{"id":22147,"date":"2023-09-06T11:26:03","date_gmt":"2023-09-06T04:26:03","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22147"},"modified":"2023-09-08T15:42:51","modified_gmt":"2023-09-08T08:42:51","slug":"inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/","title":{"rendered":"Inseminasi Buatan (IB) pada Ternak Itik"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Oleh :<\/strong> <b>Aiman Fahimsyah*<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Inseminasi buatan (IB) atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Artificial Insemination<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah sebuah inovasi teknologi untuk menjawab tantangan pengadaan bibit dengan waktu yang singkat dan jumlah yang banyak agar dapat digunakan untuk memperbanyak ternak bibit unggul serta untuk keperluan penelitian. Metode IB biasa digunakan pada ternak besar seperti sapi, kambing, babi, dan kuda.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu IB juga biasa disebut kawin suntik. Secara ilmiah, IB adalah suatu metode pembuahan yang dilakukan diluar perkawinan alam atau mengawinkan secara buatan dengan menyuntikkan semen (air mani) ke dalam saluran reproduksi betina yang sedang berahi. Perkawinan dengan metode IB lebih efisien dibandingkan dengan kawin alam. Berdasarkan laporan Setioko (2012), perkawinan dengan metode IB pada unggas, khususnya itik, menghasilkan fertilitas yang lebih tinggi mencapai 80%, dibandingkan dengan perkawinan alam yang hanya 20-30%.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Fifi Afiati, dkk (2013), untuk meningkatkan populasi ternak unggas, maka usaha pembiakan unggas dengan metode IB menjadi faktor penting. Keuntungan dari melakukan perkawinan metode IB adalah untuk meningkatkan kemampuan unggas betina dalam menghasilkan telur tetas (HE\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hatching egg<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), mempercepat pengadaan DOC dan DOD bibit unggul dalam jumlah banyak serta meningkatkan kemampuan pejantan yang memiliki kualitas produksi unggul untuk mengawini sejumlah betina.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk melakukan IB, dibutuhkan pejantan dan betina yang unggul, sehat, dan berkualitas. Kualitas semen pejantan dipengaruhi oleh proses spermatogenesis, pendewasaan dalam epididimis, pakan yang diberikan, penampungan, dan pengelolaan semen. Menurut laporan Atmaja dkk. (2014), pengelolaan semen yang mempengaruhi adalah sifat kimia dan fisika bahan pengencer, kadar pengencer, cahaya, suhu, dan lama penyimpanan.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Syarat bahan pengencer yang baik dapat berfungsi sebagai sumber energi bagi spermatozoa, agen pelindung terjadinya kejut dingin (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cold shock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), penyangga (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">buffer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dalam mempertahankan pH, tekanan osmotik, memperbanyak volume, keseimbangan elektrolit, dan mencegah pertumbuhan bakteri. Jika dilihat secara visual, semen jantan yang baik untuk IB adalah berwarna putih krem. Sedangkan&nbsp; semen yang kurang baik biasanya berwarna sedikit kemerahan akibat terkontaminasi darah ataupun kehijauan akibat kontaminasi kotoran atau urine. Semen seperti ini tidak dapat digunakan.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pelaksanaan IB diawali dengan penampungan, pengelolaan semen itik, kemudian memasukkan semen tersebut ke dalam saluran reproduksi itik betina yang sedang dalam periode bertelur. Menurut laporan dari beberapa sumber, keberhasilan dari IB dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya yaitu tingkat pengenceran dan dosis, waktu dan interval IB, keterampilan inseminator, kualitas induk, penanganan semen, umur, dan bangsa ternak.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian teknik penempatan (deposisi) semen dibagi menjadi 2 metode yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">intravagina<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan metode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">intrauterine<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.&nbsp; Metode intravagina yaitu sebuah cara dengan memasukkan batang gun (spuit 1 ml) sedalam 3 cm atau meneteskan saja semen yang telah dicampur dengan NaCl untuk pengenceran dengan perbandingan (2:1) pada daerah vagina tempat deposisi semen. Metode deposisi semen ini mirip deposisi semen pada perkawinan secara alami. Sedangkan metode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">intrauterine <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yaitu mendeposisikan semen pada daerah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">uterine<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan cara memasukkan kateter yang panjangnya kurang lebih 7 cm ke dalam uterus betina.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pada perkembangannya, metode intravagina lebih banyak digunakan untuk IB unggas secara massal,karena pelaksanaannya relatif cepat.&nbsp; Dengan petugas inseminator yang baik dan dengan interval 3\u20135 hari sekali, hasil di lapangan menunjukkan tingkat infertil yang rendah antara 8\u201312 % dengan daya tetas dapat dicapai di atas 80%. Metode IB memang efisien, tetapi tidak selalu berhasil 100% telur terbuahi oleh semen dari pejantan. Maka dari itu, ada faktor yang memengaruhi Keberhasilan dalam IB yaitu kemampuan inseminator, daya tahan hidup spermatozoa, metode deposisi semen, waktu IB, interval dan frekuensi IB selama produksi, serta dosis dan jenis pengenceran semen (jika diencerkan). Umumnya, metode IB ini digunakan untuk proses kawin silang beda jenis, seperti pada itik betina <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">(Anas platyrhynchos)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dikawin silang dengan entok jantan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">(Cairina moschata)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang akan menghasilkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">final stock <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">jenis baru dengan nama \u2018<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tiktok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, barnati, serati atau itik mandalung\u2019. <\/span><b>*Mahasiswa Fakultas Peternakan, Universitas Udayana<\/b><\/h6>\n<h6><strong><em>Artikel ini merupakan bagian dari majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com<\/em><\/strong><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Aiman Fahimsyah* Inseminasi buatan (IB) atau Artificial Insemination adalah sebuah inovasi teknologi untuk menjawab tantangan pengadaan bibit dengan waktu yang singkat dan jumlah yang banyak agar dapat digunakan untuk memperbanyak ternak bibit unggul serta untuk keperluan penelitian. Metode IB biasa digunakan pada ternak besar seperti sapi, kambing, babi, dan kuda.&nbsp; Selain itu IB [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22148,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,12,8],"tags":[35],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Inseminasi Buatan (IB) pada Ternak Itik | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : Aiman Fahimsyah* Inseminasi buatan (IB) atau Artificial Insemination adalah sebuah inovasi teknologi untuk menjawab tantangan pengadaan bibit dengan waktu yang singkat dan jumlah yang banyak agar dapat digunakan untuk memperbanyak ternak bibit unggul serta untuk keperluan penelitian. Metode IB biasa digunakan pada ternak besar seperti sapi, kambing, babi, dan kuda.&nbsp; Selain itu IB [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-09-06T04:26:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-09-08T08:42:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/Aiman-Fahimsyah.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"768\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1024\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/Aiman-Fahimsyah.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/Aiman-Fahimsyah.jpeg\",\"width\":768,\"height\":1024},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/\",\"name\":\"Inseminasi Buatan (IB) pada Ternak Itik | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-09-06T04:26:03+00:00\",\"dateModified\":\"2023-09-08T08:42:51+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Inseminasi Buatan (IB) pada Ternak Itik\",\"datePublished\":\"2023-09-06T04:26:03+00:00\",\"dateModified\":\"2023-09-08T08:42:51+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#webpage\"},\"wordCount\":617,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/inseminasi-buatan-ib-pada-ternak-itik\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/Aiman-Fahimsyah.jpeg\",\"keywords\":[\"berita3\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Opini\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/Aiman-Fahimsyah.jpeg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5Ld","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22147"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22147"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22147\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22151,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22147\/revisions\/22151"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22148"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22147"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22147"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22147"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}