{"id":29020,"date":"2026-10-23T11:07:25","date_gmt":"2026-10-23T04:07:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/?p=29020"},"modified":"2026-10-23T11:07:25","modified_gmt":"2026-10-23T04:07:25","slug":"mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/","title":{"rendered":"Marek\u2019s Disease, Ancaman yang Terus Berulang"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Marek\u2019s Disease bukan sekadar penyakit yang mematikan, tetapi ancaman tersembunyi yang dapat menggerus performa flok secara perlahan.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Marek\u2019s Disease (MD) bukanlah penyakit baru dalam industri perunggasan. Namun, keberadaannya masih menjadi tantangan, bahkan ketika program vaksinasi telah dilakukan. Penyakit yang disebabkan oleh Marek\u2019s disease virus (MDV) ini dapat menyerang ayam dan menimbulkan berbagai gangguan, mulai dari kelumpuhan, imunosupresi, hingga pembentukan tumor atau limfoma sel T pada berbagai organ.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu karakteristik MD yang membuat pengendaliannya tidak sederhana adalah kemampuan virus untuk menyebar dan bertahan di lingkungan. Virus terutama dilepaskan melalui debu dan dander atau serpihan bulu dari folikel bulu ayam yang terinfeksi. Partikel tersebut kemudian dapat menjadi media penularan antar ayam maupun berpindah melalui berbagai aktivitas di lingkungan peternakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut drh. Lidya Ester selaku Senior Technical Service PT Sehat Cerah Indonesia, infeksi MDV tidak selalu berarti ayam akan menunjukkan gejala klinis. Infeksi dapat terjadi tanpa selalu menghasilkan gejala ataupun tumor. Dengan demikian, jumlah kasus klinis yang terlihat di lapangan belum tentu menggambarkan keseluruhan tingkat paparan virus pada populasi ayam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, dalam penularan MD yang paling utama adalah melalui jalur respirasi. Ayam dapat terinfeksi ketika menghirup partikel debu dan dander yang mengandung virus. Setelah terinfeksi, ayam dapat melepaskan virus melalui epitel folikel bulunya sehingga lingkungan kandang berpotensi terus terkontaminasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Masalahnya, kontaminasi tidak hanya berpindah langsung dari ayam ke ayam. Debu dan litter dapat menjadi bagian dari rantai perpindahan virus. Begitu pula peralatan, pakaian, alas kaki, aktivitas manusia, hingga kendaraan yang membawa material dari kandang&#8221;.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lidya melanjutkan, karena MDV dikenal sangat persisten di lingkungan, kandang yang sebelumnya ditempati flok terinfeksi dapat menjadi sumber paparan bagi flok berikutnya apabila proses pembersihan dan desinfeksi tidak dilakukan dengan tuntas. Artinya, pengendalian MD tidak cukup apabila hanya berfokus pada ayam yang sedang dipelihara. Lingkungan kandang juga harus dipandang sebagai bagian dari mata rantai penyakit. Untuk mengurangi risiko paparan pada flok berikutnya, peternak harus memperhatikan pengendalian debu, sanitasi, manajemen litter, serta periode kosong kandang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa dampak MD tidak berhenti pada ayam yang mati. Bahkan ketika mortalitas tidak terlalu tinggi, penyakit tetap dapat mempengaruhi produktivitas flok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;MD dapat menyebabkan pertumbuhan ayam menurun, efisiensi pakan memburuk, produksi telur turun, serta meningkatkan jumlah ayam yang harus diafkir. Imunosupresi yang ditimbulkannya juga dapat membuat ayam lebih rentan terhadap penyakit lain. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan kebutuhan biaya pengobatan dan pengendalian kesehatan flok&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerugian ekonomi akibat MD merupakan gabungan dari berbagai komponen. Bukan hanya mortalitas, tetapi juga penurunan performa produksi, biaya vaksinasi dan biosekuriti, munculnya penyakit sekunder, hingga hilangnya potensi produksi ayam yang seharusnya dapat dicapai.<\/span><\/p>\n<p><b>Kenali MD<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-medium wp-image-29022\" src=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-1-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-1-300x300.jpg 300w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-1-150x150.jpg 150w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-1-768x768.jpg 768w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-1-696x696.jpg 696w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-1-420x420.jpg 420w, https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-1.jpg 800w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">MD dapat muncul dalam beberapa bentuk. Salah satu gambaran yang paling dikenal adalah gangguan saraf. Ayam dapat mengalami kelemahan kaki, paralisis pada satu atau beberapa ekstremitas, gangguan koordinasi, bahkan tidak mampu berdiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pada bentuk visceral, dampaknya dapat terlihat dari penurunan kondisi tubuh, pertumbuhan yang buruk, penurunan produksi, hingga kematian akibat pembentukan tumor pada organ internal. Saat dilakukan nekropsi, perubahan pada saraf perifer maupun tumor dapat ditemukan pada sejumlah organ, antara lain hati, limpa, ginjal, jantung, proventrikulus, dan ovarium,&#8221; ujar Lidya.<\/span><\/p>\n<h6><em>Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2026. Baca selengkapnya di <a href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/majalah-poultry-indonesia-edisi-oktober-2026\/\">Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2026<\/a>, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi:\u00a0<a href=\"https:\/\/wa.me\/+6287780120754\">https:\/\/wa.me\/+6287780120754<\/a>\u00a0 atau sirkulasipoultry@gmail.com<\/em><\/h6>\n<h6><em><strong>Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di\u00a0<a href=\"https:\/\/whatsapp.com\/channel\/0029VbB4T1s7j6gFci2DxY2c\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">WhatsApp Channel Satwa Media Group.<\/a><\/strong><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Marek\u2019s Disease bukan sekadar penyakit yang mematikan, tetapi ancaman tersembunyi yang dapat menggerus performa flok secara perlahan. Marek\u2019s Disease (MD) bukanlah penyakit baru dalam industri perunggasan. Namun, keberadaannya masih menjadi tantangan, bahkan ketika program vaksinasi telah dilakukan. Penyakit yang disebabkan oleh Marek\u2019s disease virus (MDV) ini dapat menyerang ayam dan menimbulkan berbagai gangguan, mulai dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":29021,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[10],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Marek\u2019s Disease, Ancaman yang Terus Berulang | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Marek\u2019s Disease bukan sekadar penyakit yang mematikan, tetapi ancaman tersembunyi yang dapat menggerus performa flok secara perlahan. Marek\u2019s Disease (MD) bukanlah penyakit baru dalam industri perunggasan. Namun, keberadaannya masih menjadi tantangan, bahkan ketika program vaksinasi telah dilakukan. Penyakit yang disebabkan oleh Marek\u2019s disease virus (MDV) ini dapat menyerang ayam dan menimbulkan berbagai gangguan, mulai dari [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-10-23T04:07:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"768\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-scaled.jpg\",\"width\":1024,\"height\":768},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/\",\"name\":\"Marek\\u2019s Disease, Ancaman yang Terus Berulang | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2026-10-23T04:07:25+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-23T04:07:25+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\"},\"headline\":\"Marek\\u2019s Disease, Ancaman yang Terus Berulang\",\"datePublished\":\"2026-10-23T04:07:25+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-23T04:07:25+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#webpage\"},\"wordCount\":570,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/mareks-disease-ancaman-yang-terus-berulang\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Kesehatan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/384077045f08b44f9ff828ed5e1f4ceb\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d2d5bf883156979fec93d336aa76bf23?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\"],\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/poultry_admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Kesehatan-Oktober26-scaled.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-7y4","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29020"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29020"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29020\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29023,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29020\/revisions\/29023"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29021"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29020"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29020"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29020"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}