{"id":22868,"date":"2023-12-26T10:03:02","date_gmt":"2023-12-26T03:03:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=22868"},"modified":"2023-12-26T10:03:02","modified_gmt":"2023-12-26T03:03:02","slug":"pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/","title":{"rendered":"Pengaruh Penambahan Chitosan Oligosaccharide (COS) dan L-arginine pada Pakan Broiler terhadap Rasio Konversi Energi dan Protein"},"content":{"rendered":"<h6><b>Oleh : Muhammad Pramujo, S.Pt., M.Si.*<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Ayam dikenal sebagai makhluk yang mudah stres dan membutuhkan perhatian ekstra, terutama broiler modern. Broiler modern diperoleh dari kombinasi persilangan galur murni unggul (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">genetic selection dan cross breed<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Pola pertumbuhannya sangat selektif dan cenderung lebih peka terhadap setiap perubahan yang ada. Broiler modern dapat tumbuh sangat cepat dengan asupan yang baik, sehingga dalam pemeliharaannya broiler menuntut formula diet yang lebih spesifik. Dengan karakteristik yang ada, aspek tata laksana pemeliharaan tentu menjadi perhatian, terutama manajemen pakan, baik jumlah, rasio, dan ketersebarannya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi lingkungan Indonesia yang merupakan negara tropis memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap serangan penyakit pada hewan ternak, terutama penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen dan virus. Selain itu, kondisi suhu di Indonesia juga cenderung tinggi, sehingga dapat menyebabkan stres panas. Stres panas dan serangan penyakit pada hewan ternak dapat menghambat laju pertumbuhan, menurunkan kualitas produksi, hingga meningkatkan angka kematian hewan ternak.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai cara telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas broiler serta mencegah kematian akibat stres dan penyakit oleh para peternak. Salah satunya adalah penggunaan feed additive antibiotic growth promoter (AGP). Peran feed additive sangatlah esensial dalam mengurangi resiko stres panas dan penyakit. Sayangnya, industri peternakan menemukan tantangan ketika memasuki tahun 2018. Pada bulan Januari 2018, penggunaan A<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">GP dalam dunia peternakan mulai dilarang. Pelarangan ini sangat berpengaruh terhadap produktivitas ternak, terutama broiler, di negara beriklim tropis.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, larangan penggunaan AGP membuahkan beberapa alternatif pengganti AGP yang potensial, seperti probiotik, prebiotik, dan enzim, untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas ternak. Kitosan, yang merupakan salah satu prebiotik, dapat digunakan sebagai alternatif pengganti AGP. Suplementasi 0.1% kitosan diketahui dapat menurunkan jumlah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam saluran pencernaan ayam, meningkatkan kepadatan mikrovili usus halus, hingga meningkatkan performa pertumbuhan dan serum titer antibodi untuk melawan virus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Newcastle Disease<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kitosan dalam bentuk Oligochitosan, biasa disebut Chitosan Oligosaccharide (COS), memiliki berat molekul yang lebih kecil yaitu 1000-5000 Da. Hal ini membuat COS lebih mudah diserap dalam saluran pencernaan, sehingga dapat mengoptimalkan fungsinya sebagai alternatif antibiotik.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Suplementasi Oligochitosan juga diketahui dapat meningkatkan kecernaan nutrien pada ileal, sehingga meningkatkan performa broiler. Oligosakarida lainnya, seperti Fructooligosaccharide (FOS) dan Mannan Oligosaccharide (MOS) juga sudah digunakan sebagai alternatif antibiotik. Kedua substansi ini bekerja melalui banyak mekanisme, termasuk dengan cara menghambat adsorpsi enteric patogen, memodulasi fungsi imun, dan pengaturan metabolisme nutrien.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Mekanisme Oligosaccharide dalam meningkatkan performa ternak adalah dengan meningkatkan pemanfaatan arginine di dalam usus. Arginine merupakan asam amino esensial bagi tubuh ayam broiler yang berperan dalam sintesis Nitric Oxide (NO) dan polyamine yang terlibat dalam proses modulasi inflamasi dan penyembuhan luka. Ayam membutuhkan arginine dalam jumlah banyak untuk memproduksi NO yang berperan penting dalam proses pembunuhan parasit pada kasus koksidiosis. Hal ini menunjukkan bahwa arginine juga mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada hewan ternak.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan kondisi yang ada, penulis melakukan penelitian mengenai penambahan Chitosan Oligosaccharide (COS) dan L-arginine pada pakan broiler untuk mengetahui pengaruhnya terhadap rasio konversi energi dan protein. Penelitian ini dilakukan pada 300 ekor broiler Lohmann umur 1 hari dengan rata-rata bobot badan 46 \u00b1 0,7 g yang telah divaksinasi terhadap Newcastle Disease, Infectious Bursal Disease, dan Avian Influenza.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Ransum yang diberikan adalah dalam bentuk crumble untuk fase starter dan pellet untuk fase finisher dengan masing-masing kandungan protein kasar 22,5 % dan 20,59% serta energi metabolis (ME) 3100 kkal kg-1 dan 3200 kkal kg-1. Bahan tambahan yang digunakan adalah COS feed grade dengan bobot molekul antara 1000-5000 Da dan L-arginine. Kedua bahan tambahan ini kemudian dicampur dengan premix terlebih dahulu sebelum dicampur dengan ransum basal.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Tabel 1. Kelompok perlakuan penelitian<\/b><\/h6>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td colspan=\"2\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Perlakuan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kelompok<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Keterangan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">T0<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pakan basal (Kontrol negatif)<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">T1<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pakan basal + Zinc Bacitracine 200 mg kg-1 (kontrol positif)<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">T2<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pakan basal + COS 100 mg kg-1<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">T3<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pakan basal + L-arginine sampai 1.9%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">T4<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Pakan basal + COS 100 mg kg-1 + L-arginine sampai 1.9%<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h6>&nbsp;<\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan pembagian kelompok pada Tabel 1, ditemukan hasil berupa suplementasi COS 100 mg kg-1 (T2) pada broiler mampu meningkatkan konsumsi energi dan protein dibandingkan dengan perlakuan kontrol negatif (T0) (P&lt;0.05) dan memberikan hasil yang tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan perlakuan yang diberi AGP sebagai kontrol positif (T1), bahkan cenderung lebih tinggi dilihat dari nilai rata-ratanya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut penulis, hasil ini sejalan dengan penelitian Gibson dan Roberfroiid (1995) dan Patterson dan Burkholder (2003) yang melaporkan bahwa COS mampu meningkatkan fungsi sistem imun ayam, sehingga dalam kondisi tubuh yang sehat, nafsu makan broiler tetap terjaga atau bahkan meningkat. Sedangkan pada perlakuan suplementasi L-arginine (T3) dan kombinasi COS + L-arginine (T4), ditemukan hasil tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi energi dan protein dibandingkan dengan perlakuan kontrol negatif (T0) maupun kontrol positif (T1).<\/span><\/h6>\n<h6><b>Tabel 2. Rasio konversi energi dan protein pada broiler<\/b><\/h6>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td rowspan=\"2\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Peubah<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td colspan=\"5\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Perlakuan<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">P0<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">P1<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">P2<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">P3<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">P4<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">KE (kkal)<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">8.584,72\u00b1384,31<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">8.785,50\u00b1397,89<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">9.175,04\u00b1200,72<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">8.524,44\u00b1428,99<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">8.568,21\u00b1409,28<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">KP (g)<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">578,00\u00b124,90<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">591,75\u00b126,19<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">618,52\u00b113,36<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">575,65\u00b128,66<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">577,90\u00b126,96<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">RKE<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">5,36\u00b10,12<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">5,15\u00b10,10<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">5,20\u00b10,09<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">5,12\u00b10,17<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">5,07\u00b10,15<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">RKP<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">0,360\u00b10,01<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">0,348\u00b10,01<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">0,351\u00b10,01<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">0,346\u00b10,01<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<td>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">0,343\u00b10,01<\/span><\/h6>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Keterangan: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">KE: Konsumsi Energi; KP: Konsumsi Protein; RKE: Rasio Konversi Energi; RKP: Rasio Konversi Protein.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Rasio konversi energi dan protein diketahui memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertambahan bobot badan (PBB) pada broiler. Semakin rendah rasio konversi energi dan protein, maka PBB akan semakin meningkat. Dalam penelitian ini, suplementasi COS 100 mg kg-1 (T2) mampu menurunkan rasio konversi energi dibandingkan kontrol negatif (T0) (P&lt;0.05) dan tidak berbeda signifikan dengan perlakuan kontrol positif (T1).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Efek menguntungkan dari suplementasi prebiotik seperti COS dalam pakan pada parameter performa broiler sesuai dengan sejumlah penelitian, seperti Choi et al.(1994), LeMieux et al. (2003), Wang et al. (2003), dan Oli et al. (1998) yang mengatakan bahwa suplementasi COS dapat menurunkan jumlah bakteri patogen, seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Escherichia Coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Salmonella typhimurium<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan meningkatkan jumlah bakteri menguntungkan, seperti Lactobacilli, dalam saluran pencernaan.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">COS juga diketahui dapat menstimulasi sekresi enzim-enzim pencernaan yang berasal dari lambung, pankreas, dan mukosa usus. Efek ini diharapkan mampu menurunkan inflamasi lokal di mukosa usus, memfasilitasi perombakan molekul komplek menjadi lebih sederhana, dan meningkatkan integritas enterosit, sehingga mendukung kecernaan dan penyerapan nutrien.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Suplementasi L-arginine yang mencapai 1.9% dari kebutuhan standar memberikan efek positif terhadap performa broiler yang dapat dilihat dari menurunnya rasio konversi energi dan protein secara signifikan dibandingkan dengan perlakuan kontrol negatif dan tidak berbeda dengan kontrol positif. Tan et al. (2014)&nbsp; melaporkan bahwa pemberian L-arginine dalam pakan dengan persentase di atas kebutuhan standar NRC 1994 mampu meningkatkan PBB dan menurunkan FCR pada fase starter.&nbsp;<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, suplementasi L-arginine juga diketahui dapat mengurangi efek inflamasi pada ayam yang diinduksi lipopolysaccharide. Argininie berperan dalam sintesis NO dan polyamine yang terlibat di dalam proses modulasi inflamasi dan penyembuhan luka. Inflamasi yang berlebihan akan berdampak pada penurunan performa pertumbuhan pada hewan ternak. Ayam yang terinfeksi bakteri patogen membutuhkan lebih banyak arginine dibandingkan ketika dalam kondisi normal. Kombinasi antara COS dan L-arginine juga memberikan efek yang positif terhadap rasio konversi energi dan protein.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penambahan COS 100 mg kg-1, L-arginine sampai 1.9%, maupun kombinasi antara keduanya mampu menurunkan rasio konversi energi. Peubah rasio konversi protein juga mampu diturunkan oleh suplementasi L-arginine dan kombinasi COS + L-arginine. Suplementasi COS dan L-arginine serta kombinasinya disimpulkan memberikan efek positif terhadap rasio konversi energi dan protein pada broiler. <\/span><b><i>*Dosen Reproduksi dan Pemuliaan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya<\/i><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/h6>\n<h6><em><strong>Artikel ini merupakan rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com<\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Muhammad Pramujo, S.Pt., M.Si.* Ayam dikenal sebagai makhluk yang mudah stres dan membutuhkan perhatian ekstra, terutama broiler modern. Broiler modern diperoleh dari kombinasi persilangan galur murni unggul (genetic selection dan cross breed). Pola pertumbuhannya sangat selektif dan cenderung lebih peka terhadap setiap perubahan yang ada. Broiler modern dapat tumbuh sangat cepat dengan asupan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22869,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,11,8],"tags":[374,33,606],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pengaruh Penambahan Chitosan Oligosaccharide (COS) dan L-arginine pada Pakan Broiler terhadap Rasio Konversi Energi dan Protein | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh : Muhammad Pramujo, S.Pt., M.Si.* Ayam dikenal sebagai makhluk yang mudah stres dan membutuhkan perhatian ekstra, terutama broiler modern. Broiler modern diperoleh dari kombinasi persilangan galur murni unggul (genetic selection dan cross breed). Pola pertumbuhannya sangat selektif dan cenderung lebih peka terhadap setiap perubahan yang ada. Broiler modern dapat tumbuh sangat cepat dengan asupan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-12-26T03:03:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-1.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"640\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-1.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-1.jpeg\",\"width\":640,\"height\":640,\"caption\":\"Bubuk Chitosan Oligosaccharide\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/\",\"name\":\"Pengaruh Penambahan Chitosan Oligosaccharide (COS) dan L-arginine pada Pakan Broiler terhadap Rasio Konversi Energi dan Protein | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2023-12-26T03:03:02+00:00\",\"dateModified\":\"2023-12-26T03:03:02+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Pengaruh Penambahan Chitosan Oligosaccharide (COS) dan L-arginine pada Pakan Broiler terhadap Rasio Konversi Energi dan Protein\",\"datePublished\":\"2023-12-26T03:03:02+00:00\",\"dateModified\":\"2023-12-26T03:03:02+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#webpage\"},\"wordCount\":1161,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/pengaruh-penambahan-chitosan-oligosaccharide-cos-dan-l-arginine-pada-pakan-broiler-terhadap-rasio-konversi-energi-dan-protein\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-1.jpeg\",\"keywords\":[\"AGP\",\"berita1\",\"riset\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Riset\",\"Ulas Unggas\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar-2-1.jpeg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-5WQ","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22868"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22868"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22868\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22870,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22868\/revisions\/22870"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22868"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22868"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22868"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}