{"id":22317,"date":"2023-10-09T09:42:04","date_gmt":"2023-10-09T02:42:04","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22317"},"modified":"2023-10-09T09:42:04","modified_gmt":"2023-10-09T02:42:04","slug":"tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/","title":{"rendered":"Tinjauan Sejarah Perunggasan Jepang"},"content":{"rendered":"<h6><b>Oleh : Ahmad Safik, A.Md*<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJas Merah\u201d atau \u201cJangan sekali-kali meninggalkan sejarah\u201d, merupakan kutipan pidato dari Ir. Soekarno yang masih sangat relevan hingga saat ini. Pidato ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan sejarah. Pencapaian di masa lampau adalah awal dari pencapaian di masa sekarang dan bekal di masa depan. Pemahaman sejarah yang benar juga sangat penting dalam dunia perunggasan di Jepang. Dalam hal ini penulis ingin mengulas terkait perjalanan sektor perunggasan di Jepang yang bersumber dari sebuah karya ilmiah berjudul \u2018\u2019 Historical Overview of Poultry in Japan\u201d karya Atsushi Tajima.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam tulisannya Tajima melihat bahwa kuatnya permintaan masyarakat akan produk unggas dengan standar kualitas yang tinggi setelah Perang Dunia II (PD II), membuat sektor perunggasan di Jepang mulai berbenah. Hal ini memantik perunggasan Jepang mengalami periode ekspansi yang cepat setelah PD II. Melalui pengenalan sistem manajemen unggas dari Eropa yang sistematis membuat perunggasan di Jepang dalam beberapa dekade berkembang menjadi sektor produksi pertanian utama yang secara efisien dan ekonomis memasok daging dan telur yang aman dan higienis untuk masyarakat.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Namun demikian, perlu diingat bahwa perkembangan industri unggas Jepang pascaperang dibangun di atas kajian akademis dan penelitian yang solid serta membutuhkan waktu beberapa dekade sebelum perang. Di sisi lain, sejak lama unggas memiliki peran budaya yang istimewa dalam masyarakat Jepang, sehingga juga menjadi faktor pendukung tersendiri perkembangan perunggasan di Jepang.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang ditunjukkan pada Grafik 1, jumlah peternakan ayam petelur di Jepang meningkat tajam setelah PD II hingga mencapai puncaknya pada tahun 1955 (sekitar 4,5 juta peternakan) dan menurun dengan cepat setelahnya. Jumlah populasi ayam petelur pada awalnya meningkat secara paralel dengan peningkatan jumlah peternakan ayam petelur. Hal ini terus meningkat hingga awal tahun 1990, dan kemudian mengalami penurunan. Menurut data Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries Japan (MAFF), terdapat 1.810 peternakan ayam petelur dengan total populasi sekitar 137 juta ekor ayam petelur telah dipelihara di Jepang pada tahun 2022.<\/span><\/h6>\n<h6><img data-attachment-id=\"22318\" data-permalink=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/microsoft-powerpoint-02-01-jps-%c2%91%c2%8d%c2%90a-%c2%90%c2%95ver6-02023_0313-pptx\/\" data-orig-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-1-Produksi-telur-ayam-di-Jepang.jpg\" data-orig-size=\"798,466\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;A.Tajima&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;Microsoft PowerPoint - 02-01 JPS \\u0091\\u008d\\u0090\\u00e0 \\u0090}\\u0095(Ver6.0)2023_0313.pptx&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Microsoft PowerPoint &#8211; 02-01 JPS \u0091\u008d\u0090\u00e0 \u0090}\u0095(Ver6.0)2023_0313.pptx\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-1-Produksi-telur-ayam-di-Jepang.jpg\" data-large-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-1-Produksi-telur-ayam-di-Jepang.jpg\" loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-22318\" src=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-1-Produksi-telur-ayam-di-Jepang.jpg\" alt=\"\" width=\"798\" height=\"466\"><\/h6>\n<h6 style=\"text-align: center;\"><b>Grafik 1. Produksi telur ayam di Jepang<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Masih dari sumber yang sama, 10 prefektur teratas untuk populasi ayam petelur di Jepang adalah Ibaraki (15.388.000), Chiba (12.886.000), Kagoshima (11.944.000), Hiroshima (9.982.000), Aichi (9.817.000), Okayama (9.323.000), Gumma (9.261.000), Niigata (6.952.000), Aomori (6.497.000), dan Hokkaido (6.466.000). Jumlah total ayam petelur yang dipelihara di sepuluh prefektur teratas ini adalah 98.416 \u00d7 10<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ekor, atau sekitar 53,9% dari total jumlah ayam petelur di Jepang. Di antara 1.810 peternakan ayam petelur di Jepang, 334 peternakan ayam petelur (18,6%) memelihara lebih dari 100 \u00d7 10<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ekor ayam petelur (MAFF 2022a). Di sisi lain, apabila melihat dari sisi konsumen, telur menjadi salah satu pangan yang popular dan disukai oleh masyarakat Jepang. Berdasarkan data dari International Egg Commission, 2022, jumlah telur yang dikonsumsi di Jepang adalah 337 butir telur\/kapita\/tahun pada tahun 2021. Yang mana merupakan tertinggi ke-2 setelah Meksiko, yang mengonsumsi 409 telur\/kapita\/tahun.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, seperti yang ditunjukkan pada Grafik 2, pasokan daging dari tiga sektor peternakan utama di Jepang sangat terbatas sebelum PD II. Ekspansi produksi daging pascaperang dimulai dari sektor daging babi dan diikuti oleh sektor ayam pedaging.&nbsp; Sedangkan ekspansi sektor daging sapi dimulai sejak tahun 1960-an dan laju peningkatannya lebih lambat dibandingkan dengan sektor daging babi dan ayam pedaging. Perlu dicatat bahwa pada awal tahun 1980-an, produksi daging ayam telah melampaui produksi daging babi. Berdasarkan data MAFF 2022, produksi tahunan daging ayam, babi, dan sapi di Jepang pada tahun 2021 masing-masing adalah 2.216 \u00d7 10<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, 1.318 \u00d7 10<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, dan 477 \u00d7 10<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ton per tahun.<\/span><\/h6>\n<h6><img data-attachment-id=\"22319\" data-permalink=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/microsoft-powerpoint-02-01-jps-%c2%91%c2%8d%c2%90a-%c2%90%c2%95ver6-02023_0313-pptx-2\/\" data-orig-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-2-Produksi-daging-di-Jepang.jpg\" data-orig-size=\"787,511\" data-comments-opened=\"0\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;A.Tajima&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;Microsoft PowerPoint - 02-01 JPS \\u0091\\u008d\\u0090\\u00e0 \\u0090}\\u0095(Ver6.0)2023_0313.pptx&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Microsoft PowerPoint &#8211; 02-01 JPS \u0091\u008d\u0090\u00e0 \u0090}\u0095(Ver6.0)2023_0313.pptx\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-2-Produksi-daging-di-Jepang.jpg\" data-large-file=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-2-Produksi-daging-di-Jepang.jpg\" loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-22319\" src=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-2-Produksi-daging-di-Jepang.jpg\" alt=\"\" width=\"787\" height=\"511\"><\/h6>\n<h6 style=\"text-align: center;\"><b>Grafik 2. Produksi daging di Jepang<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip data MAFF 2022, lima prefektur teratas untuk populasi ayam pedaging di Jepang&nbsp; adalah Kagoshima (28.090.000), Miyazaki (27.599.000), Iwate (21.095.000), Aomori (8.058.000), dan Hokkaido (5.180.000). Jumlah total populasi broiler di lima prefektur ini adalah 90.022 \u00d7 10<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, yang menyumbang 65,8% dari seluruh populasi broiler di Jepang. Di antara 2.100 peternakan broiler di Jepang, 683 peternakan (32,5%) memelihara lebih dari 300 \u00d7 10<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ekor broiler.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Peran penting penelitian dan Pendidikan<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak diragukan lagi bahwa berbagai hasil penelitian dalam ilmu unggas berkontribusi secara signifikan terhadap industri unggas Jepang yang berkembang pesat saat ini. Pada medio awal perkembangan perunggasan Jepang, sexing anak ayam yang baru lahir menjadi salah satu masalah serius, terutama dalam industri ayam petelur. Menjawab hal tersebut, pada tanggal 1 April 1925 Drs. Kiyoshi Masui, Shigeo Hashimoto, dan Isamu Ono memperkenalkan teknik sexing anak ayam baru lahir, yang disebut &#8220;vent sexing&#8221; dalam pertemuan perdana Asosiasi Ilmuwan Peternakan Jepang yang diadakan di Tokyo. Dimana para penulis mengamati bahwa anak ayam jantan memiliki sedikit benjolan pada ventilasi dan lubang di bawah ekor, yang tidak ada pada anak ayam betina (Masui et al., 1925). Kemudian pada tahun 1929, asosiasi sexing anak ayam pertama didirikan di Prefektur Aichi, yang kemudian berkembang menjadi \u201cNational Association of Chick Sexers\u201d. Sejak saat itu, para ahli sexing anak ayam Jepang dikirim ke seluruh dunia untuk belajar, dan selanjutnya bertugas untuk&nbsp; membantu serta melatih para sexer anak ayam yang baru.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, buku perunggasan pertama yang komprehensif diterbitkan pada tahun 1902 (Tsukita, 1902). Buku ini terdiri dari 16 bab yang mencakup hampir semua bidang utama ilmu unggas, termasuk sejarah, komposisi telur, penetasan, manajemen anak ayam, fisiologi, nutrisi, kandang unggas, manajemen ayam petelur, genetika dan pemuliaan, ras ayam, evaluasi, patologi, dan pembedahan. Selanjutnya pada tahun 1921, 13 volume buku teks yang disebut sebagai \u201cPoultry Science Lecture Series\u201d yang berisi tentang manajemen unggas praktis diterbitkan. Hal ini&nbsp; berkontribusi besar pada standarisasi dan peningkatan industri perunggasan di Jepang.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pada fase selanjutnya, penelitian perunggasan di Jepang diarahkan pada keberadaan ayam ras asli Jepang. Banyak ras ayam asli yang ditemukan di seluruh Jepang, di antaranya 17 yang ditetapkan sebagai \u201cNatural Monuments of Japan\u201d oleh pemerintah Jepang . Sebagian besar ras ini kemungkinan besar dibawa ke Jepang beberapa ratus atau lebih dari seribu tahun yang lalu dari berbagai tempat di Benua Eurasia. Sejak saat itu, fenotipe dan karakteristik genetik lainnya dipilih untuk berbagai tujuan, seperti pajangan, pencatat waktu, petarung, dan produksi daging.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">The National Agriculture and Food Research Organization, Japan (NARO) membuat proyek GeneBank untuk menyimpan berbagai sumber daya genetik pertanian, termasuk unggas. Per 1 Desember 2022, 65 galur ayam telah terdaftar di GeneBank, di antaranya berupa semen beku dan PGCs beku masing-masing disimpan dalam 44 galur dan 1 galur. Selain itu, National Livestock Breeding Center, Jepang (NLBC) memelihara dan meningkatkan stok peternak untuk mempromosikan pengembangan galur komersial asli Jepang. Dimana Stasiun NLBC Hyogo bertanggung jawab atas ayam tipe daging, sedangkan Stasiun NLBC Okazaki bertanggung jawab atas ayam petelur.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, dalam banyak kasus, fasilitas percobaan unggas milik pemerintah daerah merupakan bagian dari prefectural agricultural experiment stations (PAES). Di fasilitas percobaan unggas ini, berbagai macam teknologi manajemen untuk ayam petelur dan\/atau ayam pedaging terus diuji, dimodifikasi, dan disebarluaskan ke peternakan unggas lokal melalui sistem penyuluhan PAES. Selain itu, 17 jenis ayam asli Jepang tersebut, juga dipelihara di fasilitas percobaan unggas prefektur untuk keperluan industri dan tujuan manajemen risiko. Banyak merek unggas lokal telah dibuat dengan memperkenalkan karakteristik genetik ayam asli ini ke dalam produk komersial.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tak cukup sampai disini, kemajuan perunggasan Jepang juga didorong oleh berbagai temuan di dunia pendidikan. Seperti hal nya di Universitas Nagoya yang mempunyai Avian Bioscience Center (ABRC). ABRC didirikan pada tahun 2007 dan diadopsi ke dalam program peningkatan fasilitas inti dari National BioResource Project pada tahun 2012. Pusat pengembangan ini melakukan pengumpulan, pengawetan, dan penyediaan sumber daya ayam dan burung puyuh. Selain itu juga ada Universitas Hiroshima dengan Japanese Chicken ResourceDevelopment and Research Center yang didirikan pada tahun 2010. Pusat pengembangan ini melakukan penelitian tentang pelestarian dan analisis genetik ayam asli Jepang (Nihonkei) untuk meningkatkan dan menstabilkan pasokan produk unggas yang berkualitas. <\/span><b>*Alumni Akademi Peternakan Karanganyar (APEKA), tinggal di Kumamoto, Jepang<\/b><\/h6>\n<h6><em><strong>Artikel ini merupakan rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com&nbsp;<\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Ahmad Safik, A.Md* \u201cJas Merah\u201d atau \u201cJangan sekali-kali meninggalkan sejarah\u201d, merupakan kutipan pidato dari Ir. Soekarno yang masih sangat relevan hingga saat ini. Pidato ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan sejarah. Pencapaian di masa lampau adalah awal dari pencapaian di masa sekarang dan bekal di masa depan. Pemahaman sejarah yang benar juga sangat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22320,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,17],"tags":[33,368,313],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tinjauan Sejarah Perunggasan Jepang | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : Ahmad Safik, A.Md* \u201cJas Merah\u201d atau \u201cJangan sekali-kali meninggalkan sejarah\u201d, merupakan kutipan pidato dari Ir. Soekarno yang masih sangat relevan hingga saat ini. Pidato ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan sejarah. Pencapaian di masa lampau adalah awal dari pencapaian di masa sekarang dan bekal di masa depan. Pemahaman sejarah yang benar juga sangat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-09T02:42:04+00:00\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-1-Perkembangan-perunggasan-di-Jepang-dilandasi-dengan-landasan-riset-dan-akademis-yang-solid.jpg\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-1-Perkembangan-perunggasan-di-Jepang-dilandasi-dengan-landasan-riset-dan-akademis-yang-solid.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-1-Perkembangan-perunggasan-di-Jepang-dilandasi-dengan-landasan-riset-dan-akademis-yang-solid.jpg\",\"width\":7952,\"height\":5304,\"caption\":\"Hens in factory, Chicken in cages\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/\",\"name\":\"Tinjauan Sejarah Perunggasan Jepang | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-10-09T02:42:04+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-09T02:42:04+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Tinjauan Sejarah Perunggasan Jepang\",\"datePublished\":\"2023-10-09T02:42:04+00:00\",\"dateModified\":\"2023-10-09T02:42:04+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#webpage\"},\"wordCount\":1205,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/tinjauan-sejarah-perunggasan-jepang\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-1-Perkembangan-perunggasan-di-Jepang-dilandasi-dengan-landasan-riset-dan-akademis-yang-solid.jpg\",\"keywords\":[\"berita1\",\"internasional\",\"jepang\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Internasional\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar-1-Perkembangan-perunggasan-di-Jepang-dilandasi-dengan-landasan-riset-dan-akademis-yang-solid.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5NX","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22317"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22317"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22317\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22321,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22317\/revisions\/22321"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22320"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22317"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22317"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22317"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}