Big data akan memudahkan kerja manusia (Foto : blog.predie.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pada bidang pertanian dan peternakan, revolusi industri ke-4 juga akan memengaruhi produksi. Pada industri telur, misalnya, mengubah data massal menjadi informasi yang berguna merupakan pekerjaan yang membosankan dan memakan waktu lama di egg-grading dan pengepakan. Para pekerja secara manual mengumpulkan printout grader, memasukkannya ke dalam program excel untuk kemudian dari grafik yang yang ditunjukkan diperoleh polanya.
Informasi grading yang terkonsolidasi akan mengubah industri. Industri 4.0 tidak hanya menyediakan layanan yang mengubah data grading menjadi informasi manajemen, namun juga menghubungkannya dengan efisiensi dalam produksi telur dikaitkan dengan iklim, ukuran flock, sistem kandang, jenis ayam petelur, dan bahkan hingga pengemasan. Data mentah yang dihasilkan oleh grader disimpan dalam cloud privat. Hal ini memungkinkan service tumbuh dari waktu ke waktu, tanpa perlu memperbaharui mesinnya. Seluruh data yang relevan telah ada di cloud. Apps akan menangani proses data, menghasilkan grafik-grafik yang diperlukan dalam waktu milidetik. Data yang sensitif akan bersifat privat dan diamankan.
Baca juga : Era Industri 4.0, Mahasiswa Fakultas Peternakan Harus Mengikuti Perkembangan Zaman
Dengan meningkatnya jumlah telur yang diproses melalui grader telur, misalnya, fungsi sensor dan komputer akan menunjukkan secara jelas manajemen di kandang, manajemen produksi, dan service peralatan. Lebih daripada itu, peningkatan di sepanjang rantai suplai juga digambarkan. Serangkaian perspektif atau wawasan baru pun bisa muncul dengan sendirinya. Setelah lebih banyak profesional dalam industri bergabung, hasil-hasil benchmark pun akan kian akurat, dan menciptakan nilai tambah bagi semua yang ambil bagian.
Revolusi industri 4.0 akan memberikan berbagai kemudahan bahkan hingga pada masalah kehalalan yang dihasilkan dari produksi unggas. Seorang peneliti dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) berhasil mengembangkan sistem pemrosesan ayam otomatis yang memenuhi syariat (Sycut). Sistem ini dibuat untuk memastikan batang tenggorok (trachea) dan kerongkongan (oesophagus) ayam terpotong sempurna dan halal dikonsumsi. Sistem ini menggunakan kamera berkecepatan tinggi dan dikembangkan oleh Artificial Intelligence dan Robotic Center (CAIRO) UTM. Kamera berkecepatan tinggi ini akan merekam lempengan-lempengan ayam yang dipotong dan gambar-gambar yang dihasilkan diproses oleh software, yang kemudian menunjukkan apakah ayam terpotong dengan benar atau tidak. Jika ayam yang dipotong tidak memenuhi syariat, sistem alarm akan berbunyi dan ayam tersebut akan dipisahkan tersendiri.
Baca Juga : Antisipasi Menghadapi Persaingan Global dalam Era Industri 4.0
Kendati Industri 4.0 akan merupakan sesuatu yang niscaya, namun saat ini baru sebagian kecil organisasi yang mengadopsinya. Di industri makanan dan minuman, diperkirakan baru 13% pabrikan yang menggunakan Industrial Internet of Things (IIoT) dan smart manufacturing ini, demikian menurut survei McKinsey. Di balik berbagai kemudahan dan keunggulan yang ditawarkan, hampir setengah dari produsen yang disurvei menyatakan belum siap mengadopsi sistem canggih ini, terutama karena dibutuhkan investasi yang besar untuk peralatan dan juga tenaga kerjanya. Banyak perusahaan yang belum siap menggantikan peralatan dan mesin-mesin yang masih berjalan bagus, atau menggantikan pekerja yang berketrampilan lebih rendah dengan profesional teknik yang tentunya bergaji lebih tinggi. Namun demikian, tren smart manufacturing tetap dan akan terus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2018 di halaman 60  dengan judul “Revolusi Industri 4.0, Siapkah Kita?”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153