Suasana akrab sangat terasa dalam malam innovation dinner yang berlangsung pada 4 September 2018 di Hotel Santika Premiere – BSD City. Suaedi Sunanto dalam kesempatan tersebut memberikan sambutan hangat sekaligus mengumumkan peran barunya sebagai President Director PT Nutricell Pacific. Perusahaan yang merupakan penyedia produk-produk obat hewan dan nutrisi ternak ini memiliki visi “The Science of Life” dan memiliki misi untuk menghadirkan solusi melalui inovasi.
Perusahaan yang bekerja sama dengan Nutricell adalah perusahaan global ternama dan merupakan profesional di bidangnya, khususnya dalam sektor peternakan. Tim Nutricell telah siap memberikan kontribusi dan mengukuhkan perannya dalam industri peternakan di Indonesia untuk menyediakan produk peternakan yang berkualitas dan aman bagi konsumen.
Hadir pula dalam acara tersebut, Rachmat Pambudi dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang memberikan pandangannya terhadap perkembangan industri agribisnis di Indonesia. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa pangan sebagai kebutuhan yang esensial bagi manusia perlu mendapatkan perhatian lebih. Sebagai contoh, ia menyebutkan bahwa kebutuhan daging ayam dan telur terus meningkat. Hal ini pun turut meningkatkan kebutuhan terhadap bahan baku untuk pertumbuhan ayam tersebut.
Oleh karena itu, untuk menghasilkan produk peternakan yang berkualitas membutuhkan sumber nutrisi yang baik bagi hewan. “Inovasi adalah salah satu kunci keberhasilan bisnis. Ini adalah salah satu bentuk inovasi kita untuk mengatasi berbagai tantangan,” ungkap Rachmat Pambudi.
Menjawab tantangan terkini
Pentingnya inovasi yang diusung Nutricell merupakan salah satu wujud komitmen Nutricell untuk memberikan yang terbaik kepada pelanggannya. Dalam presentasinya yang mengangkat tema “Embedding innovation in animal production”, Suaedi mengungkapkan bahwa inovasi ini merupakan suatu kebutuhan agar dapat bertahan di tengah kompetisi yang ketat.
Pertumbuhan populasi secara global akan terus meningkat, termasuk masyarakat kelas menengah yang juga akan semakin berkembang khususnya di Indonesia. Selanjutnya, persentase masyarakat kelas menengah yang tinggal di kota juga meningkat. Menurut data dari UN World Population Prospects, diperkirakan pada 2030 masyarakat urban akan mencapai 60%. Sementara itu, pada 2050 diperkirakan populasi dunia akan mencapai 9,2 miliar.
Konsumsi daging di Asia, menurut data yang bersumber dari OECD, bertumbuh sebesar 2,7 persen dalam periode 1994-2014. Hal ini menuntut industri peternakan untuk melakukan inovasi. Broiler modern yang ada saat ini secara genetik mampu untuk tumbuh cepat. Ayam broiler dengan genetik unggul akan muncul potensinya untuk bisa tumbuh maksimal dengan keseragaman pertumbuhan yang tinggi, bila dalam masa pemeliharaannya didukung dengan praktek manajemen yang baik. Agar dapat diperoleh performance optimal, maka sangat penting untuk diperhatikan keseluruhan aspek manajemen selama masa pemeliharaan, serta didukung dengan program biosekuriti yang memadai, sesuai dengan kondisi dan tantangan penyakit yang ada di lapangan.
Acara juga diisi dengan presentasi dengan topik menarik seputar perkembangan perunggasan.
Suaedi melanjutkan, evolusi produksi hewan bermula dari food security untuk mengurangi angka kemiskinan, rasionalisasi dan modernisasi, kemudian pada era ini sebagian besar masyarakat telah memiliki kesadaran terhadap kesejahteraan hewan (animal welfare), lingkungan, dan penggunaan antibiotik. Diperkirakan pada 2020 mendatang, keamanan pangan (food safety) dan kualitas pangan (food quality) akan menjadi gaya hidup, yaitu hasil produksi hewan yang healthy, fresh, tasty, dan convinent.
Meski demikian industri ini tidak luput dari tantangan, diantaranya adalah mengenai kesehatan hewan, seperti koksidiosis, bacterial enteritis, virus, dan lainnya yang banyak menyerang kesehatan usus hewan. Untuk mendapatkan data akurat mengenai status kesehatan hewan, Nutricell memiliki NICO (Nutricell Intestinal Calculator & Optimizer), yakni alat yang strategis untuk mencapai performa optimal dari kesehatan usus ternak. Melalui NICO, pengguna dapat melihat data di peternakan, JMP reliability forecast, hingga data historis terkait performa ternak.
Suaedi melanjutkan, berbagai gangguan kesehatan hewan yang telah disebutkan di atas dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Dalam jurnal berjudul “The Growing Threat of Vector-Borne Disease in Humans and Animals”, salah satu permasalahan yang paling penting diperhatikan dalam manajemen peternakan adalah vektor. Vektor ini dapat membawa berbagai penyakit masuk ke dalam kandang. “Solusi yang ditawarkan oleh Nutricell adalah manajemen integrated pest di peternakan. Melalui kontrol vektor yang terintegrasi, maka penyakit akan dapat dicegah,” ujarnya.
Seclira® 40 SG
Dalam kesempatan tersebut, BASF meluncurkan produk terbarunya, yaitu Seclira® 40 SG yang merupakan produk pestisida untuk pengendalian vektor di dalam kandang.
BASF merupakan perusahaan ternama asal Jerman yang bergerak di industri bahan kimia serta memiliki solusi melalui ragam produknya, salah satunya yaitu pest control solutions. Sejak awal, BASF sendiri menjalankan bisnis yang sustainable atau berkelanjutan dengan menggabungkan sumber daya, lingkungan, iklim, food and nutrition, dan quality of life. Investasi lebih besar dialokasikan oleh BASF dalam bidang Research and Development (R&D) untuk menciptakan solusi di industri agribisnis. Dari kegiatan R&D tersebut menghasilkan produk-produk yang bermanfaat bagi masa kini dan masa depan.
Hans Athaide, Senior Business Manager Plantations/Professional & Specialty Solutions BASF, yang menjadi narasumber dalam acara ini mengungkapkan bahwa Seclira® 40 SG telah dirancang untuk menjadi solusi bagi peternak. Hans berujar, BASF masuk ke dalam industri peternakan membawa inovasi kepada customer.
Salah satu produknya adalah Seclira® 40 SG yang memiliki mekanisme kerja cepat dalam membunuh vektor yakni mulai bekerja dalam waktu 30 detik dan berbagai kelebihan lainnya. Seclira® 40 SG memiliki kandungan generasi ketiga neonicotinoid pesticide – dinotefuran 40%. Dengan adanya bahan aktif ini dapat mencegah resistensi dari pestisida sehingga menjadikan Seclira® 40 SG lebih aman untuk digunakan.
“Penting diketahui bahwa solusi untuk menangani masalah tersebut harus komprehensif, karena itu kita juga harus memperhatikan hal-hal lainnya,” jelas Hans. Oleh karena itu, BASF juga memperkenalkan Pesticide Resistance Management (PRM), yang merupakan strategi efektif untuk melawan resistensi pestisida dengan langkah-langkah pencegahan, seperti melakukan rotasi pestisida dengan MoA yang berbeda.
“Rotasi sangat dibutuhkan, kami memiliki Fendona dan Seclira untuk pengendalian vektor seperti lalat; sedangkan untuk rodent (hewan pengerat), kami memiliki produk yang dinamakan Storm,” papar Hans.
Seclira® 40 SG, Fendona® 15 C, dan Storm® 0.005 BB Rodentisida.
Produk Fendona merupakan pestisida pyrethroid yang bekerja secara cepat dan efektif dalam mengeliminasi penyakit yang bisa disebabkan oleh vektor serangga seperti lalat. Dengan kandungan bahan aktif alpha-cypermethrin, Fendona dapat bekerja cepat dan efektif, kontrol dengan spektrum luas, mampu mengontrol residu, aman digunakan, dan telah teruji mampu digunakan di area food processing, serta menjadi produk yang direkomendasikan oleh badan kesehatan dunia (WHO) untuk kontrol malaria.
Sedangkan Storm mengandung highly potent flocoumafen yang memiliki keunggulan antara lain penggunaan yang mudah, single feed bait sehingga waktu kerja menjadi lebih efisien, tahan terhadap kelembapan, dan lainnya.
BASF juga memiliki pelayanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di era digital seperti saat ini. Beberapa diantaranya, memberikan akses informasi kepada customer secara real time melalui penggunaan layanan digital serta penggunaan data internal dan eksternal yang terintegrasi untuk memperkuat produk yang dikembangkan oleh BASF.
Sementara itu, untuk mendapatkan pembaruan informasi dari Nutricell mengenai produk, pelayanan, dan kegiatan-kegiatannya, Nutricell dapat dijumpai di website www.nutricell.co.id dan akun LinkedIn: Nutricell Pacific.