah sebenarnya Taksi Alsintan itu? Taksi alat dan mesin pertanian adalah kegiatan model tata Kelola usaha jasa alsintan dengan sistem jasa sewa atau kepemilikan alsintan dengan dukungan pemanfaatan teknologi informasi untuk penguatan usaha\/bisnis kelembagaan pengelolaan alsintan. Artinya pemerintah dalam hal ini membantu memberikan kemudahan melalui upaya sentuhan teknologi untuk mencapai performa usaha dari 3 tahapan usaha yakni pra panen, panen, dan pascapanen<\/span><b>.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Untuk bidang peternakan meliputi perkandangan, usaha penetasan dan pengolahan pakan.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pada lampiran Permentan tersebut khususnya untuk usaha perunggasan yang masuk alat dan mesin pra panen dan panen meliputi&nbsp; paket kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">close house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan paket mesin penetasan. Kemudian untuk pascapanen meliputi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">chiller<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mesin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">freezer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cold storage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mesin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">packaging<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, serta paket SARPRAS RPHU. Dari ketiga paket tersebut, tentu saat ini paket pascapanen sangat ditunggu-tunggu peternak, dimana kita semua tahu bahwa peternak sangat terbatas untuk di hilirnya, mampunya masih sebatas produksi. Dengan keluarnya permentan tersebut akan sangat membantu problem peternak pada saat harga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">livebird <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(LB) jatuh di bawah HPP.&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><b>Optimisme peternak<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awal Mei di sebuah pertemuan di Bogor dengan beberapa peternak, ada hal yang sangat menarik ketika penulis menyampaikan sebuah pandangan bahwa bila kondisi usaha perunggasan akan terus seperti saat ini maka tidak menutup kemungkinan keberadaan peternak \u201cmandiri\u201d akan semakin cepat \u201cmati\u201d dan menghilang. Kenapa hal ini penulis sampaikan, karena sudah hampir 5 tahun terakhir bahwa kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan pelaku usaha ketika terjadi gejolak harga adalah dengan melakukan pendekatan pengendalian import GPS, afkir dini pada indukan PS serta penarikan telur tetas dari mesin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">setter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> umur 19 hari di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hatchery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Penulis menyampaikan kalau DOC yang dihasilkan pabrikan dalam kelompok <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breeding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menengah terus ditekan harganya dengan selisih lebih dari 25% dari harga normal <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breeding farm<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cbesar\u201d atau integrator, maka mereka juga akan mati dan akhirnya yang tampil sebagai pemenang adalah perusahaan integrator yang bidang usahanya dari hulu hingga hilir.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibayangkan harga DOC pada pertengahan April sampai akhir April berada di bawah HPP dimana harga tersebut pada kisaran Rp1.500,00 \u2013 3.500,00\/ekor.&nbsp; Tak lama kondisi ini, keluar surat dengan nomor 18-18001\/TU.020\/F2.5\/04\/20023 untuk perihal Pelaksanaan Pengaturan dan Pengendalian Produksi DOC FS Ayam Ras Pedaging, yang mana inti dari surat tersebut adalah pelaksanaan pengendalian produksi DOC FS melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cutting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> HE fertil umur 19 hari.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak tanggung-tanggung dalam pelaksanaan pengaturan tersebut akan dilakukan pengafkiran dini PS sebanyak 3.900.000 ekor betina umur 50-53 minggu dilakukan pada tanggal 19 April \u2013 3 Juni 2023 atau selama 7 minggu dan akan berdampak mengurangi DOC FS sebanyak&nbsp; 93.241.298 ekor. Disisi lain pelaksanaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cutting HE fertile<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">&nbsp; umur 19 hari akan dilakukan sebanyak 48.101.877 butir atau setara&nbsp; HE <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fertile<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebanyak 41.992.939 ekor&nbsp; di mulai tanggal 28 April \u2013 3 Juni 2023 (6 minggu).&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah semua ini berdampak pada kenaikan harga LB dan DOC? Jawabannya tentu untuk sementara iya. Faktanya DOC sejak minggu ke 2 bulan Mei merangkak dari harga variasi dari 4.500 menuju 7.500 di minggu ke-3 bulan Mei dan hal ini banyak yang memprediksi menurut beberapa peternak akan bertahan atau dipertahankan hingga semester pertama tahun 2023 atau bulan Juni 2023.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Meski diakui oleh beberapa peternak bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breeding farm<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> besar yang juga menjual pakan kepada pelanggannya masih menjual harga DOC di kisaran Rp6.500,00 \u2013 7000,00\/ekor, dan juga banyak yang mengatakan produksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hatchery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> 3 minggu terakhir akibat cuaca yang ekstrem \u201cbanyak\u201d menyebabkan telur tidak menetas dan kisaran angkanya bisa sampai 30%. Tentu hal ini akan berdampak terhadap kualitas DOC yang beredar di peternak,<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai tulisan ini dibuat, ditingkat peternak sepertinya belum ada gejolak atas kenaikan harga DOC, karena kenaikan harga tersebut masih dianggap \u201cwajar\u201d karena harga LB juga masih berada di atas HPP. Sering yang terlontar dari beberapa peternak \u201c<\/span><b>Harga DOC berapapun tidak masalah yang penting harga ayam hidup di atas HPP sehingga semua untung\u201d.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Pemakluman ini tentu akan sangat berdampak kepada naiknya harga karkas ukuran 0.9 \u2013 1.1 kg yang merupakan berat dengan segmentasi pasar yang cukup banyak dan harga eceran di pasar tradisional dimana yang biasanya pedagang eceran menjual pada kisaran Rp33.000,00 sd Rp35.000,00 saat ini menjual karkas\/kg di beberapa pasar kawasan bogor menjual di harga Rp38.000,00 \u2013 Rp42.000,00\/kg.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa pedagang di pasar modern Sentul mengatakan bahwa pasokan mereka dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">supplier<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berkurang karena harga ditingkat peternak naik dan produksi berkurang akibat DOC yang masuk 1 bulan yang lalu sangat sedikit karena beberapa peternak tidak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">chick in<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau tidak memesan secara khusus DOC menjelang lebaran idul fitri.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Teknik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">marketing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengambil moment harga LB yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">chick in<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lebaran, karena sedikit memanfaatkan momen sekaligus menaikkan harga DOC. Menurut penulis ini lah hebatnya strategi pengusaha besar. Faktor lain masih menurut mereka, harga pakan yang sampai ke peternak mengalami kenaikan. Sebagai informasi tambahan, bahan pakan khususnya jagung juga mengalami kenaikan. Dimana menurut beberapa sumber, harga jagung di bulan Maret 2023 pada kisaran Rp5.900,00\/kg naik menjadi RP6.300,00\/kg per 23 Mei 2023.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Dinamika di tingkat peternak&nbsp;<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dua peristiwa di bulan Mei hendaknya menjadi perhatian khusus untuk peternak, dimana pemerintah dengan berbagai kebijakan berusaha membuat dan mengeluarkan program agar harga LB tidak di bawah HPP. Namun di sisi lain peternak yang mengalami masalah keuangan akan semakin sulit membayar beban utang dari usaha budi daya yang dialami beberapa tahun lalu.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Akan sangat berbahaya juga bila harga LB terlalu tinggi, mengingat jumlah DOC yang beredar juga akan tertampung semua dengan harga tinggi, maka efeknya HPP akan tinggi. Apalagi diperparah dengan adanya isu bahwa internal <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">farm<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> banyak \u201cdipaksa\u201d menampung DOC yang tidak terjual untuk upaya menaikkan harga DOC, sehingga terdapat beberapa peternak yang ragu apakah harga LB di bulan Juni akan masih bisa bagus seperti sekarang ini. Tetapi penulis mengajak agar kita semua jangan lupa bahwa di bulan Juni momen liburan sekolah biasanya meningkatkan&nbsp; permintaan karkas khususnya di kota-kota pendidikan dan tempat wisata.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Asumsi yang dibangun bila harga DOC di atas Rp6.500,00 + deplesi 3% saja akan menaikkan beban DOC. Apalagi kalau DOC di harga Rp7.000,00 sampai dengan Rp7.500,00, untuk harga pakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">grade<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> 1 sudah berada di atas Rp9.000,00\/kg belum ditambah dengan ongkos angkut sampai kandang. Gejolak utang dan kredit macet di peternak tentu menjadi titik puncak beban terberat peternak dan menjadi alasan pabrikan untuk menaikkan harga pakan karena menambah beban pabrik pakan.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip sebuah obrolan peternak Bogor, saat ini pabrikan semakin canggih menyelesaikan persoalan peternak melalui pengacara-pengacara yang dibayar dengan harga tidak main-main. Fungsi negosiasi yang selama ini dilakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">marketing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pakan seolah tidak ada manfaatnya. Jalur hukum adalah langkah yang sepertinya menjadi pilihan pabrikan untuk penyelesaian piutang macet.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah hal ini memang sengaja dilakukan oleh peternak dengan menumpuk kekayaan dari usaha budi daya ayam atau memang karena adanya kesalahan kebijakan negara dalam upaya melindungi atau memberikan penghidupan kepada peternak UMKM. Atau mungkin saja karena iklim bisnis usaha ayam di Indonesia sudah sedemikian parahnya atau tidak sedang baik-baik saja, sehingga berbagai kebijakan berjilid-jilid melalui c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">utting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masih belum cukup? Sudah benarkah pembatasan\/pengaturan kuota import GPS sebagai instrumen dalam upaya pemulihan dan perbaikan usaha perunggasan Indonesia?<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis merasa belum ada kajian akademis manapun atau adanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">policy brief<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari lembaga independen maupun kalangan internal di Kementan yang bisa dijadikan rujukan untuk mengambil kebijakan tersebut.&nbsp; Atau jangan-jangan penyebab utama selain daya beli masyarakat yang belum seragam antar wilayah juga karena harga bahan baku yang membentuk komponen HPP di Indonesia ini masih terlalu mahal khususnya pakan yang mana lebih dari 65% adalah bagian terbesar dari biaya produksi usaha ayam?&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila memang hal ini penyebabnya tentu saja perlu dipikirkan secara mendalam mencari substitusi bahan baku lokal atau meningkatkan produksi bahan baku lokal untuk bahan pakan di tingkat petani untuk mensupply pabrikan pakan, sehingga harga LB di tingkat konsumen menjadi terjangkau serta wajar. Atau ketika saat harga di atas HPP pemerintah mencari instrumen subsidi di tingkat konsumen seperti pada kasus minyak&nbsp; goreng \u201clangka\u201d.&nbsp; Kembali semua pilihan terpulang kepada para pelaku sendiri. Semangat terus peternak Indonesia. <\/span><em><b>*Pemerhati Perunggasan dan Staf Ahli Poultry Indonesia<\/b><\/em><\/h6>\n<h6><em><b>Artikel ini merupakan bagian dari majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com&nbsp;<\/b><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Joko Susilo* Peternak unggas khususnya broiler dan layer, saat ini banyak dianggap sebagai \u201cpahlawan\u201d penyedia protein asal ternak yang paling murah. Dahulu kala ayam dibudi dayakan di desa-desa, di pekarangan rumah, atau daerah yang lokasinya jauh dari permukiman penduduk. Sentra-sentra peternakan saat ini tumbuh besar dengan diikuti modernisasi perkandangan. Hal ini tentu berdampak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":19698,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,12,8],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Peternak Fokus Berbudi Daya, Apakah Haram? | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : Joko Susilo* Peternak unggas khususnya broiler dan layer, saat ini banyak dianggap sebagai \u201cpahlawan\u201d penyedia protein asal ternak yang paling murah. Dahulu kala ayam dibudi dayakan di desa-desa, di pekarangan rumah, atau daerah yang lokasinya jauh dari permukiman penduduk. Sentra-sentra peternakan saat ini tumbuh besar dengan diikuti modernisasi perkandangan. Hal ini tentu berdampak [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-06-22T07:11:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-07-03T07:14:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/4.-Joko-Susilo-839x1024.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"839\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1024\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/4.-Joko-Susilo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/4.-Joko-Susilo.jpg\",\"width\":1063,\"height\":1298},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/\",\"name\":\"Peternak Fokus Berbudi Daya, Apakah Haram? | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-06-22T07:11:38+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-03T07:14:19+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Peternak Fokus Berbudi Daya, Apakah Haram?\",\"datePublished\":\"2023-06-22T07:11:38+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-03T07:14:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#webpage\"},\"wordCount\":1559,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/peternak-fokus-berbudi-daya-apakah-haram\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/4.-Joko-Susilo.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Opini\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/4.-Joko-Susilo.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5F7","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21769"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21769"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21769\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21770,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21769\/revisions\/21770"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19698"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21769"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21769"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21769"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}