{"id":28884,"date":"2026-10-07T16:51:57","date_gmt":"2026-10-07T09:51:57","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=28884"},"modified":"2026-10-07T16:51:57","modified_gmt":"2026-10-07T09:51:57","slug":"mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/","title":{"rendered":"Mengadu ke DPR, Peternak Ayam Petelur Terjepit Biaya Pakan dan Harga Telur"},"content":{"rendered":"<h6><strong>POULTRYINDONESIA, Jakarta &#8211;<\/strong> Peternak ayam petelur melalui Pinsar Petelur Nasional (PPN) menyampaikan sejumlah persoalan yang semakin menekan keberlangsungan usaha kepada Komisi IV DPR RI. Tingginya biaya pakan di tengah rendahnya harga telur disebut telah membuat peternak kesulitan mempertahankan usahanya. Bahkan, sebagian peternak mulai mengosongkan kandang karena tidak lagi sanggup membeli pakan.<\/h6>\n<h6>Persoalan tersebut disampaikan Ketua Pinsar Jawa Tengah, Suwardi, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (7\/10\/2026). Menurutnya, tekanan terhadap peternak telah berlangsung sejak April 2026, ketika biaya produksi terus meningkat sementara harga telur di tingkat peternak justru berada jauh di bawah harga acuan pemerintah.<\/h6>\n<h6>\u201cBagi kami sejak bulan April 2026 sampai dengan hari ini, bahwa biaya ongkos produksi dan hasil produksi sangat tidak balance (seimbang),\u201d kata Suwardi dalam rapat.<\/h6>\n<h6>Salah satu persoalan terbesar yang disoroti adalah mahal dan terbatasnya ketersediaan jagung. Sebagai bahan baku utama pakan ayam petelur dengan porsi sekitar 50%, perubahan harga jagung langsung berdampak terhadap biaya produksi.<\/h6>\n<h6>Suwardi menyebut harga jagung KA 15 pipil kering saat ini telah mencapai sekitar Rp7.500-Rp8.000 per kg. Sementara itu, harga bungkil kedelai yang menjadi bahan baku pakan juga masih tinggi sehingga harga konsentrat di pasaran mencapai Rp9.000-Rp9.500 per kg. Kenaikan juga terjadi pada katul. Bahan pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.500-Rp4.000 per kg tersebut kini disebut mencapai sekitar Rp6.000 per kg. Dengan formulasi pakan yang terdiri dari 50% jagung, 15% katul, dan 35% konsentrat, peternak menghitung biaya pakan saat ini mencapai sekitar Rp8.155 per kg.<\/h6>\n<h6>\u201cFormulasi ini jika kita hitung hari ini, dengan kondisi jagung rata-rata hampir Rp8.000 diterima oleh peternak. Ini ketemu komposisi harga pakan adalah Rp8.155 (per kg),\u201d jelasnya.<\/h6>\n<h6>Menurut Suwardi, persoalan jagung bukan hanya menyangkut harga yang tinggi, tetapi juga ketersediaannya. Peternak bahkan disebut kesulitan memperoleh jagung meskipun memiliki uang untuk membeli.<\/h6>\n<h6>\u201cKarena apa, dengan harga jagung yang sudah tinggi, ketersediaan jagungnya sangat terbatas. Kami harus bagaimana. Karena jagung porsinya 50% belum bisa diganti oleh apapun bagi kami peternak rakyat,\u201d ujarnya.<\/h6>\n<h6>Di tengah kenaikan biaya produksi, harga telur di tingkat peternak justru masih jauh di bawah harga acuan pemerintah. Suwardi menyebut, berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 6 Tahun 2024, harga pembelian telur di tingkat peternak berada di angka Rp26.500 per kg. Namun, sejak April 2026, harga yang diterima peternak rata-rata hanya berkisar Rp19.000-Rp20.000 per kg.<\/h6>\n<h6>Harga telur bahkan sempat jatuh ke titik terendah Rp17.100 per kg pada Juni 2026. Jika dirata-ratakan selama enam bulan terakhir, harga telur yang diterima peternak hanya sekitar Rp20.000-Rp21.000 per kg.<\/h6>\n<h6>Dengan kondisi tersebut, peternak diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp5.000-Rp7.000 per kg setiap hari. Tekanan yang berlangsung selama berbulan-bulan mulai memengaruhi kemampuan peternak mempertahankan populasi ayam.<\/h6>\n<h6>\u201cKami datang ke sini sebetulnya hatinya sangat merintih. Karena apa, kita sudah piara (memelihara) nyawa, jika tidak dikasih pakan kita akan lebih berdosa,\u201d tutur Suwardi.<\/h6>\n<h6>Ia menyebut, sebagian peternak bahkan telah mengosongkan kandangnya karena tidak lagi mampu membeli pakan. \u201cHari ini para peternak, kalau orang Jawa bilang, ayam bisa makan pohon sengon, bisa makan pohon mahoni, yang punya sapi bisa makan sapi, bahkan hari ini ada sebagian teman-teman kami yang kandangnya sudah melompong kosong. Karena sudah tidak sanggup lagi untuk ngasih pakan ayam itu,\u201d ujarnya.<\/h6>\n<h6>Untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat, Suwardi meminta pemerintah memberikan kepastian pasokan jagung dengan harga yang wajar. Peternak, kata dia, memperkirakan membutuhkan sekitar 223.000 ton jagung untuk periode Oktober 2026 hingga Februari 2027. Kebutuhan tersebut dinilai semakin penting di tengah kekhawatiran terhadap kemarau panjang dan ancaman El Nino dalam lima bulan mendatang.<\/h6>\n<h6>\u201cDalam 5 bulan ke depan dengan adanya kemarau yang panjang, adanya El Nino, kami estimasi butuh jagung 223.000 ton estimasi, akan digunakan sampai dengan bulan Februari. Kalau ini tidak ada jagung, kami harus bagaimana,\u201d kata Suwardi.<\/h6>\n<h6>Menurutnya, peternak saat ini tidak selalu mudah mendapatkan jagung meskipun memiliki kemampuan membeli. \u201cKadang kita ada sedikit uang membeli jagung saja kita berebut,\u201d ujarnya.<\/h6>\n<h6>Selain meminta kepastian pasokan jagung dengan harga yang wajar, peternak juga meminta pemerintah memperkuat penyerapan telur rakyat melalui berbagai program pemerintah, salah satunya bantuan pangan.<\/h6>\n<h6>Menurut Suwardi, rendahnya permintaan membuat produksi telur menumpuk dan sebagian hasil produksi tidak terserap pasar. Program pemerintah dinilai dapat menjadi salah satu saluran untuk membantu menyerap produksi peternak. \u201cMudah-mudahan salah satunya Bapanas bisa gunakan telur untuk bantuan pangan pemerintah,\u201d kata dia.<\/h6>\n<h6>Peternak juga meminta pemerintah mengevaluasi tata niaga impor bahan baku pakan, khususnya bungkil kedelai dan turunannya. Evaluasi tersebut diharapkan dapat memberikan ruang untuk menekan biaya bahan baku pakan dan memperbaiki struktur biaya produksi di tingkat peternak.<\/h6>\n<h6>Selain persoalan pakan dan pasar, peternak turut menyoroti arah program pemerintah melalui Danantara. Mereka meminta agar pengembangan peternakan terintegrasi tidak mengambil alih kegiatan budidaya ayam petelur yang selama ini dilakukan peternak rakyat.<\/h6>\n<h6>Sebaliknya, program tersebut diharapkan dapat diarahkan untuk memperkuat industri hilir, terutama di daerah yang mengalami kelebihan produksi telur seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung. \u201cKembalikan budidaya kepada rakyat. Bahwa kita sudah mampu untuk berbudidaya, kita sudah mampu untuk swasembada. Hanya sedikit penyebarannya yang kurang merata,\u201d ujar Suwardi.<\/h6>\n<h6>Peternak mengusulkan pembangunan industri hilir seperti pabrik tepung telur dan tepung daging ayam. Kehadiran industri tersebut dinilai dapat membantu menyerap produksi telur maupun daging ayam ketika terjadi kelebihan pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.<\/h6>\n<h6>Di hadapan Komisi IV DPR RI, Suwardi berharap persoalan yang dihadapi peternak tidak berhenti pada pembahasan, tetapi segera diikuti langkah konkret. Kepastian pasokan jagung, harga bahan baku pakan yang wajar, serta penyerapan telur menjadi sejumlah kebutuhan yang dinilai mendesak.<\/h6>\n<h6>\u201cKalau tidak ada titik solusi, pulang tidak bisa kasih makan. Mau di Jakarta kita tidak punya uang. Apakah mungkin kami para peternak harus menjadi gembel di Jakarta,\u201d tuturnya.<\/h6>\n<h6>Ia kembali menegaskan bahwa peternak rakyat membutuhkan kepastian agar dapat terus menjalankan usaha dan menghidupi keluarga.<\/h6>\n<h6>\u201cHarapan dari kami sekali lagi. Kami tolong disediakan jagung untuk kami dengan harga yang seimbang. Sehingga kami bisa terus untuk melanjutkan usaha kami, peternak ayam untuk menghidupi keluarga kami,\u201d pungkas Suwardi.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>POULTRYINDONESIA, Jakarta &#8211; Peternak ayam petelur melalui Pinsar Petelur Nasional (PPN) menyampaikan sejumlah persoalan yang semakin menekan keberlangsungan usaha kepada Komisi IV DPR RI. Tingginya biaya pakan di tengah rendahnya harga telur disebut telah membuat peternak kesulitan mempertahankan usahanya. Bahkan, sebagian peternak mulai mengosongkan kandang karena tidak lagi sanggup membeli pakan. Persoalan tersebut disampaikan Ketua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":28885,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[20,7],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengadu ke DPR, Peternak Ayam Petelur Terjepit Biaya Pakan dan Harga Telur | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"POULTRYINDONESIA, Jakarta &#8211; Peternak ayam petelur melalui Pinsar Petelur Nasional (PPN) menyampaikan sejumlah persoalan yang semakin menekan keberlangsungan usaha kepada Komisi IV DPR RI. Tingginya biaya pakan di tengah rendahnya harga telur disebut telah membuat peternak kesulitan mempertahankan usahanya. Bahkan, sebagian peternak mulai mengosongkan kandang karena tidak lagi sanggup membeli pakan. Persoalan tersebut disampaikan Ketua [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-10-07T09:51:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261007-WA0015-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"575\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261007-WA0015-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261007-WA0015-scaled.jpg\",\"width\":1024,\"height\":575},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/\",\"name\":\"Mengadu ke DPR, Peternak Ayam Petelur Terjepit Biaya Pakan dan Harga Telur | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-10-07T09:51:57+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-07T09:51:57+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Mengadu ke DPR, Peternak Ayam Petelur Terjepit Biaya Pakan dan Harga Telur\",\"datePublished\":\"2026-10-07T09:51:57+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-07T09:51:57+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#webpage\"},\"wordCount\":959,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mengadu-ke-dpr-peternak-ayam-petelur-terjepit-biaya-pakan-dan-harga-telur\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261007-WA0015-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita Terkini\",\"Peristiwa\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261007-WA0015-scaled.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-7vS","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28884"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28884"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28884\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28886,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28884\/revisions\/28886"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28885"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28884"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28884"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28884"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}