{"id":26893,"date":"2026-03-11T12:36:27","date_gmt":"2026-03-11T05:36:27","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=26893"},"modified":"2026-03-11T12:36:27","modified_gmt":"2026-03-11T05:36:27","slug":"manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/","title":{"rendered":"Manuk Napinadar, Warisan Kuliner Batak yang Mengakar dalam Tradisi Upacara Adat"},"content":{"rendered":"<h6><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hidangan khas Batak satu ini tidak hanya menggugah selera lewat pedas gurih rempahnya, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan filosofi mendalam sebagai sajian penting dalam berbagai upacara adat.<\/span><\/i><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti halnya hidangan tradisional Nusantara lain, kuliner warisan leluhur selalu memiliki cerita di balik kelezatannya. Di wilayah Sumatera Utara, khususnya kawasan sekitar Danau Toba, Manuk Napinadar dikenal sebagai masakan ayam yang identik dengan acara adat Batak.\u00a0<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Hidangan ini biasanya disajikan pada momen penting seperti pesta pernikahan, syukuran, mamoholi (upacara semacam aqiqah), hingga penyambutan tamu terhormat. Kehadirannya menandai momen penting, menjadi bentuk penghormatan bagi tamu, sekaligus lambang doa dan kebersamaan yang terus dijaga antar generasi. Menu ini bukan sekadar sajian di meja makan, melainkan bagian dari warisan budaya yang hidup dalam tradisi Batak.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Secara tampilan, Manuk Napinadar mungkin terlihat seperti olahan ayam bakar pada umumnya. Namun, rahasia keistimewaannya terletak pada racikan rempah asli dari suku Batak Toba, salah satunya dengan menggunakan andaliman atau \u2018merica Batak\u2019, rempah lokal yang memberi sensasi getir pedas unik di lidah.\u00a0<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Ayam kampung panggang ini juga dimasak dengan urutan yang tidak umum. Ayam tidak langsung dibumbui, tetapi dipanggang lebih dulu sampai permukaannya agak kering dan muncul aroma asap. Setelah itu ayam dipotong, lalu dimasak kembali dengan cara direbus atau di-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">simmer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bersama bumbu halus berisi andaliman, bawang, jahe, dan lengkuas, serta kuah campuran darah ayam dan perasan jeruk nipis (bisa diganti dengan santan untuk versi Halal). Proses pemanggangan dilanjutkan dengan merebus dengan bumbu yang membuat tekstur daging tetap padat, sementara kuah rempah meresap hingga ke bagian dalam.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sensasi getir pedas dari andaliman berpadu dengan gurih kaldu ayam dan aroma asap, menghasilkan profil rasa yang kuat sejak suapan pertama. Kuahnya biasanya tidak terlalu banyak, cukup untuk melapisi potongan ayam sehingga setiap bagian daging membawa rasa rempah yang kaya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar upacara adat, hidangan ini juga mulai diolah di dapur rumahan karena tekniknya tidak terlalu rumit. Dengan komposisi rempah yang membawa ciri khas suatu daerah, Manuk Napinadar menghadirkan pengalaman makan yang berbeda dari olahan ayam berkuah biasa.\u00a0<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Penasaran bagaimana membuatnya? Yuk, intip resep autentik dari tobawisata.com berikut! <\/span><b>Anggi<\/b><\/h6>\n<h6><b>Resep Manuk Napinadar<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Bahan utama:<\/span><\/h6>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1 ekor ayam kampung utuh<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">2 sdm air jeruk nipis<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Garam secukupnya<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<\/ul>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Bahan saus:<\/span><\/h6>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u00b1150 ml darah ayam segar (bisa dihilangkan untuk versi halal)<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1 sdm air jeruk nipis (untuk campuran darah agar tidak menggumpal)<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">6 bawang merah<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">3 bawang putih<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">5 cabai merah<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">3 butir kemiri sangrai<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1 sdt ketumbar<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1 ruas jahe<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1 ruas lengkuas<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1 batang serai<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">1 sdt andaliman halus<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Garam secukupnya<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<\/ul>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Opsional:<\/span><\/h6>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">2 sdm kelapa sangrai halus (untuk aroma dan tekstur saus lebih pekat)<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<\/ul>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Cara membuat:<\/span><\/h6>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Bersihkan ayam, lumuri air jeruk nipis dan garam, diamkan 15 menit.<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Panggang ayam utuh di atas bara atau grill hingga matang dan permukaan agak kering serta beraroma asap.<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Haluskan bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, ketumbar, jahe, lengkuas, serai, dan andaliman.<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Tumis bumbu halus hingga matang dan harum.<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Campur darah ayam dengan air jeruk nipis, lalu tuang ke tumisan bumbu sambil diaduk hingga mengental. (Saus darah berfungsi sebagai pengental alami sekaligus memberi rasa gurih yang menyatu dengan rempah. Jika ingin versi Halal, campuran kuah ini bisa diganti dengan santan kelapa).<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Cincang ayam panggang, lalu masukkan ke dalam saus panas. Aduk hingga seluruh potongan terlumuri secara\u00a0 merata.<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\">\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sajikan hangat.<\/span><\/h6>\n<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidangan khas Batak satu ini tidak hanya menggugah selera lewat pedas gurih rempahnya, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan filosofi mendalam sebagai sajian penting dalam berbagai upacara adat. Seperti halnya hidangan tradisional Nusantara lain, kuliner warisan leluhur selalu memiliki cerita di balik kelezatannya. Di wilayah Sumatera Utara, khususnya kawasan sekitar Danau Toba, Manuk Napinadar dikenal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":26894,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[18],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Manuk Napinadar, Warisan Kuliner Batak yang Mengakar dalam Tradisi Upacara Adat | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Hidangan khas Batak satu ini tidak hanya menggugah selera lewat pedas gurih rempahnya, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan filosofi mendalam sebagai sajian penting dalam berbagai upacara adat. Seperti halnya hidangan tradisional Nusantara lain, kuliner warisan leluhur selalu memiliki cerita di balik kelezatannya. Di wilayah Sumatera Utara, khususnya kawasan sekitar Danau Toba, Manuk Napinadar dikenal [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-11T05:36:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Kuliner-Maret26.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"502\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"419\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Kuliner-Maret26.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Kuliner-Maret26.jpg\",\"width\":502,\"height\":419},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/\",\"name\":\"Manuk Napinadar, Warisan Kuliner Batak yang Mengakar dalam Tradisi Upacara Adat | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-03-11T05:36:27+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-11T05:36:27+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Manuk Napinadar, Warisan Kuliner Batak yang Mengakar dalam Tradisi Upacara Adat\",\"datePublished\":\"2026-03-11T05:36:27+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-11T05:36:27+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#webpage\"},\"wordCount\":527,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/manuk-napinadar-warisan-kuliner-batak-yang-mengakar-dalam-tradisi-upacara-adat\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Kuliner-Maret26.jpg\",\"articleSection\":[\"Kuliner\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Kuliner-Maret26.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-6ZL","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26893"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26893"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26893\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26895,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26893\/revisions\/26895"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26894"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26893"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26893"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26893"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}