Bisnis pakan sangat terkait dengan Dollar AS mengingat sebagian dari komponen pakan diimpor dari luar negeri
POULTRY INDONESIA – Jakarta, Jumlah penduduk yang juga meningkat setiap tahun memerlukan asupan pangan asal hewani, salah satunya berasal dari ternak unggas. Bisnis perunggasan yang faktanya didominasi oleh budi daya broiler dan layer, membutuhkan sektor pakan sebagai penunjang utama dalam bisnis budi daya ini. Pakan sebagai sumber utama untuk pertumbuhan bobot badan ayam disusun dari berbagai macam bahan seperti jagung, bungkil kedelai, bekatul, mineral, dan lain sebagainya.
Berbagai jenis bahan pakan tersebut kemudian diformulasi menggunakan teknologi hingga berubah menjadi pakan yang siap dikonsumsi oleh ternak unggas. Berdasarkan informasi dari Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), bisnis pakan unggas secara nasional sudah sejak lama berkembang. Hal ini sejalan dengan masuknya ayam ras ke Indonesia sekitar awal tahun 1950-an. Bisnis pakan unggas mulai menuju pada era industrialisasi sekitar tahun 1970, di mana baik perusahaan lokal maupun asing sudah mulai menggunakan aspek teknologi dan membangun pabrik berkapasitas besar.
Dinamika dalam bidang pakan unggas sangat terasa manakala pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan (pengendalian) importasi jagung. Semua tahu bahwa jagung merupakan komponen utama untuk formulasi pakan unggas. Harga jagung lokal yang memang lebih mahal daripada jagung impor tentu menambah ongkos produksi semua pabrik pakan. 
Perkembangan yang sangat pesat inilah yang membuat kiprah industri perunggasan secara umum kian berkembang di Bumi Pertiwi ini. Perkembangan ini tentunya juga didukung oleh ekonomi Indonesia yang secara umum berkembang baik terutama pada beberapa dasawarsa terakhir. Peningkatan taraf hidup masyarakat yang dibarengi dengan meningkatnya konsumsi terhadap pangan hewani asal unggas juga menjadi salah satu faktor tumbuhnya bisnis pakan unggas secara nasional. Hubungan sebab akibat ini dapat menjelaskan hubungan antara peningkatan taraf hidup, tingkat konsumsi masyarakat terhadap pangan hewani, serta suplai pangan dan pakan itu sendiri untuk pemenuhan kebutuhan.
Baca Juga : 
Berdasarkan data yang diolah Poultry Indonesia, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging ayam pada tahun 2017 sebesar 12,5 kilogram per kapita per tahun, dengan peningkatan hampir 11 persen setiap tahunnya. Peningkatan konsumsi inilah yang juga mendorong tumbuhnya produksi pakan secara nasional hingga menyentuh angka 6 persen pada tahun 2017. Logika saling keterkaitan ini dapat menjadi dasar kenapa industri pakan unggas terus tumbuh walaupun pertumbuhannya juga tidak dapat bisa dibilang melesat maupun lambat. Namun, dalam berjalannya waktu, kiprah bisnis pakan unggas juga memiliki dinamika tersendiri.
Lebih lanjut daripada itu, beberapa bulan terakhir ini juga terjadi kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika hingga menyentuh angka Rp 14 ribu per US$. Tentu hal ini berimbas pada meningkatnya ongkos pembelian bahan pakan yang didatangkan dari luar negeri seperti soybean meal (SBM) yang seratus persen masih impor. Dinamika ini tentu membuat semua pelaku perunggasan juga ikut terkena imbas. Lalu, pasca turunnya kebijakan larangan impor jagung yang membuat pabrik pakan harus berpikir ekstra, mereka kembali mengerutkan dahi ketika pemerintah kemudian menggulirkan kebijakan pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) pada pakan ternak.
Bukan saja para pengusaha pakan (feedmiller) yang mengerutkan dahi, para peternak pembudi daya broiler dan layer juga ikut menelan pil pahit ini karena merekalah yang harus menanggung beban paling berat akibat harga pakan yang juga mengalami kenaikan. Lantas, seperti apa kabar bisnis pakan unggas setelah diterpa berbagai tantangan yang ada saat ini? Farid
Artikel ini adalah artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2018 di halaman 19 dengan judul “Kabar Bisnis Pakan Unggas. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153