{"id":24971,"date":"2025-07-18T18:51:46","date_gmt":"2025-07-18T11:51:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=24971"},"modified":"2025-11-07T19:59:41","modified_gmt":"2025-11-07T12:59:41","slug":"terus-optimis-berantas-kolibasilosis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/","title":{"rendered":"Terus Optimis Berantas Kolibasilosis"},"content":{"rendered":"<h6><i><span style=\"font-weight: 400;\">Penyakit satu ini memang merupakan penyakit multifaktorial yang memiliki dampak ekonomi yang besar dalam industri unggas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">oleh karenanya upaya pencegahan akan lebih efektif dibandingkan upaya pengobatan.<\/span><\/i><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lapangan, kasus kolibasilosis pada peternakan masih sering ditemukan, terutama pada peternakan ayam pedaging. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Escherichia<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">coli<\/span><\/i> <span style=\"font-weight: 400;\">sendiri merupakan bakteri yang umum ditemukan pada saluran pencernaan hewan. Bakteri ini pada umumnya merupakan flora normal dan bersifat non-patogen, namun ada pula strain yang bersifat patogen. Strain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> patogen dapat menyebabkan masalah kesehatan pada unggas, baik infeksi secara lokal maupun sistemik, yang disebut sebagai kolibasilosis. Kolibasilosis dapat menunjukkan berbagai manifestasi patologis, seperti pneumonia, omfalitis, cellulitis, airsacculitis, osteomielitis, dan peritonitis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan penelitian Wahyuwardan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">et. al<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, (2014) sebanyak 22,2% <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dilaporkan sebagai penyebab infeksi pada unggas. Lebih lanjut ia meneliti bahwa sebanyak 75-100%, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i> <span style=\"font-weight: 400;\">diisolasi\u00a0 dari bangkai ayam mati di Yogyakarta dan Bogor. Kejadian ini mengindikasikan bahwa kolibasilosis banyak terjadi pada industri perunggasan. Bakteri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat ditemukan sebagai bakteri di saluran pencernaan dan lingkungan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberadaan bakteri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada air minum maupun sumber air minum biasa digunakan sebagai indikator adanya pencemaran air yang menyebabkan penurunan kualitas air minum. Pencemaran air minum dimulai dari sumber air sampai penampungan air. Air yang tercemar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dikhawatirkan dapat menyebabkan penyebaran bakteri dan menyebabkan penyakit.<\/span><\/p>\n<p><b>Identifikasi bakteri<\/b> <b><i>Escherichia<\/i><\/b> <b><i>coli<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Escherichia coli<\/span><\/i> <span style=\"font-weight: 400;\">adalah bakteri gram negatif, berbentuk batang, dan mempunyai flagella. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Escherichia coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara alami merupakan flora normal di saluran pencernaan hewan dan manusia. Beberapa strain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ada yang bersifat patogen dan memiliki kemampuan menularkan sifat patogen ke bakteri lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi kotoran ayam dengan kelembaban tinggi sangat mendukung perkembangan bakteri. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Escherichia<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan bakteri komensal yang dapat bersifat patogen, bertindak sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Pada suhu kamar (27\u00b0C) pertumbuhan bakteri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih banyak. Hal ini disebabkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan bakteri yang tergolong mesofil yaitu bakteri yang mempunyai suhu pertumbuhan optimal 15 &#8211; 45\u00b0C dengan suhu minimum pertumbuhan 10 &#8211; 20\u00b0C, dan suhu maksimum 40 &#8211; 45\u00b0C serta dapat hidup pada pH 5,5 &#8211; 8 dengan pH optimum 6,5 (Lubis, 2012). Sedangkan kelembapan optimum untuk pertumbuhan bakteri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah 85%.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><i><span style=\"font-weight: 400;\"> coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan bakteri yang mempunyai peran cukup penting dalam penyakit zoonosis. Penyebarannya dapat melalui kontak langsung dengan feses, kontak dengan peralatan kandang yang terkontaminasi, seperti makanan yang mentah atau daging yang dimasak kurang matang.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia penelitian yang dilakukan Suardana (2014) dari 76 sampel feses ayam yang diambil menunjukkan tingkat prevalensi sebesar 8,54%. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2007 tercatat kasus kolibasilosis sebanyak 129 kasus yang terjadi pada ayam di daerah Sumba Timur.<\/span><\/p>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karenanya, berbagai upaya pengobatan maupun pencegahannya perlu sangat diperhatikan. Seperti misalnya penggunaan antibiotik untuk mengatasi kolibasilosis, sangat perlu diperhatikan adanya sifat sensitivitas yang berbeda-beda untuk setiap serotipe <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">E. coli<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Mengingat beberapa serotipe resisten terhadap satu atau lebih antibiotik.<\/span><\/h6>\n<h6><em>Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2025. Baca selengkapnya di <a href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/majalah-poultry-indonesia-edisi-juli-2025\/#dearflip-df_24433\/47\/\">Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2025<\/a>, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi:\u00a0<a href=\"https:\/\/wa.me\/+6287780120754\">https:\/\/wa.me\/+6287780120754<\/a>\u00a0 atau sirkulasipoultry@gmail.com<\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penyakit satu ini memang merupakan penyakit multifaktorial yang memiliki dampak ekonomi yang besar dalam industri unggas, oleh karenanya upaya pencegahan akan lebih efektif dibandingkan upaya pengobatan. Di lapangan, kasus kolibasilosis pada peternakan masih sering ditemukan, terutama pada peternakan ayam pedaging. Escherichia coli sendiri merupakan bakteri yang umum ditemukan pada saluran pencernaan hewan. Bakteri ini pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":24975,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[10],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Terus Optimis Berantas Kolibasilosis | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Penyakit satu ini memang merupakan penyakit multifaktorial yang memiliki dampak ekonomi yang besar dalam industri unggas, oleh karenanya upaya pencegahan akan lebih efektif dibandingkan upaya pengobatan. Di lapangan, kasus kolibasilosis pada peternakan masih sering ditemukan, terutama pada peternakan ayam pedaging. Escherichia coli sendiri merupakan bakteri yang umum ditemukan pada saluran pencernaan hewan. Bakteri ini pada [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-18T11:51:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-07T12:59:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Kesehatan-Juli25.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"464\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"275\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Kesehatan-Juli25.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Kesehatan-Juli25.jpg\",\"width\":464,\"height\":275},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/\",\"name\":\"Terus Optimis Berantas Kolibasilosis | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2025-07-18T11:51:46+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-07T12:59:41+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Terus Optimis Berantas Kolibasilosis\",\"datePublished\":\"2025-07-18T11:51:46+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-07T12:59:41+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#webpage\"},\"wordCount\":492,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/terus-optimis-berantas-kolibasilosis\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Kesehatan-Juli25.jpg\",\"articleSection\":[\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Kesehatan-Juli25.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-6uL","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24971"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24971"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24971\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24976,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24971\/revisions\/24976"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24975"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}