{"id":8184,"date":"2020-03-26T09:16:51","date_gmt":"2020-03-26T02:16:51","guid":{"rendered":"https:\/\/poultryindonesia.com\/?p=8184"},"modified":"2020-03-26T09:16:51","modified_gmt":"2020-03-26T02:16:51","slug":"titik-kritis-pemilihan-pullet","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/","title":{"rendered":"Titik Kritis Pemilihan Pullet"},"content":{"rendered":"<h6><strong>Oleh: M. Sandi Dwiyanto, S.Pt*<\/strong><\/h6>\n<h6>Sektor peternakan saat ini mempunyai peran yang semakin strategis untuk memenuhi permintaan konsumen akan protein hewani. Fenomena peningkatan jumlah penduduk, pendapatan dan kesadaran masyarakat terhadap gizi secara perlahan mengakibatkan perubahan pola makan masyarakat. Saat ini, masyarakat mulai memilih mengkonsumsi protein hewani dalam setiap menu makanannya. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya peternakan mendapatkan perhatian khusus dalam upayanya untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat.<\/h6>\n<blockquote class=\"td_pull_quote td_pull_center\"><p><span style=\"color: #000000;\">Telur merupakan salah satu produk pangan hasil ternak yang cukup digemari oleh setiap lapisan masyarakat. Selain mempunyai kandungan gizi yang tinggi, telur juga mempunyai harga yang relatif murah dan terjangkau. <\/span><\/p><\/blockquote>\n<h6>Berdasarkan statistik Ditjen PKH tahun 2018, total produksi telur pada tahun 2018 sebanyak 1,64 juta ton yang terdiri dari&nbsp; telur ayam ras petelur (layer) 72,07 %, telur itik 14,48 %, telur ayam buras 10,57 %, telur itik manila 1,68 %, dan telur puyuh 1,20%. Produksi telur ayam ras Indonesia dari tahun 2009-2018 terus mengalami peningkatan dengan angka rata-rata 7,28% per tahun. Pada tahun 2009 produksi telur sebesar 0,90 juta ton dan&nbsp; menjadi 1,64 juta ton pada&nbsp; tahun 2018 (Outlook Telur, 2018). Banyak faktor yang mempengaruhi kenaikan produksi telur saat ini. Kemajuan sistem pemeliharaan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi telur Indonesia. Hal ini akan berkaitan langsung pada efisiensi pemeliharaan.<\/h6>\n<h6><strong>Antara <em>Pullet<\/em> dan DOC<\/strong><\/h6>\n<h6>Pada pemeliharaan ayam layer, proses awal pemeliharaan merupakan hal mendasar yang harus diperhatikan. Pasalnya, pemeliharaan ayam layer sedikit berbeda dengan ayam pedanging (<em>broiler<\/em>) yang semua pemeliharaannya dimulai dari fase <em>day old chicken<\/em> (DOC). Ada 2 jenis tahapan yang dapat dilakukan oleh peternak dalam memulai proses pemeliharaan ayam layer. Peternak dapat mulai memelihara ayam layer dari fase <em>pullet<\/em> (ayam berumur 12-16 minggu) atau melakukan pembibitan sejak DOC.<\/h6>\n<h6>Banyak hal yang harus diperhatikan peternak sebelum memulai pemeliharaan ayam layer. Pemeliharaan dari fase <em>pullet<\/em> atau DOC akan berpengaruh kepada teknik manajemen pemeliharaan dan biaya produksinya dikemudian hari. Mahardika Agil Bimasono S.Pt selaku Farm Manager PT. Nurindo Agri Pratama menjelaskan bahwa terdapat perbedaan manajemen pemeliharaan pada ayam layer fase <em>pullet<\/em> dan DOC. Hal ini berkaitan dengan sistem manajemen perkandangan, pakan, obat dan vaksin yang secara langsung akan berdampak pada biaya produksi yang dikeluarkan. \u201cPerusahaan kami memulai fase pemeliharaan dari <em>pullet<\/em>, karena kandang yang digunakan adalah tipe H-frame yang memang didesain khusus untuk ayam layer fase produksi,\u201d ujar Bima kepada jurnalis Poultry Indonesia, Rabu (12\/2) di Jakarta.<\/h6>\n<h6><strong>Baca Juga:&nbsp;<span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/poultryindonesia.com\/sesuaikan-ragam-jenis-pemanas-dengan-kebutuhan-kandang\/\">Sesuaikan Ragam Jenis Pemanas dengan Kebutuhan Kandang<\/a><\/span><\/strong><\/h6>\n<h6>Biasanya jenis kandang yang digunakan pada DOC (fase starter) hingga <em>pullet<\/em> (fase grower) sama seperti pada pemeliharaan ayam broiler yaitu kandang koloni. Hal ini sangat berbeda dengan tipe kandang yang digunakan pada fase produksi layer (layer), dimana biasanya kandang berubah menjadi tipe baterai dengan peralatan pendukung seperti conveyor telur. Tipe perkandangan merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan peternak untuk memulai pemeliharaan ayam layer dari fase DOC atau <em>pullet<\/em>.<\/h6>\n<h6>Proses manajemen obat dan vaksinasi juga menjadi pertimbangan dalam pemilihan pemeliharaan <em>pullet<\/em> atau DOC. Pemeliharaan sejak DOC memerlukan proses vaksinasi dan pemberian obat yang lebih banyak dari pada <em>pullet<\/em>. Proses ini tentu akan menambah biaya produksi yang harus dikeluarkan. \u201cProses pemeliharaan ayam layer dari DOC akan memakan biaya vaksin dan obat yang cukup besar, tergantung pada program yang diambil oleh manajemen farm masing-masing. Sedangkan apabila membeli ayam pada fase <em>pullet<\/em>, harga ayam per minggunya sekitar Rp 4500-6000,\u201d ungkap Bima. Dari fenomena ini, peternakan harus benar-benar menghitung biaya antara keduanya.<\/h6>\n<h6>Apabila ditelaah lebih jauh, nilai ekonomis tidaknya pemeliharaan layer dari DOC dan <em>pullet<\/em> dapat dilihat dari jumlah populasi ayam layer tersebut. Bima menjelaskan apabila populasi dalam suatu kandang belum begitu besar, maka memulai pemeliharaan dari <em>pullet<\/em> adalah langkah yang lebih tepat. Hal ini dikarenakan tujuan lain dari pemeliharaan dari fase DOC&nbsp; adalah untuk menjaga keberlanjutan pemeliharaan pada kandang.<\/h6>\n<h6>Jadi ketika satu siklus produksi (sekitar 2 tahun) telah selesai, maka <em>pullet<\/em> dikandang pembibitan telah siap untuk memasuki fase produksi. Kedua siklus pemeliharaan ini akan terus terjadi, sehingga efisiensi usaha bisa terwujud. Memulai pemeliharaan dari DOC pada populasi yang belum terlalu besar, akan menyebabkan siklus pemeliharaan semakin lama, dan akan berpengaruh pada biaya produksinya. Akan tetapi, ada juga peternak yang melakukan pemeliharaan ayam layer hingga fase <em>pullet<\/em> saja. \u201cAntara DOC dan <em>pullet<\/em>, semuanya tergantung pada tujuan yang ditetapkan farm tersebut,\u201d terang pria asli Wonosobo ini.*<strong><em>Wartawan Poultry Indonesia<\/em><\/strong><\/h6>\n<h6><em>Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 ini dilanjutkan pada judul \u201c<\/em><strong>Faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Pemilihan <em>Pullet<\/em><\/strong><em>\u201d. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153<\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: M. Sandi Dwiyanto, S.Pt* Sektor peternakan saat ini mempunyai peran yang semakin strategis untuk memenuhi permintaan konsumen akan protein hewani. Fenomena peningkatan jumlah penduduk, pendapatan dan kesadaran masyarakat terhadap gizi secara perlahan mengakibatkan perubahan pola makan masyarakat. Saat ini, masyarakat mulai memilih mengkonsumsi protein hewani dalam setiap menu makanannya. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":8185,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"cybocfi_hide_featured_image":"","spay_email":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false},"categories":[9],"tags":[164,1438,563,362,635,1439,1440,88,1043,1437,1204,1431],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v16.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Titik Kritis Pemilihan Pullet | Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: M. Sandi Dwiyanto, S.Pt* Sektor peternakan saat ini mempunyai peran yang semakin strategis untuk memenuhi permintaan konsumen akan protein hewani. Fenomena peningkatan jumlah penduduk, pendapatan dan kesadaran masyarakat terhadap gizi secara perlahan mengakibatkan perubahan pola makan masyarakat. Saat ini, masyarakat mulai memilih mengkonsumsi protein hewani dalam setiap menu makanannya. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Poultry Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-03-26T02:16:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/i0.wp.com\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/DSC_7936.jpg?fit=1024%2C685&#038;ssl=1\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"685\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/PoultryIndonesiaOfficial\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/poultryindonesia\"],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/poultry.apps360.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/2b06813e08c0623a94a39dd397da501b.jpg?fit=1071%2C321&ssl=1\",\"width\":1071,\"height\":321,\"caption\":\"Poultry Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Poultry Indonesia\",\"description\":\"Referensi Perunggasan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/?s={search_term_string}\",\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/DSC_7936.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/DSC_7936.jpg\",\"width\":\"1024\",\"height\":\"685\",\"caption\":\"Peternak dapat mulai memelihara ayam layer dari fase pullet (ayam berumur 12-16 minggu) atau melakukan pembibitan sejak DOC\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/\",\"name\":\"Titik Kritis Pemilihan Pullet | Poultry Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2020-03-26T02:16:51+00:00\",\"dateModified\":\"2020-03-26T02:16:51+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"item\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"item\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#webpage\"}}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/10b8c0975e107de70b7a1b53fb2a3ead\"},\"headline\":\"Titik Kritis Pemilihan Pullet\",\"datePublished\":\"2020-03-26T02:16:51+00:00\",\"dateModified\":\"2020-03-26T02:16:51+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#webpage\"},\"wordCount\":721,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/titik-kritis-pemilihan-pullet\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/DSC_7936.jpg\",\"keywords\":[\"#telur\",\"ayam petelur\",\"bibit\",\"DOC\",\"Indonesia\",\"memilih pullet\",\"pemeliharaan ayam\",\"unggas\",\"Poultry Indonesia\",\"pullet\",\"tata laksana\",\"web poultry indonesia\"],\"articleSection\":[\"Tata Laksana\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#\/schema\/person\/10b8c0975e107de70b7a1b53fb2a3ead\",\"name\":\"Sandi Dwiyanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/192bb3e0a2bbbed57b05f89f46fc1cd8?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/192bb3e0a2bbbed57b05f89f46fc1cd8?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Sandi Dwiyanto\"},\"url\":\"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/author\/m-sandi-dwiyanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/DSC_7936.jpg","jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pd8n0R-280","jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8184"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8184"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8184\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8186,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8184\/revisions\/8186"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8185"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8184"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8184"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.poultryindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8184"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}