Konsumsi daging ayam setiap hari dapat membantu meningkatkan gizi masyarakat
Oleh : Jojo, S.Pt.,MM
Isu demografi (kependudukan) tidak ada habisnya untuk dibahas di negara berkembang, termasuk Indonesia. Indonesia diprediksi akan memanen puncak bonus demografi pada 2028-2035. Saat itu, terdapat 65 juta lebih tenaga kerja muda produktif usia 15-29 tahun (UNFPA, 2015). Momentum tersebut merupakan tantangan sekaligus jembatan emas untuk naik tingkat menuju negara maju. Guna mencapai taraf tersebut diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang handal dengan asupan gizi (hewani khususnya) yang memadai. 
Bonus demografi bercirikan melimpahnya populasi penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai 60 persen. Data yang ada menyebutkan, jumlah penduduk Indonesia berkisar antara 268 juta jiwa pada tahun 2020 dan 293 juta jiwa pada tahun 2030. Jumlah penduduk usia produktif pada kurun waktu yang sama adalah 198,5 juta dan 200,3 juta jiwa. Jumlah tersebut mengalami tren kenaikan 10 persen setiap tahunnya hingga mencapai puncaknya 15 tahun mendatang. Jumlah penduduk usia produktif Indonesia pada 2018 mencapai 62 persen dari  265 juta populasi.
Bonus demografi diukur dengan statistik rasio ketergantungan (dependency rasio). Dengan membandingkan antara jumlah penduduk usia sekolah (15 tahun ke bawah) dan penduduk lanjut usia (65 tahun ke atas) terhadap jumlah penduduk yang berusia produktif. Rasio ketergantungan di bawah 50 persen menunjukkan telah dimulainya babak bonus demografi. Bonus demografi dalam kurun waktu 2020-2030 akan membuat Indonesia menikmati window of opportunity, yakni rasio ketergantungan sangat rendah (44 persen). Setiap 100 penduduk usia produktif menanggung 44 orang non produktif.  
Secara ekonomi keuntungan bonus demografi merujuk pada kenaikan jumlah tabungan penduduk produktif sehingga dapat memacu investasi dan pertumbuhan ekonomi. Artinya, semakin banyak anggota rumah tangga yang bekerja dan semakin sedikit anggota rumah tangga yang ditanggung. Hal tersebut akan menciptakan kelebihan pendapatan yang dapat disimpan (tabungan). Momentum ini diharapkan mendongkrak ekonomi Indonesia tumbuh lebih positif karena dominasi penduduk berusia produktif dan bisa banyak berkontribusi banyak pada pertumbuhan ekonomi. Kata kuncinya adalah pengembangan kualitas SDM.
Kualitas SDM kita juga masih rendah yang terlihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/ Human Develeopmnet Index (HDI). Badan kependudukan PBB mencatat pada 2018 IPM Indonesia ada di peringkat 112 naik satu peringkat dari 2017. Posisi ini turun dari posisi 110 tahun 2014 dari 188 Negara. Sedangkan untuk kawasan ASEAN, IPM Indonesia masih di level bawah, setelah Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand.
Setali tiga uang, daya saing pekerja Indonesia masih memprihatinkan. Posisi Indonesia dalam World Competitiveness Index 2017-2018 berada pada peringkat 36 dari 137 negara. Peringkat ini di bawah Thailand (32), Malaysia (23), Tiongkok (27), dan Korea Selatan (26). Bahkan, dalam World Talent Ranking (IMD Business School) pada 22 November 2018, menempatkan pekerja Indonesia di peringkat 45 dunia, di bawah pekerja Singapura pada peringkat 13 dan Swiss menempati peringkat pertama. Fakta tersebut tentunya menjadi pekerjaan rumah kita bersama, dan dalam hal ini, peran industri unggas sangat krusial karena hubungannya dengan asupan gizi yang berguna untuk mendorong pengembangan kualitas sumber daya manusia yang handal.
Peran industri perunggasan
Guna mendukung pencapaian berkah bonus demografi, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing. Peran industri peternakan-unggas khususnya-dalam mendukung hal ini sebagai penyedia gizi hewani (daging dan telur) yang bermutu tinggi sangat penting. Selain itu, sektor perunggasan dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap peningkatan ekonomi masyarakat terutama di perdesaan dalam membantu pengembangan industri pertanian umumnya.  
Data empirik menunjukkan, kemajuan suatu negara lebih ditentukan oleh faktor sumber daya manusia (SDM) yang tinggi daripada melimpahnya sumber daya alam (SDA). Langkah awal yang dapat diupayakan adalah memberikan masyarakat sumber pangan berkualitas dan gizi berimbang. Jika hal tersebut terpenuhi, maka seorang manusia dapat mengekspresikan potensi genetiknya secara optimal. Pemenuhan konsumsi gizi dalam jangka panjang akan memperbaiki potensi genetik masyarakat, serta meningkatkan taraf kecerdasan dan kesehatannya. Karena itu, pengembangan peternakan unggas sangat penting dan perlu terus didukung kemajuannya sebagai penyedia protein asal ternak berkualitas.
Akan tetapi, permasalahan pokok yang sampai saat ini masih menjadi ganjalan yakni produk asal ternak harganya masih relatif mahal. Hal tersebut mengakibatkan tidak semua orang dapat mengakses guna memenuhi kebutuhan gizinya. Masalah ini berdampak masih rendahnya tingkat konsumsi gizi asal hewani masyarakat Indonesia.
Tingkat konsumsi gizi hewani Indonesia di ASEAN masih tergolong rendah, yakni hanya 8 persen. Jika dibandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 28 persen, Thailand 20 persen, dan Filipina 21 persen, maka Indonesia masih tertinggal jauh. Lebih spesifik lagi untuk konsumsi daging broiler dan telur hanya sekitar 12,5 kilogram dan 125 butir per kapita per tahun, sedangkan Malaysia sudah lebih dari 40 kilogram dan 340 butir per kapita per tahun.
Angka tersebut tentu menjadi peluang untuk peningkatan produksi sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah untuk meningkatkan konsumsi gizi masyarakat Indonesia. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mendongkrak daya beli.  Oleh sebab itu, perlu dibuat strategi agar harga produk ternak terjangkau oleh segenap lapisan masyarakat namun pada sisi lain harus memberikan keuntungan yang wajar dan layak bagi peternak. 
Strategi perunggasan nasional perlu kejelasan dan sikap pemerintah dalam memposisikan unggas, khususnya broiler dan telur dalam sistem pangan nasional. Apabila broiler dan telur diposisikan sebagai sumber protein berkualitas dan terjangkau bagi sebagian besar rakyat Indonesia, maka diperlukan strategi yang holistik dalam sistem usaha agribisnis nasional.
Pertama, dimulai dari subsistem hulu, terutama subsistem dan usaha pembibitannya agar pemenuhan DOC untuk seluruh peternak terjamin. Jaminan ini penting agar DOC FS broiler dan layer memiliki  kualitas standar internasional, harga yang terjangkau dan kompetitif serta ketersediaan yang berkesinambungan untuk semua kebutuhan peternak on-farm. Harga jagung yang relatif tinggi  ditengarai sebagai inti permasalahan, sehingga jika ayam dan telur diposisikan sebagai sumber protein murah, maka strategi pasokan dan harga jagung yang diterapkan saat ini perlu ditinjau ulang. Kedua, untuk sistem budi daya peternak mandiri harus mengadopsi dan memanfaatkan ilmu, teknologi, pengetahuan tentang bibit, pakan, kandang, pengelolaan budi daya, dan usaha terkini (Pambudy, 2019). Disamping hal tersebut, pemerintah harus mau melindungi pasar produk asal unggas dalam negeri, tidak dibebaskan mengikuti mekanisme pasar bebas tanpa kendali.
Hingga di akhir tulisan, penulis menilai bahwa industri peternakan unggas nasional harus mampu menyediakan dan menjaga pasokan kebutuhan konsumsi daging/telur dalam negeri. Selain itu, juga harus terus melakukan inovasi agar mampu berdaya saing dengan produk ayam produksi luar negeri yang notebene lebih murah dan menjanjikan kulitas lebih baik. Tentunya, pemerintah perlu campur tangan dengan mengeluarkan kebijakan yang tepat sehingga industri perunggasan nasional akan lebih tertata dengan baik.
Bonus demografi akan menjadi berkah jika negara tanggap dan sigap dalam berinvestasi sumber daya mansuia yang didukung dengan ketersediaan dan keterjangkauan gizi yang memadai bagi warganya. Bila pemerintah setengah hati dalam menggarap peluang langka ini, momentum bonus demografi akan berbalik arah menjadi bumerang yang pada ujungnya akan terjadi ledakan penduduk lanjut usia dan tingginya angka pengangguran yang akan menimbulkan dampak sosial, keamanan, dan kesejahteraan dan menambah berat APBN. Hal ini mestinya menjadi pemikiran utama pemerintah beserta para pemangku kepentingan perunggasan nasional. Pada titik ini, keseriusan dan kemampuan pemerintah diuji untuk menggapai bonus demografi yang seharusnya memang menjadi berkah bukan justru menjadi musibah. Penulis merupakan pemerhati perunggasan nasional dan mahasiswa Doktoral Ilmu Ekonomi Pertanian IPB
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2019 dengan judul Daya Tarik Sektor Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153