{"id":25052,"date":"2024-11-15T14:49:29","date_gmt":"2024-11-15T07:49:29","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=25052"},"modified":"2025-11-10T14:56:44","modified_gmt":"2025-11-10T07:56:44","slug":"mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/","title":{"rendered":"Mengurangi Dampak Global Warming Dengan Probiotik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh: Mikael Sihite, S.Pt., M.Si*<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Probiotik dapat mengurangi pembentukan gas-gas berbahaya sisa metabolisme ternak broiler seperti amonia (NH3) yang merupakan salah satu penyumbang pemanasan global dengan mengubah metabolisme pada saluran pencernaan. Probiotik dapat meningkatkan pencernaan dan penyerapan nutrisi, sehingga sisa nutrisi tidak tercerna tidak dikonversi oleh mikroba patogen menjadi gas berbahaya. Probiotik juga memiliki kemampuan menekan pertumbuhan mikroba patogen di dalam saluran pencernaan, sehingga akumulasi mikroba patogen berkurang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Peternakan ayam broiler juga memiliki porsi besar dalam peningkatan jumlah gas rumah kaca di dunia. Meskipun kita lebih akrab dengan pendapat yang mengatakan bahwa asap pembakaran pabrik dan asap kendaraan di jalanan sebagai penyebab pemanasan global. Namun, perlu diketahui bahwa peternakan adalah salah satu industri penyumbang gas rumah kaca terbesar. Jika metana dari ternak ruminansia lebih dikenal sebagai limbah peternakan penyumbang gas rumah kaca, maka perlu diketahui bahwa peternakan ayam broiler juga menghasilkan gas berbahaya yaitu amonia yang bersifat toksik pada ternak dan juga manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Amonia dilaporkan sebagai prekursor pembentukan PM<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">2.5<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Particulate Matter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau akrab disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Particle Pollution<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang berbahaya bagi lingkungan, bisa membentuk hujan asam dan merusak ekosistem makhluk hidup, serta bersifat karsinogenik dan menyebabkan kanker paru-paru jika terhirup manusia. Emisi NH<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dari industri pertanian (termasuk peternakan) dilaporkan menyumbang sekitar 50% PM<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">2.5 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di Eropa yang memiliki rerata produksi ayam broiler 11,06 juta ton (USDA, 2023), tetapi angka tersebut merupakan akumulasi produksi daging broiler dari seluruh negara-negara di Eropa, dengan produksi tertinggi dari negara Polandia yaitu sebesar 2,5 juta ton. Sementara itu, dalam perhitungan per negara, Indonesia masih termasuk negara penghasil daging broiler yang tinggi. Indonesia yang pada tahun 2022 memiliki populasi 3.168.325.176 ekor dan produksi 3.997.652,70 ton (tahun 2023) (Data BPS) tentu memiliki porsi dalam menghasilkan amonia (NH<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">3<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">) pada lingkungan. Hal tersebut seharusnya juga menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cfood for thought\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bagi Indonesia untuk ikut serta dalam penanggulangan dampak amonia bagi lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Selain berbahaya untuk lingkungan dan manusia, amonia juga dapat berakibat buruk pada tingkat performa ayam broiler. Beberapa penelitian tentang dampak amonia terhadap unggas telah dilaporkan sejak sekitar 40 tahun yang lalu. Valentine (1964) bahkan telah melaporkan adanya penurunan laju pertumbuhan dan peningkatan FCR broiler jika terpapar amonia berkisar 60-70 ppm udara kandang. Selain dampak pada performa pertumbuhan, sebenarnya dampak pertama amonia adalah menyerang saluran pernapasan. Seperti dilaporkan oleh Oyetunde, dkk. (1978), terdapat perubahan mikroskopis pada trakea dan paru-paru unggas yang terpapar amonia pada udara kandang. Penurunan performa unggas pedaging ini tentu menjadi hal yang tidak diinginkan oleh para pengusaha unggas pedaging.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Probiotik dapat didefinisikan sebagai mikroba hidup yang dapat memberikan manfaat kepada inangnya dengan memengaruhi keseimbangan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan. Dari definisi tersebut, diketahui bahwa probiotik tidak harus selalu merupakan bakteri, golongan jamur atau fungi juga bisa menjadi probiotik. Probiotik dapat memengaruhi kinerja pencernaan dan penyerapan, meningkatkan imunitas inangnya, meningkatkan performa pertumbuhan, hingga bobot badan ternak saat panen.<\/span><\/p>\n<p><em>Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2024. Baca selengkapnya di <a href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/daya-saing-produk-perunggasan\/#dearflip-df_23631\/74\/\">Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2024<\/a>, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi:\u00a0<a href=\"https:\/\/wa.me\/+6287780120754\">https:\/\/wa.me\/+6287780120754<\/a>\u00a0 atau sirkulasipoultry@gmail.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Mikael Sihite, S.Pt., M.Si* Probiotik dapat mengurangi pembentukan gas-gas berbahaya sisa metabolisme ternak broiler seperti amonia (NH3) yang merupakan salah satu penyumbang pemanasan global dengan mengubah metabolisme pada saluran pencernaan. Probiotik dapat meningkatkan pencernaan dan penyerapan nutrisi, sehingga sisa nutrisi tidak tercerna tidak dikonversi oleh mikroba patogen menjadi gas berbahaya. Probiotik juga memiliki kemampuan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":25053,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[12],"tags":[2224],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengurangi Dampak Global Warming Dengan Probiotik | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Mikael Sihite, S.Pt., M.Si* Probiotik dapat mengurangi pembentukan gas-gas berbahaya sisa metabolisme ternak broiler seperti amonia (NH3) yang merupakan salah satu penyumbang pemanasan global dengan mengubah metabolisme pada saluran pencernaan. Probiotik dapat meningkatkan pencernaan dan penyerapan nutrisi, sehingga sisa nutrisi tidak tercerna tidak dikonversi oleh mikroba patogen menjadi gas berbahaya. Probiotik juga memiliki kemampuan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-11-15T07:49:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-10T07:56:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Opini-November24.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"538\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"240\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Opini-November24.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Opini-November24.jpg\",\"width\":538,\"height\":240},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/\",\"name\":\"Mengurangi Dampak Global Warming Dengan Probiotik | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2024-11-15T07:49:29+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-10T07:56:44+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Mengurangi Dampak Global Warming Dengan Probiotik\",\"datePublished\":\"2024-11-15T07:49:29+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-10T07:56:44+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#webpage\"},\"wordCount\":490,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengurangi-dampak-global-warming-dengan-probiotik\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Opini-November24.jpg\",\"keywords\":[\"Hapus term: #Penyakit #OPINI #PoultryIndonesia #perunggasan #Peternak #Profil #telur #Tokoh #Penyakit #OPINI #PoultryIndonesia #perunggasan #Peternak #Profil #telur #Tokoh #Broiler\"],\"articleSection\":[\"Opini\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Opini-November24.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-6w4","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25052"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25052"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25052\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25054,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25052\/revisions\/25054"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25053"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25052"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25052"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25052"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}