Sistem logistik yang terpadu akan membuat proses bisnis menjadi efisien
POULTRYINDONESIA, Bogor – Industri perunggasan Tanah Air kian berkembang. Hal tersebut membuat industri ini membutuhkan sistem logistik yang terpadu dari hulu hingga ke hilir.
Ketua Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), Prof. Luki Abdullah, saat ditemui Poultry Indonesia di Bogor, Jum’at (12/10), mengatakan bahwa isu utama dalam logistik adalah tentang efisiensi. Efisiensi yang dimaksud adalah efisiensi produk dan efisiensi dalam sistem transportasinya.
“Dimanapun, industri itu akan selalu berbicara efisiensi, termasuk juga di industri perunggasan. Kalau biaya transportasi bisa efisien, maka produsen juga akan dapat untung lebih, di sisi lain konsumen juga akan mendapatkan harga produk yang lebih murah,” ujarnya.
Prof. Luki juga berpendapat, dalam sistem logistik peternakan, banyak sisi menjadi penting untuk dilihat, baik dari sudut pandang bisnis maupun kesejahteraan hewan. Menurutnya, kedua hal tersebut sangat berkaitan sehingga tidak bisa terpisahkan.
“Dalam sudut pandang bisnis, sistem logistik yang baik akan mengurangi potensi loss profit. Contohnya begini, kalau ayam yang dibawa terbentur dan memar, lalu ayam banyak yang mati, maka keuntungan bisnis juga akan berkurang,” katanya.
Pendapat lain diutarakan Audy Joinaldy, Presiden Komisaris Perkasa Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang agroindustri dan perunggasan, berpendapat bahwa komponen logistik merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam seluruh proses bisnis. Audy menyontohkan, wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan harus memiliki sistem logistik yang terpadu.
“Sebagai pelaku usaha, saya biasa kirim pakan dari Makassar ke Kupang, ongkos logistik bisa mencapai 12,5-13 juta rupiah per kontainer, sedangkan kalau dari Jakarta ke Shanghai atau Beijing hanya sekitar 500-600 US$ (7,5-9 juta rupiah) per kontainer. Salah satu kenapa harga produk di Indonesia akhirnya mahal karena ongkos logistiknya juga mahal,” ungkap Audy.
Oleh karena itu, bisnis perunggasan memang harus didukung sistem logistik yang baik. Menurutnya, konsep TOL laut yang selama ini digadang-gadang menjadi solusi untuk menekan biaya logistik, harus bisa dijalankan secara terpadu.
“Bicara industri perunggasan, pemerintah juga harus bisa melihat dari semua sisi, dari penyediaan bahan baku hingga distribusi produk akhir. Harapannya, kapal yang disediakan merupakan kapal yang bisa sekali angkut mencapai 50 ribu ton, ini yang akan membuat efisien dan bisa menekan biaya produksi. Kalau biaya produksi rendah maka harga jual produk juga akan lebih murah,” ujarnya.