{"id":22716,"date":"2023-11-20T10:39:22","date_gmt":"2023-11-20T03:39:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22716"},"modified":"2023-11-20T10:39:22","modified_gmt":"2023-11-20T03:39:22","slug":"teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/","title":{"rendered":"Teknologi Sebagai Penunjang Budi Daya Ayam Ras"},"content":{"rendered":"<h6><b>Berbagai teknologi nutrisi dan kesehatan unggas<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pakan menjadi perhatian utama dalam usaha budi daya ayam ras. Pasalnya, biaya pakan merupakan komponen terbesar dari total biaya produksi usaha budi daya ayam dengan menyumbang sekitar 50-70% dari total biaya produksi. Hal ini yang melandasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feedmill <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">untuk mengembangkan konsep presisi nutrisi dalam produksi pakannya. Konsep ini berartikan penyesuaian kandungan gizi pakan dengan kebutuhan persis ayam di lapangan. Kandungan nutrisi yang terdapat pada pakan racikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feedmill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidaklah boleh kelebihan dan kekurangan. Begitu kata Prof. Budi Tangendjaja, Ph.D selaku praktisi nutrisi dan teknologi pakan saat berbincang dengan Poultry Indonesia secara daring, Senin (11\/9). Sebagai jawaban dari tantangan tersebut, maka diperkenalkan mesin NIR (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Near-Infrared Spectroscopy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, saat ini sedang berkembang mesin NIR yang digunakan untuk menganalisis kandungan gizi pada bahan pakan dengan mekanisme kerja yang mengandalkan spektroskopi inframerah. Teknologi ini memanfaatkan cahaya inframerah yang memiliki panjang gelombang antara 780-2500 nanometer. Gelombang ini memiliki sifat ketika ditembakkan ke sampel, energinya akan berinteraksi dengan molekul, sehingga ada penyerapan energi yang kemudian menimbulkan konsentrasi. Jika terdapat konsentrasi, maka bisa mengetahui kandungan organik.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, teknologi mesin NIR dalam pabrik pakan sudah diperkenalkan pada tahun 1990-an. Namun, penggunaan mesin NIR di Indonesia baru digalakkan beberapa tahun belakangan ini. Seiring berjalannya waktu, teknologi mesin NIR semakin berkembang hingga kecepatan analisa sampel yang dilakukannya bisa dalam hitungan detik. Variabel analisanya juga semakin berkembang, yang dahulu hanya membaca analisa proksimat, saat ini mesin NIR sudah mampu membaca semua komponen gizi pakan yang bentuknya paling sederhana seperti metabolizable energy, digestible acid, fatty acid, dan lainnya.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKetika bahan pakan datang ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feedmill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, maka lakukan analisis dengan NIR. Ketika sudah mengetahui kandungan gizi lengkapnya, data tersebut bisa langsung ditransfer ke program formulasi pakan dengan komputer, sehingga kita bisa memformulasikan sesuai dengan keadaan yang nyata di lapangan. Yang sebelumnya formulasi menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">table database<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saat ini menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">real-time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Ketika kualitas bahan bakunya berubah, maka formulasi pun bisa berubah. Tetapi perlu diingat, NIR juga harus dikalibrasi dengan benar,\u201d kata Budi.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Keunggulan lainnya, mesin NIR tidak membutuhkan bahan kimia untuk melakukan analisa sampel, berbeda ketika melakukan uji serupa di laboratorium yang masih membutuhkan bahan kimia seperti asam sulfat. Selain analisa sampel yang lebih cepat, bahan pakan yang telah diuji melalui mesin NIR bersifat non-destruktif. Artinya, sampel bahan pakan tersebut dapat dikembalikan ke proses produksi tanpa harus mengkhawatirkan cemaran oleh benda asing apapun.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPemakaian mesin NIR lebih murah dibandingkan uji manual di laboratorium yang harus memakai bahan kimia. Zaman dahulu, untuk melakukan analisa proksimat saja harus menunggu selama 2 minggu, sekarang sudah kita tinggalkan demikian. Karena pemakaian mesin NIR unggul lebih cepat, mudah, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">real-time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,\u201d tegasnya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Di lain kesempatan, Prof. Dr. Ir. M. Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, ketika diwawancarai Poultry Indonesia via whatsapp (24\/9) mengungkapkan tantangan paling besar untuk bisa bersaing dalam budi daya ayam ras adalah masalah efisiensi biaya produksi. Efisiensi biaya produksi tentunya tidak lepas dari penggunaan teknologi, baik teknologi pada bidang perbibitan, teknologi bidang pengendalian lingkungan, teknologi pakan dan teknologi pengendalian penyakit dan biosekuriti.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sedang teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feed additive <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang berkembang saat ini adalah : 1)Teknologi penggantian AGP dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">natural growth promoter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan memenuhi 6 syarat yaitu meningkatkan penyerapan nutrisi, memiliki efek antimikroba, mengontrol microflora usus, meningkatkan imunitas, mengurangi metabolit penghambat pertumbuhan dan mengurangi infeksi subklinis. 2)Teknologi aditif pakan untuk menghasilkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">precision biotics<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. 3)Manipulasi pakan dengan pemanfaatan aditif pakan untuk untuk menghasilkan produktivitas, kesehatan, imunitas dan untuk mencapai kualitas tertentu produk yang diinginkan. 4)Teknologi coating atau&nbsp; nanoenkapsulasi.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pria yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan UB ini menjelaskan teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">coating<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah teknologi teknik pengemasan atau penyalutan bahan padat, cair, atau gas dalam ukuran kecil yang dapat melepaskan isinya pada kecepatan terkontrol dan kondisi spesifik untuk melindungi kandungan senyawa aktif yang ada di aditif pakan. Bahan yang dikapsulkan disebut bahan isian atau inti (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">core, internal phase, fill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Bahan penyalutnya disebut enkapsulan atau penyalut atau dinding. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Coating<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau enkapsulan mempunyai ketebalan dan jumlah lapisan yang bervariasi sekarang semua penelitian menggunakan teknologi nanoenkapsulasi yaitu berukuran nano.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">coating <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mempunyai beberapa tujuan antara lain: pertama menstabilkan bahan isian, melindungi bahan sensitif, mengurangi penurunan nilai nutrisi. Kedua, mengendalikan pelepasan bahan isian (kecepatan dan kondisi pelepasan). Ketiga, memisahkan bahan reaktif atau bahan yang tidak dapat bercampur pada proses formulasi. Dengan begitu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feed additive <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dapat dirilis sesuai target perilisannya yaitu pada usus halus sebagai organ yang berfungsi untuk absorbsi nutrisi pakan,&#8221; terangnya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh lain pada teknologi aditif pakan untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">precision biotics<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Efisiensi pemanfaatan nutrisi dari pakan juga dipengaruhi bagaimana kesehatan saluran pencernaan. Teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">precision biotics<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menuju bagaimana jumlah dan keseimbangan mikroflora saluran pencernaan terjaga. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Precision biotics <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah microbiome metabolic modulators yang memengaruhi fungsi metagenomik terpilih dari mikrobioma usus, sehingga memodulasi produksi metabolit mikroba yang ditargetkan secara khusus untuk meningkatkan hasil yang bermanfaat bagi ternak dan lingkungan.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, Peter Yan selaku Corporate Communications &amp; Marketing Distribution Director Medion mengatakan, kekhawatiran akan penggunaan antibiotik sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">growth promoter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dapat menimbulkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">antimicrobial resistance<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (AMR) kepada ayam dan manusia sebagai konsumen produk akhir, mendorong industri perunggasan untuk menciptakan inovasi baru. Herbal menjadi salah satu inovasi sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">natural growth promoter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dapat diandalkan untuk mengganti peran AGP (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">antibiotic growth promoter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPenerapan teknologi sangat dibutuhkan menyesuaikan kepada perkembangan zaman yang menuntut berbagai tantangan. Produk herbal hadir untuk menjawab tantangan terhadap pelarangan penggunaan AGP yang keputusannya telah diberlakukan sejak tahun 2018. Berbagai bahan alami dapat kita manfaatkan secara baik seperti curcuma, ekstrak jahe, bawang putih, dan berbagai tanaman herbal lainnya. Bahan alami tersebut mempunyai peran masing-masing, ada yang berfungsi sebagai peningkat sistem imun, memulihkan energi selepas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">chick-in<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan mengurangi bau ammonia,\u201d katanya saat diwawancarai Poultry Indonesia secara virtual, Selasa (19\/9).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian terkait kesehatan unggas, Peter juga mengungkapkan teknologi yang baru-baru ini sedang berkembang di sektor vaksin, yaitu pemanfaatan senyawa chitosan sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">adjuvant <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">vaksin. Adjuvant adalah zat tambahan yang ditambahkan ke vaksin untuk meningkatkan keefektifan vaksin tersebut dengan memperkuat respons imun tubuh terhadap antigen yang terkandung dalam vaksin. Sebagai adjuvant vaksin, senyawa chitosan digunakan untuk meningkatkan respons imun terhadap antigen vaksin.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cChitosan adalah satu pilihan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">adjuvant <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">baru. Hal ini dikarenakan chitosan memiliki beberapa sifat ideal sebagai polimer pembawa seperti mudah terurai, tidak bersifat toksik, tidak menyebabkan reaksi penolakan, dan mudah larut air. Senyawa ini mampu memberikan kekebalan secara seluler dan humoral yang bekerja secara sinergis jika dikombinasikan dengan vaksin, sehingga memberikan kemampuan proteksi yang optimal dan tidak menimbulkan reaksi post injeksi. Mekanisme kerjanya yaitu membuat vaksin cepat dikenali sehingga terjadi pengaktifan sel T yang menghasilkan kekebalan seluler dan humoral pada ayam,\u201d ujarnya.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Modernisasi perkandangan<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam manajemen pemeliharaan, adanya penerapan teknologi juga diharapkan bisa menekan biaya operasional dan menciptakan usaha budi daya ayam yang efisien. Setidaknya, langkah ini adalah satu-satunya cara yang dapat dilakukan peternak. Alih-alih mengendalikan sisi harga yang tergantung dari mekanisme pasar, peternak hanya bisa mengendalikan dari sisi produksi, dimana hal ini sangat bergantung pada penerapan teknologi.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ketinggalan, teknologi pada sektor perkandangan pun terus berkembang layaknya pada sektor lain. Yang awalnya pemeliharaan ayam dilakukan dengan sistem kandang terbuka (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">open house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), kini, peternak sudah mengenal sistem kandang tertutup (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Bahkan, kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed house <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sudah menjadi sebuah standar dalam usaha budi daya ayam ras.&nbsp; Hal ini seiring dengan meningkatnya permintaan akan daging dan telur ayam, serta untuk mengatasi tantangan cuaca ekstrem dan penyakit yang menjadi momok menakutkan bagi peternak.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tersebut diamini oleh Gondo selaku Sales Manager PT Ansell Jaya Indonesia, yang mengatakan bahwa transisi dari kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">open house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ke<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> closed house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> telah terjadi pada 7 tahun terakhir. Bahkan, terdapat beberapa perusahaan mitra broiler yang mengharuskan peternak untuk menggunakan kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Umumnya, kandang ini menganut sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">flooring<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dimana ayam bersentuhan langsung dengan alas kandang, sehingga peternak memiliki ketergantungan terhadap ketersediaan sekam dan ayam mempunyai risiko terkena penyakit lebih tinggi karena bersentuhan langsung dengan kotoran.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaat ini, ketersediaan sekam tidak mudah, dan menyebabkan harga sekam terus menaik. Di lapangan, saya menemukan harga sekam menyentuh Rp10.000,00 &#8211; Rp15.000,00 per sak. Oleh karenanya, terbitlah inovasi sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler slat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.&nbsp; Dengan sistem ini, DOC umur 1 hari pun tidak membutuhkan sekam, karena ayam diletakkan di atas<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> slat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (papan berongga) yang memiliki jarak tinggi 30 cm dari lantai kandang. Ayam akan lebih sehat karena tidak bersentuhan dengan feses. Kemudian, sistem ini berkembang menjadi lebih modern hingga saat ini kita mengenal yang namanya sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler cage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,\u201d ucapnya kepada Poultry Indonesia secara daring, Senin (18\/9).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler cage closed house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki konsep pemeliharaan dimana ayam diletakkan pada sebuah kandang baterai layaknya kandang pada peternakan layer. Selain dapat mengurangi biaya produksi dari memangkas penggunaan sekam, Gondo juga meyakini bahwa sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler cage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat meningkatkan produktivitas ayam dan memudahkan peternak untuk membersihkan kandang dari feses ayam.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKapasitas populasi per m\u00b2 bertambah 66,3% dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed flooring<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Closed flooring <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">memiliki kapasitas populasi di angka 30 kg\/m\u00b2, sedangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed broiler cage <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mampu di angka 50 kg\/m\u00b2. Kemudian, pertumbuhan ayam akan lebih seragam, karena satu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berukuran 105 x 80 cm diisi dengan 21 ekor ayam, sehingga ayam tidak akan berebutan saat konsumsi pakan. Berbeda dengan sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">flooring<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang satu lantai pada kandangnya berpopulasi 20.000 ekor ayam, maka potensi ayam akan berebut pakan lebih tinggi. Selain itu, pembersihan pada kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler cage <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">juga lebih cepat, karena tidak perlu membersihkan dan memasukkan sekam ke dalam karung layaknya pada sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">flooring<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,\u201d terangnya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang peternak broiler asal Sumatera Barat, Khaerul Ihsan menceritakan pengalamannya selama menerapkan sistem kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler cage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Penekanan biaya produksi saat menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler cage <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sangat dirasakan oleh Khaerul. Dirinya dapat menghemat biaya produksi yang disebabkan oleh sekam. Karena ia tidak perlu membeli sekam dan dapat memangkas tenaga kandang tambahan yang sebelumnya ditugaskan untuk pembalikan sekam. Alih-alih membuangnya secara cuma-cuma, bahkan feses ayam yang dihasilkan di peternakannya dapat dengan mudah dijual oleh Khaerul, tanpa memerlukan pengolahan lebih lanjut.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDengan luas kandang 12 x 120 m dan memiliki 2 lantai membutuhkan sekam sebanyak 3000 sak. Kalau harga sekam Rp10.000,00, maka biaya yang dikeluarkan per periode menjadi Rp30.000.000, dan hasil akhir akan dibuang karena tidak bisa dijadikan pupuk. Sedangkan apabila pakai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler cage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya bisa menjualkan feses ayam dengan rata-rata harga Rp1.000.000 &#8211; 1.500.000 per truk, dimana per periode&nbsp; saya bisa membawa 23 truk. Berarti dari pendapatan penjualan feses minimal mendapatkan Rp23.000.000,00,\u201d kata Khaerul kepada tim Poultry Indonesia di pameran Ildex 2023, Tangerang, Kamis (21\/9).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ditanya mengenai performa, Khaerul mengungkapkan bahwa penggunaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler cage <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">memiliki hasil produksi yang maksimal. \u201cPenggunaan kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">broiler cage <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">saya menyentuh IP di angka 430. Berbeda dengan pakai sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">flooring<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, periode awal-awal mungkin IP bisa tembus 420, tetapi tidak konsisten, untuk periode selanjutnya bisa 400 atau bahkan di bawah itu,\u201d ungkapnya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Di pameran yang sama, tim Poultry Indonesia kembali mewawancarai Gondo terkait perkembangan teknologi perkandangan di layer. Ia&nbsp; mengatakan bahwa pada perkandangan layer sedang berkembang kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> layer yang dibagi atas dua macam berdasarkan model bentuknya. Tipe A, kandang baterai bertingkat yang tingkatannya membentuk huruf A, sehingga feses ayam turun ke bawah kandang utama, dimana kandang utama berbentuk seperti panggung. Sedangkan tipe H merupakan kandang baterai yang bentuk tingkatannya lurus sejajar. Pada tipe H, setiap tingkat kandang baterai memiliki tempat penampung feses yang terletak di bawah, sehingga feses yang dikeluarkan dari ayam di posisi tingkat atas tidak akan mengenai ayam yang berada di tingkat bawahnya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPembersihan kotoran lebih mudah dilakukan pada kandang tipe A karena tidak perlu mengeluarkan kotoran tiap hari. Dengan sistem kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang secara konsep tertutup dan dilengkapi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">blower<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, maka feses akan cepat mengering, sehingga pembersihan feses pada masa afkir masih terbilang aman. Akan tetapi, jika berbicara kapasitas populasi, kandang tipe H lebih unggul. Karena tipe H tidak begitu makan tempat seperti kandang A. Pada luas lahan kandang 12 x 110 m, populasi layer pada tipe kandang H mampu mencapai 50.000 ekor. Sedangkan tipe kandang A hanya 35.000 ekor,\u201d katanya, Kamis (21\/9).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Secara mekanisme pemberian pakan, sistem kandang baterai modern ini sudah mengadopsi alat bantu yang dinamakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hopper feeder<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sebuah mesin yang memiliki wadah penyimpanan pakan dan bergerak memberikan pakan secara otomatis. Bahkan, terdapat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hopper feeder <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang dapat diprogram untuk memberikan pakan pada waktu tertentu sesuai dengan jadwal pemberian pakan yang telah ditentukan peternak. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan konsistensi dalam pemberian pakan.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, Gondo menegaskan bahwa modernisasi kandang layer juga dirasakan saat pengumpulan telur yang dilakukan secara otomatis. \u201cTelur yang dihasilkan oleh ayam langsung didistribusikan melalui mesin yang dinamakan egg belt, semacam alat yang menggerakkan telur secara perlahan. Penggunaan egg belt ini bertujuan untuk mengurangi risiko telur pecah. Selain itu, terdapat mesin egg conveyor yang menggerakkan telur sampai ke gudang penyimpanan telur. Dengan begitu, pekerja kandang tidak perlu repot melakukan collecting dan memudahkan untuk melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">grading<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> telur,\u201d tegasnya.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Meningkatkan efisiensi dengan teknologi digital<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu teknologi digital yang sedang kerap diperbincangkan di sektor manajemen pemeliharaan adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Internet of Things<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (IoT). Penerapan IoT pada peternakan unggas secara luas dan signifikan telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, yaitu sekitar 2010-an, namun perkembangannya baru dirasakan pada beberapa tahun terakhir ini. Menurut Pramudya Rizki Ruandhito selaku Chief Operating Officer &amp; Co-Founder BroilerX, IoT adalah perangkat teknologi canggih yang diinstal di suatu kandang, dimana perangkat ini bisa mengendalikan secara otomatis apapun aspek yang ada di dalam kandang.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIoT dalam peternakan ayam memanfaatkan penggunaan sensor-sensor yang terhubung ke internet untuk mengumpulkan informasi data terkait kondisi lingkungan, kesehatan, dan perilaku ayam. Aspek tersebut antara lain sirkulasi udara, kecepatan angin, temperatur, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">waterflow<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kelembaban, kadar ammonia, bobot badan, dan lainnya,\u201d katanya kepada Poultry Indonesia saat berbincang secara daring via Zoom, Kamis (14\/9).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Teknologi ini membantu peternak guna pengelolaan yang lebih baik dan optimal dalam memelihara ayam. Dibantu dengan adanya informasi data yang lebih akurat dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">real-time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, membuat peternak dapat lebih cepat mengidentifikasi potensi masalah, sehingga mampu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Perangkat IoT juga dinilai dapat menekan biaya produksi. Pada kandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">closed house <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">misalnya, tidak lepas dari biaya operasional seperti penggunaan gas dan listrik untuk menyalakan instrumen di dalam kandang. Dengan perangkat IoT, peternak dapat dengan mudah untuk memutuskan pilihan dalam pengoperasian instrumen kandang, sehingga penggunaan gas dan listrik menjadi lebih efisien.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita mengetahui bahwa kebutuhan suhu tubuh ayam adalah 33\u0970C, ketika kita mengatur gas secara manual, kita tidak mengetahui sampai kapan gas tersebut menyentuh di angka 33\u0970C, jika ditinggal selama satu jam saja mungkin bisa naik menjadi 35\u0970C, sedangkan gas terus menyala. Disinilah peran IoT diandalkan, dengan informasi data yang disampaikan, kita bisa mengatur gas secara tepat, sehingga penggunaan gas tidak berlebihan. Pun pada kelistrikan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">blower<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa dikendalikan dengan adanya informasi data yang diterima. Misalnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">blower<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diatur kecepatan angin sekian bisa langsung menyesuaikan dengan kebutuhan ayam karena ada perangkat yang bernama inverter, sehingga ketika kecepatan angin terlalu berlebih, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">blower <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">akan otomatis mati,\u201d jelasnya.<\/span><\/h6>\n<h6><em><strong>Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com&nbsp;<\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbagai teknologi nutrisi dan kesehatan unggas Pakan menjadi perhatian utama dalam usaha budi daya ayam ras. Pasalnya, biaya pakan merupakan komponen terbesar dari total biaya produksi usaha budi daya ayam dengan menyumbang sekitar 50-70% dari total biaya produksi. Hal ini yang melandasi feedmill untuk mengembangkan konsep presisi nutrisi dalam produksi pakannya. Konsep ini berartikan penyesuaian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":22717,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,5],"tags":[33],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Teknologi Sebagai Penunjang Budi Daya Ayam Ras | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Berbagai teknologi nutrisi dan kesehatan unggas Pakan menjadi perhatian utama dalam usaha budi daya ayam ras. Pasalnya, biaya pakan merupakan komponen terbesar dari total biaya produksi usaha budi daya ayam dengan menyumbang sekitar 50-70% dari total biaya produksi. Hal ini yang melandasi feedmill untuk mengembangkan konsep presisi nutrisi dalam produksi pakannya. Konsep ini berartikan penyesuaian [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-11-20T03:39:22+00:00\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-1-Mesin-NIR-saat-analisa-sampel-bahan-pakansumber-dokumentasi-pribadi.jpg\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"11 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-1-Mesin-NIR-saat-analisa-sampel-bahan-pakansumber-dokumentasi-pribadi.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-1-Mesin-NIR-saat-analisa-sampel-bahan-pakansumber-dokumentasi-pribadi.jpg\",\"width\":5184,\"height\":3456},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/\",\"name\":\"Teknologi Sebagai Penunjang Budi Daya Ayam Ras | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-11-20T03:39:22+00:00\",\"dateModified\":\"2023-11-20T03:39:22+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/2697b3b8e518f035b41d7530b5f0f3f0\"},\"headline\":\"Teknologi Sebagai Penunjang Budi Daya Ayam Ras\",\"datePublished\":\"2023-11-20T03:39:22+00:00\",\"dateModified\":\"2023-11-20T03:39:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#webpage\"},\"wordCount\":2402,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/teknologi-sebagai-penunjang-budi-daya-ayam-ras\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-1-Mesin-NIR-saat-analisa-sampel-bahan-pakansumber-dokumentasi-pribadi.jpg\",\"keywords\":[\"berita1\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Laporan Utama\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/2697b3b8e518f035b41d7530b5f0f3f0\",\"name\":\"yoga kusuma\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocIgoamjAzoR_xDvLmWgcajqXjlWmDsuWvgX2I6XDTjQXR7vEg=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocIgoamjAzoR_xDvLmWgcajqXjlWmDsuWvgX2I6XDTjQXR7vEg=s96-c\",\"caption\":\"yoga kusuma\"},\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/yoga-kusuma\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Gambar-1-Mesin-NIR-saat-analisa-sampel-bahan-pakansumber-dokumentasi-pribadi.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5Uo","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22716"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22716"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22716\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22718,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22716\/revisions\/22718"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22717"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22716"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22716"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22716"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}