{"id":27639,"date":"2026-05-18T16:44:21","date_gmt":"2026-05-18T09:44:21","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=27639"},"modified":"2026-05-18T16:44:21","modified_gmt":"2026-05-18T09:44:21","slug":"mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/","title":{"rendered":"Mengenal, Mendeteksi, dan Mencegah Penurunan Produksi Telur Akibat EDS"},"content":{"rendered":"<h6><i><span style=\"font-weight: 400;\">EDS sering disebut sebagai ancaman yang tidak terlihat, karena biasanya penyakit ini tidak terdeteksi hingga ayam memasuki usia bertelur<\/span><\/i><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Kandang ayam petelur tampak normal pada awalnya, ayam-ayam makan dengan lahap, bergerak aktif, dan tidak terlihat adanya kematian. Namun, secara perlahan produksi telur mulai menurun. Telur yang dihasilkan menjadi lebih rapuh, warnanya kusam, bahkan sebagian hanya berupa selaput tanpa cangkang. Inilah gambaran khas dari Egg Drop Syndrome (EDS).<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui wawancara tertulis yang diterima pada Selasa, (28\/4) <\/span><b>drh. Maulana Sydik selaku <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Vice President Poultry Health &amp; Quality Assurance PT Mitra Berlian Unggas (MBU) menjelaskan bahwa EDS pertama kali dilaporkan di Belanda pada tahun 1976 oleh van Eck dan Davelaar. Ironisnya, setelah ditelusuri, virus penyebabnya ternyata sudah lama tersebar lewat vaksin yang digunakan di banyak negara jauh sebelum penyakit ini diidentifikasi secara resmi.\u00a0<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMomen itulah yang menjelaskan mengapa EDS bisa muncul serentak di berbagai penjuru dunia. Sebetulnya bukan muncul serentak, hanya baru ketahuan virus penyebabnya. Sekarang EDS sudah endemik di Indonesia dan menjadi salah satu penyakit unggas yang wajib dimusuhi oleh semua peternak\u201d.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Mengenal Egg Drop Syndrome<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">EDS adalah penyakit viral yang menyerang sistem reproduksi ayam petelur. Secara sederhana, virus masuk ke kelenjar pembentuk cangkang telur, merusak fungsinya dari dalam, dan hasilnya adalah telur-telur dengan kualitas buruk atau bahkan tidak bercangkang sama sekali. Produksi juga ikut terjun bebas karena proses ovulasi terganggu. Penyebabnya adalah Duck Adenovirus tipe 1 (DAdV-1), yang juga dikenal sebagai Atadenovirus.\u00a0<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Istilah \u2018duck\u2019 ini juga bukan sekedar sebutan. Virus ini asalnya memang dari bebek dan angsa, tapi di badan mereka tidak menimbulkan penyakit apapun, mereka bahkan bisa membawa virus ini dibadannya seumur hidup tanpa mengalami sakit. Tapi begitu virus ini menyerang ayam, semua berantakan,\u201d jelasnya.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Maulana, ada dua jalur utama penularan EDS yaitu secara vertikal dan horizontal, keduanya sama-sama berbahaya. Penularan vertikal terjadi lewat telur tetas. Induk yang membawa virus bisa mewariskannya kepada anak ayam yang ditetaskannya. Anak itu menetas dalam kondisi sehat, tumbuh normal, melewati fase pullet tanpa ada tanda-tanda mencurigakan, sampai mulai bertelur. Baru di situlah virus aktif dan mulai merusak produksi.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ini yang membuat EDS susah dideteksi sejak awal. Tidak ada warning sign selama fase pullet. Ayamnya sehat, makannya bagus, pertumbuhannya normal. Kita tidak tahu virus sudah ada di dalam sampai produksi pertama mulai bermasalah&#8221;.<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan, penularan horizontal terjadi melalui kontak langsung dengan unggas terinfeksi, feses, sekret, atau peralatan yang terkontaminasi. Bebek dan angsa liar yang berkeliaran di sekitar kandang menjadi sumber penularan horizontal yang paling sering terjadi.\u00a0<\/span><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBisa juga melalui kendaraan yang tidak didesinfeksi, tenaga kerja yang pindah dari satu kandang ke kandang lain, alat-alat yang digunakan bergantian, semua ini bisa menjadi vektor penyebaran penyakit yang tidak terlihat. Dulu, kontaminasi vaksin aktif juga pernah menjadi penyebab penyebaran EDS. Tapi sekarang standarnya sudah lebih ketat dan memperkecil risiko EDS ini,\u201d ujarnya.<\/span><\/h6>\n<h6><b>Mengenali Gejala EDS<\/b><\/h6>\n<h6><span style=\"font-weight: 400;\">Mengidentifikasi gejala awal adalah bagian paling penting untuk menekan penyebaran penyakit. Mayoritas peternak baru menyadari adanya masalah setelah produksi sudah turun jauh. Padahal ada sinyal-sinyal awal yang bisa ditangkap lebih dini. Asalkan peternak tahu apa yang harus diamati, seperti : perubahan warna cangkang dan tekstur cangkang yang tipis dan lunak.<\/span><\/h6>\n<h6><em>Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2026. Baca selengkapnya di <a href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/en\/the-feed-industry-amid-global-volatility\/#dearflip-df_27593\/48\/\">Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2026<\/a>, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi:\u00a0<a href=\"https:\/\/wa.me\/+6287780120754\">https:\/\/wa.me\/+6287780120754<\/a>\u00a0 atau sirkulasipoultry@gmail.com<\/em><\/h6>\n<h6><em><strong>Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di\u00a0<a href=\"https:\/\/whatsapp.com\/channel\/0029VbB4T1s7j6gFci2DxY2c\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">WhatsApp Channel Satwa Media Group.<\/a><\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDS sering disebut sebagai ancaman yang tidak terlihat, karena biasanya penyakit ini tidak terdeteksi hingga ayam memasuki usia bertelur Kandang ayam petelur tampak normal pada awalnya, ayam-ayam makan dengan lahap, bergerak aktif, dan tidak terlihat adanya kematian. Namun, secara perlahan produksi telur mulai menurun. Telur yang dihasilkan menjadi lebih rapuh, warnanya kusam, bahkan sebagian hanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":27640,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[10],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengenal, Mendeteksi, dan Mencegah Penurunan Produksi Telur Akibat EDS | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"EDS sering disebut sebagai ancaman yang tidak terlihat, karena biasanya penyakit ini tidak terdeteksi hingga ayam memasuki usia bertelur Kandang ayam petelur tampak normal pada awalnya, ayam-ayam makan dengan lahap, bergerak aktif, dan tidak terlihat adanya kematian. Namun, secara perlahan produksi telur mulai menurun. Telur yang dihasilkan menjadi lebih rapuh, warnanya kusam, bahkan sebagian hanya [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-18T09:44:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Kesehatan-Mei26-jpg.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1270\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"720\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Kesehatan-Mei26-jpg.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Kesehatan-Mei26-jpg.jpg\",\"width\":1270,\"height\":720},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/\",\"name\":\"Mengenal, Mendeteksi, dan Mencegah Penurunan Produksi Telur Akibat EDS | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-05-18T09:44:21+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-18T09:44:21+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Mengenal, Mendeteksi, dan Mencegah Penurunan Produksi Telur Akibat EDS\",\"datePublished\":\"2026-05-18T09:44:21+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-18T09:44:21+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#webpage\"},\"wordCount\":567,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengenal-mendeteksi-dan-mencegah-penurunan-produksi-telur-akibat-eds\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Kesehatan-Mei26-jpg.jpg\",\"articleSection\":[\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Kesehatan-Mei26-jpg.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-7bN","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27639"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27639"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27639\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27641,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27639\/revisions\/27641"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27640"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27639"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27639"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27639"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}