{"id":22486,"date":"2023-10-31T13:34:05","date_gmt":"2023-10-31T06:34:05","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22486"},"modified":"2023-11-01T13:13:17","modified_gmt":"2023-11-01T06:13:17","slug":"mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/","title":{"rendered":"Mewaspadai Kasus-Kasus Penyakit pada Masa Brooding"},"content":{"rendered":"<h6>POULTRYINDONESIA, Jakarta &#8211; Kenyamanan ayam menjadi sebuah hal utama dalam keberhasilan pemeliharaan masa brooding. Adapun parameter kenyamanan ayam yang harus diperhatikan oleh peternak, seperti suhu target sesuai umur, misalnya pada masa brooding minggu pertama sekitar 30- 33<sup>o<\/sup>C. Kemudian Index Heat Stress pada masa brooding tidak boleh lebih di atas 160, atau bisa juga dengan parameter suhu tubuh dikurangi suhu lingkungan lebih dari 8<sup>o<\/sup>C. Selain itu parameter kenyaman juga dilihat dengan mengukur suhu rata-rata siang apabila dikurangi dengan suhu rata-rata malam harus kurang dari 8<sup>o<\/sup>C.<\/h6>\n<h6>\u201cDari berbagai parameter tersebut, muaranya mengacu pada suhu rektal yang seharusnya<br \/>\nberkisar 39,5-40,6<sup>o<\/sup>C atau biasanya maksimal 41<sup>o<\/sup>C. Hal ini menjadi evaluasi tingkat<br \/>\nkenyamanan ayam, sehingga kita bisa meng adjust berbagai manajemen seperti kondisi<br \/>\npemanas, setting ventilasi, sekam dan lainnya apabila suhu rektal tidak dalam acuan tersebut. Dan memang suhu brooding di minggu pertama berkisar 30-33<sup>o<\/sup>C. Namun ketika DOC datang dan suhunya tinggi, katakana 42-43<sup>o<\/sup>C maka kita pun harus menurunkan suhu brooding. Disini kita mempunyai waktu 2 \u2013 3 jam untuk mengatur brooding, sehingga suhu kloakanya kembali ke standar yaitu 39,5-40,6<sup>o<\/sup>C agar ayam merasa nyaman dan mau makan,\u201d kata Technical Support Supervisor, Tekad Mandiri Citra (TMC) ujar drh. Armanda Prayugo, M.Biotek dalam Indonesia Livestock Club (ILC) Edisi 29 yang mengusung tema \u2018Manajemen Brooding sebagai Pondasi Sukses Budidaya Ayam Broiler&#8217;. ILC yang diselenggarakan secara daring pada, Sabtu (21\/10) tersebut juga menghadirkan narasumber penting lain yakni Head of Production BroilerX drh Heru Widyatmoko.<\/h6>\n<h6>Armanda melanjutkan bahwa selama 24 jam pertama peternak perlu melakukan evaluasi<br \/>\npada keterisian tembolok dan ketersebaran ayam dalam kandang. Tembolok bisa dicek setiap 6 jam, dan yang perlu diperhatikan adalah jangan asal ada isinya saja, namun juga<br \/>\nbagaimana konsistensinya. Apakah terlalu lembek (banyak air) atau justru terlalu keras.<br \/>\nTembolok yang lembek bisa menggambarkan kondisi suhu terlalu panas, sehingga ayam<br \/>\nterlalu banyak minum. Sebaliknya ketika tembolok terlalu keras bisa dikarenakan posisi nipple terlalu tinggi, air mampet, dan lain-lain, sehingga ayam kurang minum. Secara teori total pakan yang dikonsumsi 24 jam pertama per ekor adalah 25% dari berat badan rata-rata DOC, dan Water intake 2 kali dari feed intake.<\/h6>\n<h6>\u201cSelanjutnya setelah 1 minggu pemeliharaan, target berat badan adalah 4,5 kali berat<br \/>\nbadannya saat DOC, dan deplesi kurang dari 0,9%. Selain itu selisih uniformity awal dengan minggu pertama kurang dari -4%. Jadi semisal saat DOC datang uniformity 80%, maka maksimal saat minggu 76%, jangan sampai lebih rendah dari itu. Artinya seleksi ini harus ketat. Pada 1 minggu pemeliharaan, target yolk sac telah terserap 90%. Ada juga bahan evaluasi saat minggu pertama pemeliharaan dengan melihat nilai relative growth, yang standarnya adalah lebih dari 350,\u201d tambahnya.<\/h6>\n<h6>Armanda juga membahas beberapa penyakit yang umum terjadi saat masa brooding, seperti kasus omphalitis yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan negatif pada DOC yang baru datang menjadi penyakit. Pengecekan bisa dilakukan saat awal DOC datang, dimana ukurannya besar, yolk sac nya berwarna merah, kebocoran, pusar terbuka, berair, hitam atau pun terdapat benang. Hal ini harus ditangani dengan tepat, sehingga ke depannya tidak menimbulkan kasus penyakit yang lebih parah.<\/h6>\n<h6>\u201cKasus selanjutnya yang sering ditemui adalah kuning telur tidak terserap sempurna selama umur 5-7 hari. Kasus ini bisa terjadi karena suhu brooding yang tidak optimal. Apabila hal ini terjadi, di masa selanjutnya akan terjadi perkejuan di selaput hati dan jantung, yang dapat menjadi penyebab kasus E Coli. Karena di kuning telur yang tidak terserap ini mengandung berbagai nutrisi yang disukai oleh E Coli. Namun E Coli juga disebabkan karena cemaran, baik biofilm, klorinasi, dan lain-lain. Kemudian saat masa brooding juga sering ditemui kasus kantung udara (air sac) yang keruh dan akan menyebabkan \u2018cekrek\u2019. Hal ini bisa disebabkan karena sekam yang basah, sirkulasi udara kurang bagus atau pun infeksi Mycoplasma gallisepticum,\u201d tegasnya.<\/h6>\n<h6>Armanda mengingatkan apabila diketahui kasus tersebut terjadi di lapangan, peternak harus dengan segera melakukan penanganan yang tepat, sehingga di fase pemeliharaan<br \/>\nselanjutnya tidak terjadi kasus penyakit yang lebih parah.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>POULTRYINDONESIA, Jakarta &#8211; Kenyamanan ayam menjadi sebuah hal utama dalam keberhasilan pemeliharaan masa brooding. Adapun parameter kenyamanan ayam yang harus diperhatikan oleh peternak, seperti suhu target sesuai umur, misalnya pada masa brooding minggu pertama sekitar 30- 33oC. Kemudian Index Heat Stress pada masa brooding tidak boleh lebih di atas 160, atau bisa juga dengan parameter [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22487,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[7],"tags":[156,227,1600],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mewaspadai Kasus-Kasus Penyakit pada Masa Brooding | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"POULTRYINDONESIA, Jakarta &#8211; Kenyamanan ayam menjadi sebuah hal utama dalam keberhasilan pemeliharaan masa brooding. Adapun parameter kenyamanan ayam yang harus diperhatikan oleh peternak, seperti suhu target sesuai umur, misalnya pada masa brooding minggu pertama sekitar 30- 33oC. Kemudian Index Heat Stress pada masa brooding tidak boleh lebih di atas 160, atau bisa juga dengan parameter [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-31T06:34:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-11-01T06:13:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Manajemen-Brooding-Sukses-Performa-Ayam-Optimal-k.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1402\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"963\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Manajemen-Brooding-Sukses-Performa-Ayam-Optimal-k.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Manajemen-Brooding-Sukses-Performa-Ayam-Optimal-k.jpeg\",\"width\":1402,\"height\":963},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/\",\"name\":\"Mewaspadai Kasus-Kasus Penyakit pada Masa Brooding | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-10-31T06:34:05+00:00\",\"dateModified\":\"2023-11-01T06:13:17+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Mewaspadai Kasus-Kasus Penyakit pada Masa Brooding\",\"datePublished\":\"2023-10-31T06:34:05+00:00\",\"dateModified\":\"2023-11-01T06:13:17+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#webpage\"},\"wordCount\":626,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mewaspadai-kasus-kasus-penyakit-pada-masa-brooding\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Manajemen-Brooding-Sukses-Performa-Ayam-Optimal-k.jpeg\",\"keywords\":[\"#Penyakit\",\"#perunggasan\",\"brooding\"],\"articleSection\":[\"Peristiwa\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Manajemen-Brooding-Sukses-Performa-Ayam-Optimal-k.jpeg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5QG","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22486"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22486"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22486\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22496,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22486\/revisions\/22496"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22487"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22486"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22486"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22486"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}