{"id":22513,"date":"2023-11-07T09:36:39","date_gmt":"2023-11-07T02:36:39","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22513"},"modified":"2023-11-07T09:37:26","modified_gmt":"2023-11-07T02:37:26","slug":"mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/","title":{"rendered":"Mycoplasma synoviae yang Meresahkan Usaha Budi Daya Unggas"},"content":{"rendered":"<h6><b>Oleh : drh. Chusnul Khotimah<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">*<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tak setenar penyakit ayam pada umumnya, seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Avian Influenza<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (AI), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Newcastle Disease<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (ND), maupun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Infectious Bursal Disease <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(IBD), namun penyakit yang disebabkan oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Ms) patut menjadi perhatian. Pasalnya serangan penyakit ini dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan ayam, performa produksi hingga kerugian ekonomi.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Mycoplasma synoviae dan penularannya<\/b><\/h6>\n<h6><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah organisme mikroskopis yang termasuk dalam kelompok bakteri dan tidak memiliki dinding sel. Di mana bakteri ini merupakan mikroorganisme prokariotik yang termasuk dalam kelas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mollicutes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berukuran sangat kecil. Hal ini juga membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mycoplasma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki bentuk sel yang beragam dan bisa mengubah bentuknya untuk beradaptasi dengan lingkungan. Struktur sel yang sederhana membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mycoplasma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> rentan terhadap perubahan lingkungan dan tergantung pada inangnya untuk mendapatkan nutrisi.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pada unggas, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mycoplasma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> patogen dapat menyebabkan penyakit yang disebut mikoplasmosis. Di mana salah satu spesies <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mycoplasma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> patogen yang penting untuk diperhatikan dalam budi daya unggas adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Ms). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah agen penyebab penyakit pernapasan dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">synovitis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau peradangan pada membran sinovial pada unggas, terutama pada ayam dan burung kalkun. Penyakit yang disebabkan oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat memiliki dampak ekonomi yang signifikan pada usaha budi daya. Pasalnya infeksi bakteri ini dapat menyebabkan penurunan produksi dan peningkatan angka kematian.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara alami juga banyak terdapat di lingkungan peternakan dan mudah mati, terutama oleh suhu lingkungan yang tinggi, kadar oksigen (O2) tinggi, kelembapan relatif rendah dan juga beberapa golongan desinfektan. Namun pada kondisi tertentu, seperti ventilasi dan sanitasi kandang yang jelek, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi lebih lama bertahan hidup di lingkungan dan akhirnya menginfeksi ayam yang kondisinya tidak fit.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Ventilasi dan sanitasi yang buruk adalah predisposisi penyakit ini. Faktor predisposisi lainnya ialah sekam lembap, kadar amonia tinggi, kepadatan ayam dalam kandang terlalu tinggi, stres yang membuat daya tahan tubuh ayam turun, serta cara pemeliharaan ayam dengan berbagai umur dalam satu lokasi peternakan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">multiage farming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Infeksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat ditularkan baik secara horizontal maupun secara vertikal. Di mana penularan secara horizontal bisa melalui kontak langsung atau pun melalui media perantara. Kontak fisik seperti bersentuhan dengan sekresi hidung, air mata, dan cairan lain yang terinfeksi dapat menimbulkan penularan.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kontak dengan perantara udara juga bisa terjadi, partikel mikroorganisme dari unggas yang terinfeksi dapat tersebar melalui udara, terutama dalam lingkungan yang padat. Udara yang terkontaminasi dapat mengandung mikroorganisme dan menjadi sumber penularan bagi unggas sehat. Kemudian, alat-alat peternakan yang terkontaminasi dan manusia yang telah berinteraksi dengan unggas yang terinfeksi juga dapat berperan dalam penyebaran penyakit jika tidak dijaga kebersihan.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga masuk kategori penyakit yang dapat ditularkan oleh telur (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">egg transmitted disease<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), sehingga patogen dari induk ayam (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">parent stock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang terinfeksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, akan terbawa atau mencemari DOC (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">final stock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) di kandang komersial. Penularan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara vertikal ini bisa berasal dari induk ayam di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breeding farm <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ataupun kontaminasi di mesin tetas (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hatchery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu aspek menarik dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah kemampuannya untuk bertahan dalam bentuk pembawa (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">carrier<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Beberapa unggas yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan gejala penyakit yang jelas, tetapi masih dapat menjadi pembawa mikroorganisme dan menularkan penyakit ke unggas lainnya. Hal ini membuat pengendalian penyakit menjadi lebih rumit, karena unggas pembawa tetap dapat berkontribusi pada penyebaran infeksi.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Gejala dan dampak <\/b><b><i>Mycoplasma synoviae<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Unggas yang terinfeksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dapat menunjukkan berbagai gejala klinis yang bervariasi tergantung pada tingkat keparahan infeksi, tingkat usia, dan faktor lingkungan. Selain itu penyakit ini dapat dikatakan agak unik karena bisa bersifat subklinis terutama di saluran pernapasan bagian atas yang tidak tampak gejalanya secara klinis. Tapi pada fase berikutnya gejala klinis akan tampak, dan akan lebih nyata ketika ada agen penyakit ikutan lain (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">secondary infection<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Haemophilus paragallinarum, Mycoplasma gallisepticum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Mg), IB, SHS, dan ILT.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Saat fase awal infeksi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masuk melalui sistem pernapasan ayam dan langsung mendiami selaput lendir saluran pernapasan. Pada tahap awal ini tidak akan muncul gejala klinis, kecuali jika infeksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berkomplikasi dengan penyakit ND atau IB, baru akan muncul gejala seperti \u201cngorok\u201d dan terjadi peradangan (kekeruhan) pada kantong udara.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, ketika infeksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berada pada stadium sistemik\/septikemia (yang bersifat akut maupun kronis), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan menyebar ke organ lain melalui aliran darah. Setelah itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan bersarang pada persendian kaki dan tulang dada (bursa sternalis) hingga timbul pembengkakan dan gejala kelumpuhan. Pada kondisi ini biasanya ayam terlihat lesu, nafsu makan menurun, dan muncul kepincangan. Apabila kondisi semakin parah, maka akan terjadi depresi, anemia, pucat pada area muka dan jengger, kekurusan, serta terjadi kematian.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian kelumpuhan akibat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ditandai dengan adanya pembengkakan pada persendian lutut (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hock joints<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan jari kaki (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">toe joints<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Selain itu terjadi juga sinovitis, pada jaringan yang melapisi dan melindungi sendi. Bila bagian sendi yang bengkak dibuka, akan ditemui eksudat atau cairan kental berwarna putih, abu-abu sampai kekuningan. Biasanya volume eksudat lebih banyak ditemui pada telapak dan jari kaki.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Selain ditemukan pada persendian kaki, eksudat fibrinous (jaringan terkikis) atau caseous (nanah agak padat) juga bisa ditemukan pada persendian sayap, kantong udara, selaput hati, jantung, dan jaringan subkutan (di bawah kulit) kantong perut dekat bursa. Kadang-kadang ditemukan pula pembengkakan pada hati dan limpa disertai bintik-bintik berwarna hijau atau merah, atau pembengkakan ginjal berwarna pucat.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, infeksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berdampak nyata baik dalam pemeliharaan ayam pedaging maupun petelur. Pada ayam pedaging, serangan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat menyebabkan tingginya tingkat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">culling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (afkir dini) karena banyaknya kasus kelumpuhan, terutama pada fase awal pemeliharaan.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian pada fase berikutnya, gejala kelumpuhan juga akan mengakibatkan tidak tercapainya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feed intake<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> harian karena ayam susah mencapai tempat pakan ataupun tempat minum. Hal ini akan membuat pertumbuhan berat badan harian rendah dan tidak sesuai standar. Selain itu dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">intake<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nutrisi yang tidak optimal, maka ayam juga akan rentan terhadap serangan penyakit lain.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pun pada ayam petelur yang terinfeksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan menghasilkan telur dengan kualitas yang buruk, seperti cangkang tipis, retak, atau bahkan cacat. Selain itu produksi telur pun juga menurun sehingga berdampak pada ekonomi peternak. Infeksi yang disebabkan oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan pada industri unggas intensif, karena berkurangnya produksi telur dan penurunan kualitas telur (Feberwee <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2009 ).<\/span><\/h6>\n<h6><b>&nbsp;Pencegahan dan pengendalian<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan berbagai dampak yang disebabkan, pencegahan dan pengendalian infeksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sangat penting untuk menjaga kesehatan populasi unggas dan mengurangi dampak ekonomi pada industri peternakan. Hal ini bisa dimulai dengan praktik biosekuriti yang ketat. Konsep biosekuriti harus diterapkan dengan baik, yaitu isolasi, pengaturan lalu lintas serta sanitasi dan desinfeksi. Batasi akses orang asing dan kendaraan ke area peternakan. Lakukan sanitasi dan disinfeksi rutin pada fasilitas peternakan, peralatan, dan kendaraan untuk mengurangi risiko kontaminasi. Langkah menyemprot kandang menggunakan desinfektan juga penting dilakukan untuk membasmi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, upaya menciptakan lingkungan kandang yang nyaman untuk ayam juga perlu dilakukan. Langkah pengendalian sirkulasi udara, menjaga suhu dan kelembapan serta manajemen kepadatan menjadi beberapa contoh yang perlu diperhatikan. Selain itu manajemen litter untuk mencegah kondisi berdebu, basah dan meminimalkan produksi amonia yang berlebihan juga menjadi hal yang penting. Semua hal ini guna mendapatkan lingkungan yang nyaman bagi ayam, sehingga stres dan diminimalkan dan serangan penyakit pun dapat ditekan. Di sisi lain, pencegahan juga dapat dilakukan dengan vaksinasi untuk meningkatkan ketahanan tubuh ayam.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian apabila terjadi kasus infeksi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, maka hal pertama yang harus dilakukan sebelum dilakukan pengobatan adalah seleksi ayam sakit terlebih dahulu. Ayam dengan kondisi yang sudah parah sebaiknya langsung diafkir, sedangkan yang belum terlalu parah, bisa diobati dengan pemberian antibiotik.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk penanganan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, jangan menggunakan antibiotik yang cara kerjanya merusak dinding sel. Karena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak memiliki dinding sel, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif. Untuk itu, pilih antibiotik yang bekerja pada membran dan inti sel, terutama yang aktif menghambat pembentukan asam folat dan protein <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mycoplasma synoviae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, serta mempunyai konsentrasi tinggi di tempat mikroorganisme tersebut berada, yaitu saluran pernafasan, seperti golongan fluoroquinolon, makrolida, dan tetracycline. <\/span><b>*Dokter Hewan Praktisi<\/b><\/h6>\n<h6><em><strong>Artikel ini merupakan rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com&nbsp;<\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : drh. Chusnul Khotimah* Meski tak setenar penyakit ayam pada umumnya, seperti Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), maupun Infectious Bursal Disease (IBD), namun penyakit yang disebabkan oleh Mycoplasma synoviae (Ms) patut menjadi perhatian. Pasalnya serangan penyakit ini dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan ayam, performa produksi hingga kerugian ekonomi. Mycoplasma synoviae dan penularannya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22514,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,10,8],"tags":[33,2179],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mycoplasma synoviae yang Meresahkan Usaha Budi Daya Unggas | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : drh. Chusnul Khotimah* Meski tak setenar penyakit ayam pada umumnya, seperti Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), maupun Infectious Bursal Disease (IBD), namun penyakit yang disebabkan oleh Mycoplasma synoviae (Ms) patut menjadi perhatian. Pasalnya serangan penyakit ini dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan ayam, performa produksi hingga kerugian ekonomi. Mycoplasma synoviae dan penularannya [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-11-07T02:36:39+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-11-07T02:37:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-2-Pembengkakan-pada-persendian-lutut-hock-joints-dan-jari-kaki-toe-joints-akibat-infeksi-Ms-American-Association-of-Avian-Pathologists..png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"822\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"626\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-2-Pembengkakan-pada-persendian-lutut-hock-joints-dan-jari-kaki-toe-joints-akibat-infeksi-Ms-American-Association-of-Avian-Pathologists..png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-2-Pembengkakan-pada-persendian-lutut-hock-joints-dan-jari-kaki-toe-joints-akibat-infeksi-Ms-American-Association-of-Avian-Pathologists..png\",\"width\":822,\"height\":626},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/\",\"name\":\"Mycoplasma synoviae yang Meresahkan Usaha Budi Daya Unggas | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-11-07T02:36:39+00:00\",\"dateModified\":\"2023-11-07T02:37:26+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Mycoplasma synoviae yang Meresahkan Usaha Budi Daya Unggas\",\"datePublished\":\"2023-11-07T02:36:39+00:00\",\"dateModified\":\"2023-11-07T02:37:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#webpage\"},\"wordCount\":1315,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-2-Pembengkakan-pada-persendian-lutut-hock-joints-dan-jari-kaki-toe-joints-akibat-infeksi-Ms-American-Association-of-Avian-Pathologists..png\",\"keywords\":[\"berita1\",\"Mycoplasma synoviae\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Kesehatan\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-2-Pembengkakan-pada-persendian-lutut-hock-joints-dan-jari-kaki-toe-joints-akibat-infeksi-Ms-American-Association-of-Avian-Pathologists..png","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5R7","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22513"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22513"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22513\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22516,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22513\/revisions\/22516"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22514"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22513"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22513"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22513"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}