{"id":22269,"date":"2023-10-03T16:55:30","date_gmt":"2023-10-03T09:55:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22269"},"modified":"2023-10-03T16:55:30","modified_gmt":"2023-10-03T09:55:30","slug":"karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Karakter Struktural Dualistik Bisnis Perunggasan di Indonesia"},"content":{"rendered":"<h6><b>Oleh : S. Sigit Prabowo*<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam perjalanannya, bisnis perunggasan di Indonesia terdiri atas dua bentuk. Yang pertama yaitu pelaku besar dengan industri korporasi yang kuat, modern, serta padat modal. Lalu yang kedua terdapat juga para pelaku usaha yang kecil seperti usaha rakyat , lemah secara finansial, tradisional (UKM\/UMKM) dan dijalankan dengan padat karya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, keseimbangan antara bisnis besar dan bisnis kecil di perunggasan sudah mulai tidak seimbang.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Usaha rakyat di bidang perunggasan sebagian besar selalu berharap keuntungan hanya dari kegiatan usaha budi daya, dan biasanya para peternak itu walaupun memang seringkali menjual harga di bawah HPP namun akan selalu mencari cara bagaimana memaksimalkan pendapatan dari hasil budi daya untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Padahal jika dilihat lebih jauh, usaha rakyat di bidang perunggasan yang sebagian besar dijalankan dengan model padat karya bisa menjadi kelebihan tersendiri, diantaranya menjaga kearifan lokal, mengurangi tingkat pengangguran, mampu menerima tenaga kerja dari berbagai macam latar pendidikan (dari SD hingga Sarjana). Selain itu, kelebihan dari usaha budi daya usaha rakyat yaitu mengurangi tingkat urbanisasi karena dari kegiatan budi daya bisa menyerap tenaga kerja di desa, memberikan dampak ekonomi bagi desa, dan membangun efisiensi sosial.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Permasalahan turbulence market<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam pandangan penulis, ada beberapa permasalahan yang masih dialami oleh dunia perunggasan diantaranya yaitu turbulence market dan global warming. Untuk permasalahan yang pertama, yaitu turbulence market disebabkan oleh sentralisasi produksi yang disinyalir menyebabkan adanya populasi yang tidak terdeteksi, sehingga serapan pasar menjadi sulit untuk diprediksi dan berakibat membuat fluktuasi harga seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">roller coaster <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di bisnis broiler. Kelebihan produksi sering didistribusikan ke luar daerah sentra produksi dengan istilah (LK) atau<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> luar kota <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dengan selisih harga biasanya di angka Rp1.000,00 sampai Rp2.000,00 dari harga berjalan. Disini peranan dari para broker atau pemain tengah sangat kuat. Lalu menurut pandangan dari penulis, sentra produksi dari ayam ras pedaging di Indonesia masih terpusat di wilayah Jawa dan Bali dengan persentase sebesar 65% dari populasi nasional, diikuti oleh Sumatra sebesar 15%, Kalimantan sebesar 10%, lalu Indonesia Timur (Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua) sebesar 10%.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">turbulence market <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di perunggasan. Pertama yaitu mewujudkan sistem zonasi sesuai semangat otonomi daerah berdasarkan Kepmentan 404 Tahun 2002 karena untuk perizinan pembangunan kandang berada di Pemerintah Daerah. Kedua, upaya untuk memperpendek jalur distribusi dari produsen ke konsumen harus terus dilakukan supaya disparitas harga tidak terlalu jauh. Ketiga, pemetaan produksi antara asosiasi dan pemerintah daerah setempat agar disesuaikan dengan serapan atau permintaan konsumsi di masing \u2013 masing wilayah sekitar.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Tabel 1. Data partisipasi konsumsi nasional<\/b><\/h6>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis Ternak<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Persentase<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Unggas Ras Broiler<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">64%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Telur Ayam Ras<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">83,4%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Unggas Buras<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">10,59%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Sapi \/ Kerbau<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">26,15%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Kambing \/ Domba<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">6,52%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Babi<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">10%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">(Sumber : Litbang Pertanian)<\/span><\/h6>\n<h6><b>Ancaman suhu ekstrem&nbsp;<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Permasalahan selanjutnya mengenai pemanasan global (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Global Warming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang disebabkan oleh peningkatan suhu di atmosfer dan permukaan bumi. Dengan adanya peningkatan suhu di bumi tentu akan membawa dampak yang cukup besar dan menyebabkan perubahan tatanan ekologi suatu kehidupan. Pada cuaca ekstream Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pernah mengingatkan bahwa temperatur saat ini bisa mencapai suhu sekitar 37\u00b0C sampai 39\u00b0C, bahkan untuk beberapa negara di Asia bisa mencapai 43\u00b0C hingga 47\u00b0C. Dengan terciptanya kondisi temperatur tinggi, kelembapan rendah, kecepatan angin rendah, putaran oksigen relatif rendah, umumnya makhluk hidup baik manusia maupun hewan ternak sangat rentan dengan dehidrasi sampai cekaman panas. Lalu permasalahan nantinya yang akan menyerang para peternak unggas adalah cekaman panas yang sering kali diiringi dengan munculnya berbagai penyakit seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyekrek<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">coryza, CRD<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, lambat tumbuh, kematian tinggi, hingga masuknya penyakit ND atau AI.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Solusi teknis yang bisa diambil oleh para peternak yang menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yaitu mengatur kecepatan angin, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cooling pad<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara berkala mengikuti ekspresi dari ternak yang ada di dalam. Lalu cek juga secara berkala <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wall curtain<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> barangkali ada yang bocor, sehingga membuat aliran angin kurang maksimal. Sedangkan untuk para peternak yang masih menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Open House <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bisa membasahi bagian atas kandang dengan menggunakan sprinkle dan pompa air dari bawah dengan tujuan menurunkan temperatur dan meningkatkan kelembapan. Dengan catatan jika menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sprinkle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> harus tetap memerhatikan alas kandang karena jika terlalu lembap juga akan menyebabkan masalah baru.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kecepatan angin di dalam kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">open<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan perputaran oksigen yang lebih rendah akan membuat ayam di dalam kandang akan berebut oksigen. Akibatnya ayam akan keluar dari zona nyaman karena semua organ tubuh (paru \u2013 paru, jantung, hati, ginjal) akan bekerja keras untuk memompa oksigen, sehingga ayam menjadi stres, produksi menurun, pertumbuhan lambat, dan menjadi pintu masuk dari berbagai serangan penyakit. Maka dari itu, ada baiknya jika ayam diberi asupan tambahan berupa multivitamin.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Dampak El Nino<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia dipastikan dilanda musim kemarau ekstream akibat El Nino, pada puncak El Nino anomali suhu permukaan air laut diprediksi akan meningkat atau lebih panas 2\u00b0C. Fenomena ini akan memicu kondisi kering atau panas lebih ekstrem di musim kemarau dibanding dengan musim kemarau biasa. Dampaknya untuk industri perunggasan yaitu ketersediaan pakan lokal seperti jagung yang perlu diwaspadai, karena jika produksi bahan pakan terganggu, imbasnya tentu akan menaikkan harga pakan. Selanjutnya adalah ketersediaan air bersih atau air minum. Para peternak biasanya kesulitan mencari air bersih untuk minum ayam karena bersaing dengan kebutuhan air bersih untuk manusia. Hal ini perlu diwaspadai juga bagi para peternak karena dengan kualitas air yang menurun, penyakit yang disebabkan oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E.Coli <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">akan meningkat. Beragam komponen risiko ini tentu akan membuat biaya produksi lebih tinggi, sehingga bisa mendorong harga telur dan daging ayam harus berganti harga, tetapi diusahakan agar harga tetap terjangkau bagi konsumen akhir diantaranya ibu rumah tangga.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dampak cuaca ekstrem dan El Nino, aspek yang paling penting adalah ketahanan financial peternak maupun industri korporasi. Seandainya Bapanas menjadi bagian dari solusi dengan jalan mempersaingkan pelaku bisnis maka akan terjadi sebuah kondisi yang mana Bapanas harus mengambil sebuah sikap terkait siapa yang harus dilindungi, dan siapa yang harus dikompetisikan. Idealnya usaha korporasi industri layak untuk dikompetisikan, oleh karena itu sebaiknya pemerintah mengurangi intervensi terhadap industri hulu seperti membebaskan impor GPS, dimana semua pemain GPS berhak untuk tumbuh. Berikan kesempatan mereka mengatur sendiri sesuai dengan kebutuhan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">market share<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masing \u2013 masing terutama para pemain yang sudah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">establish.<\/span><\/i><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau impor sampai ada yang berlebih, maka biarkan saja para pelaku usaha tersebut yang bertanggung jawab mengurus kelebihannya sendiri agar tidak mengganggu pasar. Selain itu juga pemerintah harus mengkaji ulang kebijakan insentif tambahan kuota ekstra GPS, apapun dasarnya terutama dukungan ekspor. Marwah isi Keppres 22 tahun 1990 dimana industri (PMA maupun PMDN) boleh berbudidaya tetapi 65% dari hasilnya untuk ekspor, bila kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi. Pasar ekspor adalah menjadi kebutuhan dan tanggung jawab bagi para industri korporasi yang melakukan budi daya broiler dan produksi nya sampai berlebih.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Secara umum, tujuan pemerintah kepada masyarakat adalah memberantas kemiskinan dan mencerdaskan anak bangsa. Bagaimana anak bangsa bisa cerdas jika mutu asupan bergizinya masih bermasalah. Lalu bagaimana bisa masyarakat mengonsumsi gizi yang baik kalau daya beli masyarakatnya masih rendah. Tugas pemerintah dan para pelaku usaha adalah menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga di tingkat konsumen dengan tanpa merugikan produsen atau peternak, serta pelaku bisnis di perunggasan. <\/span><b>*Ketum PPUN periode 2009 &#8211; 2017<\/b><\/h6>\n<h6><b><em>Artikel ini merupakan bagian dari majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com&nbsp;<\/em><\/b><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : S. Sigit Prabowo* Dalam perjalanannya, bisnis perunggasan di Indonesia terdiri atas dua bentuk. Yang pertama yaitu pelaku besar dengan industri korporasi yang kuat, modern, serta padat modal. Lalu yang kedua terdapat juga para pelaku usaha yang kecil seperti usaha rakyat , lemah secara finansial, tradisional (UKM\/UMKM) dan dijalankan dengan padat karya. Namun, seiring [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22270,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,12,8],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Karakter Struktural Dualistik Bisnis Perunggasan di Indonesia | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : S. Sigit Prabowo* Dalam perjalanannya, bisnis perunggasan di Indonesia terdiri atas dua bentuk. Yang pertama yaitu pelaku besar dengan industri korporasi yang kuat, modern, serta padat modal. Lalu yang kedua terdapat juga para pelaku usaha yang kecil seperti usaha rakyat , lemah secara finansial, tradisional (UKM\/UMKM) dan dijalankan dengan padat karya. Namun, seiring [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-03T09:55:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/sigit-Prabowo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"735\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"848\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/sigit-Prabowo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/sigit-Prabowo.jpg\",\"width\":735,\"height\":848},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/\",\"name\":\"Karakter Struktural Dualistik Bisnis Perunggasan di Indonesia | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-10-03T09:55:30+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-03T09:55:30+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Karakter Struktural Dualistik Bisnis Perunggasan di Indonesia\",\"datePublished\":\"2023-10-03T09:55:30+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-03T09:55:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#webpage\"},\"wordCount\":1175,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/karakter-struktural-dualistik-bisnis-perunggasan-di-indonesia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/sigit-Prabowo.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Opini\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/sigit-Prabowo.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5Nb","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22269"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22269"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22269\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22272,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22269\/revisions\/22272"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}