{"id":22767,"date":"2023-12-04T12:55:13","date_gmt":"2023-12-04T05:55:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22767"},"modified":"2023-12-04T12:55:13","modified_gmt":"2023-12-04T05:55:13","slug":"gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/","title":{"rendered":"Gurem : Ayam Ras Petelur, Manusia, Resistensi dan Penanganannya"},"content":{"rendered":"<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Riuh dan tatapan curiga dari bilik-bilik kandang layer yang memanjang menyambut petugas yang memasuki suatu flok. Layer tersebut menunggu dan waspada apakah mereka hendak dipindahkan, diberikan vaksin, pakan, atau sekedar mengambil telur yang telah diproduksinya. Dikala melakukan salah satu dari aktivitas tersebut, terutama yang berkontak langsung dengan ayam, terkadang dalam suatu kondisi, terdapat ektoparasit berukuran kecil berwarna kuning kecoklatan sampai kehitaman berbadan oval yang menjalar di permukaan tubuh ayam. Tak jarang ketika petugas telah selesai melakukan tugasnya, ektoparasit berukuran 1&#215;0,3 mm yang memiliki empat pasang kaki tersebut dengan cepat menyelinap dalam pakaian petugas. Lantas, apakah ektoparasit mini ini?<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Ektoparasit mini tersebut memiliki nama ilmiah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. masyarakat sering menyebutnya Gurem atau kutu ayam. Spesies <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang dilaporkan ditemukan di Indonesia yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">O. bursa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dalam penggolongannya, bukan termasuk kutu (lice), melainkan tungau (mite). Sebenarnya, terdapat perbedaan antara kutu, pinjal (flea), caplak (tick), dan tungau secara morfologis, anatomis, dan fisiologis namun sepertinya awam terbiasa menyebut ektoparasit mikroskopis dan makroskopis dengan sebutan \u2018kutu\u2019. Pengetahuan ini dapat dikatakan sepele, namun dapat berpengaruh terhadap pemilihan obat anti-ektoparasit secara umum. Insektisida digunakan untuk membasmi jenis arthropoda dalam kelas Insecta (lalat, nyamuk, kutu, dan pinjal), sedangkan akarisida digunakan untuk membasmi arthropoda dalam kelas Arachnida, sub kelas Acari (caplak dan tungau). Walaupun terdapat juga jenis sediaan berspektrum luas yang dapat menjadi insektisida maupun akarisida.<\/span><\/h6>\n<h6><strong>Baca juga :&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mycoplasma-synoviae-yang-meresahkan-usaha-budi-daya-unggas\/\">Mycoplasma synoviae yang Meresahkan Usaha Budi Daya Unggas<\/a><\/strong><\/h6>\n<h6><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus bursa <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tropical Fowl Mite<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) tidak hanya menyerang pada ayam, tetapi juga pada berbagai spesies burung. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus bursa <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">termasuk dalam spesies tungau endemik di benua Asia. Tungau unggas lainnya yang juga endemik di benua asia yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dermanyssus gallinae <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Poultry Red Mite<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus sylviarum <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Northern Fowl Mite<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Tungau-tungau tersebut menjadi endemik karena memiliki siklus hidup dan penyebaran yang sangat cepat. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus bursa <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dapat menyelesaikan lima tahap siklus hidupnya, mulai dari telur sampai dewasa hanya dalam waktu 7-10 hari. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp., selain itu, memiliki daya tahan hidup di lingkungan atau di luar inang yang tinggi, yaitu sekitar tiga minggu.&nbsp;&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><b>Gangguan pada ayam dan manusia<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Serangan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. pada layer dapat menyerang ayam usia muda hingga dewasa, dimana ayam muda memiliki kerentanan lebih tinggi dibandingkan ayam dewasa. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus bursa <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">banyak ditemukan pada bulu-bulu daerah kloaka karena lebih hangat dan lembab, meskipun di daerah sayap maupun bagian tubuh lainnya juga dapat ditemukan. Gangguan yang ditimbulkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">pada ayam yaitu berupa gatal, iritasi pada kulit, terlihat gelisah, dan lesu akibat anemia. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">betina<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dapat menghisap darah ayam 1,8 kali berat tubuh gurem, atau sebanyak 0,077 mg. Gangguan tersebut memiliki dampak ekonomis dalam produksi telur hingga 25% dan dapat menimbulkan kematian pada infestasi tungau dalam jumlah yang besar.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya pada ayam, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. juga dapat menimbulkan gangguan pada manusia yang dilaporkan di Italia, Brazil, dan Portugal (Castelli <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2015; Bassini-Silva <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2019; Waap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2020) menyebutkan bahwa orang yang berkontak langsung dengan ayam yang terinfestasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. menunjukan kegatalan dan menimbulkan lesi pada kulit, seperti erythema dan erupsi papular. Meskipun tidak ditulis dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">case report <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">jurnal ilmiah terbaru seperti tiga negara tersebut, namun penulis juga pernah mendapatkan keluhan yang sama dari petugas di suatu peternakan di pulau Jawa akibat infestasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. yang cukup tinggi.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><b>Pencegahan terhadap serangan gurem<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Gangguan akibat gurem tampaknya perlu dilakukan karena selain dapat mengganggu produktivitas ternak juga dapat menimbulkan gangguan pada pekerja yang berkontak langsung dengan ayam. Tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. dapat dimulai dari kebersihan pekerja maupun kebersihan lingkungan peternakan. Dari segi pekerja, penerapan biosekuriti dengan menggunakan set pakaian yang berbeda untuk memasuki lingkungan kandang untuk mencegah terbawanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">keluar peternakan maupun mencegah kemungkinan terserangnya pekerja kandang oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. yang terbawa.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pencegahan gurem ayam pada lingkungan kandang kuncinya dengan menciptakan lingkungan yang tidak sesuai bagi gurem untuk berkembang namun baik untuk ayam, yaitu&nbsp; dengan menjaga sirkulasi udara, cukupnya sinar matahari yang masuk, kebersihan, dan sanitasi kandang. Pencegahan terhadap gurem juga dapat dilakukan dengan menaburkan belerang dan penyemprotan cypermethrin di sekeliling kandang satu bulan sekali (Kementan, 2014).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Penanganan bangkai pada ayam yang terserang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. juga perlu diperhatikan, karena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. membutuhkan inang hidup, sehingga jika inang yang ditempatinya mati, maka akan mencari inang sesuai yang hidup. Jika bangkai diletakan sembarang atau tidak langsung dibakar, maka akan mempermudah penyebaran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. antar flok maupun ke inang lainnya, seperti burung liar. Penyebaran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ornithonyssus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">spp. juga dapat didukung oleh angin kencang.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><b>Strategi tepat pengendalian dan pemberantasan gurem<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi kontrol dan pemberantasan, bahan aktif yang digunakan sebagai akarisida sebagai kontrol terhadap serangan gurem dapat menggunakan sediaan mengandung zat aktif sintetik yang tersedia di pasaran maupun akarisida alami yang berasal dari ekstrak tumbuhan. Jenis zat aktif yang digunakan untuk memberantas gurem diantaranya golongan Organofosfat (dichlorvos, coumaphos, malathion), pyrethroids (cypermethrin, deltamethrin), karbamat (carbaryl), makro siklik laktone (abamectin, milbemectin), dan alkaloid (nikotin sulfat) (Tabel 1). Penyemprotan kandang menggunakan formalin dan kalium permanganat atau minyak tanah juga dapat digunakan untuk pemberantasan gurem.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tabel 1. Cara pemakaian beberapa jenis sediaan akarisida<\/span><\/h6>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Nama Sediaan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dosis<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Cara Pemakaian<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Coumaphos<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">0,25%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Spray: 0,8-1 galon (3-3,8 liter) untuk 100 ekor ayam<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Carbaryl<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">6,25gr<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Spray: dilarutkan dalam 3 liter untuk 33 ayam<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Malathion<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1. 4-5%<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">2. 0,5%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1. Serbuk: per 0,5 kg ayam<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">2. Spray: 4 liter air per ayam<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Nikotin Sulfat<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1.&nbsp; 40%<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">2.&nbsp; 225 gr<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1. Diaplikasikan pada tempat bertengger ayam dan dinding kandang<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">2. Dilarutkan dalam 30 liter air, diulangi 10 hari kemudian. Dapat diaplikasikan menggunakan kuas cat.<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">(Kementan, 2014)<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Penggunaan akarisida hendaknya menggunakan sediaan yang sudah mendapatkan nomor registrasi (legal), sesuai dengan dosis yang dianjurkan, dan melakukan rotasi penggunaan sediaan akarisida. Jika tidak, maka resistensi tungau terhadap akarisida akan muncul. Resistensi akarisida juga dapat dipicu oleh cepatnya reproduksi maupun siklus hidup tungau. Resistensi akarisida terbentuk akibat peningkatan pemecahan metabolis akarisida atau detoksifikasi metabolis pada tungau atau mutasi gen target dapatan yang mempengaruhi afinitas terhadap akarisida (Marcic <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2012).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Resistensi terhadap akarisida telah dilaporkan di Jepang. Sebesar 19,5% <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">D. gallinae <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">telah resisten terhadap tiga jenis akarisida, yaitu karbamat, piretroid, dan organofosfat (Murano <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2015). Resistensi terhadap beberapa jenis akarisida carbaryl, tetrachlorvinphos + dichlorvos (Ravap), dan permethrin terhadap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">O. sylviarum <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">juga dilaporkan di California, Amerika (Mullens <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2004).&nbsp; Sejauh ini, penulis belum menemukan laporan dalam jurnal ilmiah mengenai resistensi tungau ayam terhadap akarisida di Indonesia. Penelitian terhadap resistensi ini dapat memberikan informasi ilmiah terhadap pengendalian infestasi tungau pada ayam dan pengembangan sediaan yang lebih sensitif dan aman.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Penggunaan akarisida sintetik yang intensif, selain dapat menimbulkan resistensi tungau terhadap sediaan tersebut, juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap produk unggas yang dihasilkan. Residu akarisida sintetik dapat mencemari daging dan telur ayam, mencemari lingkungan, dan musuh alami parasit (Kedang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2020). Sehingga, bio-akarisida, yaitu akarisida yang berasal dari bahan alami dapat dijadikan sebagai pilihan akarisida terhadap tungau ayam.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa jenis ekstrak tanaman telah diuji sebagai akarisida terhadap tungau ayam. Larutan ekstrak bawang putih (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Allium sativum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) 10% dalam spray, 22,5 mL\/ayam, dalam uji lapang terbukti dapat menurunkan derajat infestasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">D. gallinae <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">O. sylviarum <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Yazwinski <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2005). Spray larutan ekstrak bawang putih 10% juga dapat memperbaiki parameter eritrosit dan leukosit pada ayam yang terinfestasi ektoparasit, termasuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">D. gallinae<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Ahmed <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2019). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Allium sativum <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">memiliki efek yang sama seperti organofosfat dan karbamat, yaitu neurotoksik. Efek neurotoksik ini menimbulkan paralisis secara cepat pada tungau (Chaubey, 2017). Ekstrak tumbuhan lainnya yang berpotensi sebagai akarisida yaitu klausena, leci, dan cengkeh yang memiliki racun kontak dan uap (Tabari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2020). Minyak kadena dan thyme juga memiliki racun kontak terhadap tungau (Abdelfattah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et al<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">., 2018).<\/span><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Riuh dan tatapan curiga dari bilik-bilik kandang layer yang memanjang menyambut petugas yang memasuki suatu flok. Layer tersebut menunggu dan waspada apakah mereka hendak dipindahkan, diberikan vaksin, pakan, atau sekedar mengambil telur yang telah diproduksinya. Dikala melakukan salah satu dari aktivitas tersebut, terutama yang berkontak langsung dengan ayam, terkadang dalam suatu kondisi, terdapat ektoparasit berukuran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":22768,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,10,8],"tags":[33],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Gurem : Ayam Ras Petelur, Manusia, Resistensi dan Penanganannya | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Riuh dan tatapan curiga dari bilik-bilik kandang layer yang memanjang menyambut petugas yang memasuki suatu flok. Layer tersebut menunggu dan waspada apakah mereka hendak dipindahkan, diberikan vaksin, pakan, atau sekedar mengambil telur yang telah diproduksinya. Dikala melakukan salah satu dari aktivitas tersebut, terutama yang berkontak langsung dengan ayam, terkadang dalam suatu kondisi, terdapat ektoparasit berukuran [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-12-04T05:55:13+00:00\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-Suatu-peternakan-layer-yang-memiliki-serangan-gurem-tinggi-Dokumentasi-pribadi..jpg\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-Suatu-peternakan-layer-yang-memiliki-serangan-gurem-tinggi-Dokumentasi-pribadi..jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-Suatu-peternakan-layer-yang-memiliki-serangan-gurem-tinggi-Dokumentasi-pribadi..jpg\",\"width\":5664,\"height\":3184},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/\",\"name\":\"Gurem : Ayam Ras Petelur, Manusia, Resistensi dan Penanganannya | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-12-04T05:55:13+00:00\",\"dateModified\":\"2023-12-04T05:55:13+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/f39e3166157e4636733ac2dec2af3501\"},\"headline\":\"Gurem : Ayam Ras Petelur, Manusia, Resistensi dan Penanganannya\",\"datePublished\":\"2023-12-04T05:55:13+00:00\",\"dateModified\":\"2023-12-04T05:55:13+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#webpage\"},\"wordCount\":1206,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/gurem-ayam-ras-petelur-manusia-resistensi-dan-penanganannya\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-Suatu-peternakan-layer-yang-memiliki-serangan-gurem-tinggi-Dokumentasi-pribadi..jpg\",\"keywords\":[\"berita1\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Kesehatan\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/f39e3166157e4636733ac2dec2af3501\",\"name\":\"Esti Damayanti\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/382a1b98958ea959336d399296aada33?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/382a1b98958ea959336d399296aada33?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Esti Damayanti\"},\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/estdhmyntp\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-Suatu-peternakan-layer-yang-memiliki-serangan-gurem-tinggi-Dokumentasi-pribadi..jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5Vd","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22767"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22767"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22767\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22771,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22767\/revisions\/22771"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22768"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22767"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22767"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22767"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}