{"id":22772,"date":"2023-11-07T14:44:58","date_gmt":"2023-11-07T07:44:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22772"},"modified":"2023-12-05T15:00:12","modified_gmt":"2023-12-05T08:00:12","slug":"titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/","title":{"rendered":"Titik Kritis Manajemen Pemeliharaan di Masa Brooding"},"content":{"rendered":"<h6><strong>POULTRYINDONESIA, Jakarta<\/strong> &#8211; Masa brooding menjadi fase yang sangat krusial dan menjadi penentu keberhasilan dalam pemeliharaan ayam broiler. Hal ini cukup beralasan karena pada masa ini terjadi proses perbanyakan sel (hiperplasia) dan perkembangan sel (hipertropi) yang sangat cepat pada organ penting anak ayam. Di sisi lain pada masa brooding, sistem termoregulasi (pengaturan suhu tubuh) anak ayam belum berkembang sempurna, sehingga tugas peternak adalah menciptakan lingkungan yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan anak ayam.<\/h6>\n<h6>Menurut Head of Unit Madiun BroilerX drh Nanang Seno Utomo, manajemen brooding<br \/>\nmenjadi penentu keberhasilan performa broiler. Terdapat 5 titik kritis yang harus benar-benar diperhatikan oleh peternak, yaitu manajemen pakan, temperature, kualitas udara,<br \/>\npencahayaan, dan air minum.<\/h6>\n<h6>\u201cTerkait pakan, saya menyarankan untuk menggunakan pakan starter yang berbentuk fine<br \/>\ncrumble. Dengan ukuran yang kecil, akan lebih memudahkan anak ayam untuk berkenalan<br \/>\ndengan pakan. Pemberian pakan harus diberikan dengan segera setelah DOC datang, secara cukup baik tempat, jumlah dan kualitasnya. Dengan segera mengonsumsi pakan, usus ayam bisa segera tergetak dan reseptor usus segera mengenal pakan, sehingga vili-vili dapat tumbuh secara maksimal dan saluran pencernaan bisa berkembang dengan baik,\u201d jelasnya dalam acara Indonesia Livestock Club (ILC) Edisi Ke-31 yang mengangkat tema<br \/>\n\u201cManajemen Brooding untuk Menekan Risiko Penyakit Necrotic Enteritis\u201d Sabtu (4\/11).<\/h6>\n<h6>Mengenai manajemen pakan, Nanang melihat bahwa penting untuk mengatur tata letak jalur pakan dan minum agar mudah dijangkau oleh ayam. Penempatan tempat pakan\/feeder tube harus sedikit lebih rendah daripada tembolok ayam jika ayam berdiri tegak. Kemudian untuk memberi stimulasi ayam agar makan, maka pakan harus tetap tersedia dan terus ditambah (top dress). Hal ini bertujuan agar pakan yang tersedia tetap segar. Selanjutnya dalam 6-8 jam, 95% DOC harus sudah makan dan minum. Hal ini bisa dilihat dengan mengecek tembolok anak ayam, minimal 1% dari populasi yang tersebar di berbagai titik kandang.<\/h6>\n<h6>\u201cTitik kritis selanjutnya adalah manajemen temperature. Hal yang wajib dipahami adalah suhu internal anak ayam harus dipertahankan pada 40,4-40,6 <sup>o<\/sup>C. Apabila di bawah 40 <sup>o<\/sup>C akan terlalu dingin dan apabila melebihi 41 <sup>o<\/sup>C maka akan panting. Lantas bagaimana manajemen temperature pada brooding? Jadi sebelum memasukkan DOC, kita harus melakukan preheating pemanas radian dengan target suhu lantai antara 32 \u2013 35 <sup>o<\/sup>C. Suhu lantai yang tidak tercapai akan membuat anak ayam tidak nyaman, feed intake turun dan kurangnya aktivitas,\u201d jelasnya.<\/h6>\n<h6>Kemudian, suhu rektal anak ayam harus dicek dengan standar rentang suhu antara 40,4-40,6 <sup>o<\/sup>C. Nanang menambahkan, untuk mengetahui kenyamanan temperatur bagi ayam maka peternak harus melakukan pengamatan. Dimana ketersebaran dan tingkat<br \/>\naktivitas ayam menjadi parameter.<\/h6>\n<h6>\u201cKualitas udara dalam kandang menjadi titik kritis berikutnya. Dalam hal ini, oksigen (O<sub>2<\/sub>)<br \/>\ndibutuhkan untuk produksi panas dan energi selama pencernaan. Oksigen harus stabil di<br \/>\ndalam ruangan kandang, dengan kadar harus di atas 19,5 %. Manajemen litter dan ventilasi yang baik memberikan oksigen yang cukup dalam kandang. Sebaliknya, karbon dioksida (CO<sub>2<\/sub>) yang terlalu tinggi dapat menghambat aktivitas ayam, konsumsi pakan dan air minum, menyebabkan ayam dehidrasi dan ascites. Kadar karbon dioksida harus berada di bawah 0,3 % atau 3000 ppm. Selain itu, parameter lain seperti CO, NH3 da debu juga harus diperhatikan dan diukur secara berkala,\u201d tambah Nanang.<\/h6>\n<h6>Titik kritis manajemen brooding keempat yaitu manajemen pencahayaan. Pada masa<br \/>\nbrooding, dibutuhkan pencahayaan antara 40- 60 lux yang harus menerangi seluruh ruangan. Jangan sampai ada penghalang, seperti tiang, pemanas, labirin dll, sehingga yang diterima tidak sampai standar tersebut. Apabila terdapat bagian gelap pada brooding maka akan menyebabkan ayam cenderung tidak nafsu makan dan hanya tidur, sehingga feed intake rendah.<\/h6>\n<h6>\u201cSaat DOC datang, berikan pencahayaan dengan intensitas lebih dari 40 lux selama 24 jam, sehingga tidak ada bagian dari brooding yang gelap dan minim aktivitas ayam. Ketika DOC mencapai bobot 110-160 gram, maka program pencahayaan bisa dimulai dengan menurunkan intensitas cahaya secara gradual sejak umur 5 -14 hari hingga tercapai 5 \u2013 10<br \/>\nlux. Kemudian lakukan juga fase gelap secara blok dan tidak terpisah. Artinya ketika fase<br \/>\ngelap semua gelap, dan ketika pencahayaan semua terang. Program pencahayaan ini<br \/>\nbertujuan untuk menjamin adanya waktu istirahat bagi ayam, memperbaiki keseragaman,<br \/>\nmengurangi kematian dan memperbaiki feed konversi,\u201d jelas Nanang.<\/h6>\n<h6>Terkait air minum sebagai titik kritis terakhir pada manajemen brooding, dijelaskan bahwa air minum yang berkualitas harus selalu tersedia dan terjangkau oleh ayam. Pasalnya perubahan pada konsumsi air minum akan berakibat langsung terhadap konsumsi pakan ayam.<\/h6>\n<h6>\u201cAir yang diberikan merupakan air yang bersih dan segar dan dilakukan tes secara teratur<br \/>\nterhadap kandungan zat kimia dan komposisi bakteriologis. Suhu air minum yang nyaman<br \/>\nbagi ayam adalah di bawah 27<sup>o<\/sup>C, apabila di atas itu berakibat rendahnya konsumsi pada<br \/>\nayam. Dan yang tidak kalah penting adalah letak atau ketinggian harus terjangkau bagi anak ayam. Untuk itu, tempat air minum harus selalu dicek ketinggian atau kedalaman nya setiap hari,\u201d papar Nanang.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>POULTRYINDONESIA, Jakarta &#8211; Masa brooding menjadi fase yang sangat krusial dan menjadi penentu keberhasilan dalam pemeliharaan ayam broiler. Hal ini cukup beralasan karena pada masa ini terjadi proses perbanyakan sel (hiperplasia) dan perkembangan sel (hipertropi) yang sangat cepat pada organ penting anak ayam. Di sisi lain pada masa brooding, sistem termoregulasi (pengaturan suhu tubuh) anak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22773,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[7],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Titik Kritis Manajemen Pemeliharaan di Masa Brooding | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"POULTRYINDONESIA, Jakarta &#8211; Masa brooding menjadi fase yang sangat krusial dan menjadi penentu keberhasilan dalam pemeliharaan ayam broiler. Hal ini cukup beralasan karena pada masa ini terjadi proses perbanyakan sel (hiperplasia) dan perkembangan sel (hipertropi) yang sangat cepat pada organ penting anak ayam. Di sisi lain pada masa brooding, sistem termoregulasi (pengaturan suhu tubuh) anak [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-11-07T07:44:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-12-05T08:00:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/BRX-Ragam-Manajemen-Perkandangan-Ayam-Broiler-K-.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1428\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"936\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/BRX-Ragam-Manajemen-Perkandangan-Ayam-Broiler-K-.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/BRX-Ragam-Manajemen-Perkandangan-Ayam-Broiler-K-.jpeg\",\"width\":1428,\"height\":936},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/\",\"name\":\"Titik Kritis Manajemen Pemeliharaan di Masa Brooding | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-11-07T07:44:58+00:00\",\"dateModified\":\"2023-12-05T08:00:12+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Titik Kritis Manajemen Pemeliharaan di Masa Brooding\",\"datePublished\":\"2023-11-07T07:44:58+00:00\",\"dateModified\":\"2023-12-05T08:00:12+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#webpage\"},\"wordCount\":753,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-manajemen-pemeliharaan-di-masa-brooding\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/BRX-Ragam-Manajemen-Perkandangan-Ayam-Broiler-K-.jpeg\",\"articleSection\":[\"Peristiwa\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/BRX-Ragam-Manajemen-Perkandangan-Ayam-Broiler-K-.jpeg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5Vi","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22772"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22772"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22772\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22774,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22772\/revisions\/22774"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22773"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22772"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22772"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22772"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}