{"id":22288,"date":"2023-10-05T10:35:07","date_gmt":"2023-10-05T03:35:07","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22288"},"modified":"2023-10-05T10:48:40","modified_gmt":"2023-10-05T03:48:40","slug":"airsacculitis-port-dentry-septisemia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/","title":{"rendered":"Airsacculitis, Port d&#8217;entry Septisemia"},"content":{"rendered":"<h6><b>Oleh: Tony Unandar*<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus peradangan kantung hawa atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada industri ayam modern, khususnya ayam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tampaknya sudah tidak boleh dianggap sepele lagi. Walaupun dampak kematian ayamnya relatif rendah, akan tetapi beberapa penelitian dalam dekade terakhir mengindikasikan bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki peluang yang sangat besar mengakibatkan terjadinya septisemia pada fase lanjut kasus. Tulisan singkat ini merupakan pengalaman seorang praktisi perunggasan dalam mereduksi kasus-kasus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di lapangan yang tentu saja disertai dengan publikasi ilmiah terbaru.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Titik lemah ayam<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Ayam yang sejatinya termasuk bangsa burung (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aves<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) mempunyai sistem pernapasan yang kodratnya untuk hidup dan terbang di udara bebas. Mana kala ayam dipelihara dalam sistem kandang tertutup (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed house system<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau CHS) dengan kepadatan ayam (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bird density<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang tinggi, maka akan tampak keterbatasan toleransi ayam untuk beradaptasi dengan kondisi yang &#8220;dipaksakan&#8221; terjadi. Keterbatasan toleransi tersebut kelak akan menjadi titik lemah sistem pernapasan ayam (Carrier, 2000; Maina, 2003).&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ini, ada beberapa titik lemah sistem pernapasan ayam yang dapat diamati dengan jelas di lapangan. Pertama, rongga hidung (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cavum nasalis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang tersekat-sekat akibat adanya tulang penyangga rongga hidung (tulang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">turbinatum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang berbentuk seperti rumah siput. Ketika terbang tinggi, yang mana suhu udara relatif rendah, sekat-sekat ini bertujuan untuk memperlambat aliran udara yang masuk ke dalam paru-paru, sehingga udara akan lebih dihangatkan dan ujung-ujungnya adalah agar proses pertukaran gas dalam paru-paru berlangsung optimal. Kondisi anatomi ini tentu tidak menguntungkan jika ayam hidup dalam sistem kandang tertutup yang mana debu dan partikel mikroba jauh lebih mudah terjebak di rongga hidung. Hal ini dapat mengakibatkan iritasi dan tingginya prevalensi problem infeksi oleh mikroba patogen (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rhinitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, berbeda dengan mamalia, bangsa burung tidak mempunyai katup atau klep antara rongga hidung dan sinus hidung, terutama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sinus infraorbitalis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau sinus bawah kotak mata. Struktur anatomi seperti ini memungkinkan burung untuk menahan udara lebih besar di area kepala saat terbang, sehingga membantu dapat mengangkat kepala dengan baik. Namun, bagi ayam yang hidup dalam sistem kandang tertutup, struktur morfologis ini memungkinkan debu dan mikroba patogen terjebak di dalam sinus, sehingga menyebabkan iritasi dan mempermudah terjadinya infeksi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sinusitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Titik lemah selanjutnya adalah kantung hawa atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">air sac<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang tersebar di seluruh rongga dada dan rongga perut atau bahkan sampai masuk ke dalam rongga tulang lengan atas atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">humerus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kantung hawa interklavikularis (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">interclavicularis air sac<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), walau hanya ada satu buah, tetapi ujung-ujungnya tersebar sampai dalam rongga tulang lengan atas kanan dan kiri. Bentuk anatomis ini bertujuan untuk membantu mengangkat sayap saat terbang dan memompa udara keluar saat ekspirasi atau proses mengeluarkan udara pernapasan. Maka jangan heran, jika kualitas udara dalam kandang tertutup buruk, misal kadar amonia &gt;25 ppm, maka ayam akan mudah mengalami infeksi via radang kantung hawa yang tersebar di dalam rongga-rongga tubuh.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kantung hawa juga minim kapiler darah atau avaskularisasi. Hal ini berarti sistem imunitas pada tataran kantung hawa lebih mengandalkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">innate immunity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang memiliki keterbatasan. Contoh, jika <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">total inoculum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau jumlah partikel patogen yang terhisap dan tertelan sangat tinggi, maka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">innate immunity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> umumnya tidak berdaya. Oleh karena itu, jika ventilasi kandang sangat buruk dimana kadar amonia dan total mikroba per-cc udara sangat tinggi, maka ayam juga dengan mudah mengalami radang kantung hawa atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Singkatnya, kantung hawa merupakan salah satu titik lemah sistem pernapasan pada ayam modern.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Mengenal <\/b><b><i>airsacculitis<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pada ayam, khususnya pada broiler, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan problem yang sangat jamak dan penyakit infeksius penting yang kebanyakan melibatkan bakteri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Avian Pathogenic E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (APEC), baik sebagai agen penyebab sekunder maupun primer (Dozois, 1994). Ditandai dengan kekeruhan, penebalan, dan peradangan kantung hawa, gejala <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga disertai dengan eksudat fibrinoid, perikarditis (radang selaput jantung), perihepatitis (radang selaput hati), dan tidak jarang disertai juga dengan koliseptisemia dan kematian ayam (Gross, 1994; Ewers <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2009; Kabir, 2010). Dari sisi gejala klinis, problem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> umumnya tidak spesifik dan hanya berupa depresi ringan, batuk sesekali, bersin ringan, serta kesulitan bernafas (Pesek, 2000).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Di lapangan, prevalensi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang disebabkan oleh APEC sebagai agen penyebab primer biasanya diinisiasi oleh adanya faktor stres subkronis hingga kronis. Selain itu, kepadatan ayam yang sangat tinggi dan adanya problem imunosupresi yang disebabkan oleh mikotoksin dan atau virus-virus tertentu seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Infectious Bursal Disease<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (IBD), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Chicken Anemia Virus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (CAV), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mareks Disease Virus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (MDV), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Inclusion Bodies Hepatitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (IBH), serta Reovirus juga turut menginisiasi penyakit ini (Mellata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2003). Ditambah dengan buruknya ventilasi dalam kandang yang membuat amonia, debu, serta kepadatan partikel bakteri APEC per-cc udara sangat tinggi, maka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> semakin mudah terjadi.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kasus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> disebabkan oleh APEC sebagai agen penyebab sekunder, maka faktor primernya biasanya adalah infeksi mikoplasma sublinis secara subkronis sampai kronis (Kleven <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 1972; Feizi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2013; Karthik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2018), infeksi oleh bakteri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithobacterium rhinotracheale<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Post <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 1999; McMullin, 2004, Yousseff <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2008), serta infeksi lapangan atau reaksi terhadap vaksin aktif ND dan atau IB (Cattoli <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2011; Akanbi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2020; Najimudeen <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2020; Hoerr, 2021).<\/span><\/h6>\n<h6><i><span style=\"font-weight: 400;\">Airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada ayam modern bisa juga disebabkan oleh infeksi jamur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aspergillus fumigatus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aspergillus niger<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Spanamberg <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2013; Sultana <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2013; Cheng <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2020). Spora jamur bisa menyerang ayam pada semua umur, tetapi gejala klinisnya sangat tergantung dari jamur yang tumbuh di organ pernapasan. Manifestasi subklinis yang kronis umumnya terjadi pada ayam besar alias berusia diatas 3 minggu (Tell, 2005; Charlton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2008). Pada DOC, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akibat aspergillosis biasanya ada hubungan yang erat dengan penanganan telur tetas (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hatching-eggs handling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan sanitasi pada proses penetasan di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hatchery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Lima <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2001; Tessari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2004; Vilela <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2004).<\/span><\/h6>\n<h6><b>Pencegahan untuk tekan kasus <\/b><b><i>airsacculitis<\/i><\/b><b>&nbsp;<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa langkah di lapangan yang bisa dilakukan untuk mengurangi problem AS pada ayam modern, salah satunya reduksi populasi kuman koli (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">coliform<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dalam kandang. Langkah ini dapat dilakukan dengan istirahat kandang yang cukup (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">down-time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan memastikan implementasi biosekuriti proses kosong kandang yang tepat dan konsisten. Selain itu, kualitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga perlu dijaga agar tidak terlalu lembab. Aktifitas air dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau kadar uap air <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diharapkan rendah, maksimum 25-30%.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Menjaga kualitas litter juga dapat dilakukan dengan memperhatikan rasio bahan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan kotoran ayam. Rasio yang baik adalah 7:3 bahan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan material kotoran ayam. Jika sudah terjadi penggumpalan, maka dapat dipastikan rasio material kotoran ayam lebih tinggi dari bahan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sanitasi dan membolak-balik bahan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara rutin dapat bertujuan untuk mengencerkan dan mengurangi debu kandang serta keterpaparan ayam dengan APEC dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kepadatan ayam juga harus diperhatikan karena sangat menentukan kualitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> selama pemeliharaan. Semakin tinggi kepadatan ayam, maka kualitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan semakin cepat turun.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam pencegahan kasus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">menjaga ventilasi udara dalam kandang juga merupakan langkah yang penting. Dengan ventilasi yang baik, selain terjaminnya suplai oksigen dan terbuangnya gas-gas beracun, juga secara tidak langsung akan terjadi pengenceran konsentrasi kuman koli dalam udara kandang. Dalam tempo satu menit, seluruh udara dalam kandang harus diganti dengan udara yang baru. Kecepatan angin dalam kandang sebaiknya berkisar antara 1,8 sampai 2,4 m per-detik, tergantung pada tipe kandang.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Di awal kehidupan ayam, untuk mencegah terjadinya kontaminasi lanjut APEC dalam populasi ayam yang ada, maka tindakan afkir selektif (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">culling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) DOC pada fase sedini mungkin atau kurang dari 3 hari pertama sejak ditebar sangat dianjurkan, terutama pada DOC yang mengalami <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">omphalitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kemudian, perlakuan khusus dengan klorinasi pada sumber air yang terkontaminasi oleh kuman koli dan atau dengan kandungan mikroba total &gt;30 CFU\/cc air juga dapat dilakukan. Klorin dalam tempat penampungan air dapat diberikan sebanyak 5 ppm dan biarkan selama minimal 6 jam sebelum siap digunakan untuk keperluan air minum atau keperluan lainnya. Dalam tempat air minum ayam (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">drinker<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nipple<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), kadar klorin aktif diharapkan maksimum 3 ppm.&nbsp;&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Preparat peroksida atau preparat metal yang sudah diproses dengan teknologi nano seperti CuSO<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">4<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> atau AgNO<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat juga digunakan sebagai antiseptika air minum ayam dan mereduksi keberadaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">biofilm<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada sistem distribusi air minum di kandang. Pemberian preparat prebiotika (seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">MOS<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">FOS<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u03b2-1,3-Glucan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), probiotika (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bacillus subtilis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lactobacillus acidophylus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Enterococcus faecium<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), herbal (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">saponin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cucurmin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">carvacol<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">thymol<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) atau asifier (asam format, asam butirat) tertentu dapat digunakan untuk mengurangi populasi bakteri koli patogen (APEC) dalam lumen usus ayam, memelihara keseimbangan mikrobiota usus dan mengaktivasi sistem imunitas di tataran mukosa usus. Tujuan lainnya adalah untuk mengurangi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">shedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> APEC ke lingkungan ayam, baik dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">litter <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau di udara kandang.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Jika perlu, dapat diberikan preparat antibiotika yang strategik, efektif, dan selektif terhadap APEC, terutama antibiotika yang lama berada pada tingkat kantung hawa pada fase-fase rawan selama pemeliharaan setelah dilakukan observasi lapangan yang cermat.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">long-live birds<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, seperti ayam petelur komersial atau ayam bibit (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breeder<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), penggunaan vaksin koli sangat dianjurkan. Program vaksinasi biasanya dikombinasi antara vaksin aktif dan vaksin inaktif. Pada ayam bibit, vaksinasi terhadap APEC ternyata dapat mereduksi kontaminasi APEC pada progeninya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Langkah lainnya adalah lakukan evaluasi terhadap program vaksinasi Newcastle Disease (ND) dan atau Infectious Bronchitis (IB). Proteksi yang baik terhadap ND dan IB terbukti dapat mereduksi problem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">airsacculitis <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pada ayam modern, terutama pada broiler. Pada penelitian terakhir, terbukti bahwa ada korelasi yang erat antara kejadian ND dan IB subklinis dengan tingginya persentase <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">condemnation<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di rumah potong unggas (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slaughter house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). <\/span><b><i>*Anggota Dewan Pakar ASOHI<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><em><strong>Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com&nbsp;<\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Tony Unandar* Kasus peradangan kantung hawa atau airsacculitis pada industri ayam modern, khususnya ayam broiler, tampaknya sudah tidak boleh dianggap sepele lagi. Walaupun dampak kematian ayamnya relatif rendah, akan tetapi beberapa penelitian dalam dekade terakhir mengindikasikan bahwa airsacculitis memiliki peluang yang sangat besar mengakibatkan terjadinya septisemia pada fase lanjut kasus. Tulisan singkat ini merupakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22289,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,10,8],"tags":[2168,34],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Airsacculitis, Port d&#039;entry Septisemia | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Tony Unandar* Kasus peradangan kantung hawa atau airsacculitis pada industri ayam modern, khususnya ayam broiler, tampaknya sudah tidak boleh dianggap sepele lagi. Walaupun dampak kematian ayamnya relatif rendah, akan tetapi beberapa penelitian dalam dekade terakhir mengindikasikan bahwa airsacculitis memiliki peluang yang sangat besar mengakibatkan terjadinya septisemia pada fase lanjut kasus. Tulisan singkat ini merupakan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-05T03:35:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-10-05T03:48:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-4.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2306\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1541\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-4.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-4.jpg\",\"width\":2306,\"height\":1541,\"caption\":\"Manifestasi peradangan akut kantung hawa pert (acute abdominal airsacculitis) oleh infeksi buatan Mycoplasma gallisepticum pada ayam modern. Pada kondisi riil di lapangan, infeksi Mycoplasma gallisepticum umumnya terjadi secara subklinis dan berlangsung subkronis sampai dengan kronis.\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/\",\"name\":\"Airsacculitis, Port d'entry Septisemia | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-10-05T03:35:07+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-05T03:48:40+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Airsacculitis, Port d&#8217;entry Septisemia\",\"datePublished\":\"2023-10-05T03:35:07+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-05T03:48:40+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#webpage\"},\"wordCount\":1478,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/airsacculitis-port-dentry-septisemia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-4.jpg\",\"keywords\":[\"Airsacculitis\",\"berita2\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Kesehatan\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-4.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5Nu","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22288"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22288"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22288\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22291,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22288\/revisions\/22291"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22289"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}